
Pagi harinya Jungkook terbangun karena deringan ponselnya yang tak kunjung berhenti. Ntah siapa yang pagi-pagi menelfon, Dia melepaskan pelukan pada tubuh Hara perlahan, gadis itu masih tertidur pulas, sepertinya dia benar-benar kelelahan akibat ulah Jungkook semalam.
Dengan mata yang masih setengah terpejam Jungkook meraih ponselnya yang berada di atas nakas samping tempat tidur. Dia mengangkat panggilan itu tanpa melihat siapa yang menelfon.
"Yeobusaeyo...," suara berat khas bangun tidur itu terdengar ke seberang sana
"Key... Kau dimana? Apa kau dirumah?" Jungkook yang masih belum sadar sepenuhnya itu bertanya balik.
"Siapa ini?" masih dengan malasnya
"Aku appamu, bodoh! Kau masih belum sadar? Kau tidur dimana?" panggilan itu ternyata dari Jungnam.
"Ohh, appa ... Wae?"
"Kau dirumah?"
"Nee aku dirumah, wae?"
"Coba kau lihat Hara ... Apa dia baik-baik saja? Aku sudah menelfonnya sedari tadi tapi tidak diangkat,"
"Emmm ... Tunggu sebentar," Jungkook bangkit dari ranjangnya tanpa mematikan ponsel, sepertinya memang kesadarannya belum pulih betul, masih dalam mode bodoh! :v
Saat tangannya ingin menggapai pintu kamar, barulah kesadarannya pulih seketika, dia langsung menoleh lagi ke ranjangnya. Benar saja, Hara masih tidur di ranjangnya setelah adegan panas yang dia ciptakan semalam. Jungkook pun langsung mematikan panggilan dari Jungnam detik itu juga dan mematikan daya ponselnya.
"Bodoh sekali kau Key, aigooo ...," gumamnya
Dia mulai panik, dan bergegas menghampiri Hara yang masih terlelap. Dia berhenti tepat di depan Hara dan berjongkok mensejajarkan wajahnya dengan wajah gadis itu. Ingin sekali rasanya mengelus pipi mulus itu. Tapi keegoisannya belum terpatahkan.
Jungkook menepuk pipi Hara sedikit keras hingga terbangun. Hara mengerjap-ngerjapkan matanya yang belum bisa langsung terbuka.
"Eemmmhhh ...." lengguhnya
"Bangunlah ... Sudah pagi, suamimu mencari," ucap Jungkook sekenanya lalu beranjak akan ke kamar mandi, namun langkahnya terhenti saat mendengar rintihan dari Hara.
"Aaaaawwww, sshhhh," Hara mencoba untuk bangkit dari ranjang namun gerakannya terbatasi dengan rasa sakit pada area sensitifnya.
Jungkook kembali pada Hara dengan expresi bingung,
"wae?"
"S-sakit Jung ...," lirihnya
Jungkook menaikkan alisnya,
"Sakit? Bukannya kau sering melakukannya? Jangan manja!" ketusnya tak acuh
Hara tak menanggapi kata-kata Jungkook, sepertinya pria ini memang tidak punya hati. Dia masih saja bisa mengatakan hal yang menyakitkan seperti itu setelah merasakan sendiri semalam, apa pria ini tidak bisa membedakan rasa yang masih segel dan barang bekas?
Apa dia bodoh?!
Sekali lagi Hara mencoba bangkit berdiri namun lagi-lagi terduduk kembali. Merasa aneh dengan kelakuan Hara, Jungkook pun menarik kasar selimut yang masih menutupi tubuh gadis itu, dan menjatuhkannya di lantai.
Betapa terkejutnya dia saat melihat hampir separuh seprainya dipenuhi bercak darah dan masih basah bercampur dengan sisa-sisa spermanya semalam.
Matanya membulat sempurna,
__ADS_1
"K-kau ... masih virgin?" tanyanya tidak percaya.
Hara hanya menatapnya sayu, tanpa mau menjawab pertanyaan bodoh itu. Kalau Jungkook tidak buta harusnya dia tau ini kenyataannya. Semua sudah terjadi, nasi sudah menjadi bubur. Tak ada lagi yang harus di pertanya jawabkan.
Gadis itu meraih kembali selimut yang terkapar di lantai dengan hati-hati. Kewanitaanya sungguh terasa nyeri sekali. Dia kembali membalut tubuhnya dengan selimut itu dan memcoba bangkit dengan sekuat tenaga, kali ini dia berhasil berdiri.
