
Frost berjalan di samping Delphy sambil memakan roti, Snow kembali di tuntun. "Beberapa saat sebelumnya kamu terlihat murung, namun setelah mencium aroma roti kamu kembali seperti semula dan sekarang wajahmu terlihat serius."
"Untuk apa aku memperlihatkan kesedihanku di hadapan orang? Tak akan ada yang peduli bukan?"
"Topengmu tebal juga ya."
"Hanya Lilian yang akan bersedih jika aku sedih, namun aku tak suka melihatnya bersedih. Sebagai Kapten, Komandan Claude selalu menasehatiku agar tak memperlihatkan penderitaanku pada para prajurit, bahkan saat aku sakit dan terluka separah apapun aku tetap harus hadir di setiap latihan, berdiri di paling depan tanpa diketahui para prajurit kondisiku yang sebenarnya."
Frost menatap Delphy dengan pandangan yang sulit di artikan, tersirat tatapan sedih juga kagum di sana. "Jujurlah setidaknya saat di hadapanku."
Delphy menahan tawa mengejeknya, "ada apa denganmu? Sebelumnya sikapmu sungguh dingin dan kini kamu menjadi perhatian? "
"Jika sesuatu terjadi padamu, Ailee akan menghabisiku."
"Tenang saja, aku akan baik baik saja."
+++
Mereka tiba di Pusat Kota Kerajaan Whittaker siang hari. Frost menunggangi kuda bersama Delphy. Awalnya Delphy bersikukuh ingin pergi ke Istana seorang diri, namun Frost memaksa untuk menemaninya, laki laki itu khawatir dengan apa yang akan terjadi nantinya.
Baru memasuki pusat kota saja Delphy hampir tak sanggup membendung emosinya. Melihat bagaimana penduduk dari Kerajaan Ash Shaif bebas berdagang sedangkan banyak pedagang Whittaker yang gulung tikar terutama pedagang hasil panen karena musim panas yang lebih panjang dari biasanya.
Namun Delphy yakin jika bukan musim panas yang lebih panjang dari biasanya penyebab banyak pedagang hasil panen gulung tikar, karena bagaimanapun meski kekurangan pasokan setidaknya masih bisa bertahan meski sulit.
"Bagaimana bisa Ayah menerima pedagang dari Ash Shaif hanya karena pasokan yang menurun? Apa sungguh tak ada perjanjian menguntungkan lain? Tidak mungkin, ayah ahlinya dalam membuat perjanjian kerjasama antar Kerajaan" Banyak pertanyaan terlintas di pikiran Delphy.
Frost berkuda dengan cepat ,karena ia tau Delphy sudah tidak tenang melihat situasi ibu kota saat ini. Di belakangnya, Delphy memegang erat baju yang dikenakan Frost.
Hingga mereka sampai di depan gerbang Istana. Kedua penjaga gerbang dengan sigap menahan mereka dengan pedangnya. Delphy turun diikuti Frost.
"Beri kami jalan, ini perintah." Ucap Delphy dengan tegas.
"Putri Mahkota melarang siapapun masuk ke dalam Istana selain bangsawan dan Keluarga Kerajaan." Jelas penjaga gerbang
__ADS_1
"Apa maksudmu?" Siapapun disana dapat mengetahui jika Delphy sudah tak dapat membendung emosinya.
"Kami hanya menjalani perintah, Tuan."
"Beri aku jalan sekarang juga!" Delphy berusaha menerobos penjaga.
Frost memegang lengan Delphy berusaha menahannya "Hentikan, ini hanya mempersulitmu." Frost beralih menatap sang penjaga gerbang, "Apa kamu prajurit baru sampai tidak mengenalnya?"
"Tidak, saya mengenalnya, hanya saja Putri Mahkota mencabut status Ksatria darinya sejak lima bulan lalu."
Habis sudah kesabaran Delphy. Tanpa basa basi Delphy mendorong salah seorang penjaga hingga terjatuh kemudian mengambil pedangnya.
Delphy tak memikirkan apapun sekarang, ia hanya ingin bertemu dengan ayahnya dan meminta penjelasan. Ayahnya selalu mendengarkannya.
"Jangan mendekat atau aku tidak segan memenggal kepala kalian disini sekarang juga!!!" Teriak Delphy saat banyak prajurit mulai berdatangan. Sorot matanya memancarkan kemarahan dengan jelas.
