
Sekelompok perampok keluar dari balik semak semak dengan berbagai benda tajam di genggaman mereka. Delphy dan Frost berdiri saling memunggungi, memperhatikan setiap perampok yang mengepung mereka.
Hanya kuda Delphy yang tersisa. Kuda putih yang di beri nama Snow oleh sang empunya itu memang terlatih dalam situasi bahaya.
Frost mengacungkan pedangnya. "Lebih baik kalian menyingkir sekarang sebelum menyesal."
"Serahkan semua harta berharga kalian." Salah seorang perompak dengan tubuh besar membalas dengan nada mengancam.
Delphy mengamati sekitar, kurang lebih terdapat sepuluh orang perampok yang terlihat. Ia belum bisa memastikan berapa perampok yang masih bersembunyi.
Sebuah rencana nekat terlintas di pikiran Delphy. Ia mengambil ancang ancang tanpa di ketahui Frost. Kakinya mulai menapak lebih kuat. Hingga ia dengan cepat mengambil tas milik Frost yang terletak cukup jauh dari jangkauan.
Tak hanya Frost yang terkejut dengan tindakan Delphy, para perampok yang turut terkejut pun langsung bergerak menyerang mereka. Namun Delphy sudah menduga hal ini, ia langsung menerjang lebih dulu perampok yang berada di dekatnya, melukai pergelangan tangan sang perampok hingga tak bisa menggenggam senjata lagi.
Hingga enam perampok menyerangnya secara bersamaan, Delphy langsung melempar belatinya pada salah satu dari mereka.
Crattsss
Belati itu menancap tepat pada lengan bawah sang perampok hingga ia tak bisa lagi menggenggam senjatanya, kakinya langsung menendang sebuah kapak yg di pegang perampok lainnya. Di sisi lain dengan sebilah pedang Frost sebenarnya dapat mengalahkan mereka dengan mudah, hanya saja ia menahan diri agar tidak sampai membunuh.
Delphy terus menghindar dan menyerang dengan tangan kosong, namun tentu saja itu tak cukup menjatuhkan para perampok. Delphy pun sadar jika pukulan maupun tendangannya tidak cukup kuat untuk menjadi petarung tangan kosong.
"BERHENTI ATAU KU BUNUH DIA!!!!!" Frost tiba tiba berteriak sambil menaruh sebuah pedang padang salah satu perampok.
Perampok itu terlihat ketakutan sambil memerintahkan teman temannya agar berhenti dan pergi. Dengan segera para perampok berhenti menyerang dan melarikan diri begitu saja.
Tersisa satu perampok yang kini berada di tangan Frost, menjadikannya tawanan. Delphy dan Frost berdiri di depan perampok tadi yang kini sudah dalam kondisi terikat.
"Melakukan penyerangan sebelum malam hari? Riwayat kalian tamat jika prajurit keamanan kota melihat ini." Ujar Delphy sambil bersedekap.
"Kami tidak punya pilihan lain, musim panas menjadi lebih lama dari biasanya, cukup banyak hasil panen yang gagal di tambah Putri bodoh yang memerintah sekarang malah menaikkan pajak." Perampok menjawab dengan nada pasrah.
__ADS_1
Mendengar hal itu Delphy cukup terkejut. Ia bertanya tanya, kenapa Crystal sudah memerintah bukankah ia masih menjadi Putri Mahkota. Bagaimana dengan ayahnya, kenapa ia tak menghalangi Crystal akan peraturan yang sangat merugikan rakyat padahal sejak dulu ayahnya selalu mengutamakan kesejahteraan rakyat Whittaker bagaimanapun kondisinya.
Delphy terdiam, ia tak berkata apapun. Sejenak ia tak menghiraukan sekitarnya lagi hingga Frost menepuk bahunya menyadarkan dirinya dari lamunan singkat.
Tanpa pikir panjang mereka langsung melepas sang perampok begitu saja kemudian membereskan barang mereka dan pergi melanjutkan perjalanan.
Sayangnya kuda mereka kini tersisa satu. Perjalanan masih cukup jauh, akan sangat melelahkan untuk kuda putih itu jika harus dinaiki mereka berdua secara bersamaan. Tak ada pilihan lain selain jalan kaki sambil menuntun kuda dan menaikinya saat tengah malam menghindari bahaya.
Sepanjang perjalanan Delphy tak berbicara apapun, ia hanya terdiam dengan wajah khawatir yang terlihat jelas. Frost menyodorkan sebuah roti yang ia beli sebagai perbekalan saat masih di sekitar penginapan tadi.
"Makanlah meski pikiranmu masih kalut."
Delphy menggeleng, padahal roti merupakan makanan favoritnya yang tidak pernah bisa ia tolak.
Frost menghela nafas, "Perjalanan masih jauh, setidaknya kamu bisa makan sambil melamun."
