
Langit sudah hampir menjadi gelap saat Blaze memutuskan berhenti di tepi sungai ditemani Delphy dan membiarkan rombongannya berjalan lebih dulu. Ini sudah minggu ke dua, Mereka hampir sampai di Kerajaan Ash-Shaif.
Membuka penutup matanya, Delphy mulai membasuh wajahnya dengan air sungai. Blaze duduk di sebuah batu besar, tanpa alas kaki, ia memasukkan kakinya ke dalam air, badannya bertumpu pada kedua tangannya di belakang.
Mereka berencananya melanjutkan perjalanan saat malam tiba tanpa memikirkan rombongan mereka sudah berjalan cukup jauh, pasalnya rombongan kerajaan berjalan dengan santai, Blaze dan Delphy hanya perlu memacu kuda mereka lebih cepat.
Selesai membasuh muka, Delphy duduk disamping Blaze. "Kakak memintaku menemanimu hanya untuk duduk bersantai?"
"Ya, setidaknya aku ingin bersantai sebentar, tugas kerajaan terlalu menumpuk, menjadi asisten pribadi ayah membuatku tidak berhenti melakukan tugas."
"Apakah aku harus peduli?" Delphy menatap Blaze dengan raut wajah menyebalkan.
Blaze menarik teling kiri Delphy hingga sang empunya meringis kesakitan, "Kamu ini, mengertilah sedikit, kakakmu ini sedang lelah tau."
"Tapi kakak tidak perlu menarik telinga ku kan?" Ucap Delphy kemudian mendorong Blaze jatuh ke sungai.
"Hei!!!" Tidak terima dengan perbuatan Delphy, Blaze balas menarik Delphy yang sibuk mentertawakannya.
Kini mereka berdua basah kuyup, namun bukannya kesal, mereka malah saling tertawa dan bermain air. Sudah lama mereka tidak bercanda.
Delphy dan Blaze keluar dari sungai, membuat api unggun untuk menghangatkan diri dan berharap pakaian mereka bisa sedikit lebih kering.
"Aku tidak akan bertanggung jawab jika kakak terkena flu."
Blaze bersedekap, "Lihatlah siapa yang bertanggung jawab atas apa, kakakmu ini lebih kuat dari yang kamu bayangkan."
"Baiklah aku percaya."
Kehangatan di dekat api unggun diisi dengan perdebatan mereka berdua, mengingatkan mereka saat di pelatihan dulu.
+++
Pelatihan khusus saat itu baru berjalan satu bulan, usia Delphy baru menginjak sepuluh tahun sedangkan Blaze baru berusia tiga belas tahun.
__ADS_1
Pertama kalinya mereka mulai belajar berburu dengan titik awal yang berbeda membuat mereka terpisah satu sama lain. Delphy berjalan di tengah hutan hanya dengan perlengkapan panahnya dan sebilah pedang untuk berjaga jaga, ia masih cukup buruk dalam hal memanah saat itu.
Beberapa kali Delphy menaiki pohon tinggi mencoba mencari petunjuk akan keberadaan rusa ataupun kelinci yang lewat. Bukannya menemukan kelinci atau rusa, ia malah melihat seekor harimau menuju ke arahnya.
Delphy yang terkejut menjatuhkan busur panahnya, ia berlari kemanapun ia bisa. Melompati akar akar pohon yang menyembul dan bebatuan, tapi kecepatan Delphy yang masih berusia sepuluh tahun tentu tak sebanding dengan seekor harimau hingga ia melihat sebuah sungai tanpa tau kedalamannya, ia lompat masuk ke dalam sungai.
Harimau itu langsung pergi saat sebuah anak panah melesat didekatnya. Tak lama Blaze ikut menceburkan diri ke dalam sungai, ia membantu Delphy keluar dari sungai. Blaze tau persis Delphy tidak bisa berenang.
Delphy keluar dari sungai dengan keadaan terbatuk batuk. Ia hampir saja kehabisan nafas, jika tidak ada Blaze mungkin Delphy sudah mati tenggelam.
"Kamu baik baik saja?" Blaze mencengkram kedua bahu Delphy, wajahnya penuh kekhawatiran.
Delphy mengangguk, "Terima kasih kak."
Blaze menghela nafas lega, "Untung saja aku mendekati suara harimau tadi." Blaze membuka bajunya yang basah.
"Omong omong, apa kakak tau jalan kembali?"
"Tidak." Jawaban singkat dari Blaze membuat Delphy menghela nafas, seharusnya ia tidak mengharapkan apapun sejak awal.