Frost berdiri di sisi Delphy, bersiap juga dengan pedang miliknya. Beberapa prajurit mulai menyerang mereka. Namun dengan mudah Delphy memberi serangan balasan. Hingga banyak prajurit mulai ragu untuk melanjutkan serangan. Bagaimanapun juga para prajurit tau siapa sosok Delphy yang sebenarnya. Prajurit muda terbaik yang berhasil menyandang gelar Kapten termuda bahkan memenggal kepala Raja Varsha seorang diri.
Seluruh prajurit dengan cepat menyingkir dan menunduk hormat.
"Komandan" Delphy bergumam pelan. Sorot matanya berubah, terlihat lebih sendu saat menatap Komandan Claude.
Claude berdiri di hadapan Delphy, "masuklah, ayahmu sudah menunggumu sejak lama."
Kini Delphy berjalan mengikuti Claude bersama Frost. Di Istana tempat ia tinggal sejak kecil kini terasa asing, ntah apa yang membuatnya tak mengenal suasana Istana saat ini.
Di lorong Istana mereka berpapasan dengan pria yang sangat tak asing bagi Delphy, Pangeran Erd.
"Oh Hai kakak ipar, lama tak jumpa" Sapa Erd dengan senyuman di wajahnya.
"Apa maksudmu?"
"Oh ya aku lupa, kamu tidak termasuk keluarga kerajaan." Erd mendekat kemudian berbisik tepat di telinga Delphy. "Jangan khawatir, aku tetap akan menganggapmu sebagai kakak ipar."
__ADS_1
Setelahnya Erd berjalan pergi. Delphy menatap kepergian Erd dengan tajam.
"Bagaimana dia bisa tau?" batin Delphy.
"Sepertinya Putri Mahkota sudah sangat dekat dengannya." Celetul Claude.
Delphy menatap tak paham
"Yaahh darimana lagi Pangeran Erd bisa mengetahui identitasmu sebenarnya"
Kini Delphy mengerti, Erd jauh lebih berbahaya dari perkiraannya.
Mereka tiba di depan kamar Raja. Delphy masuk seorang diri, Claude dan Frost memilih untuk menyingkir, pergi keluar mencari udara segar sembari memberi waktu bagi Delphy dan melakukan perbincangan antar pria.
Jantung Delphy berdegup kencang saat membuka pintu. Berkat Claude, penjaga kamar Raja mengizinkan Delphy untuk masuk.
Dengan gemetar Delphy mendorong pintu. Ayahnya yang terbaring lemas di atas kasur menjadi pemandangan pertama yang ia lihat begitu memasuki ruangan. Seketika Delphy merasa sekujur tubuhnya tak bertenaga. Ayahnya yang terlihat gagah setiap saat kini menjadi kurus dengan wajah pucat dan tak berdaya.
Raja Whittaker yang melihat kehadiran Delphy menyuruh pelayan hingga pengawal yang ada di dalam kamarnya utnuk keluar, meminta ruang bagi mereka berdua. Delphy mendekat ke ayahnya ketika seluruh pelayan dan pengawal keluar dari kamar.
"Ayah." Panggil Delphy pelan.
Raja Whittaker berusaha untuk duduk, "Darimana saja kamu? Ayah sungguh sungguh merindukanmu"
Delphy memeluk ayahnya dengan erat. "Sungguh maafkan aku ayah, aku tak berniat mengkhianati kalian sama sekali."
"Ayah mempercayaimu, namun maaf saat ini tak banyak yang bisa ayah lakukan di kondisi ayah seperti ini." Raja Whittaker membalas pelukan Delphy kemudian melepasnya dan memegang kedua lengan Delphy, "Ayah mohon, tetap jaga saudaramu, sungguh ia masih membutuhkanmu namun sifatnya keras kepala, ia tak mau mendengarkan siapapun termasuk kakak kakakmu dan ayah."
"Aku akan mengurusnya, saat ini aku hanya ingin tau apa yang sedang terjadi, kenapa ayah bisa seperti ini?"
"Tidak hanya ayah yang seperti ini. Kita baru memasuki musim gugur satu minggu lalu, musim panas yang terlalu panjang menyebabkan wabah tak menular, banyak anak anak dan orang tua jatuh sakit.
"Selain itu, kita juga kehabisan hasil panen. Hingga wabah ini tak dapat dicegah, mereka jatuh sakit bukan karena tertular namun karena kelaparan dan dehidrasi. Ayah pun tidak yakin kapan bisa sembuh."
__ADS_1