
Beberapa hari kemudian followers Zaki dan Larasati telah kembali. Mereka kembali mendukungnya setelah pernyataan Zaki melalui jumpa pers. Bukan hanya itu saja, Ternyata launching film perdananya juga mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat.
Hingga pemutaran film pertamanya, jumlah penonton begitu membludak di hampir seluruh bioskop. Hal ini membuat CEO dan Produser berdecak kagum. Mereka sungguh tidak menduga fans fanatik Zaki dan Lara sebagai pasangan ideal memberikan pengaruh yang begitu besar dalam film ini.
"Terimakasih karena kau sudah melakukan hal yang benar," kata CEO saat mereka bertemu di luar bioskop.
CEO menjabat tangan Zaki kali ini. Zaki tersenyum dan menoleh pada Lara yang berdiri disampingnya sejak tadi.
Lara terlihat begitu cantik malam ini dengan gaun merah muda dan rambut di sanggul indah.
"Jangan berterima kasih padaku, dia adalah bintangnya," Zaki berkata sambil menunjuk pada Lara dengan matanya yang mengerling. Lara menjadi tersipu malu karenanya.
CEO menatap Lara dan tersenyum hangat mencoba iklhas melupakan rasa cintanya. "Ini hadiah dariku untuk kalian berdua," CEO memberikan hadiah bulan madu untuk Lara dan Zaki.
Lara terpana di buatnya, tidak disangka CEO begitu lapang dada. Setelah cintanya yang dia patahkan kini dia memberinya tiket bulan madu.
"Apa ini?" Zaki dan Lara saling berpandangan.
"Hadiah kecil dariku..."
"Kalau begitu, terimakasih..." kata Zaki menatap tanpa curiga lagi pada CEO setelah melihat ketegarannya.
CEO tersenyum dan meninggalkan mereka berdua masuk ke mobilnya. Saat terdiam di mobil beberapa saat sebelum melajukan mobilnya dia mendapat pesan dari Lara.
__ADS_1
"Jika aku terbangun di kehidupan kedua maka, aku akan menemuimu terlebih dahulu sebelum orang lain. Aku ada menjadi salah satu sayapmu dan terbang bersamamu..."
CEO tersenyum manis kali ini setelah membaca pesan dari Lara. Dia lalu membalasnya dengan bibir tetap tertarik menyungging kan senyum terindah nya.
"Aku akan menunggu saat itu tiba. Di kehidupan kedua, aku adalah tangan yang kau genggam pertama kali dan tidak akan pernah aku lepaskan setelah aku menggenggamnya," balasnya dan Lara membukanya ketika dia menunggu Zaki berbicara dengan CEO dari televisi Abs.
"Tentu...." balas Lara mengulum senyum dan menatap Zaki yang berjalan ke arahnya di kejauhan.
Zaki semakin dekat dan menatap wajah Lara yang baru saja tersenyum sendiri.
"Ada apa?" tanya Zaki setelah berdiri tepat di hadapannya.
"Aku hanya tidak menyangka semuanya berjalan dengan sangat baik," kata Lara memeluk Zaki.
"Aku akan kembali bekerja sama dengan Televisi Abs," bisik Zaki dan membuat Lara mengangkat kepalanya sambil menatap Zaki dalam-dalam.
"Benarkah?" Sungguh Lara merasa bahagia karena berita ini.
"Ya. Mereka baru saja membicarakan nya,"
"Aku senang mendengar kau kembali bekerja sama dengan mereka," kata Lara menggenggam erat jemari Zaki.
Ketika Lara akan mencium bibir Zaki, dia berbisik di telinganya.
__ADS_1
"Banyak yang melihatmu," bisik Zaki.
"Biarkan saja," ucap Lara sambil mengecup lembut bibir pria yang dia cintai diam-diam sejak lama.
Saat mereka berciuman, Irene datang sendiri untuk melihat film Lara yang begitu menggemparkan. Diapun penasaran untuk melihat seperti apa akting Lara di film ini.
Namun ketika akan melihatnya, dia malah tanpa sengaja menyaksikan pria yang dia cintai tengah berciuman dengan mesra di hadapannya.
Irene menelan kepahitan dalam hatinya dan memalingkan wajahnya. Dadanya menjadi sesak seketika.
Irene menunduk menatap kebawah didekat ujung kakinya. Dan menyesali kakinya yang telah melangkah jauh bersama Zaki selama ini. Hingga membuat kenangan itu tersimpan indah didalam hati bersama luka di akhir ceritanya.
"Aku menyimpan cerita indah bersamamu dalam kenangan saja. Akhirnya kau lebih memilih dia dan meninggalkan cinta kita," kata Irene lirih.
Saat dia berbalik, Zaki dan Lara sudah tidak ada disana. Irene mencarinya dengan mengitari seluruh ruangan lewat matanya.
Pada akhirnya dia tersenyum pahit hingga sebuah tangan menggenggam nya dari belakangnya.
"Kenapa tidak bilang jika ingin menonton? Jika kau bilang aku akan menemanimu," suara itu membuat Irene berpaling.
Ternyata itu adalah Bobi, suaminya yang mencintai nya dengan begitu besar bahkan tetap tidak berkurang meskipun dia sudah mengkhianati nya.
Irene menatapnya tepat di bola matanya, dalam hati mulai tersadar akan cinta pria ini yang tulus untuknya.
__ADS_1