Story Of Season : Winter

Story Of Season : Winter
Chapter 12


__ADS_3

"Bagaimana kabarmu? Bukankah disini terasa nyaman? Dingin yang selalu kamu sukai."


"Ya, aku menyukainya."


"Kalau begitu bangunlah, nikmati hal yang selama ini kamu rindukan."


+++


Hujan salju menemani penduduk beraktivitas pagi ini. Di pinggir danau yang tidak membeku meski musim dingin menyelimuti sepanjang tahun, Delphy duduk memeluk lutut. Melihat pantulan dirinya pada air danau. Mengingat setiap kejadian semalam yang ia lalui, termasuk mimpi aneh yang lagi lagi ia temui.


Masih menjadi pertanyaan di pikiran Delphy, bagaimana bentuk Dewa Musim Dngin? Kenapa ia bisa menjadi titsannya, sama sekali tidak dapat di mengerti. Jika ia titisan Dewa Musim Dingin, bagaimana dengan saudari kembarnya, kenapa ia terlahir normal.


Selama ini Delphy mengira satu satunya alasan dirinya menyukai Musim Dingin lebih dari apapun karena ia lahir di musim dingin yang penuh badai. Namun setelah mendengar penjelasan Ailee semalam, rasanya ia perlu berpikir ulang. Manusia normal mana yang menyukai musim dingin hingga tidak memerlukan baju tebal untuk menghangatkan diri seperti dirinya saat ini. Yah, sejak kemarin Delphy hanya mengenakan baju yang ia gunakan saat berangkat menuju Kerajaan Ash-Shaif, dimana saat itu musim panas masih belum usai sepenuhnya.


Seharusnya saat ini Delphy berada di Kerajaan Ash-Shaif, berdiri di sisi Crystal. Ia bahkan tidak tau apakah mereka masih di Kerajaan Ash-Shaif atau tidak, entah sudah berapa lama ia tidak sadarkan diri hingga sampai di benua lain tanpa ia sadari sama sekali.


Delphy beranjak dari duduknya, berjalan kembali ke kuil. Orang orang melihatnya dengan tatapan aneh. Bukan karena warna rambutnya ataupun matanya, hal itu sudah biasa terjadi disini. Penduduk Negeri Musim Dingin seringkali terlahir dengan penampilan aneh meski hanya manusia biasa, bukan penjaga musim. Delphy yang tidak mengenakan pakaian tebal adalah alasan kenapa orang orang menatapnya aneh.


Entah sudah berapa lama Delphy berjalan, ia menatap sekelilingnya. Tanpa perlu waktu lama untuk Delphy memahami jika dirinya tersesat. Ia sendiri tidak tau kenapa bisa sampai d tepi danau, awalnya ia hanya ingin berjalan jalan di sekitar kuil untuk mengetahui Kota tempatnya berada sekarang. Delphy bahkan tidak tau nama kota ini.


Perut yang mulai mengeluarkan suara tidak enak membuat Delphy mengeluh, ia tidak bisa membeli apapun disini bahkan meski hanya sepotong roti. Tidak ada koin emas sedikitpun yang ia punya. Delphy melihat sebuah cafe yang menyediakan minuman panas dan berbagai macam roti.


"Okee, lebih baik kita cari jalan kembali ke kuil sebelum mati kelaparan." Gumam Delphy pada dirinya sendiri.


Baru saja memutuskan kembali melangkah, Frost yang entah datang dari mana menarik tangan Delphy memasuki cafe tersebut. Tanpa basa basi ia memesan dua coklat panas dan sepotong roti kemudian memilih duduk di pojok cafe dengan pemandangan luar jendela.


"Aku tidak bermaksud melarikan diri, hanya tersesat." Ujar Delphy berusaha menjelaskan.


Frost menatap datar Delphy, "Aku tau."


Hening beberapa saat hingga pesanan mereka datang.


