
Hara benar-benar tidak keluar dari kamarnya walau sedetikpun. Dia bahkan tidak makan ataupun minum. Tapi Jungkook tetap setia menungguinya dan sesekali mondar mandir di depan kamar Hara, tak jarang juga Jungkook menempelkan telinganya di pintu kamar itu hanya untuk memastikan tidak ada bunyi-bunyian aneh di dalam sana.
Dia masih takut Hara melakukan sesuatu yang tidak diinginkan, segala kemungkinan bisa terjadi dalam kondisi seperti ini. Saat ini Jungkook sedang bersandar di dinding samping pintu kamar Hara, dia tak pernah pergi jauh dari sana.
Mendengar ada suara dari arah depan, Jungkook segera menjauhi pintu kamar, seolah-olah baru kembali dari dapur dan berjalan ke depan.
Seperti prediksi Jungkook, setelah menyelesaikan pekerjaannya. Jungnam langsung kembali ke korea dengan pesawat tercepat. Dia tiba di korea sore hari dan langsung pulang ke rumah tanpa hambatan apapun.
Terlihat Jungnam memasuki rumah dengan terburu-buru dan panik, sepertinya pria ini memang menyayangi Hara dengan sangat. Hati Jungkook langsung berdenyut saat mendapati ayahnya memasuki rumah dengan expresi seperti itu. Pemandangan ini semakin menyesakkan untuknya, sesal yang tiada habisnya.
Jungkook berharap setelah Jungnam mengetahui semua ini dari Hara, pria itu akan segera memukul wajah tampannya hingga tak berbentuk lagi atau bahkan membunuhnya. Jungkook menunggu semua itu hanya untuk mengurangi rasa bersalah yang amat menyakitkan untuknya saat ini.
"Dimana dia?" Jungnam langsung melempar barang bawaannya di sofa dan menghampiri Jungkook.
Jungkook kembali memasang expresi datar dan mencoba biasa saja lalu menjawab dengan santai
"Dikamarnya ... dia tidak keluar dari tadi pagi, tidak makan dan tidak minum. Apa dia mati?"
"Aissshhh kau ini, sudah kusuruh untuk menjaganya!" Jungnam langsung menggeser kasar tubuh Jungkook yang menghalangi jalannya dan berlari ke pintu kamar.
Nyuutttt!!!
Lagi-lagi dadanya terasa nyeri saat mendengar kata menjaga dari mulut ayahnya.
Pintu kamar itu masih terkunci ketika Jungnam menekan gagangnya. Tidak ada suara di dalam, sangat sunyi.
"Sayang, buka pintunya ... ini Nam oppa." Jungnam mencoba memanggilnya dengan lembut. Sambil mengetok-ngetok pintu.
Hanya beberapa detik saja, pintu itu langsung terbuka. Hara langsung berhamburan ke dalam pelukan sang suami.
"Oppaaaaa ...," ucapnya riang, tak ada sedikitpun kesedihan terdengar dari suaranya
"Kau baik-baik saja sayang? Kata Jungkook kau sakit?" Jungnam menyambut pelukan istrinya itu.
Pria Jeon itu menampakkan raut wajah kebingungan, Pasalnya Hara terlihat baik-baik saja, bahkan sangat sehat sekali dan juga ceria, tidak ada tanda-tanda sakit di derita olehnya.
Apa Jungkook berbohong?
Jungkook yang memang sengaja ingin menguping ingin mastikan kondisi Hara sekarang terpaku melihat kejadian itu, ada apa dengan Hara? Ini benar-benar diluar dugaannya. Jungkook kira Hara akan menangis saat bertemu dengan Jungnam, tapi kenapa begini? Kenapa dia bisa berubah ubah seperti itu?? Apa dia mutan? Dia menderita DID?
"Aku baik-baik saja oppa, hanya malas." Hara tersenyum pada Jungnam dengan indahnya, dia tau Jungkook berdiri tak jauh dari mereka, tapi dia sama sekali tak berniat melirik atau bahkan menganggap pria itu ada.
"Hahhhh ... leganya, oppa kira kau benar-benar sakit. Sayang, Oppa khawatir sekali. Kenapa kau tidak mengangkat telfonmu? Hemm?" Jungnam membelai lembut surai istrinya yang masih betah membenamkan wajah di dada bidangnya.
"Hpnya kusilent oppa, aku benar-benar tak mau melakukan apapun, aku sudah bertekat tak melakukan apa-apa hingga oppa pulang, dan ternyata oppa pulang lebih cepat dari dugaanku. Ahhhhh ... senang sekali." Hara menggesek-gesekan wajahnya di dada Jungnam dengan manja
"Kau merindukan oppa? Manis sekali istriku, ayo kita masuk," Jungnam membawa Hara kembali ke dalam kamar.