Hara mulai melangkah perlahan dan tertatih ke arah pintu kamar Jungkook, namun langkahnya terhenti saat hendak melewati pria itu. Jungkook menahan lengan Hara, matanya masih terfokus ke arah seprai putih yang sudah berubah sebagian menjadi merah itu.
"Kau belum menjawab pertanyaanku," tutur Jungkook dengan suara rendahnya
Hara tidak menjawab, dia menghempaskan kasar genggaman Jungkook, dan melangkah lagi ke pintu.
Saat sampai di depan pintu itu dan meraih gagangnya, barulah dia sadar, pintunya masih terkunci dan Jungkook yang memegang kuncinya.
"Buka pintunya Jung ...," ucapnya lirih dan terkesan dingin.
Jungkook mendekat padanya dan membalikkan tubuh gadis itu, lalu menatap matanya lekat,
"Jawab dulu pertanyaanku,"
Hara membalas tatapan Jungkook. Tatapan yang terpancar dari mata Hara terasa kosong, Jungkook bisa merasakannya. Ntah sejak kapan aura gadis ini berubah jadi sedingin ini. Sepertinya Jungkook telah merubah gadis manis nan ceria ini menjadi sebuah boneka hidup dan dingin.
"Tak ada lagi yang harus di pertanya jawabkan, anggap saja ini tidak pernah terjadi, anggap saja pernyataanmu semalam itu benar adanya Jung. Aku memang seorang jalang yang telah menghancurkan keluargamu, benarkanlah semua pemikiranmu tengtangku. Mulai sekarang kita akan saling membenci satu sama lain, aku tak akan pernah lagi menampakan diriku di hadapanmu!"
Jungkook terdiam, tenggorokannya tercekat saat mendengar kata-kata yang keluar dari mulut gadis ini. Benih-benih rasa bersalah mulai tumbuh di hati dan pikirannya saat ini, apa yang telah dia lakukan?
Sepertinya Jungkook memang telah melakukan sebuah kesalahan besar yang tak seharusnya dia lakukan, dia merasa lebih hina dari apapun. Hanya karena pikiran bodohnya yang tak jelas dan tuduhan yang tak beralasan dia tega menghancurkan gadis yang berada di hadapannya ini! Memerawani tanpa ampun dan dengan kasarnya, Jungkook mulai mengingat perlakuannya pada Hara semalam, dia seperti hewan buas yang mesum dan bejat!
Akhirnya Jungkook membuka pintu kamarnya tanpa mengatakan apapun, begitu juga dengan Hara yang langsung pergi begitu saja menuju ke kamarnya dengan sehelai selimut di tubuhnya. Sepertinya para pembantu sudah pulang, karena hari memang sudah siang, jadi rumah kembali kosong.
Hara bergegas masuk ke kamarnya dan menutup rapat dan mengunci pintu kamar itu. Dia melepas pegangannya pada selimut yang sedari tadi menutupi tubuh polosnya, membiarkan selimut itu tergelatak begitu saja di lantai, lalu menuju kamar mandi.
Apa yang dipikirkan Hara saat ini?
Bagaimana jika Jungnam tau?? Apa itu?
Tidak!
Bukan!
Bukan itu yang dia takutkan saat ini.
Jungnam tak akan mengetahuinya jika memang tidak sengaja di beri tahu
Tak ada yang mengetahui kalau Hara masih perawan sebelumnya karena memang statusnya adalah seorang janda. Semua orang pasti berpikir jika Hara telah melepas mahkotanya untuk suami terdahulu.
Bukankah begitu?
Mengapa Jungkook tega melakukan ini?
Mengapa harus Jungkook?
Dia sangat ingin mengangap Jungkook sebagai anaknya sendiri. Walaupun memang tak pantas karena Jungkook sebaya dan bahkan lebih tua satu tahun dari dirinya. Tapi itu sama sekali tidak masalah untuk Hara sebelum ini. Hara juga sudah mencintai Jungnam dan bertekad akan menemani pria itu hingga akhir hidupnya.
Tapi ... jika sudah seperti ini, harus bagaimana? Semua tak akan lagi sama. Dia bahkan sudah menumbuhkan rasa benci untuk Jungkook di dalam hatinya. Jungkook sudah menghancurkan harapan yang telah Hara impikan setelah menikah dengan Jungnam.
__ADS_1
Hara hanya ingin menjadi seorang istri yang baik untuk Jungnam dan seorang ibu pengganti yang sempurna untuk Jungkook.
