
"Ah....ini pasti mimpi...." kata Lara saat membuka matanya. Dia sedang liburan bersama suaminya. Dan hanya berdua saja karena Al di jaga oleh ibu mertuanya.
Mereka sampai di mansion dan makan malam romantis di pinggir pantai. Mansion itu menghadap ke pantai dan suasana malam ini menjadi sangat indah dalam benak Lara.
"Ayo kita ambil gambar..." kata Zaki lalu mengunggah nya di media sosial.
"Aku mau lihat!" Lara berdiri disamping Zaki.
Ting!
Beberapa menit kemudian, unggahan itu sudah banjir komentar. Dan Zaki puas saat mereka sudah tidak memikirkan wanita yang bersamanya di pantai saat ke Bali.
"Semoga mereka tidak mengganggu Irene. Melihat kebahagiaan kita, pikiran mereka akan teralihkan," katanya pada Lara.
"Apa?" Oh ya, bagaimana Lara bisa lupa, jika Zaki melakukan semua ini, bulan madu, jalan-jalan romantis, hanya untuk mengalihkan isu tak sedap itu. Dan menyelamatkan karir kekasihnya.
Lara diam-diam mencuri pandang dan hatinya berdesir, dia lalu terdiam beberapa saat hingga Zaki menoleh ke arah Lara dan tersenyum hangat padanya.
"Mau berenang?" tanya Zaki bersemangat.
Lara mengangguk saja. Memangnya apa yang akan dia lakukan siang dan malam ditempat ini? Ini bukan benar-benar bulan madu. Pasti akan membosankan bukan? batinnya.
Lara dengan cepat menyeburkan diri ke kolam renang. Di ikuti oleh Zaki. Mereka berdua saat ini berada di dalam kolam dan berenang.
Zaki menarik Lara dan mereka berenang bersama.
Ah, jantungku serasa mau copot setiap kali bersentuhan dengannya.
Kebahagiaan semu yang aku rasakan, seperti sebuah fatamorgana.
"Ayo balapan!" tantang Lara tiba-tiba. Dia yakin pasti menang balapan dengan Zaki.
"Yang menang akan membuat sebuah permintaan. Dan yang kalah harus menurutinya," ucap Lara lagi.
"Ayoh! Siapa takut!" Zaki setuju.
"Mulai!" Lara berteriak dan mulai mengerahkan seluruh tenaganya agar menang taruhan.
Akhirnya Lara benar-benar memenangkan taruhan ini.
"Oh Gila. Kau cepat sekali," Zaki tentu saja kalah darinya. Lara pernah memenangkan kejuaraan berenang tingkat sekolah kala itu.
"Jadi, tepati janjimu...." kata Lara sambil mengusap wajahnya dengan handuk kecil.
"Okey, sebutkan keinginan mu..." tanya Zaki.
"Aku ingin kau memberiku bunga selama kita ada disini. Setiap hari, kau harus membelikan aku bunga,"
"Ohh, astaga. Baiklah. Hanya itu saja?"
__ADS_1
"Iya. Hanya itu saja," kata Lara lalu berjalan ke kamar mandi. Sementara Zaki masih berenang dan tidak lama kemudian dia juga mandi.
Beberapa hari kemudian, Zaki menepati janjinya, setiap pagi hari saat Lara bangun tidur, Zaki memberinya kejutan bunga. Hingga kamar itu penuh dengan rangkaian bunga.
"Ohh, indahnya.....!" Lara melihat begitu banyak buket bunga berwarna warni.
Zaki hanya tersenyum kecil saat melihat Lara tak henti memandangi semua bunga yang berjajar rapi.
"Zaki......."
"Hem......"
"Melihat ini, aku mulai takut. Setelah semua yang di lewati bersama, bagaimana jika aku tidak menepati janjiku...." kata Lara saat duduk diantara bunga yang di beli Zaki.
"Maksudmu?"
Zaki sangat serius kali ini mendengar kan ucapan Lara.
"Kau tahu, setelah ku dapatkan semua karir dan popularitas, tapi tetap saja ada yang kurang,"
"........" Zaki masih mendengarkan dengan sangat serius.
"Meskipun seluruh dunia ini aku genggam rasanya tetap tidak cukup untuk membeli hati seseorang,"
"Hem..... apakah kau sedang jatuh cinta?" tebak Zaki karena biasanya orang yang sedang jatuh cinta menjadi sangat puitis. Dan lagi, jika Lara jatuh cinta maka hubungan pernikahan ini akan berakhir, kesepakatan nya selama Lara ingin pergi pada pria lain, maka Zaki akan melepaskan nya, namun anaknya akan menjadi milik keluarga Zaki.