Delphy tetap menolak, ia benar benar tidak berminat makan sama sekali. Ia hanya ingin mengetahui situasi di Istana sekarang. Jika ayah tidak bisa menghentikan Crystal lalu bagaimana dengan kakak kakaknya, kenapa tak satupun menghentikan Crystal.
"Semua hal yang ada di sekitarku. Ayahku, Ratu, Crystal, Kakak kakakku, Istana, Kerajaan." Nada khawatir bercampur sedih dan panik terdengar jelas.
Frost menarik Delphy ke dalam pelukannya, berusaha menenangkan. "Tak apa, mau bagaimanapun kondisi saat ini, aku yakin kamu bisa mengatasinya."
Setelah itu Frost membiarkan Delphy menunggangi kudanya selagi mereka melanjutkan perjalanan dengan perlahan. Delphy tetap tak banyak bicara, ia masih larut dalam pikirannya sendiri namun kini ia melamun sambil memakan roti dengan perlahan.
Meski Frost sadar jika Delphy baru saja makan, namun ia tau kedepannya Delphy akan sulit untuk beristirahat dan makan sejenak. Setidaknya perut Delphy akan tetap terisi jika ia menyodorkan roti terus menerus selagi gadis itu melamun.
Hingga kini hari sudah cukup gelap saat mereka melewati pemukiman. Aroma roti yang baru di panggang dari sebuah toko roti tercium jelas. Menciun baunya saja membuat siapapun akan menjadi lapar, begitupula dengan Frost.
Frost berniat mengajak Delphy berhenti sejenak, namun gadis itu ternyata sudah membelokkan kudanya menuju toko roti tersebut.
Suara lonceng terdengar saat mereka membuka pintu toko. Delphy melangkah mendekati etalase yang kini terlihat hampir kosong.
__ADS_1
"Paman, apa rotinya hanya tersisa ini saja?"
Melihat Delphy yang akhirnya mau membuka suara, Frost tersenyum.
Sang pemilik toko menyodorkan nampan berisikan roti yang baru d angkat dari pemanggang. "Ini panggangan terakhir, setelah itu aku akan menutup toko."
"Aku mau lima yang baru selesai di panggang."
"Siap!!" Sang pemilik toko langsung membungkus lima roti. "Totalnya sepuluh golden."
Delphy menerima rotinya, "Frost kenapa hanya diam? Kamu tau aku tidak punya uang."
Sang pemilik toko hanya tertawa. Frost menggelengkan kepala heran sambil memberikan beberapa keping emas kepada pemilik toko.
"Oh iya paman, ku dengar setelah menaklukan Kerajaan Varsha, Raja Whittaker tidak sepenuhnya memegang wewenang lagi. Memangnya apa yang terjadi kepada Raja?"
Pertanyaan Delphy membuat Frost terheran, ia pikir Delphy sudah dapat melupakan masalahnya sejenak hingga bisa tersenyum saat melihat roti.
"Yaahhh, begitulah. Dari rumor yang beredar Sang Raja sakit parah bahkan ada yang bilang Raja sebenarnya sudah wafat namun tak di umumkan demi mengamankan posisi Putri Mahkota." Pemilik toko menjeda penjelasannya, "Seperti yang kita tau, Putri Mahkota tidak terlalu di harapkan menjadi penerus, rakyat lebih memilih Pangeran Colden. Apalagi sekarang Kerajaan makin kacau karena peraturan baru."
"Peraturan baru?" Tanya Delphy dengan nada penasaran, "ah maaf sebelumnya aku baru kembali dari berpergian."
"Begitu ya... Peraturan baru itu di buat sekitar lima bulan lalu. Pajak menjadi lebih tinggi selain itu penduduk Kerajaan Ash Shaif bebas berdagang di sini, bahkan banyak dari mereka menempati ibu kota."
Dada Delphy terasa sesak mendengarnya. Bagaimana bisa semuanya menjadi kacau hanya dalam enam bulan sejak Delphy pergi. Kerajaan Ash Shaif, sejak dulu Delphy selalu menaruh perhatian lebih pada Kerajaan itu, ia selalu berhati hati pada setiap hubungan dengan Kerajaan Ash Shaif.
Sekarang bahkan Kerajaan Ash Shaif berlaku seenaknya di Kerajaan Whittaker. Tak dapat di pungkiri, Delphy ingin bertemu dengan keluarganya saat ini. Apa yang dilakukan mereka hingga hal ini terjadi.
"Waahhh ternyata sekacau itu ya, aku tak pernah menyangka. Padahal dulu Negeri ini sangat damai."
"Hal seperti ini tidak perlu di pikirkan oleh anak muda sepertimu, bekerja saja dengan giat hingga bisa menghidupi keluargamu."
__ADS_1
Delphy mengangguk kemudia pergi setelah mengucapkan Terima kasih.