
"Silahkan masuk"
Zaki kaget melihat CEO dan produser bertamu ke rumahnya tanpa mengabari mereka terlebih dahulu. Karena biasanya biasanya jika akan bertamu mereka selalu memberikan kabar terlebih dahulu sehingga yang punya rumah bisa mempersiapkan sesuatu untuk tamunya.
Fokus Zaki kali ini jelas pada CEO. Dalam hati dia tidak senang CEO datang dan bertemu dengan istrinya. Apalagi lamarannya pada Lara belum mendapat jawaban pasti. Kecemburuan akan CEO yang intens mendekati Lara tidak terbendung lagi kali ini.
"Sayang....ada tamu..." Panggil Zaki yang seketika berubah dari kebiasaannya.
Lara berjalan menyambut tamunya dengan pipi sedikit memerah. Wajahnya jelas sangat kesal saat Zaki memanggilnya sayang karena ada kepentingan didalamnya.
"Sayang...ayo cepat kemari...!" ulang Zaki begitu melihat istrinya datang.
CEO dan Produser yang sudah tahu soal pernikahan palsu itu hanya tersenyum kecil. Seakan mentertawakan sikap Zaki yang tidak seperti biasanya. Apalagi CEO, dia tahu betul bagaimana arogannya Zaki pada istrinya itu.
"Silahkan masuk.."
Lara kedapur setelah mempersilahkan tamunya. Dia mengambilkan minum dan memotong beberapa buah dingin untuk tamunya.
Lara lalu duduk di dekat CEO hingga membuat wajah Zaki meradang.
"Duduklah disini, sayang..." pinta Zaki dengan sudut mata penuh intimidasi.
"Eh, iya..." Lara yang tahu apa arti tatapan Zaki segera pindah tepat duduk.
CEO hanya tersenyum geli melihat sikap Zaki yang seakan seperti suami sungguhan.
"Langsung saja, kedatangan kami karena berita di media. Apakah kalian belum tahu?" kata CEO membawa salah satu majalah lalu memperlihatkan pada Lara.
Zaki dan Lara saling berpandangan dan Lara mengambil majalah itu dari dari tangan CEO. Dengan cepat matanya bergeser sambil mencerna apa yang di tulis disana dengan huruf tebal.
"Siapa yang menyebarkan semua ini. Zaki...lihatlah!" Lara kaget dan memberikan majalah itu pada Zaki agar dia juga membacanya.
Zaki sudah menduga siapa yang bisa melakukan semua ini. Pasti dia pelakunya! batin Zaki merujuk pada suami Irene.
Kini fokus Zaki adalah karir Lara, istrinya. Apalagi dia tahu jika sebentar lagi dia akan launching film terbarunya dari seorang penulis ternama yang sedang di gemari masyarakat.
__ADS_1
"Ini tidak benar!" kata Zaki menepis semua isu yang bisa menghancurkan karir Lara seketika.
Lara menatap Zaki dan menunggu apa yang akan dia lakukan untuk scandal ini.
CEO dan Produser menatap Zaki dan menunggu tindakan selanjutnya.
"Kami benar-benar menikah. Kami sama seperti pasangan lainnya. Menikah lalu punya anak dan berkomitmen untuk saling melindungi hingga akhir hidup kami, benar kan istriku?" Zaki menginjak kaki Lara hingga dia kaget dan meringis kesakitan.
"I-iya. Kami akan bersama selamanya," jawaban Lara jelas menghancurkan hati seseorang. CEO tersenyum pahit menatap paras ayu Lara dan seketika hatinya hancur lebur. Jika benar yang dia katakan, maka harapan yang dia simpan untuknya pupus sudah.
"Scandal ini sudah membuat kalian kehilangan separo pengikut di media. Hal ini sangat disayangkan karena launching film akan segera dilakukan," kata CEO menatap Zaki juga Lara.
"Kami akan mengadakan jumpa pers untuk mengklarifikasi semua itu. Kami pastikan filmmu tetap akan di sambut hangat oleh masyarakat," kata Zaki meyakinkan Produser.
"Lakukan hal yang benar dengan segera. Jika tidak, aku mungkin akan rugi besar, tapi karir istrimu akan redup karena scandal ini," nasehat Produser pada Zaki.
"Kami mengerti..." jawab Zaki dan melirik pada CEO dengan tatapan sinis.
Kau pikir akan mengambil dia dariku? Tidak akan pernah bisa! gumamnya bicara sendiri ketika menatap sinis wajah CEO itu.
"Tidak papa. Lain kali kau bisa mengundang kami lagi," kata Produser menatap pada CEO yang terdiam seribu bahasa.
Berharap scandal itu benar dan Lara datang padanya sebagai wanita single.
Tapi sepertinya, harapan hidup bersamanya pupus sudah hari ini.
Mereka lalu pamit setelah urusan nya selesai.
Sebelum pergi, CEO mengirim pesan pada Lara dan ingin berbicara empat mata padanya.
Lara melihat pesan itu ketika CEO sudah masuk kedalam mobilnya. Setelah membaca pesan itu Lara tersenyum sendiri. Hal itu rupanya di perhatikan oleh Zaki. Dia menjadi penasaran apa yang membuat Lara tersenyum sendiri dan merebut handphone dari tangan Lara.
"Ada apa? Kenapa melihatnya seperti itu?" tanya Zaki dengan gerakan tangan yang sangat cepat.
"Hei! Kembalikan!" teriak Lara.
__ADS_1
Zaki dengan cepat membaca pesan itu.
"Dasar buaya itu!" Gerutu Zaki kesal karena diam-diam CEO ingin bertemu dengan istrinya.
"Jangan temui dia!" Larangnya pada Lara.
"Aku harus bertemu dengannya. Ini pasti penting," kata Lara setelah mendapatkan handphonenya kembali.
"Dan oh ya. Aku tidak suka kau mengambil handphone ku seperti tadi. Kenapa kau memaksa untuk tahu segalanya?"
"Heh! Dengar! Karirmu sedang di ujung tanduk. Aku berusaha menyelamatkan karirmu. Kau harusnya berterimakasih padaku!"
"Apa maksudmu berterimakasih? Semua ini juga karena dirimu!"
"Apa?!" Zaki berteriak sambil melotot padanya.
"Sudahlah. Aku harus bertemu dengan CEO. Kau jaga Al selama aku belum kembali,"
"Sudah ku bilang jika kau harus tetap dirumah! Kenapa kau tidak menurut padaku?"
"Aku hanya akan bertemu dengannya sebentar saja. Kenapa kau melarangmu dan marah-marah tidak jelas seperti ini? Kau seperti benar-benar suamiku saja?" kata Lara dan diam-diam dia mengambil tasnya untuk segera kabur dari hadapan Zaki.
"Itu, karena.....aku....mencin...."
Belum sempat Zaki menyelesaikan kalimatnya, Lara sudah berlari cepat keluar dari ruang tamu.
"Heh tunggu! Kau mau kemana?"
Tapi Lara sudah keluar dari halaman dengan cepat lalu naik ojek yang mangkal tidak jauh dari sana.
Zaki kesal karena tidak bisa menangkap istrinya itu. Dia berbalik karena meninggalkan Al sendirian dirumahnya.
"Wanita ini, kenapa larinya cepat sekali. Dasar!"
Zaki tersungut karena Lara keras kepala dan tetap menemui CEO itu.
__ADS_1
"Awas saja saat kau kembali nanti!" Ancam Zaki dengan wajah sangat kesal.