
Dua hari kemudian
***
Seperti sebelumnya, lagi-lagi Jungkook tidak pulang ke rumah dalam dua hari ini, dia memutuskan untuk tinggal di rumah taehyung sementara waktu. Dia hanya ingin menenangkan diri saja sambil meratapi penyesalannya dan mencari cara untuk minta maaf pada Hara.
Dia juga selalu memikirkan Satu hal yang di sebutkan Taehyung pada malam itu. Kata-kata yang membuat Jungkook pusing setiap saat.
(Kalimat Taehyung: "apa kau mengeluarkannya di dalam? Berapa kali? Bagaimana kalau dia sampai hamil dan appamu masih tidak menyentuhnya! Tamat riwayatmu Key! Apa judulnya itu? [Istriku mengandung janin putraku] kau tau? Itu konyol sekali, jika sampai itu terjadi kau tinggal pilih, mau mati di tangan appamu atau di tangan Yoongi hyung! 2 orang itu tak akan pernah mengampunimu. Saranku lebih baik kau pergi ke planet pluto saja sebelum semua terlambat!! Kurasa hidup dengan alien lebih menyenangkan dibanding mati secara mengenaskan ditangan orang orang-orang itu!!")
SIAL!!!! Perkataan dan ejekan Taehyung yang selalu terngiang-ngiang di telinga dan otak Jungkook. Setiap memikirkannya Jungkook akan semakin frustasi, semoga saja Hara tidak benar-benar akan hamil. Semoga saja! Jungkook tidak meyakininya dan sangat takut sekali. Pasalnya Jungkook tak pernah menanamkan benihnya sembarangan, saat bermain dengan wanita yang sebelum-sebelumnya, Jungkook selalu menggunakan pengaman. Hara adalah wanita pertama yang di sentuh oleh Jungkook tanpa pengaman.
***
"Yaaaa ... mau tidur sampai kapan? Kau tidak ke perusahaanmu lagi? Kau ingin bangkrut, eoh??" Taehyung menarik selimut untuk membangunkan Jungkook yang masih meringkuk di kasur dan enggan membuka matanya padahal hari sudah siang.
"Biarkan saja aku malas, Hyung. Lagipula karyawanku banyak, aku tak akan bangkrut semudah itu." Jungkook menjawab dengan suara seraknya, matanya masih terpejam
"Yayaya aku tau, kalaupun bangkrut kau masih punya JNK. Bodohnya aku mengkhawatirkan orang yang bahkan lebih kaya dariku, aigooo ...," Taehyung mengoceh sambil memasang dasinya.
Jungkook sama sekali tak berniat menggubris ucapan Taehyung.
"Kau mau kekantor, Hyung?" Jungkook membuka matanya sedikit untuk melihat ke arah Taehyung,
"Aku hanya akan pergi sebentar untuk melihat lokasi proyek yang sedang kukerjakan sekarang, kenapa?" tanyanya Tanpa melihat ke lawan bicara
"Aku bosan sekali. Kekantor malas, disini bosan! Aku harus apa, Hyung?" Jungkook mulai merengek
"Mati saja sana!" sarkas Taehyung cepat
"Jahat sekali!" memautkan bibirnya
"Kemarin kau sendiri yang mau di bunuh, sekarang di suruh mati tidak mau!"
"Aku berubah pikiran, aku mau melihat anakku dulu sebelum mati." terduduk di kasur dengan malas
"Anak darimana? Dari Hara?" Taehyung terkekeh
"Ahhh, Hyungggg!Jangan membuatku kembali mengingat itu, senang sekali kau membuatku sakit kepala." Jungkook kembali membanting kasar tubuhnya di atas kasur dan sesekali menghentakkan kakinya ke udara karena kesal dengan Taehyung
"Hahaha, baiklah! Aku tak akan mengatakannya lagi ... Yoongi Hyung hari ini pulang dari jepang, dia akan tiba nanti siang. Dia ingin bertemu denganku di Rich nanti sore, kau mau ikut??" Taehyung langsung mengalihkan pembicaraan
Jungkook bangkit kembali saat mendengar nama Yoongi,
__ADS_1
"Yo-Yoongi Hyung?"