"Makanlah." Ucap Frost sambil mensodorkan roti yang dipesannya kepada Delphy.


Tanpa menunggu lama, Delphy langsung melahap rotinya. Sejak awal memang ia lapar, belum sarapan dan malah tersesat.

__ADS_1


Frost menyeruput coklat panasnya kemudian membuka topik pembicaraan. "Bagaimana menurutmu kota ini?"


"Damai, aku suka kota ini."


"Kota ini bernama Figo, artinya dingin." Frost menatap Delphy dengan seksama, "Aku harap kamu dapat menjaga kedamaian itu hingga akhir."


Helaan nafas terdengar dari Delphy, gadis itu tidak tau harus menjawab apa selain, "entahlah."


Lagi lagi keheningan menyelimuti mereka. Delphy memakan rotinya dengan perlahan, meski begitu kepalanya terasa penuh entah karena apa. Frost sendiri hanya menatap keluar jendela sambil meminum coklat panas. Mereka tenggelam dalam pikirannya masing masing.


"Omong omong, berapa lama aku tak sadarkan diri?" Tanya Delphy.


"Tiga Bulan."


+++


Delphy tak berhenti mengoceh di sepanjang jalan mereka kembali ke Kuil. Meski Frost mengabaikannya bahkan ketika mereka sudah memasuki kuil.


"Aku bahkan mungkin melewatkan pernikahan saudari kembarku sendiri. Aku harus pulang sekarang."


Langkah Frost terhenti, "kamu pikir, apa yang bisa kamu lakukan saat ini? Kamu bahkan tidak tau dengan kelebihanmu."


Frost menatap Delphy sambil melipat tangannya di dada. "Kerajaanmu mungkin sudah hancur sekarang."


Frost kembali melangkah, meski berulang kali Delphy memanggilnya meminta penjelasan ia tidak peduli. Frost tidak berniat memberi penjelasan lebih lanjut.


Di satu sisi Delphy merasa marah. Bagaimana bisa seseorang memberi penjelasan tidak lengkap seperti itu.


Delphy berlari mengejar Frost. Tanpa ragu Delphy melayangkan tinjunya. Ia sudah cukup muak dengan sikap Frost yang selalu tidak peduli. Sayangnya bukannya kepalan tangan Delphy yang mengenai wajah Frost malah sebuah kaca es yang mengenai tinjunya. Tangan Delphy berdarah, kaca es tersebut pecah. Entah darimana datangnya, namun kaca es tersebut seakan akan muncul untuk melindungi Frost.


"Apa itu?" Pikir Delphy. Matanya menatap terkejut ke arah Frost.


"Lihat? Kamu bahkan tak mengetahui apapun tentang kekuatan ini." Frost melangkah mendekati Delphy hingga kini jarak wajah mereka hanya sejengkal, "jika kamu memang pintar, seharusnya kamu lebih memilih mencari tau lebih dulu jati dirimu. Mencari tau sepuasnya selama kamu masih disini, bukannya merengek pulang."


Delphy tak menjawab apapun hingga Frost menghilang dari pandangannya. Sejak awal memang ia mencoba menolak kenyataan dari Ailee. Setelah menjadi putri yang terkutuk hingga harus menyamar lalu takdir apalagi yang menunggunya.

__ADS_1


Menjaga satu kerajaan saja sudah membuatnya lelah, lalu apa sekarang? Menjaga satu benua? Hal itu bahkan tak pernah Delphy bayangkan sedikitpun.


Ailee adalah satu satunya orang yang bisa menjawab setiap pertanyaannya. Tanpa pikir panjang Delphy pergi menemui wanita berparas cantik itu di ruangannya.


Delphy masuk ke dalam ruangan Ailee setelah mengetuk pintu dan di persilahkan masuk sang empunya. Di sana Ailee terlihat sedang membaca buku. Namun buku itu tak terlihat seperti buku biasa. Buku bersampul putih yang di pegang Ailee mengeluarkan cahaya.


