
"Ayah sudah tidak ada." Crystal memulai percakapan.
Delphy mengangguk, menunggu Crystal kembali berbicara.
"Kini hanya ada ibu yang menjadi penasihatku dan kamu kembalilah penjadi pengawalku."
Delphy menoleh menatap Crystal. "Aku tidak tau apa yang kamu pikirkan sebelumnya. Namun jika kamu mengusirku sekalipun, jika aku tidak berada di sekitarmu sekalipun aku tetap akan menjagamu sampai kapanpun."
"Kenapa? Apa karena aku terlihat lemah?"
Delphy menggeleng pelan, "Karena itu janjiku pada ayah."
Mereka terdiam. Hanya memandang danau dan merasakan udara yang terasa semakin dingin. Saat itulah salju pertama turun.
Delphy menadahkan tangannya. Musim gugur baru mulai namun musim dingin sudah datang. Tahun sebentar lagi berganti. Setidaknya mereka masih merasakan musim dingin di tahun ini.
"Tahun ini pergantian musim sungguh aneh." Ucap Crystal kemudian menikmati sentuhan salju yang turun ke telapak tangannya.
"Yahh kamu benar Yang Mulia, karena itu bukan Kerajaan ini sempat mengalami krisis pangan? " Erd datang entah dari mana. Dengan gaya angkuhnya ia berjalan mendekat ke pinggir danau.
"Tapi berkatmu, krisis pangan dapat diatasi. Terima kasih atas bantuannya."
"Tak masalah, itu sudah menjadi kewajibanku." Erd duduk si sebelah Crystal sambil merangkul pundaknya.
Delphy menatap aneh pada Erd. Laki laki itu tampak berbeda. Warna rambutnya tampak berbeda. Sebelumnya Erd memiliki rambut berwarna hitam, kini tampak seperti kuning kecoklatan.
Sadar akan tatapan Delphy, Erd memegang rambutnya sambil menjelaskan. "Ahhh, kamu merasa aneh ya. Ini warna rambut asliku, sebelumnya aku hanya menutupinya. Namun kupikir sekarang tidak perlu melakukannya karena tidak hanya aku sendiri disini yang memiliki warna rambut berbeda."
"Aku tak bertanya apapun." Balas Delphy nampak tak peduli, kemudian ia menatap Crystal "Ada yang masih ingin ku bicarakan padamu." Setelahnya gadis berambut putih itu melangkah pergi meninggalkan dua insan yang saat ini terlihat seperti sepasang kekasih.
Crystal hanya menatap aneh kepergian Delphy. Bagaimanapun terlihat jelas jika Delphy tak menyukai Erd.
"Kakak ipar!!" Panggil Erd kepada Delphy yang sudah melangkah cukup jauh. "Jika kamu belum paham setidaknya kendalikan emosimu."
Meski tak merespon apapun, Delphy sebenarnya dapat mendengar dengan jelas kata kata Erd, hanya saja ia tak begitu paham. Delphy jadi merutuki dirinya sendiri yang terkadang lambat dalam memahami kata kata.
Tujuan Delphy saat ini ialah Frost. Rasanya Delphy tak enak hati meninggalkan Frost seorang diri begitu saja padahal laki laki itu sudah jauh jauh kemari menemaninya.
Delphy menyusuri pemukiman penduduk yang kini mulai di selimuti salju. Orang orang masih memakai pakaian serba hitam, begitupun dirinya. Melihatnyaa mengingatkan Delphy kembali dengan suasana duka, ayahnya telah meninggalkannya untuk selamanya. Rasanya waktu terlalu cepat berlalu.
__ADS_1
Delphy tiba di sebuah bar yang terletak tidak begitu jauh dari Istana namun perlu memasuki gang gang kecil untuk mencapainya. Entah darimana Frost mengetahui bar ini.
Saat Delphy memasuki bar tersebut, Frost terlihat sedang berbincang dengan pengunjung lain sambil meminum bir.
"Asik sekali dia mengobrol." Gumam Delphy kemudian mendekati Frost dan menepuk pundaknya.
"Oh kamu sudah datang, duduklah." Frost sedikit bergeser, memberi ruang untuk Delphy duduk.
Delphy duduk tepat di sebelah Frost. Di hadapan Delphy terlihat seorang pemuda yang tak asing baginya. Namun Delphy hanya memendam rasa penasarannya.
Frost menyodorkan segelas bir kepada Delphy, "Minumlah."
Mata berbinar Delphy saat melihat segelas bir tak dapat ditutupi lagi. Setelah mengucapkan terimakasih ia langsung menenggak bir tersebut hingga tersisa setengah.
"Saat perasaan sedang hancur minum bir memang tepat." Ucap Delphy.
Pemuda di hadapan Delphy berdiri tak lama kemudian, "Aku duluan ya, masih ada yang harus ku kerjakan." Pamitnya kemudian pergi setelah Frost mengiyakan.
Kini Frost beralih menatap Delphy, tatapannya cukup terlihat serius. "Kamu tau tentang kegelapan bukan?"
Delphy mengangguk.