"Aku tidak tahu. Ini cinta atau apa?"
"Aku tahu...."Lirih Lara.
.....
Malam ini, perasaan Lara sedang galau karena cinta yang membuncah dan meledak didalam hatinya. Dia minum hingga kehilangan kesadaran. Zaki masih sadar karena dia hanya minum sedikit saja.
Tiba-tiba Lara bergelanyut didalam dada Zaki dan merangkulnya seperti seorang kekasih.
Lalu tangannya membelai kedua pipi Zaki dan menatapnya penuh cinta. Zaki diam saja dan membiarkan dia bertingkah sesuka hatinya kali ini.
"Jika aku mencintaimu, maka siapa yang akan kau pilih. Aku atau Irene? Jika aku rela memberikan seluruh hidupku untukmu, apakah kau mau menerima ku dan meninggalkan wanita itu?" kata Lara membuat Zaki terbelalak.
"Apa? Ayo ke kamar dan tidurlah. Jangan ngelantur," Zaki lalu menggendongnya ke kamar. Lalu membaringkan dirinya.
Tiba-tiba salah satu tangan Lara menarik Zaki kedalam pelukannya.
"Aku benar-benar jatuh cinta padamu. Kaulah pria yang membuatku tidak waras seperti ini. Kau tahu, saat kau pergi, aku menunggumu di teras, kau bilang jangan menungguku, tapi aku tetap menunggumu. Hh, tapi kau tidak datang,"
Zaki terus mendengarkan ocehan Lara dengan seksama kali ini. Karena Lara berbicara sangat serius.
"Lalu saat aku melihat kau bersama mbak Irene hatiku ini sakit. Sangat sakit. Aku tidak tahan melihatnya...."
__ADS_1
"Lara....kau sadar apa yang kau katakan?"
"Zaki.....aku mencintaimu...."
"Lara..kau bodoh! Dengan tahu jika kau mencintaiku, maka aku tidak bisa menjadi sahabat mu lagi,"
Zaki dengan langkah gontai lalu meninggalkan istrinya sendirian didalam kamar. Dia tidur di sofa malam ini dengan hati yang gelisah karena ungkapan hati Lara itu.
.......
Pagi harinya,
Dan tiba-tiba saja sikap Zaki menjadi kasar sejak dia tahu jika istrinya jatuh cinta padanya.
"Makanan apa ini?" tanya Zaki saat Lara memasak untuknya. Mereka liburan di sebuah mansion yang menghadap ke pantai. Dan mengirimkan foto itu ke media. Sekarang kabar tentang foto Zaki dan seorang wanita saat di Bali menjadi terlupakan. Dan memang itu yang di inginkan oleh Zaki.
Namun hal lainnya justru mengagetkan dirinya . Lara tidak menepati janji pernikahannya. Mereka sudah berjanji untuk tidak melibatkan hati dalam pernikahan kontrak ini. Namun ternyata, Lara mulai melewati batasan nya.
Karena itu, maka sikap Zaki kini kasar padanya.
"Ini...ini adalah makanan kesukaan mu...." kata Lara tertegun. Dua hari lalu saat dia memasak untuknya, dia sangat senang dan menyukainya. Tapi saat ini tiba-tiba mencela masakan nya.
Lara berfikir mungkin terlalu asin. Diapun mencicipinya.
"Hemm, enak. Rasanya sama seperti kemarin. Tidak ada yang salah dengan bumbunya," katanya terbata.
"Enak itu untukmu. Tapi menurutku ini sangat tidak enak. Aku tidak mau makan. Kau saja yang makan. Aku akan makan diluar saja,"
Zaki langsung berdiri dan meninggalkan Lara yang terpana.
"Ada apa dengannya. Kenapa sikapnya jadi aneh seperti ini?" Batin Lara dalam hati.
Zaki pergi meninggalkan mansion itu. Dia ingin menenangkan hatinya. Dia benar-benar gelisah saat ini. Dia tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan untuk melindungi dua wanita ini.
"Lara tidak boleh mencintai ku..."
"Kau tahu akibat nya jika itu terjadi..... bodoh! Kau memang bodoh!"
Zaki memukul stir saat dia berhenti di sebuah restoran.
Beberapa jam kemudian,
"Kemasi barangmu, kita akan pulang!" Perintah Zaki pada Lara.
"Tapi kan masih satu Minggu lagi...."
"Kita pulang hari ini!"
Kenapa sikapnya aneh begitu? Apa dia makan sesuatu ketika keluar tadi?
__ADS_1
Lara tersungut sambil mengemasi bajunya ke dalam kopernya.