"Emmm ... Ini semua karenamu! Aku jadi harus berbohong lagi setelah ini, tanggunglah dosaku nantinya di akhirat. Sumber dosaku itu rata-rata berasal dari dirimu kau tau!" ketus Taehyung
"Isshhh, mana bisa begitu? Memang dosa bisa di alih tanggungkan?" elak Jungkook
"Tentu saja bisa ... saat kau berada di ambang pintu surga dan neraka nanti akan ditanya oleh malaikat. Kau ingin menanggung dosa siapa, kau harus menjawab dosaku! Aku sudah banyak berkorban untukmu," ucap Taehyung dengan wajah dibuat serius
Jungkook berdecak,
"Cxcxcx ... terus saja membual, mumpung gratis! Kau pikir aku anak kecil yang bisa percaya dengan bualanmu?"
Taehyung tertawa keras,
"Iya ... aku lupa kau sudah dewasa dan sudah bisa menanam janin, hahahahahaha. Aku pergi dulu! Hahahaa." dia langsung keluar dari kamar dengan cepat sebelum Jungkook melayangkan serangan.
"Yaaaakkkkk, KIM TAEHYUNG!" teriak Jungkook saat Taehyung sudah menutup pintu kamar, tapi beberapa detik kemudian dia kembali lagi
"Ikutlah nanti, akan aneh kalau kau tidak ikut Bersikaplah seperti biasanya. Kau tau bukan kalau Yoongi Hyung itu sangat peka sama seperti Namjoon Hyung, kita bertemu disana saja nanti. Aku pergi!"
Taehyung benar-benar pergi setelah menyelesaikan kalimatnya.
Jungkook hanya mendesah berat dan kembali membaringkan tubuhnya, ntah bagaimana dia akan menghadapi Yoongi nanti. Belum bertemu saja sudah gemetaran, bagaimana kalau sudah bertatap muka?
***
***
Ternyata Jungnam mengabulkan keinginan Hara untuk pindah, hanya Hara saja. Jungnam tidak mungkin pindah dari rumah utamanya dan meninggalkan Jungkook begitu saja, walaupun Jungkook sudah dewasa dan juga sering tidak pulang ke rumah. Tetapi biar bagaimanapun Jungkook hanya memiliki Jungnam seorang sebagai sisa keluarganya saat ini.
Susah juga kalau seperti ini, di satu sisi Jungnam ingin selalu berada di sisi Hara dan menjaganya. Tapi disisi lain dia juga tidak bisa membiarkan Jungkook begitu saja. Pria Jeon ini harus pandai membagi waktunya. Dia hanya ingin mrmbuat Hara nyaman dimanapun tempat tinggalnya. Jungnam tak ingin memaksakan sesuatu yang bisa saja membuat Hara tertekan.
Jungnam sudah membeli sebuah apartment elit di kawasan gangnam-gu khusus untuk Hara, bukan hanya satu kamar yang dibelinya, tetapi seluruh gedung di ambil alih oleh Jungnam. Memang ada beberapa kamar yang telah dimiliki penghuninya masing-masing, tetapi sebagian besar banyak yang masih menyewa. Tujuannya membeli gedung ini hanya untuk bebas menempatkan penjaga saja supaya Hara tetap aman. Jungnam tidak mungkin selalu berada didekatnya setiap waktu.
Bagaimanapun Jungnam adalah seorang pebisnis dan rentenir yang terkenal keji di luar sana, tentunya pria ini memiliki banyak musuh yang terkadang tak terlihat karena menaruh dendam padanya, itu bukan rahasia umum lagi dalam bisnis seperti ini.
