Skandal Pernikahan (Diam-diam Mencintaimu)

Skandal Pernikahan (Diam-diam Mencintaimu)
Bab 8 Mulai tertarik


__ADS_3

Lara bertemu CEO di lift, lalu mereka ke ruangannya dan makan bersama.


"Terimakasih, sarapannya. Kebetulan aku memang belum sarapan," kata CEO merasa hatinya damai pagi ini.


"Ohh, kalau begitu syukurlah. Jadi aku tidak sia-sia datang," kata Lara sambil menutup rantang nasinya yang sudah habis.


"Kau mulai syuting lusa, oh ya, bagaimana bulan madumu?" tanya CEO pada Lara.


"Menyenangkan. Tapi, itu tidak seperti yang terlihat," jawabnya dan tanpa sadar keceplosan.


"Maksud mu?" CEO mengerutkan keningnya dan menatapnya serius.


"Eh, maksudku, semua berjalan baik dan sesuai rencana. Hanya saja kami lelah lalu pulang lebih cepat," Lara jadi salah tingkah dan segera memperbaiki duduknya.


"Ohh, begitu, aku pikir apa..." CEO tersenyum kecil.


....


Zaki kembali ke rumah untuk mengambil berkas yang tertinggal. Dia melihat rumah terasa sepi lalu memanggil Lara.


"Lara! Lara!" Dua kali panggilan tapi tidak ada sahutan.


Zaki iseng berjalan ke meja makan lalu membuka tudung saji itu. Dan dia sangat terkejut saat melihat semua makanan lezat yang dimasak Lara sudah habis.


"Apa dia makan semua itu? Benar-benar dia ini!" Zaki nampak kecewa karena jika masih ada makanan itu, maka dia saat ini sedang lapar dan akan memakannya.


Tadi di kantor dia tidak sempat sarapan.


Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki masuk. Terlihat Lara datang dengan salah satu tangannya menenteng rantang makanan.


"Kau darimana?" tanya Zaki dari tempatnya berdiri.


"Aku bertemu dengan CEO," jawab Lara sambil meletakkan rantang makanan diatas meja. Mata Zaki melirik rantang yang baru saja di taruh dengan ekor matanya.


"Rantang apa ini?"


"Ohh, ini makanan yang aku masak tadi. Karena tidak dimakan maka aku memberikan nya pada CEO. Aku tidak akan habis memakan semua itu," jawab Lara sambil membuka kulkas dan akan mengambil minuman segar.


"Heh! Kau seenaknya saja memberikan makanan pada CEO itu. Memangnya siapa yang sudah memberikanmu ijin?" tiba-tiba saja Zaki marah dan bicara dengan nada tinggi padanya.

__ADS_1


"Loh, memangnya kenapa? Jika tidak di berikan pada orang lain bukankah akan mubazir?"


"Aku ingin kau memasak masakan yang sama seperti itu. Sekarang!"


"Apa!?" tentu saja kata terkejut. Dia sudah capek dan baru saja pulang. Dia sedang tidak ingin memasak lagi.


"Cepat! Satu jam untuk memasak semua itu!" kata Zaki lalu duduk di sofa dan menikmati wajah kesal Lara entah kenapa hatinya menjadi senang.


Entah kenapa Zaki menjadi kesal karena Lara baru saja makan bersama CEO itu. Apalagi makanan itu harusnya untuk dirinya. Ditambah lagi saat ini dia sedang sangat lapar.


"Tadi kau tidak mau makan. Sekarang kau menyuruhku memasak. Kita makan diluar saja. Aku yang traktir," kata Lara karena dia benar-benar sedang tidak mood untuk masak lagi.


"Jangan banyak bicara. Dan aku hanya akan makan masakan yang sama seperti tadi pagi!"


Akhirnya Lara terpaksa memasak lagi masakan yang sama untuk suaminya.


"Ohh, tidak! Dia benar-benar memanfaatkan ku!" Gerutu Lara kesal.


Beberapa jam kemudian,


Makanan sudah terhidang di atas meja. Zaki makan dengan sangat lahap hingga membuat Lara terpana.


"Kenapa dia makan cepat sekali? Seperti tidak makan saja sejak kemarin!" bisiknya lirih.


"Ck, kau seperti tidak makan sejak kemarin saja. Jika begitu, kenapa tadi pagi pergi tanpa sarapan?" Lara jelas-jelas kesal. Karena dia harus masak dua kali dan itu membuatnya lelah.


