Story Of Season : Winter

Story Of Season : Winter
Chapter 11


__ADS_3

Rasa dingin yang menusuk kulit saat Delphy membuka mata. Ia tidak tau dimana dirinya berada saat ini. Hal terakhir yang Delphy ingat ialah saat rombongannya mulai menghilang dari penglihatannya, tepat setelahnya tak ada satupun yang dapat Delphy ingat. Hingga kini ia terbangun berada di sebuah kereta kuda yang sedang berjalan di sebuah kota yang tertutupi salju.


Delphy tidak tau sudah berapa lama ia tidak sadarkan diri hingga berada di sebuah kota yang sudah memasuki musim dingin ketika di Kerajaan Whittaker yang terkenal akan musim dinginnya yang lebih panjang masih memasuki musim gugur dengan cuaca yang terasa sepeti akhir musim panas.


Sempat terlintas di pikiran Delphy dirinya sudah berada di benua lain, yang berarti ia tidak sadarkan diri berbulan bulan. Namun itu terasa mustahil. Kereta kuda yang di tunggangi Delphy melewati sebuah monumen berbentuk kepingan salju. Di sana, telihat beberapa orang berdoa. Penduduk kota ini terlihat bahagia. Banyak anak kecil berlarian, orang dewasa yang mengobrol, para penduduk yang saling menyapa.


Laki laki yang duduk di hadapan Delphy tidak berkata apapun meski ia memerhatikan Delphy yang melihat keluar jendela. Seakan menunggu Delphy mengucapkan sepatah kata padanya.


"Ini dimana?" Tanya Delphy menatap laki laki dengan rambut hitam bergradasi putih yang duduk di depannya saat ini. Cukup unik memang, ntah bagaimana rambut laki laki itu bisa seperti itu. Namun Delphy kembali sadar diri, dirinya lah yang memiliki penampilan teraneh.


"Kamu akan tau nanti."


"Rasanya aku tidak sadarkan diri terlalu lama." Delphy kembali menatap keluar jendela, ia merasa kota ini snagat menarik. "Aku tidak tau siapa dirimu, ntah apa yang kalian inginkan dariku, tapi tak ada apapun yang aku punya saat ini."


Laki laki itu tidak menjawab. Hingga akhirnya mereka memasuki sebuah kuil.


"Turunlah." Laki laki itu turun diikuti Delphy. Keretaa kuda yang mereka tunggangi pergi begitu saja.


Tak ada sepatah katapun dari laki laki itu saat mereka berjalan di dalam kuil yang kosong, tak ada seorang pun disini selain Delphy dan laki laki yang berada di depannya. Kuil kosong itu terlihat terawat, terbukti dengan tak satupun debu yang terlihat.


Mereka memasuki sebuah ruangan, di tengah ruangan itu terdapat sebuah air mancur dengan ukuran kecil. Selain itu tak ada yang menghiasi ruangan tersebut.


"Bagaimana perjalananmu, Frost?" Seorang wanita yang terlihat berusia awal tiga puluh datang dari balik pintu yang berlawanan dengan arah Delphy datang. "Selamat datang Delphy, kamu pasti lelah setelah perjalanan panjang." Wanita itu beralih menatap Delphy dengan senyum hangat.


Hanya senyuman tipis yang Delphy berikan sebagai balasan, ia tidak tau harus berkata apa lagi. Matanya sibuk memperhatikan wanita itu dengan seksama. Wajah cantik meski wajahnya terlihat pucat, tubuhnya cukup tinggi bagi seorang perempuan, rambut hitam bergelombang itu tergerai indah serta gaun berwarna biru tua dan sedikit aksen putih membuat wanita itu tampak menawan.


"Maaf jika membuatmu terkejut, perkenalkan saya Ailee." Wanita itu mendekat ke arah Delphy sambil mengulurkan tangannya yang di terima Delphy. "Sebaiknya kamu istirahat terlebih dulu, perjalanan jauh pasti membuatmu lelah.