Tak hanya Hara, Jungkook pun mendapatkan hal yang sama. Jungnam memang selalu waspada akan segalanya. Bedanya, Jungkook hanya di jaga dalam jarak aman saja jika berada di luar rumah, karena tentunya dia tak akan menerima bodyguard disisinya. Itu sangat konyol menurut Jungkook, toh dia juga bisa menjaga dirinya sendiri. Jungkook memang sudah dibekali beberapa ilmu bela diri sejak kecil. Hal-hal seperti itu tentu sangat dibutuhkan oleh orang besar seperti mereka. Terlebih lagi Jungkook adalah anak tunggal, bagaimanapun dia adalah pewaris satu-satunya untuk JNT.
Jungnam dan Hara baru saja tiba di gedung aprtement tempat tinggal Hara yang baru. Saat turun dari mobil, mereka di sambut oleh belasan pengawal yang memang ditugaskan berjaga disana.
"Oppa ... apa ini tidak berlebihan? Kenapa banyak sekali penjaganya? Apa nanti kata orang?" Hara menatap sendu pada Jungnam, dia sedikit tidak nyaman dengan situasi seperti ini.
Jungnam menggandeng tangan Hara dan membawanya berjalan masuk ke dalam, mereka melanjutkan pembicaraan sambil jalan.
__ADS_1
"Apanya yang berlebihan sayang? Oppa malah berencana akan menambah 10 penjaga lagi di sini. Kita sudah membeli seluruh gedungnya, jadi tidak ada yang akan berkomentar apapun. Tenang saja ya," jawab Jungnam dengan santainya
Mata Hara langsung membulat sempurna mendengar penuturan Jungnam barusan,
"Mm-Mwoooo??? Op-ppa membeli seluruh gedung 12 lantai ini? Yang benar saja, Oppa!"
Jungnam menganggukkan kepala,
"Iya, tapi ada beberapa kamar yang sudah menjadi hak pribadi pemiliknya, hanya itu yang tidak dibeli. Secara keseluruhan gedung ini sudah menjadi milikmu sayang."
"Mmm-milikku?" Tanyanya kembali untuk memastikan kalau tidak salah dengar.
Jungnam mengangguk lagi, mereka memasuki lift diikuti dua bodyguard di belakangnya.
"Oppa membeli gedung ini atas namamu, Sayang." pria Jeon itu mengelus pipi Hara sayang.
"Oppa ... kenapa sih? Untuk apa semua ini? 1 unit apartment saja cukup untukku oppa. Aku tidak membutuhkan apapun, senang sekali sih buang-buang uang!" Hara mengomel dengan dahi yang dikerutkan
Jungnam tertawa lalu memeluk gemas istrinya itu,
"Lucu sekali sih? Istri siapa eoh?"
Hara langsung mendorong suaminya itu menjauh karena sadar mereka tidak hanya ber2 di dalam lift,
"Opppaaaa ... tidak malu sekali sih, ada mereka di sini."
"Wae? Kenapa memangnya? Biarkan saja mereka lihat, kalau ingin mereka bisa mencari wanita. Tidak sulit," ucap Jungnam tak acuh dan langsung mendapat cubitan maut dari Hara tepat di perutnya.
"Sembarangan sekali kalau ngomong." Hara menatap tajam suaminya itu.
Jungnam kembali terkekeh dan mencolek hidung mancung sang istri,
"Ngambek terus ... ayo," menggandeng Hara kembali
Pas sekali liftnya berhenti, mereka sudah sampai di lantai paling atas gedung. Jungnam sengaja memilih lantai ini karena memang ini khusus, hanya ada satu kamar yang terdapat disini. Vasilitasnya lengkap, terdapat kolam berenang dan bar kecil juga yang dibuat secara expres. Memang terbukti, uang bisa merubah apa saja dalam sekejab, bahkan kehidupan Hara pun berubah drastis karena uang.
Jika ditanya apa yang paling berbahaya di dunia ini??
Tentu saja jawabannya adalah uang, uang dapat mengendalikan segalanya, bahkan hidup seseorang pun selalu bergantung dengan uang.
Bukankah begitu?
Bukan hanya wanita yang bisa matrealistis jaman sekarang, pria pun sama. Tak ada yang bisa di bandingkan antara pria dan wanita. Semua sudah sejajar!
__ADS_1
C_U_T