
Pagi harinya
Hara terbangun lebih awal, tapi hari ini sangat berbeda dari biasanya. Pagi ini sungguh pagi yang indah baginya, karena ini adalah kali pertama dia terbangun dalam pelukan sang suami. Biasanya kalau di rumah besar, Jungnam tak pernah mau tidur satu kamar dengannya. Pria Jeon itu akan mengungsi di kamar utama saat Hara telah terlelap.
Walaupun apartement ini cukup besar, tetapi hanya ada satu kamar. Hara sendiri yang meminta tidak mau unit yang memiliki banyak ruangan. Ini juga alasan Jungnam memilih lantai atas. Karena memang di buat Khusus sama seperti keinginan Hara, jadi tidak perlu repot-repot mencari yang lainnya
Hara menyunggingkan senyumnya saat merasakan lengan kekar itu mengeratkan pelukan di pinggangnya. Dia mengelus-elus lengan suaminya itu dengan lembut.
Senyum di bibirnya semakin melebar saat mengingat kejadian semalam, sentuhan Jungnam masih membekas dalam ingatannya.
Dia cukup mengerti dan tau alasanya mengapa Jungnam tidak mau memberikan lebih padanya. Sepertinya Jungkook memang membuatnya candu dengan sex, padahal pertama di perkosa rasanya sakit, tetapi jika di flashback ke kejadian itu rasanya memang berbeda saat sudah berkali-kali melakukanya dengan Jungkook
Walaupun dia memang membenci pria muda Jeon itu, tapi kenyataannya memang Jungkook lah yang secara tidak sadar mengajarkan Hara tentang kenikmatan sex secara langsung. Mungkin Hara sebenarnya tidak benar-benar membenci Jungkook, Hara bukanlah gadis yang pendendam.
Kata benci yang di ucapkannya saat itu mungkin hanya kesal saja karena Jungkook telah mengambil paksa mahkotanya. Padahal pria itu tau kalau Hara adalah istri ayahnya sendiri, dan perlakuan Jungkook pagi itu juga sangat menyakitkan untuknya, Jungkook malah seperti tidak ada rasa bersalah dan masih bisa menghinanya sering melakukan itu padahal sudah merasakan sendiri. Bahkan hingga detik ini, tidak ada permintaan maaf yang di terima dari pria itu.
Apakah Jungkook memang tidak merasa bersalah sedikitpun?
"Oppa ... bangunlah, sudah pagi." Hara menepuk pelan lengan sang suami yang masih terlelap sambil memeluknya
Jungnam bergerak melepaskan pelukan dan melakukan perenggangan otot,
"Jam berapa sayang?" tanyanya dengan suara yang masih mengambang di tenggorokan
"Setengah 7 oppa, sana mandi dulu, akan ku siapkan sarapan dulu." Hara beranjak bangkit lalu segera menuju dapur
Jungnam pun langsung menuju kamar mandi tanpa protes, semua memang telah tersedia di sini. Dari bahan makanan, dan sebagainya. Pakaian Jungnam pun memang ada karena mungkin dia akan sering menemani Hara walaupun tidak setiap hari.
Mungkin setelah ini Hara akan sering memaksanya untuk menginap, karena dengan begitu dia bisa menghabiskan banyak waktu berdua dengan suaminya. Kalau tau seperti ini, harusnya dari awal saja minta pindah rumah, kan jadinya bisa di peluk terus dan tidur satu ranjang
Setelah selesai membersihkan dirinya, pria Jeon itu beranjak ke dapur untuk menyantap sarapan yang telah di siapkan Hara untuknya. Dia sudah terbiasa memakan masakan Hara selama beberapa minggu ini, lagipula masakan Hara memang enak
"Sayang, ini...," Jungnam memberikan dasinya pada Hara untuk minta di pasangkan seperti biasanya
Dengan sigap gadis itu langsung mengambil alih dasi dari tangan Jungnam dan memakaikannya
"Kalau tidak ada aku siapa yang memasangkan dasi ini?"
__ADS_1
"Sebelum kamu biasanya akan di pasangkan oleh Key, kalau tidak ada kalian ya tidak pakai dasi," jawab pria itu asal
"Benarkah? Oppa tidak meminta wanita lain memasangkannya bukan?" Hara masih fokus
Jungnam terkekeh,
"Wanita siapa? Di kantor bahkan tidak ada wanitanya kecuali klient sayang, kau ini ada-ada saja."