Jungkook bagaikan makhluk tak kasat mata sekarang, dia hanya terus memandang pintu kamar sang ayah yang baru saja tertutup rapat sesaat setelah pasutri itu masuk ke dalam. Bukannya merasa senang melihat Hara baik-baik saja, tapi hatinya malah menjadi semakin sakit.
Apa yang sebenarnya di direncanakan gadis itu? Apa dia sengaja ingin membuat Jungkook tersiksa dengan rasa bersalahnya? Kenapa Hara bersikap seperti itu di hadapan Jungnam? Seolah tidak terjadi apapun, Hara bahkan tak berniat melirik ke arahnya sedikitpun. Jungkook tau jika Hara menyadari keberadaannya di sana dan gadis itu sengaja mengabaikannya.
Tapi kenapa sakit sekali rasanya? Kenapa dadanya sesak mendapat perlakuan seperti itu dari Hara. Bukankah malah bagus jika Hara tidak memberitau pada ayahnya, seolah tidak terjadi apapun, jadi Jungkook bisa aman dan baik-baik saja setelah ini.
Namun sepertinya bukan itu yang Jungkook inginkan, dia berharap Hara melaporkan perbuatannya pada Jungnam dan dia mendapat hukuman atas itu semua. Agar dia terbebas dari rasa bersalahnya pada Hara. Tapi kalau begini bagaimana? Apakah Jungkook akan selamanya terkurung dalam sesal? Seolah-olah memang benar kalau Hara sengaja ingin Jungkook tersiksa terus menerus dan meratapi perbuatan bejadnya seumur hidup.
***
__ADS_1
Hara masih belum melepaskan pelukannya dari Jungnam, tidak biasanya dia seperti ini, selama ini Hara tak pernah bermanja atau bahkan memeluk Jungnam duluan tanpa ingin melepasnya.
Seperti ada sesuatu yang disembunyikan gadis ini, dia ingin menumpahkan segala yang dia rasa dengan pelukan yang menenangkan dan hanya menangis dalam hati.
Mereka sedang dalam posisi setengah duduk di atas ranjang dengan pemandangan televisi yang menyala di hadapannya. Jungnam bahkan belum sempat melepaskan sepatunya.
Jungnam membelai dan menyisir rambut hitam panjang sang istri dengan sela-sela jarinya tangan kanannya dan menepuk-nepuk pelan lengan Hara yang melingkar erat di pinggangnya dengan tangan kiri. Menenangkan sekali.
"Sayang...," Jungnam mencoba memulai percakapan setelah diam cukup lama, mereka tidak bicara apapun sedari masuk ke kamar, Hara langsung menariknya duduk ke kasur dan memeluknya seperti ini.
"Hmmm," singkatnya, pandangan Hara tertuju ke televisi,
Sepertinya hanya pandangan saja yang tertuju ke sana, tidak dengan hati dan pikirannya saat ini.
"Apa ada yang terjadi?" tanyanya dengan hati-hati,
Masih dalam posisi yang sama Hara menjawab,
"Waeyo oppa? Memangnya apa yang terjadi?"
"Tidak biasanya kau seperti ini! Apa ada sesuatu yang terjadi? Atau kau menginginkan sesuatu?" tuturnya lembut.
Hara menggetapkan bibirnya mengatur emosi, wajar saja Jungnam merasa dirinya aneh, karena selama beberapa hari bersama Hara memang tidak pernah seperti ini. Hara hanya ingin berlindung, dia merasa aman saat berada di dekat Jungnam. Pria dewasa ini benar-benar seperti tameng pelindung untuknya.
"Sayang...," panggilnya lagi karena tak kunjung mendapat jawaban.
"Tidak terjadi apa-apa, oppa. Semua baik-baik saja... Tapi...!" Hara menggantung kalimatnya, dia mulai merenggangkan pelukan pada Jungnam dan memperbaiki posisinya.
Jungnam langsung menatap lekat manik wajah sang istri dan bertanya lagi.
"Oppa ... Bisakah kita pindah dari sini?" Hara berucap ragu.
Jungnam menyeritkan alisnya,
"Pindah? Kenapa sayang? Kau tidak nyaman disini? Apa yang membuatmu tidak nyaman? Key?"
Hara menggeleng cepat,
"Bukan begitu oppa, aku hanya tidak terbiasa di rumah sebesar ini. Aku baru merasakannya kemarin disaat oppa tidak ada, rumah ini terlalu besar dan kosong. Aku kesepian oppa. Bisakah kita membeli rumah yang lebih kecil saja? Biarkan rumah ini untuk putramu."
Putramu? Sepertinya Hara memang membenci Jungkook amat sangat! Bahkan menyebut namanya saja dia sudah tidak ingin lagi.... Sedalam itukah Jungkook melukai harga diri dan perasaannya? Separah itukah Jungkook menyiksa batinnya?
***
Malam harinya Jungkook pergi keluar, tujuannya bukan ke klub seperti biasanya. Tapi ketempat salah satu sahabatnya yang sering menjadi tempat curhat Jungkook di saat sedang gunda atau galau. Satu-satunya orang yang paling Jungkook percayai di antara sahabatnya yang lain.
