
Laporan itu benar-benar terlihat berbeda, sangat rapi tanpa cela. Jika benar-benar di teliti, satu huruf pun tidak ada yang salah. Jungkook mulai ragu, setaunya pekerjaan Eunha tidak pernah serapi ini walaupun dia sudah bekerja bertahun-tahun lamanya.
Apa sebaiknya Jungkook membuktikan sendiri? Membuat laporan harian tidak lah mudah, harus mempelajari setiap detail berkas harian. Itu termasuk pekerjaan yang sulit di lakukan mengingat IRON bukanlah perusahaan yang kecil dan seharusnya pekerjaan ini bukan untuk Hara.
Jungkook bukanlah tipe orang yang sabaran, dia tak akan mencari tau dengan cara yang biasa di gunakan oleh kebanyakan orang, mengendap-endap? Mengintai? CCTV?
OHH! Ayo lah! Itu bukan gaya seorang Jeon Jungkook! Pria Jeon itu meraih telfon kantor yang ada di hadapannya.
"Datang ke ruanganku, bawa Hara bersamamu." Tanpa menunggu jawaban pria Jeon itu langsung memutuskan telfonnya.
Tak sampai 5 menit Eunha datang ke ruangan Jungkook bersama Hara yang mengekor di belakangnya. Ini kali pertama Jungkook melihat gadis itu setelah satu minggu. Pandangan pria itu terfokus pada Hara, hanya sekilas saja pandangan mereka bertemu tapi gadis itu langsung menunduk.
"Ada apa, Oppa?" tanya Eunha setelah tiba tepat di depan meja Jungkook hingga memutus fokus Jungkook ke Hara
"Siapa yang membuat laporan beberapa hari belakangan ini?" To the point Jungkook
"N-nee? Laporan? Memangnya kenapa, Oppa?" Eunha terlihat gugup
"Aku bertanya, Eunha-ya! Kenapa kau balik bertanya? JAWAB PERTANYAANKU!" Suara itu meninggi satu oktaf, membuat dua orang di hadadapannya mundur satu langkah karena ketakutan.
"I-itu ... Aku yang membuatnya, Oppa. Bukankah semua bagus? Tidak ada cacat 'kan?" Eunha masih tetap dengan wajah polos tanpa dosanya.
Jungkook menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum remeh.
"Benarkah? Kau yang membuatnya? Coba perincikan untukku paragraf terakhir yang kau tulis di laporan ini, kuberi kau waktu 5 menit untuk berfikir!" Jungkook kembali tenang dan datar tapi matanya menajam
Eunha terlihat uring-uringan. Secara memang bukan dia yang mengerjakan laporan itu, bagaimana bisa dia tau makna paragraf terakhir Dia hanya mengecek di awal saja setiap Hara selesai mengerjakan laporan, tidak benar-benar membacanya hingga akhir karena dia tau pekerjaan Hara bagus pada awalnya. Lagipula Jungkook juga tidak pernah mengecek pekerjaannya selama ini karena tidak ada lagi teguran yang dia dapatkan dari pria itu, jadi dia hanya cukup mengakui pekerjaan Hara adalah miliknya dan semua selesai! Dasar tidak tau malu!
"Waktumu habis! Bicaralah!" Suara CEO muda itu menegas
"Pekerjaanku terlalu banyak, Oppa. Bagaimana bisa aku mengingat hal-hal seperti itu?!" wanita itu masih berusaha mengelak
Jungkook melemparkan tatapan semakin tajam pada wanita itu,
__ADS_1
"Tak usah banyak membacot! Bilang saja kalau bukan kau yang mengerjakannya. Sepertinya aku terlalu banyak memberikanmu kepercayaan dan kebebasan, jadi kau berani seenaknya sekarang mengabaikan perintahku!"
"Hara-ssi, perincikan bab akhirnya untukku," ucapnya tanpa melepas tatapan menyayat itu dari Eunha
"S-saya?" Hara yang sedari tadi bersembunyi di belakang Eunha menongolkan dirinya,
Jungkook beralih pandang, raut wajahnya berubah seketika. Mata elang itu kembali normal saat sudah bertemu pandang dengan Hara.
"Iya ... bisa kau perincikan bab akhirnya untukku? Aku tidak mengerti di akhir laporan ini." Suara itu menjadi lembut
Hara memberanikan diri memandang wajah tampan itu,
"Bagian mana yang tidak anda mengerti, Sajangnim?" ucapnya sopan..
Jungkook tersenyum tipis, dia senang Hara sudah mau menatap wajahnya dan menjawab omongannya. Seperdetik kemudian dia mengalihkan kembali pandangannya ke arah Eunha dengan kembali memasang raut wajah garang.