Delphy menurut, ia duduk di dekat api unggun, sedangkan Blaze memotong seekor kelinci hasil tangkapannya tadi. Delphy memperhatikan setiap gerakan Blaze mulai dari memotong, menguliti, hingga membersihkan bagian dalam kelinci.
Setelah selesai, Blaze membakar daging kelinci tersebut, "Persetan dengan menyerahkan hasil tangkapan, perutku benar benar lapar saat ini."
Memulai berburu sejak pagi cukup menguras tenaga mereka, bahkan sekarang langit perlahan berubah menjadi gelap dan mereka belum memakan apapun sejak mulai berburu. Pilihan terbaik saat ini tentu saja memakan hasil tangkapan dibandingkan menyerahkan hasil tangkapan dan kelaparan entah sampai kapan.
Selagi menunggu kelinci masak sempurna, Blaze dan Delphy saling berbagi cerita bagaimana pengalaman berburu mereka saat ini, apa yang mereka rasakan selama satu bulan dimulainya pelatihan, apa yang ingin mereka lakukan kedepannya. Percakapan ringan antara diantara adik dan kakak
Hingga daging kelinci masak sempurna mereka makan dalam diam, saling menikmati rasa dari daging kelinci hutan yang tidak diberi bumbu sama sekali.
"Jika perut kosong makanan apapun akan terasa enak." Ujar Blaze setelah menghabiskan makanannya.
Delphy tertawa pelan, "Tentu saja, jika menuruti selera mungkin kita sudah tidak mempunyai tenaga yang tersisa sekarang."
__ADS_1
Dalam sekali suapan, Delphy menghabiskan sisa makanannya.
Blaze berdiri, mengenakan kembali pakaiannya, "Sekarang ayo kita cari jalan pulang."
Hanya menggunakan obor sebagai alat penerangan, mereka mulai menyusuri hutan. Blaze memegang erat tangan Delphy, mencegah gadis kecil itu terpisah darinya. Meski terlihat tidak merasa ragu sama sekali, Blaze sebenarnya cukup takut saat ini, jarak pandangnya sangat sempit, cahaya bulan tidak terlihat saat ini.
Langkah Blaze terhenti, ia tidak tau harus pergi ke arah mana lagi, "Sepertinya kita hanya bisa menunggu siapapun datang."
"Kakak bercanda? Sejak tadi tidak ada siapapun yang datang." Delphy khawatir, di tengah hutan yang gelap memangnya siapa yang bisa menemukan mereka, tapi ia juga tidak tau bagaimana mencari jalan di tengah kegelapan ini.
Mereka berhenti, menempelkan obor pada batang pohon kemudian duduk bersandar pada batang pohon.
Delphy menguap, matanya terasa sangat berat sekarang.
"Tidurlah, aku akan menjagamu." Blaze meletakkan kepala Delphy pada bahunya.
Tak butuh waktu lama Delphy tertidur, dalam sekejap gadis berambut putih itu sudah masuk kedalam dunia mimpinya. Ia harus berterima kasih pada kakak terakhirnya itu setelah terbangun.
***
"Kakak ingat saat kita tersesat di hutan di perburuan pertama?" Delphy membuka percakapan di tengah kegiatannya menyantap ikan bakar hasil tangkapan di sungai.
"Tentu saja, dan kamu dengan enaknya tertidur hingga Kak Colden menemukan kita." Blaze menyuap ikannya.
Delphy tertawa, "Saat terbangun aku sudah berada di camp pelatihan di pagi hari."
"Kak Bach yang menggendongmu, Kak Colden memarahiku saat ingin membangunkanmu, dasar anak manja."
"Aku tidak percaya mendengar hal itu darimu, anak manja? Sepertinya ada yang lupa siapa yang merengek karena makanannya tidak seenak di Istana saat hari pertama pelatihan." Delphy balas mengejek.
Skak, Blaze tidak bisa membalas apapun, Delphy tertawa kencang sampai sampai Blaze harus memukul bahunya agar Delphy berhenti tertawa.
Selesai makan malam, mereka melanjutkan perjalanan. Di temani cahaya bulan, mereka beriringan memacu kuda dengan cepat menyusul rombongan yang lain. Saling terdiam, fokus pada jalan yang mereka lalui, hanya ada suara tapak kuda yang mengiringi perjalanan mereka.
__ADS_1
Seketika perasaan Delphy menjadi tidak enak, seperti ada sesuatu yang mengganjal. Delphy menatap Blaze, saat itu juga ia yakin Blaze merasakan hal yang sama, tatapannya terlihat penuh kecemasan. Tanpa pikir panjang Delphy memacu kudanya lebih cepat yang langsung diikuti Blaze.
"Semoga tidak terjadi apapun."