Story Of Season : Winter

Story Of Season : Winter
Chapter 16


__ADS_3

Cahaya hijau terlihat dari kejauhan saat kapal hampir menepi di pelabuhan, setelahnya matahari terbenam sempurna. Delphy berada di deck kapal bersama Frost.


"Ini pertama kalinya aku melihat cahaya hijau dari matahari terbenam." Ujar Delphy. "Rasanya menakjubkan, dadaku tak berhenti berdebar. Aku ingin melihatnya sekali lagi.".


"Suatu saat ayo lihat cahaya itu sekali lagi." Balas Frost.


Delphy menoleh ke arah Frost dengan senyuman, "Ya, tentu saja!"


Kapal mulai menepi, penumpang berbondong-bondong turun dari kapal. Sudah memasuki musim gugur, udara terasa cukup dingin. Frost menggenggam tangan Delphy, mencegah gadis itu hilang dari pandangannya. Dapat Frost rasakan tangan Delphy yang gemetar saat ini. Gadis itu terlihat sangat gugup, ia takut dengan apa yang akan ia lihat nantinya.


Perjalanan mereka masih cukup jauh. masih butuh sekitar tiga hari dua malam lagi untuk sampai di pusat kota Whittaker. Selama satu minggu itu mereka harus mengikuti Caravan atau menyewa kereta kuda sendiri, namun Frost sudah memesan kudanya sendiri sebelum mereka tiba.


Frost menemui seorang pria dengan dua ekor kuda berwarna putih dan coklat yang berdiri di pintu pelabuhan. Delphy merasa tak asing dengan kuda putih yang di bawa pria itu. Rasanya ia mengenal kuda itu dengan baik.


"Terima kasih sudah menjaga kuda kuda ini." Ucap Frost sambil memberikan sekantung koin emas pada pria itu.


"Senang berbisnis dengan anda." Balas pria itu.


Frost membawa kedua kuda itu keluar pelabuhan. Tanpa berkata apapun Delphy mengikuti Frost menuju sebuah kedai. Mereka memutuskan mengisi perut sebelum kembali melakukan perjalanan.


Dua gelas bir berukuran besar terhidangkan di meja Delphy dan Frost. Segelas bir tak akan membuat mereka mabuk.


"Aku seperti mengenali kuda putih itu." Ucap Delphy.


"Karena itu kudamu." Balas Frost dengan santai.


Mendengar hal itu, Delphy hampir saja tersedak saat meneguk bir. Frost mengelap bir yang tumpah tanpa mengatakan apapun.

__ADS_1


Rasanya Delphy sungguh rindu dengan kuda putih kesayangannya. Dalam hati ia bersyukur kuda putih itu bisa kembali kepadanya. Sejujurnya Delphy tak menyangka jika Frost akan mengamankan kudanya seperti itu.


Selesai makan mereka mencari penginapan. Melanjutkan perjalanan di malam hari sangat tidak memungkinkan di dekat pelabuhan seperti ini. Biasanya para perampok akan menunggu di tempat tempat tertentu untuk merampas barang bawaan penumpang kapal.


Sebuah penginapan dengan dinding kayu menjadi tempat persinggahan mereka malam ini, sayangnya hanya satu kamar yang tersisa. Sebenarnya hal itu tak menjadi masalah, karena di kapal pun mereka menempati kamar yang sama hanya saja kamar kali ini hanya memiliki satu kasur dengan ukuran besar, tidak seperti di kapal yang memiliki dua kasur dengan ukuran kecil. Hari sudah terlalu larut untuk mencari penginapan lain.


Delphy merasa canggung akan situasi saat ini.


"Tidurlah, aku ingin mencari udara segar." Ujar Frost lalu pergi keluar kamar setelah meletakkan barang barangnya.


Meski merasa tak enak, Delphy tak bisa membantah. Entah kenapa Delphy tak pernah bisa membantah ucapan Frost sama sekali. Pria itu terasa sangat dominan meski tak ada ancaman apapun yang keluar dari mulutnya.


Delphy mulai merebahkan diri di kasur. Matanya menatap langit langit kamar. Kepalanya di penuhi kekhawatiran akan kerajaan Whittaker. Meski sebenarnya ia bisa saja bertanya pada orang orang yang ia temui saat di kedai maupun di penginapan, hanya saja ia terlalu takut.