Namun ... Semua sirna hanya dalam 1 malam, impian dan harapan itu, tak akan lagi ada.
"AKU MEMBENCIMU JEON JUNGKOOK, AKU SANGAT MEMBENCIMU!!!"
teriakan dan tangis yang menyakitkan akhirnya di keluarkan juga. Hara menangis sejadi-jadinya, dia sangat menyesal tidak bisa melindungi diri sendiri. Menyesal karena membiarkan anak dari lelaki yang dia cintai menyentuh tubuhnya.
Bagaimana dia akan memulai hari setelah ini? Bagaimana dia masih bisa satu atap dengan orang yang telah ia tekatkan untuk di benci. Jika bisa, Hara tak akan mau lagi bertemu dengan Jungkook setelah ini. Bahkan sampai akhir hayatnya. Apakah itu mungkin?
Bagaimanapun Jungkook adalah anak dari suaminya saat ini. Hara sudah berjanji pada dirinya sendiri tidak akan meninggalkan Jungnam. Dan Jungnam pasti tak akan meninggalkan Jungkook, walaupun sikapnya pada Jungkook memang jauh dari kata baik selama ini, tapi Hara tau kalau pria itu sangat menyayangi putranya.
Egoiskah jika Hara meminta Jungnam pergi bersamanya? Tidak akan jauh! Tapi setidaknya tak satu atap dengan Jungkook!!! Apakah itu mungkin? Bagaimana jika Jungnam meminta alasan? Apa yang harus dia katakan?
***
Disisi lain,
***
Jungkook terpaku di balik pintu kamar Hara. Dia bermaksud ingin mendatangi gadis itu dan meminta maaf, atau bahkan jika Hara ingin membunuhnya saat ini dia siap. Tapi lagi-lagi niatnya sirna begitu saja saat mendengar tangisan pilu dan teriakan amarah yang ditujukan untuk dirinya.
"Maafkan aku, maafkan kebodohanku," lirihnya .
Tanpa terasa Jungkook juga mengeluarkan butiran bening dari sudut matanya.
Jungkook menjauh dari pintu kamar Hara dan kembali ke kamarnya dengan sesak yang mungkin sama dengan yang dirasa oleh Hara saat ini.
Pantaskah dia menyesali semuanya saat ini? Masih pantaskah dia mendapatkan maaf dari Hara? Gadis itu bahkan sudah sangat menbencinya. Itu terdengar jelas di telinganya. Dan terus terngiang-ngiang hingga saat ini.
Jungkook mengambil ponselnya dari saku dan menyalakannya. Dia kembali menelfon sang ayah.
In call
"Yaaaaa! Kenapa kau mematikan telfon seperti itu?!" Jungnam langsung mengomel saat menerima panggilan..
"Mian ... Ponselku habis batre tadi appa," ucapnya dengan tidak bersemangat
"Bagaimana dengan Hara? Apakah dia baik-baik saja?"
"Sepertinya dia tidak enak badan. Segeralah pulang, dia pasti merindukanmu!"
"Mwo? Dia sakit? Tolong kau rawat dia, jangan biarkan dia sendirian, jaga dia,"
Jungkook memejamkan matanya saat mendengar kalimat terakhir dari sang ayah.
Menjaga?
Merawat?
Itu tak akan mungkin lagi dia lakukan.
Dia memcoba berbicara tengil seperti biasanya, seakan tidak perduli.
"Shiro ... Urus saja sendiri. Jangan harap aku mau mengurus istrimu, pulanglah hari ini juga jika tak mau dia mati!" Jungkook langsung mematikan telfonnya setelah menyelesaikan kalimat itu. Dia bahkan tak menunggu Jungnam membalas kalimatnya.
__ADS_1
Jungkook memang ingin ayahnya segera kembali, karena dia tak akan bisa melakukan permintaan dari ayahnya tadi. Tak akan pernah bisa! Secepatnya Jungnam kembali akan lebih baik, Jungkook juga mengkhawatirkan Hara yang berada di kamarnya sendirian. Ada perasaan takut jika Hara melakukan tindakan yang tak diinginkan.
Jungkook sudah siap memasang badannya jika memang nanti Hara mengadukan perbuatannya pada Jungnam. Yang Jungkook tau, ayahnya pasti tak akan memaafkan perbuatannya. Dia akan menerima apapun resikonya nanti. Matipun dia siap jika memang diharuskan!