Kim Taehyung, Taehyung adalah sahabat yang menurut Jungkook paling bisa di andalkan dalam urusan curahan hati. Taehyung selalu siap mendengarkan setiap kata dari mulut Jungkook dengan sabar, bahkan tak jarang juga dia memberikan masukan yang menenangkan dan berguna untuk Jungkook. Taehyung memang berbeda dari sahabatnya yang lain, setidaknya Taehyung selalu bisa menjaga rahasia kalau Jungkook menceritakan hal-hal yang bersifat pribadi padanya.
Jungkook tiba di rumah Taehyung dan langsung mendapat sambutan hangat dari ibu sahabatnya itu, ibu Taehyung sangat ramah, tak beda jauh dengan mendiang ibunya dulu, Jungkook juga sudah dianggap anak sendiri olehnya.
Terlebih lagi setelah ibu Jungkook meninggal, ibu Taehyung sering memanggilnya untuk berkunjung guna untuk membagikan kasih sayangnya untuk Jungkook, walaupun Jungkook sudah dewasa, tapi setidaknya sebelum punya istri dia masih membutuhkan sosok ibu.
"Key, kau datang?" senyum mengembang dari bawah wanita paruh baya itu seperti biasanya saat menyambut Jungkook, pelukan hangat pun tetap diterimanya
"Aku merindukanmu, Mom." Jungkook membalas pelukan ibu Taehyung, pelukan seorang ibu memang senyaman ini.
"Mommy juga merindukanmu sayang," (melepas pelukan dan tersenyum)
__ADS_1
"Ayo masuk, Tae-Tae ada di ruang kerjanya,"
Jungkook masuk tanpa canggung, dan langsung menuju ke ruang kerja Taehyung,
Tok
Tok
Jungkook mengetuk pintunya terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam, memenuhi prosedur bertamu saja, walau sepertinya memang tidak perlu.
"Hyung ...," sapa Jungkook setelah masuk ke dalam ruang kerja Taehyung dan menutup pintunya,
"Eoh, key ... Kau datang? Kenapa tidak mengabari?" Taehyung sedikit terkejut dengan kehadiran Jungkook yang tiba-tiba, dia melepas kacamatanya dan berdiri menghampiri Jungkook yang sudah terduduk di sofa.
"Untuk apa mengabari?" tanyanya seolah tak acuh.
"Tentusaja formalitas bodoh! Bagaimana kalau aku tidak dirumah saat kau datang?"
"Memang kau kemana? Pacar saja tidak punya. Tempat tujuanmu itu cuma 1, Rich klub. Itu juga kalau yang lain ada. Kau tau hyung ... Kau itu seperti anak gadis rumahan," Jungkook terkekeh hambar. Kekehan yang dibuat-buat.
Taehyung yang memang mengetahui segalanya tentang Jungkook tentu tak bisa di bodohi dengan guyonan dan tawa buatan itu, dia tau kalau sahabatnya ini sedang ada masalah. Mungkin ini sangat besar hingga Jungkook harus berusaha menyembunyikan expresinya. Jungkook bukan orang yang bisa menyimpan emosi dengan baik.
Taehyung bangkit ke arah pintu dan menguncinya, lalu dia duduk kembali berhadapan dengan Jungkook,
"Bicaralah ... Aku mendengarkan!"
Jungkook tersenyum tipis, inilah yang dia suka dari Taehyung. Pria Kim ini selalu mengerti keadaannya dan apa yang dia inginkan.
"Hyung ...," Jungkook menggantung kalimatnya, dia mengusap kasar wajahnya dengan frustasi
"Pelan-pelan saja ... Aku tak akan kemana-mana," ucap Taehyung menenangkannya
"Hyung ... aku-aku, sepertinya aku sudah melakukan kesalahan yang besar." Jungkook mencoba mengatur emosinya.
Taehyung menyeritkan alisnya,
"Apa maksudmu, Key? Bicaralah pelan-pelan, apa yang kau maksud dengan kesalahan?"
Jungkook menarik nafas panjangnya, lalu bicara.
"Aku ... menidurinya hyung, aku meniduri gadis itu."
Taehyung yang masih belum bisa menangkap arah pembicaraan Jungkook masih terdiam, dia masih berusaha mencerna setiap kata yang di dengarnya dari mulut Jungkook barusan.
Setelah beberapa saat, akhirnya dia mengerti maksud dari ucapan Jungkook, matanya melebar. Tapi Tae belum sepenuhnya percaya dengan isi pemikirannya itu mencoba meminta penjelasan untuk membenarkan apa yang dia pikirkan tentang Jungkook saat ini
"Jangan bilang kau menidurinya, K-key? Dia?"
Jungkook mengangguk pasrah,
"Aku memperkosanya hyung, aku memperkosa Hara,"
...*...
...*...
...C_U_T ...
__ADS_1