Hanya dengan melihat orang orang di sekitarnya saat ini Delphy merasa tak ada hal buruk yang terjadi. Ia tak mendengar obrolan orang orang disekitarnya yang membahas tentang Kerajaan. Jika memang hal buruk terjadi, tentu saja keadaan tidak akan setenang ini.


Tak lama Frost keluar dari kamar mandi dengan kaos dan celana panjang, baju yang terlihat sangat nyaman untuk tidur.


"Ah, aku lupa mengganti baju, pantas saja aku tidak bisa tidur." Delphy mengoceh sendiri berusaha melepas kecanggungan, hingga ia keluar dari kamar mandi dengan baju tidur.


Frost terlihat duduk di sofa sambil membaca surat kabar. Delphy duduk di pinggir kasur, ada banyak hal yang ingin ia katakan tapi tak terucap sama sekali. Malam ini Delphy memutuskan untuk mengatakannya pada Frost.


"Terima kasih sudah mau menemaniku sampai disini, sebenarnya aku bisa melanjutkannya perjalananku sendiri."


Frost melipat surat kabarnya. "Aku tidak menemanimu, kebetulan saja tujuan kita sama."


"Memangnya apa yang mau kamu lakukan di Whittaker?" Delphy bertanya dengan heran, bukankah Frost bukan berasal dari Whittaker?

__ADS_1


"Tugasku menjadi pendampingmu, kebetulan tujuanku juga memastikanmu aman dan mengawasimu."


Delphy melipat kedua tangannya kemudian memiringkan kepalanya. "Kebetulan macam apa itu?"


"Tak perlu memikirkan hal lain, fokus saja dengan tujuanmu dan anggap aku tidak ada jika itu mengganggumu." Frost mengambil sebotol wine yang tersedia pada meja kecil. "Mau minum?" Lanjutnya sambil menuang wine pada dua gelas.


Delphy duduk di sebelah Frost, hanya sebuah meja kecil yang memisahkan mereka. "Sebenarnya aku tak keberatan dengan keberadaanmu, hanya saja aku tak terbiasa dengan sikap dinginmu."


Frost meminum wine nya. "Karena sebenarnya aku hanya tak suka terlalu banyak bicara, seperti saat ini misalnya."


"Ah, maaf mengganggumu." Delphy merasa tak enak hati telah membuat Frost melakukan hal yang tidak ia sukai.


Frost menggeleng, "Tak apa, terkadang mengobrol panjang lebar juga sepertinya bukan hal yang buruk."


"Banyak hal yang ingin kutanyakan tentang penjaga musim dan titisan dewa musim."


Frost mengangguk paham tanpa menjawab.


"Bukankah takdir benar benar mempermainkanku? Aku merasa menjadi seseorang yang tidak berguna saat ini. Aku tidak bisa menerima kenyataan diriku yang sebenarnya, di satu sisi jika apa yang kamu katakan benar tentang Whittaker saat ini itu berarti aku juga tidak berguna sebagai Ksatria kerajaan."


"Di lain sisi, aku juga masih menolak kenyataan tentang diriku. Hal yang seharusnya ku lakukan belum bisa aku Terima. Aku bahkan masih menolak sepenuhnya dan merasa marah juga bingung, tidak tau harus apa."


"Sejak kemarin, aku hanya terdiam. Di tambah akhir akhir ini aku lebih banyak tertidur, rasanya aku benar benar beristirahat di saat aku harus melakukan sesuatu. Mimpiku selalu tentang masa lalu, hal itu membuatku semakin merasa hidupku saat ini menyedihkan sayangnya di saat bersamaan aku juga merasa ingin mengembalikan kebahagiaanku yang dulu, seperti pada mimpiku."


"Banyak hal yang ingin ku tanyakan padamu, namun aku takut jika semua pertanyaanku terjawab maka kenyataan yang tidak ingin kutemui malah makin dekat. Aku khawatir dengan Crystal, Kakak kakakku, orang tuaku dan juga kerajaanku. Rasanya kepalaku terasa akan pecah saat ini."


Tak ada sanggahan apapun dari Frost, ia memilih mendengarkan setiap ocehan yang keluar dari mulut Delphy dengan seksama. Laki laki itu membiarkan Delphy mengungkapkan semua hal yang membebaninya.

__ADS_1


__ADS_2