"Aku mempercayai oppa sepenuhnya, tetapi aku tidak mempercayai wanita-wanita di sekitar Oppa. Walaupun oppa sudah berumur, tapi pesona suamiku ini tidak bisa di abaikan." Hara bergerak melingkarkan lengannya di pinggang sang suami dengan manjanya setelah dasi terpasang sempurna
"Hanya kamu yang menyukai pria seperti ini sayang, mana ada wanita yang berani dekat-dekat atau bahkan menempel sama suamimu ini, eoh?" Jungnam membalas pelukan Hara
"Kalau sikap oppa padaku sekarang oppa tunjukan ke publik, aku yakin wanita di luar sana akan berbondong-bondong datang ke oppa untuk di jadikan istri."
"Hahaha, kau ini ada-ada saja sayang, walaupun mereka datang main keroyokan juga tak akan mempan."
Hara ikut terkekeh,
"Wanita jaman sekarang tidak bisa di tebak, Oppa terkadang mereka malah tidak memperdulikan status seorang pria. Apa lagi pria itu yang sudah benar-benar menjadi target incarannya, tidak jamannya lagi wanita yang di lecehkan, Oppa. Pria 'pun sudah bisa dilecehkan oleh wanita!"
Tawa Jungnam menggelegar seketika memenuhi seisi ruangan saat mendengar ucapan istrinya kali ini,
Hara langsung melepaskan pelukannya dan mendorong Jungnam,
"Cepat sarapan,Oppa ini sudah siang." bergerak cepat mengambil makanan untuk sang suami
"Pintar ngeles, pintar merayu, pintar ngambek, apa lagi?" ejeknya seraya mendudukan diri di meja makan
"Diam dan makanlah, Oppa mau ku sumpal cabai ini?" Mengangkat wadah sambal cabai di tangan kanannya,
Jungnam langsung terdiam dan menyantap makanannya, Hara hanya tersenyum melihat kepatuhan suaminya itu
"Oppa ... aku ingin bekerja, bolehkah?" Tanyanya si sela-sel sarapan
Jungnam mengangkat wajahnya menatap Hara,
"Bekerja? Untuk apa? Apa uang yang oppa berikan tidak cukup?"
__ADS_1
Hara menggeleng,
"Bukan begitu, oppa itu lebih dari cukup bahkan belum ku gunakan sama sekali."
"Terus? Kenapa masih mau bekerja?"
"Aku bosan di rumah terus, Oppa aku sudah memikirkan ini sebelum pindah kemarin tapi lupa terus mau membicarakannya sama Oppa. Aku hanya ingin ada aktivitasnya, boleh ya?" ucapnya memelas
"Mau bekerja dimana? Oppa tidak mau mempekerjakanmu di JNK, oppa tidak akan memasukan karyawan wanita di sana."
"Terserah oppa saja, asalkan aku bisa bekerja aku akan menerimanya apapun itu,"
"Benar? Tanpa protes?"
Hara mengangguk,
"Iya, aku berjanji tidak akan protes."
"Baiklah, nanti akan oppa kabari kalau sudah dapat tempatnya. Hanya 1 kali kesempatan ini, kalau protes oppa tak akan mengijinkanmu bekerja selamanya. No debat! Oke?"
Hara mengangguk lagi,
"Iya!"
"Ya sudah, Oppa pergi dulu ya. Malam ini oppa tidak kemari, jangan merengek!" Mencubit gemas hidung Hara
"Iya, ada Yu oppa nanti malam. Aku sudah menyuruhnya datang menemaniku, dia akan kemari," ucapnya senang
Jungnam mengecup singkat kening Hara,
"Baguslah, mungkin bulan-bulan ini jadwal ke luar negeri akan padat Jangan pergi kemanapun tanpa pengawal, Oppa akan menyuruh Key sesekali menjengukmu kalau oppa tidak ada. Oppa pergi ya sayang." beranjak keluar unit,
Hara masih membeku saat mendengar nama Key di sebut pada akhir kalimat, sampai-sampai dia tidak sadar Jungnam berlalu begitu saja. Beberapa saat setelah Jungnam pergi barulah dia tersadar
"Tidak! aaahhhh oppa, kuharap dia tidak benar-benar menyuruh Jungkook kemari. Aku masih tidak siap melihat wajah pria itu." Hara mengusap wajahnya frustasi
Memang tidak dendam benci pun hanya di mulut saja, tapi bukan berarti masih mau bertemu, lebih baik tidak bertemu selamanya maka akan jauh dari kata canggung. Walau Jungkook sudah menjadi anak tirinya, tapi pria itu juga sudah pernah menyetubuhinya bahkan yang pertama.
__ADS_1
Bagaimana nanti kalau bertemu lagi? Bagaimana reaksi keduanya?
C_U_T