"Keluar! Akan ku urus kau nanti ...!"
Wanita itu mengenggam kepalan tangannya erat dan meruncingkan tatapan Tajam untuk Hara saat berbalik lalu kemudian keluar Dari Ruangan Jungkook tanpa sepatah katapun. Dia terlihat benar-benar marah.
"Pikirmu aku takut di tatap seperti itu? Tenang saja, aku tak akan mengambil priamu. Miliki dia sepuasmu!" ingin sekali rasanya Hara mengucapkan kata itu pada Eunha saat ini, tapi tidak bisa karena ada Jungkook. Dia hanya bisaa bergumam dalam hati
Semoga saja gadis itu tidak melakukan hal aneh karena terbakar cemburu. Jika itu sampai terjadi lawannya bukan cuma seorang Jungkook, tetapi juga dua pria lainnya! Salahnya sendiri juga yang tidak pernah mengerjakan pekerjaan dengan benar, tak ada yang akan membela seorang pecundang yang hanya bisa menggandalkan jurus rayuan maut.
Tersisa dua orang di ruangan itu. Sang pemilik dan sang gadis pemeran utama. Hara baru tersadar kalau saat ini hanya tinggal berdua dengan Jungkook, gara-gara tatapan nyalang Eunha yang seperti mengajak berperang tadi dia jadi lupa kalau dirinya memiliki problem dengan pria Jeon itu.
Jungkook tau jika Hara sudah dalam mode tak nyaman karena di tinggal berdua dengannya. Sebenarnya masalah laporan hanya sebuah alasan saja. Dia hanya ingin mencari cela waktu agar bisa berbicara berdua saja dengan Hara, sangat sulit baginya mendapatkan waktu ini mengingat Hara selalu menghindarinya dan tak mau menatapnya sama sekali bahkan bicara pun susah.
Jungkook bangkit dari kursi kebangsaannya dan berpindah ke sofa agar bisa lebih nyaman.
"Duduklah... Bisa kita bicara?"
Hara menggangguk dan ikut mendudukan diri di hadapan Jungkook.
__ADS_1
***
5 menit berlalu dengan keheningan
"Kau ... membenciku?!" suara lembut Jungkook masuk menginstrupsi gendang telinga gadis yang sedang membeku dan menunduk diam itu.
Hara mengenggam erat kedua tangannya satu sama lain. Bibirnya di ketap erat, dia masih merasa tidak nyaman.
"Maafkan aku ...," satu kalimat yang selama ini ingin didengar Hara dan dikatakan Jungkook akhirnya terdengar dan keluar.
Hara mendongakkan kepalanya seketika, mata mereka bertemu. Gadis itu menatap lekat mata sayu pria Muda Jeon itu seolah mencari kesungguhan dari ucapannya.
"Maaf ... aku benar-benar minta maaf padamu, tak seharusnya aku melecehkanmu dan melakukan hal itu. Maafkan aku Hara-ya ...!" ucapan itu terdengar lirih
Jungkook mengucapkannya seperti sedang menahan tangis dan penyesalan yang teramat besar cahaya matanya meredup berganti dengan kubangan cairan bening yang siap lolos kapan saja.
"Aku ... sama sekali tidak membencimu, Key. Aku sudah memaafkanmu," tutur Hara dengan suara yang tenang.
Dia sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari pria Jeon, tidak ada lagi ketakutan dan kecanggungan. Sepertinya Hara memang hanya mengharapkan satu kata itu saja keluar dari mulut Jungkook, dia sudah mendapatkannya sekarang. Airmata pria itu luruh begitu saja, Jungkook menangis. Kenapa malah dia yang menangis? Hara bahkan terlihat tenang saat ini.
"Kenapa? Kenapa kau lakukan ini padaku?" Jungkook tertunduk dan terisak, entah mengapa ucapan Hara tadi malah membuat dadanya sesak.
Hara menjadi bingung, kenapa Jungkook seperti ini? Bukannya seharusnya dia lega karena Hara sudah memaafkannya dan tidak benci padanya? Apa lagi yang salah?
Gadis itu memberanikan diri mendekati pria cengeng di hadapnya ini dan duduk di sebelahnya.
"Kenapa? Apa yang salah dengan ucapanku?"
Jungkook merasakan Hara sudah berpinda ke sampingnya, suara itu begitu tenang dan lembut tapi sangat menyayat baginya... Kenapa hara bisa setenang ini? Apa dia hanya berpura-pura?
CUT!!!!
__ADS_1