
Tepat tengah malam Delphy dan Blaze berhasil menyusul rombongan. Tidak ada apapun yang terjadi, semuanya melanjutkan perjalanan dengan tenang. Crystal bahkan sedang tertidur pulas di dalam kereta kudanya. Delphy kembali mengawal kereta kuda Crystal, sedangkan Blaze memilih berkuda dibelakang Delphy dibandingkan kembali ke kereta kudanya.
Hanya ada suara tapak kuda dan roda kereta yang terdengar. Meski begitu Delphy tidak menurunkan kewaspadaannya sedikitpun. Blaze yang berada di belakang Delphy pun turut memperhatikan sekitarnya. Perjalanan di malam hari membuat para prajurit Istana yang bertugas mengawal tidak bisa berbincang. Di malam hari mereka harus meningkatkan kewaspadaan. Karena itu, pengawal Istana yang bertugas berjaga di malam hari akan selalu berganti agar pengawalan selalu dalam kondisi maksimal. Begitu juga dengan Delphy yang akan tertidur di siang hari nya. Hanya Delphy satu satunya orang yang akan selalu berjaga di tiap malam, karena keselamatan Crystal harus lebih diutamakan dibandingkan dirinya sendiri.
Hingga beberapa hari berlalu, mereka hampir tiba di Kerajaan Ash-Shaif, hanya harus melewati satu malam terakhir di hutan dengan pohon pohon yang tinggi ya, paginya mereka akan tiba di Kerajaan Ash-Shaif dan malam berikutnya tiba di ibu kota.
"Bertahan satu malam lagi dan setelahnya kamu bisa tidur di malam hari." Delphy berujar pada dirinya sendiri. Blaze yang biasanya menemani Delphy di malam hari memutuskan untuk tidur di keretanya.
Kuda putih yang ditunggangi Delphy tiba tiba saja menghentikan langkahnya, berjalan keluar barisan tanpa diperintah sang penunggang. Delphy cukup terkejut, begitupun dengan prajurit lain yang melihatnya. Sontak Delphy menarik tali kekangnya, kuda putih itu meringkik.
"Sial, firasatku tidak enak."
"Percepat kuda kalian! Bagi rombongan pada tiga kelompok dan berpencar!!! Prioritaskan Raja dan Ratu juga Putri Mahkota!!!" Delphy berteriak, ia memaksa kudanya kembali mengawal kereta kuda Crystal.
Rombongan berjalan lebih cepat. Namun Kelompok yang dipimpin Delphy dipaksa berhenti. Sekelompok perampok mengelilingi mereka. Delphy merasakan udara di sekitarnya memanas. Para prajurit sudah bersiaga untuk menghadang para perampok tersebut.
Crystal terbangun dari tidurnya, ia melihat ke luar jendela kemudian kembali menutup gorden, ia terlalu takut untuk menyaksikan apapun yang terjadi di luar kereta kudanya.
"Apa yang kalian inginkan?!" Ucap Delphy setengah berteriak. Para perampok itu melihat kearahnya. Tatapan tajam mereka berikan.
__ADS_1
"Apa yang kami lihat adalah apa yang kami inginkan." Seorang perampok menjawab tanpa melepas pandangannya dari Delphy sedikitpun.
Delphy mencoba tenang, mencari tau apa yang bisa ia lakukan. Ia melirik ke kereta kuda milik Crystal, pikirannya cemas, satu satunya prioritas yang ada dipikiran Delphy adalah bagaimana ia bisa membawa Crystal keluar dengan selamat dari situasi ini. Blaze bersama rombongan Raja dan Ratu. Colden dengan rombongannya sendiri.
Sebilah pedang sudah siap di tangan Delphy, ia bisa saja menghabisi siapapun yang mendekatinya saat ini. Hanya dengan memikirkan Crystal sudah cukup membuatnya mengeluarkan segala kemampuannya. Tidak akan ia biarkan satupun dari perampok perampok tersebut mendekat ke arah Crystal.
"Aku tidak tau apa tujuan kalian. Kami dari rombongan Kerajaan Whittaker, sudah sepantasnya kalian menyingkir dari jalan kami saat ini juga." Delphy berujar sambil mengarahkan pedangnya ke depan, "Aku tidak berniat bernegosiasi saat ini, kami mempunyai urusan penting antar kerajaan jika kalian sampai mengacaukannya, maka tidak ada kata ampun bagi kalian."
"Kami tidak akan menyingkir hingga kami mendapatkan apa yang kami mau." Salah seorang yang terlihat memimpin para perampok itu membalas. "Serahkan dirimu, hanya itu."
Delphy mengernyitkan dahinya, apa yang di maksud pemimpin perampok itu adalah dirinya, tapi untuk apa? Bukan harta benda yang diinginkan mereka.
"Kapten!!!" Seorang prajurit berteriak mencoba meminta perintah darinya.