"Ailee."


"Duduklah, tanyakan semua hal yang berputar di kepalamu, akan ku jawab satu persatu." Ailee menutup bukunya kemudian duduk di sofa tepat di hadapan Delphy.


"Jika aku adalah titisan dewa musim dingin, bagaiman dengan Crystal? Dia kembaranku, tidak mungkin jika kami berbeda."


"Bisa saja kalian berbeda. Karena sejatinya, setiap dewa musim dapat memberikan kekuatannya pada siapapun. Dalam kasusmu, dewa musim dingin memberikan kekuatannya hanya padamu meski kalian saudari kembar."


"Lalu mengenai sihir, apakah hal itu benar benar ada? Apakah aku memiliki kekuatan itu? Tapi kenapa aku tidak pernah merasakannya?"


"Karena kamu selalu berpikir kamu putri yang terkutuk. Kamu tidak memiliki kepercayaan diri sebagai seseorang yang mempunyai keberkahan." Ailee menjeda kalimatnya, "Sekarang, biarkan aku yang bertanya. Kenapa kamu menganggap perbedaanmu adalah kutukan? Bukankah perbedaanmu terlihat indah jika kamu mengakuinya?"


Delphy terdiam. Di dalam hatinya, ia mengakui semua perkataan Ailee. Seseorang yang selama ini di anggap terkutuk, bagaimana bisa menjadi seseorang yang memiliki keberkahan?


Rambut putih dan warna mata yang berbeda, bagaimana bisa hal itu dikatakan indah? Bukankah Delphy terlihat aneh? Sampai sekarang pun Delphy selalu menganggap dirinya aneh.


Ailee mendekat, mengusap rambut seputih salju milik Delphy. "Bukankah kamu dapat merasakannya? Rambut putih mu ini, terlihat bercahaya di bawah sinar rembulan, halus dan sungguh cantik." Ailee menatap kedua mata Delphy. "Warna matamu yang berbeda ini bukankah terlihat keren? Biru muda membuktikan jika kamu adalah keturunan bangsawan dan abu abu membuktikan jika kamu adalah titisan dewa."


Delphy menatap mata Ailee, tak ada tanda kebohongan disana. Ailee mengatakannya dengan tulus. Penampilan Delphy yang selalu dikira adalah kutukan padahal sebuah anugrah. Tatapan yang Delphy dapatkan selama ini hanya tatapan orang orang yang memandangnya aneh, meskipun hal itu berubah seiring ia yang berhasil memenggal kepala Raja Varsha.


"Lalu, bagaimana dengan Kerajaan Whittaker? Kenapa Frost berkata Kerajaanku mungkin dalam bahaya?"


"Karena kalian membiarkan Pangeran Erd masuk ke dalam Kerajaan kalian."


Tak ada rasa terkejut sedikitpun di dalam benak Delphy. Sejak awal Delphy selalu merasa Pangeran Erd mencurigakan. Sekarang bukan Pangeran Erd yang dipikirkan Delphy, melainkan Crystal. Bagaimana nasib Crystal yang menikah dengan Pangeran Erd.


"Aku harus kembali ke kerajaanku." Delphy berdiri berniat menyiapkan kepulangannya sesegera mungkin.


"Tidak ada yang bisa kamu lakukan sekarang." Perkataan Ailee membuat Delphy menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Kenapa kalian mengatakan hal yang sama? Aku harus pulang untuk memastikan keadaan. Jika kerajaanku dalam bahaya, lantas kenapa kalian menahanku disini?"


"Aku tau kamu belum bisa menerima kenyataan. Kamu bingung akan takdirmu sendiri. Setelah menjadi putri yang terkutuk kini kamu menjadi titisan dewa musim dingin. Hal itu pasti membuatmu bingung. Aku tidak berniat menahanmu lebih lama disini, karena itu carilah takdirmu sendiri."


__ADS_2