Story Of Season : Winter

Story Of Season : Winter
Chapter 15


__ADS_3

Sarapan dengan seporsi pancake di temani susu panas menjadi perpaduan yang sangat pas di tengah udara dingin. Sambil membaca buku, Delphy memakan sarapannya di resto kapal. Di hadapannya terdapat Frost yang memiliki menu berbeda dari Delphy. Laki laki itu memilih hanya menikmati secangkir kopi pagi ini.


Frost terdiam meminum kopinya, matanya memperhatikan kalung yang dikenakan Delphy. Ia tak ingat Delphy memiliki kalung itu sebelumnya. Belakangan ini Frost jarang bersama Delphy. Gadis dengan surai putih itu lebih banyak menghabiskan waktunya membaca buku selama di kapal ataupun menikmati angin laut di deck kapal berbincang dengan penumpang lain.


Di satu sisi, Frost sering menghabiskan waktunya bermain permainan kartu bersama penumpang lain, bahkan hingga berjudi. Meski sebenarnya berjudi tidak menjadi kegiatan yang disukai Frost, namun ia sering melakukannya ketika berada di kapal untuk menghilangkan jenuh.


Frost berniat menghabiskan kopinya lalu pergi begitu saja, namun ia mengurungkan niatnya. "Sejauh mana kamu sudah membaca buku itu?"


"Hmmm....saat alasan ketakutan tokoh utama akan musim dingin terungkap."


Frost menganggukkan kepalanya mengerti. Ia tak berniat melanjutkan obrolan, hanya ingin memastikan sesuatu.


Teringat akan suatu hal, Delphy menutup bukunya. "Omong omong, bagaimana awal mula kamu mengetahui jika kamu adalah penjaga musim?"


"Semua benda yang kusentuh membeku saat aku menginjak usia delapan tahun dan Ailee melatihku mengendalikan kekuatanku."


"Bagaimana dengan Ailee? Apa dia penjaga musim juga?" Delphy kembali bertanya.


"Bisa di bilang seperti itu."


Tak ada obrolan apapun setelahnya. Frost beranjak pergi. Tersisa Delphy dengan segelas susunya yang tersisa setengah. Entah kenapa matanya terasa berat. Padahal semalam ia tidur lebih awal. Bahkan akhir akhir ini ia selalu tidur lebih awal di bandingkan jam tidur sebenarnya.


Delphy meletakkan kepalanya di atas meja hingga tertidur begitu saja.


+++


Anak panah melesat dengan cepat, mengenai papan target tepat di tengah, Bach lah pelakunya. Pangeran ke dua di Kerajaan Whittaker memang terkenal dengan kemampuannya dalam memanah. Target manapun tak pernah lepas dari anak panahnya.


Ini pertama kalinya Delphy dan Crystal belajar panah. Kedua anak perempuan itu tak hentinya memandang kagum pada Bach.


Delphy mulai mengangkat busur panah nya, menyesuaikan posisi dengan benar setelah di jelaskan dengan Bach. Anak panah mulai melesat cepat, namun jauh dari target, meski begitu Bach tetap memujinya. Bagi anak perempuan yang masih berusia tujuh tahun dapat melesatkan anak panah dengan jarak yang jauh saja sudah mengagumkan.

__ADS_1


"Itu sudah lebih dari cukup, kamu hanya perlu berlatih lagi." Puji Bach.


Delphy kecil tersenyum sumringah mendengar pujian itu, "Aku akan berlatih dengan keras."


Kini giliran Crystal mengangkat busur panahnya. Sayangnya Crystal tak cukup kuat untuk menarik tali busurnya hingga anak panah jatuh tepat sebelum menuju target. Padahal bidikan Crystal jauh lebih baik dari Delphy, ia hampir mengenai target jika saja anak panahnya melesat lebih jauh.


"Tuan Putri hanya kurang kuat saat menarik tali busurnya, tapi bidikan anda sangat bagus." Lagi lagi Bach memuji adiknya meski melakukan kesalahan.


Crystal menjatuhkan busurnya begitu saja lalu melipat kedua tangannya di dada. "Ini melelahkan, tali busurnya sangat keras tanganku sakit."


Bach berlutut menyamakan tingginya dengan Crystal. "Tak apa, anda hanya perlu berlatih lebih keras lagi. Hal itu karena anda belum terbiasa, tuan putri."


"Aku tidak mau melakukannya. Membaca buku lebih pantas untuk putri mahkota sepertiku." Kesal Crystal lalu pergi begitu saja meninggalkan tempat latihan.