"Bagaimana kamu mengetahuinya?"
"Pangeran Erd merupakan titisan dewa musim panas, ia yang mengakibatkan musim panas di Negeri ini lebih panjang. Padahal di Negara lain semua musim berjalan normal. Seharusnya ia tak bisa mengganggu pergantian musim, namun sepertinya ia dapat melakukannya karena bantuan dari sihirr kegelapan dan karena kamu yang tidak mengetahui kekuatanmu."
Delphy menatap tak percaya, pembahasan yang ingin ia lupakan namun Frost kembali membahasnya di saat ia sendiri masih mencoba menerima kepergian ayahnya.
"Bisa kita bicarakan nanti? Penjaga musim atau titisan dewa musim apapun itu aku harus menjaga Kerajaanku terlebih dulu. Ayah baru saja tiada, tak menutup kemungkinan akan ada pemberontak yang ingin menggulingkan Crystal dari tahtanya."
"Aku paham, namun kamu tak bisa menutup mata masalah ini. Jika Pangeran Erd dibiarkan ia akan mempermainkan musim di Negeri ini kembali dan krisis pangan terjadi lagi."
Delphy paham, ia sungguh mengerti akhir semuanya jika Pangeran Erd dibiarkan. Musim panas kembali, krisis pangan terjadi lagi dan penduduk Ash Shaif akan benar benar memonopoli perdagangan.
Tapi Delphy sendiri tidak tau beban macam apa yang harus ia tanggung kedepannya. Membayangkannya saja Delphy tidak bisa.
Frost memegang pundak Delphy. "Hei, jangan lupakan aku disini. Kapanpun aku siap membantumu, karena itu ayo kita lakukan bersama."
"Bagaimana dengan titisan dewa musim yang lain? Musim semi dan gugur? Kemana mereka?"
__ADS_1
"Asal kamu tau musim gugur sudah melakukan tugasnya, jika ia tak ada musim panas akan terus berlanjut."
"Namun kenapa sekarang musim dingin sudah tiba?"
"Hanya kamu yang bisa mencari tau jawabannya. Ingat, tidak hanya Whittaker yang menjadi tanggung jawabmu saat ini, namun satu benua ini dalam bahaya jika kamu tak menghentikan Pangeran Erd dan sihir kegelapannya."
Delphy kembali menenggak bir nya yang tersisa setengah hingga habis. Sekarang kepalanya terasa berat. Meski menyukai alkohol, Delphy bukan orang yang kuat terhadap alkohol, segelas bir sudah cukup membuatnya mabuk.
Frost memandang Delphy yang sedang mabuk. "Tak apa, jangan pikirkan apapun untuk saat ini, setelah sadar nanti kamu harus bangkit lagi." Dengan pelan Frost berbicara pada Delphy.
"Apa yang kamu lakukan disini?!" Seru seorang pria yang baru masuk ke dalam bar. Untung saja tak ada pengunjung lain saat ini, jika tidak sudah pasti pria itu akan menjadi pusat perhatian.
Frost memandang pria itu yang kini berjalan mendekati Delphy. Tampak tak asing, pikirnya.
"Mengapa kamu membawanya kemari?"
Oh sekarang Frost ingat, pria itu kakak pertama Delphy. "Hanya mengajaknya berbicara sedikit."
Colden menatap tak senang pada Frost. Sejak dulu ia selalu mencegah Delphy meminum bir atau alkohol jenis apapun, namun kini seorang pria asing membuat Delphy menenggak segelas bir hingga mabuk.
"Sudah kak, aku tak apa. Hanya sedikit mabuk." Ucap Delphy yang sadar akan keberadaan Colden
"Aku akan membawamu kembali." Colden bersiap membawa Delphy namun Frost menahannya.
"Biarkan saja, akan kupastika ia kembali ke Istana dengan selamat." Ujar Frost.
Namun Colden tak menghiraukan nya, ia tetap ingin membawa Delphy kembali ke Istana saat itu juga.
"Kak, hentikan. Aku bukan anak kecil lagi. Berhenti ikut campur setiap urusanku, kakak tidak mengerti apapun." Delphy yang kini setengah sadar menolak Colden membawanya kembali ke Istana.
Hanya saja, Colden cukup terkejut dengan apa yang Delphy katakan. Sejujurnya, dada Colden terasa sesak saat mendengar hal itu dari Delphy secara langsung.
"Berhenti berbicara hal aneh, ayo kita kembali ke Istana."
Delphy menepis tangan Colden dengan kuat, "Sudah kubilang, kakak tidak mengerti apapun. Tidak semua urusanku kakak harus tau kan?"
Lalu Delphy pergi begitu saja meninggalkan Colden dan Frost. Colden ingin mengejar namun Frost lebih dulu menahan tangan Colden, mengisyaratkan jika Delphy butuh waktu sendiri saat ini.
"Saya harap Tuan mau menjelaskan semua ini." Tegas Colden pada Frost.
__ADS_1
Frost menggidikkan bahunya dengan santai, "Tuan akan tau sendirinya nanti."