Pemimpin perampok itu tersenyum sinis. Ia tidak akan menyangka jika akan semudah ini melakukan misinya. Pengawal pribadi Putri Mahkota yang terkenal dengan kehebatannya, ia pikir akan melakukan gencatan senjata ternyata dengan bodohnya Delphy menyerahkan diri.
Delphy menatap salah satu bawahannya, "Kalian bisa pergi, biar aku yang mengurus sisanya."
"Kapten, kau yakin?"
__ADS_1
Delphy mengangguk singkat dengan tatapan tenang, sangat tenang hingga semua prajurit terasa terhipnotis dan melakukan perintah Delphy tanpa berkata apapun lagi, padahal di setiap benak prajurit itu menyimpan keresahan akan perintah Delphy. Bagaimana mungkin mereka membiarkan kaptennya sendiri. Tapi tak ada satupun yang bisa berkata kata, mereka hanya bisa menuruti perintahnya.
Hingga rombongan yang dipimpin Delphy tak terlihat, Delphy memasukkan kembali pedangnya. Mengamati sekitarnya, sekitar 15 orang mengacungkan berbagai macam senjata kepadanya, pedang, belati, kapak, balok kayu, dan berbagai benda berbahaya lainnya.
***
Rombongan Kerajaan Whittaker mencapai Kerajaan Ash-Shaif tepat pada matahari hampir terbenam. Raja, Ratu, dan Crystal turun dari kereta kuda mereka dengan elegan disusul Blaze dan Colden yang turun dari kudanya masing masing, rupanya Colden menunggangi kudanya sendiri kemarin malam saat tau Delphy membagi mereka dalam tiga kelompok. Keluarga kerajaan Ash-Shaif menyambut mereka dengan hangat, mereka di persilahkan masuk dan di berikan ruangan pribadi masing masing untuk beristirahat.
Blaze terduduk di pinggir kasur, pikirannya kalut. Ia tidak melihat Delphy hingga mereka tiba di Istana Ash-Shaif meskipun rombongan Delphy sudah kembali masuk barisan tengah malam tadi. Tidak tau apa yang dilakukan Delphy saat ini. Seharusnya ia berada disini, mengawal Crystal. Tapi Crystal sejak tadi tidak terlihat bersama Delphy. Apa yang terjadi pada Delphy, situasi semalam benar benar menegangkan setelah Delphy dengan tiba tiba membagi mereka kedalam 3 kelompok.
Lelah dengan pikirannya sendiri, Blaze keluar dari kamar. Rupanya di depan pintu kamar Blaze sudah ada Colden yang baru saja ingin mengetukk pintu. "Kakak? Ada apa?"
"Kemana saja kau semalam? Membiarkan Delphy seorang diri di antara para perampok? Kupikir kau bukan pengecut, rupanya kau hanya bisa mengikuti rombongan teraman?" Colden langsung menyerbu Blaze dengan ucapan ucapannya, tatapannya tajam, terlihat marah.
Blaze menatap Colden tak mengerti. "Apa maksud kakak? Rombongan Delphy sudah bergabung dengan kita sejak semalam, artinya dia baik baik saja kan?"
Tanpa mengatakan apapun, Colden melangkah pergi, Blaze berusaha mengikuti langkah Colden yang dipercepat, seakan sedang diburu sesuatu. Hingga akhirnya Blaze tersadar, salah satu adiknya sedang tidak baik baik saja dan Colden mengetahui hal itu. Dapat Blaze lihat kedua tangan Colden mengepal dengan keras.
Di sisi lain, Crystal duduk sambil menikmati secangkir teh. Kejadian semalam masih terbayang dibenaknya. Bagaimana ia melihat punggung Delphy saat kereta kudanya melaju meninggalkan Delphy seorang diri bersama para perampok. Crystal merasa kagum sekaligus iri melihat hal itu. Kagum karena Delphy yang tidak terlihat gentar bahkan takut sedikitpun di situasi berbahaya itu dan iri karena ia tidak bisa melakukan hal yang sama. Ia hanya bisa duduk manis di kereta kudanya dengan tangan gemetar.
__ADS_1
Sejenak Crystal juga merasa bersalah dan khawatir dengan meninggalkan Delphy seorang diri disana, namun bagaimana ia melihat tatapan Delphy saat menyuruh mereka pergi terlebih dahulu membuat perasaan bersalah dan khawatir itu lenyap seketika. Ia tidak tau sejak kapan saudara kembarnya itu terlihat begitu keren. Hingga ia sadar jika dirinya dan saudaranya berdiri di panggung berbeda.
"Entah sejak kapan, aku sudah tidak mengenal dirimu lagi." gumam Crystal sambil menatap ke dalam cangkir tehnya. Tanpa disadari air mata nya menetes, entah karena apa. Pikirannya jadi kalut sendiri, pernikahannya, menjadi ratu, dan Delphy. Sial, ingin rasanya Crystal lari dari saat ini juga, entah kemana, yang terpenting ia bisa bebas, ia bisa menjadi seperti Delphy yang dapat berdiri sendiri, melakukan banyak hal tanpa takut apapun.