"Tadi pagi aku tidak lapar. Dan saat pulang aku menjadi lapar,"


"......" Lara diam saja dan hanya mendengus kesal.


Zaki tersenyum manis setelah makan dan perutnya kini terasa begitu begah.


"Aku akan syuting mulai lusa. Jadi karena aku sibuk maka aku tidak bisa masak seperti biasa di pagi hari. Kita akan sarapan roti saja," kata Lara karena dia pasti akan sangat sibuk untuk film barunya itu.


"Kenapa begitu? Kau bisa menyiapkannya sejak semalam. Lalu kau masak saat bangun tidur. Jangan memberiku alasan untuk tidak memasak!" Zaki lalu pergi setelah kenyang.


"Ck, aku benar-benar gila karena sikapnya. Kadang dia lembut, kadang dia kasar, kadang dia sangat menyebalkan. Tapi, jika tidak melihatnya begitu lama, aku merasa ada yang kurang...."


Lara lalu pergi mencuci piring sambil bicara sendiri di dapur. Langkahnya gontai dan pikiran nya semrawut.

__ADS_1


"Aku menikah dengannya. Kami punya anak. Tapi aku dan anakku, tidak dekat. Mereka di asuh oleh suster dan ibu mertua. Zaki ingin seperti ini agar saat kami berpisah, tidak sulit bagi Al juga bagiku. Tapi tetap saja, memikirkan kami akan berpisah, hatiku sangat sakit,"


Pranggg!


Tanpa sadar dia menjatuhkan gelas yang sedang dia pegang. Dan...kakinya sedikit berdarah karena pecahan kaca itu.


"Aoooo!"


"ssshh,"


Lara pun berjalan satu kaki ke ruang tamu untuk mengambil plester dan disaat yang sama, CEO datang karena ingin menyerahkan berkas untuknya.


"Lara? Apa yang terjadi?" CEO merasa aneh melihat Lara berjalan dengan satu kaki seperti itik yang sedang berjemur.


Tiba-tiba saja Lara sempoyongan seakan mau jatuh, maka CEO berlari menyelamatkan dirinya.


"Aaahhh"


"Kau tidak papa?" tanya CEO dan matanya menunduk melihat kaki Lara yang berdarah.


"Kakimu berdarah...." kata CEO lalu membantu Lara duduk di sofa dengan pelan.


"Ini plesternya. Bisa bantu tempelkan. Aku sangat takut dengan darah. Bahkan luka kecil membuat jantungku berdebar sangat kencang. Apakah bisa membantu ku menempelkan plesternya?" tanya Lara dan kali ini CEO menatap Lara lebih dalam dari biasanya.


"Tentu....!" CEO membersihkan luka itu lalu menempel kan plester dengan pelan, dan disaat yang sama ternyata Zaki belum pergi. Melainkan dia ada dikamar mandi. Perut nya mulas dan dia mendengar teriakan Lara, namun saat itu dia juga sedang merasakan mulas yang hebat hingga tidak bisa keluar dari kamar mandi.


Saat CEO sedang meniup salah satu luka di betisnya Lara, disaat yang sama Zaki keluar dari kamar mandi dan terkejut menatap Lara bersama CEO begitu dekat.


"Lara! Apa yang kalian lakukan?" ucapnya dari tempatnya berdiri.


CEO dan Lara menoleh bersamaan kearah suara itu.


"Kau masih disini?"Lara balik bertanya dan terkejut melihat Zaki masih ada didalam rumah. Padahal tadi sepertinya dia sudah pergi.


Zaki memang sudah pergi dan menyalakan mobil. Namun tiba-tiba perut nya mual, dia lalu masuk lagi. Dan saat itu Lara tengah asyik mencuci piring, jadi dia tidak menyadari jika Zaki masuk ke dalam kamar mandi.


Zaki nampak kesal dan pikiran buruk mulai mengganggu dirinya.


"Ohh, pasti karena satu Minggu lagi kita akan bercerai. Dia lalu mendekati CEO itu. Mungkin dia juga akan menikah kontrak dengannya, ck......" Zaki berasumsi seperti itu dan tersenyum meremehkan.

__ADS_1


"Ikut aku!" Tiba-tiba saja dia mendekati Lara dan menariknya didepan CEO itu.


"Maafkan aku. Tapi ada hal penting yang harus aku bicarakan dengannya..." kata Zaki tanpa mempedulikan CEO yang terpana akan sikapnya juga kaki Lara yang pincang karena serpihan kaca barusan.


__ADS_2