Tak ada komentar apapun dari Bach, ia hanya menghela nafas. Memaksa Crystal untuk terus berlatih tidak ada dalam daftar kewajibannya, bahkan ia tidak berhak melakukannya.


Delphy ingin mengejar Crystal, namun lengannya di tahan oleh Blaze yang baru saja tiba.


"Haaahhh, dasar aneh. Padahal ia sendiri yang meminta berlatih panah sejak kemarin." Kata Delphy dengan nada sebal.


Bach menepuk tangannya menarik perhatian, "yaps, lebih baik bersiap pada posisi kalian dan kembali latihan." Bach menjeda kalimatnya, "termasuk kamu Blaze."


Mendengar namanya di panggil, Blaze menoleh sambil tersenyum seperti orang yang tertangkap basah melakukan kesalahan.


"Hehe, aku baru saja menyelesaikan lari tiga puluh putaran."


Bach menarik kerah belakang Blaze, memaksa pangeran terakhir Kerajaan Whittaker itu mengambil posisi memanah.


Latihan di lanjutkan tanpa Crystal. Delphy dan Blaze menyimak dengan baik setiap masukan dari Bach. Hingga dua jam mereka berlatih, mereka memutuskan beristirahat.


Delphy memegang lengan tangannya yang terasa sakit. Meski sudah mencoba berkali kali, namun bidikannya selalu meleset jauh dari terget. Entah kenapa ia tidak bisa melihat target dengan benar.

__ADS_1


"Yaahhh, setidaknya aku masih mengenai target, tidak seperti seseorang yang entah kemana anak panahnya melesat." Ujar Blaze.


Merasa tersindir, Delphy menyolot dengan keras, "tidak usah menyindirku! Ini pertama kalinya bagiku asal kakak tau!"


Sadar akan berakhir dengan keributan, Bach langsung menengahi. "Jika kalian kembali bertengkar, Ka Colden akan kemari dengan tarikan telinga."


"Aku ingin belajar berpedang saja." Keluh Delphy.


Bach mengelus kepala Delphy, "tak apa, kamu hanya perlu lebih sering berlatih."


+++


Hari sudah senja saat Delphy terbangun dari tidurnya. Ia masih berada di tempat yang sama, di kafetaria kapal. Delphy mengangkat kepalanya dengan berat. Akhir akhir ini ia selalu bermimpi tentang masa lalunya.


Badannya terasa kaku setelah tidur dalam posisi telungkup di atas meja. Entah apa yang membuatnya tidur begitu pulas dalam waktu yang lama.


Delphy menuju kamarnya, ia berniat melanjutkan tidurnya dengan posisi nyaman. Matanya masih terasa berat.


Di kamarnya, Delphy melihat Frost sedang mengelap pedangnya. Omong omong soal pedang, Delphy jadi bertanya tanya bagaimana nasib pedangnya setelah ia berada di Benua tetangga.


"Tidurlah, Kamu masih terlihat lelah." Ucap Frost saat menyadari kehadiran Delphy. "Tidurlah sepuasmu, kamu tidak akan bisa tidur sesukamu setelah kita sampai di Whittaker."


Delphy menganggukkan kepalanya. Tanpa menjawab apapun ia menuju kasurnya dan tertidur dengan pulas dalam hitungan detik. Frost memperhatikan Delphy yang tertidur dengan pulas. Wajahnya terlihat damai saat tertidur.


Sejak awal Frost memang mengetahui bagaimana nasib Delphy di Whittaker, karena itu ia berniat menyusul gadis itu dan mengungkap semua kenyataan. Sebagai penjaga musim, Frost merasa Delphy harus mengetahui semuanya secepat mungkin, karena ia takkan bisa berjuang sendiri.


Hanya saja Frost tak terbiasa menjelaskan hal panjang lebar, apalagi untuk meyakinkan seseorang. Dilihat dari segi manapun, setelah semua yang di alami Delphy, gadis itu tak mungkin dapat percaya dengan mudah.


Ailee pun sama, ia tak yakin dapat meyakinkan Delphy akan kenyataan dirinya sendiri. Karena itu, Ailee membawa Delphy langsung ke tempatnya, menjelaskan segala hal dengan lebih mudah.


+++

__ADS_1


"Ku harap kamu bisa menemukan takdir sesuai yang kamu inginkan hingga takdir tak bisa lagi mempermainkanmu. Karena kamu dan musim dingin yang kamu cintai tak kan bisa berpisah. Kamu hanya perlu mencari kepingan puzzle yang hilang."


__ADS_2