Ailee kemudian memberikan kode kepada Frost untuk membawa Delphy ke tempat istirahat, meniggalkan Ailee sendirian di ruangan itu.


"Frost, jadi itu namamu." Akhirnya Delphy kembali berbicara setelah susah payah memahami situasi yang terjadi, padahal ia selalu dapat memahami situasi dengan cepat di saat apapun, karena itulah ia bisa menjad kapten tim khusus.


Frost tidak menjawab apapun. Kamar dengan ornamen kepingan salju yang menggantung di tengah tengah langit kamar menjadi tempat Delphy untuk beristirahat.

__ADS_1


"Jangan pernah mencoba melakukan hal hal nekat, aku akan kembali saat makan malam." Frost pergi begitu saja meninggalkan Delphy.


Kini Delphy merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk sambil menatap ornamen kepingan salju yang menggantung. ia tidak tau dimana dirinya berada. Ingin rasanya ia mencerca Frost dengan berbagai pertanyaan, tapi sepertinya percuma, Frost terlihat tak bersahabat.


"Mereka juga tak terlihat berbahaya." Gumam Delphy


Delphy beranjak bangun, memutuskan untuk melihat lihat seisi kamar. Kamar dengan nuansa sederhana namun terasa mewah. Atensinya jatuh pada rak buku disudut kamar.


Sedikit membaca buku mungkin dapat menghilangkan rasa jenuhnya sesaat. Buku dengan cover berwarna biru muda menarik perhatiannya.


"Memori Musim Dingin."


Pada bab pertama menjelaskan tentang anak laki laki yang membenci musim dingin. Hal itu membuat Delphy tertarik. Baginya yang menyukai musim dingin tentu saja penasaran apa ada alasan seseorang membenci musim dingin. Padahal musim dingin terasa sejuk, belum lagi bisa bermain salju, seperti membuat manusia salju dan saling melempar bola salju.


***


Delphy menutup bukunya ketika pintu kamarnya di ketuk, setelah Delphy menjawab ketukan, pintu terbuka, memperlihatkan Frost dengan pakaian yang berbeda dari sebelumnya.


Setelah meletakkan bukunya kembali ke tempat asalnya, Delphy mengikuti Frost. Mereka tiba di ruang makan. Disana terdapat meja makan dengan ukuran besar yang terdapat berbagai jenis makanan. Ailee sudah duduk dengan anggun disana, mempersilahkan Delphy untuk duduk.


Ailee tersenyum menatap Delphy, "Aku tau kamu memiliki banyak pertanyaan, tanyakan nanti saat selesai makan saja ya, kamu pasti sudah lapar."


Delphy hanya mengangguk pelan sebagai jawaban, setelahnya mereka makan dalam diam. Sesekali Delphy mencuri pandangan pada Ailee, wanita itu terlihat anggun, seketika Delphy merasa terpana.


Hingga hanya bersisa makanan penutup, Ailee membuka percakapan, "Pertama, simpan dulu setiap pertanyaanmu, biarkan aku menjelaskan alasanmu disini terlebih dulu." Meneguk sedikit wine, Ailee melanjutkan, "Mungkin kamu akan sedikit terkejut. Dengarkan baik baik ya."


Lagi lagi Delphy hanya mengangguk singkat sebagai jawaban.


"Setiap musim memiliki penjaga, mereka disebut sebagai penjaga musim. Mereka memastikan di setiap musimnya berjalan seperti seharusnya, tanpa gangguan dari kegelapan."


"Kegelapan?"


Ailee mengangguk, "Sekitar seribu tahun lalu, musim di dunia berantakan, musim dingin yang terlalu panjang namun saat musim semi datang, tak satupun hasil panen yang berhasil. Dunia krisis pangan. Terkadang musim panas juga sangat panjang membuat banyak orang jatuh sakit."

__ADS_1


"Setelahnya, dunia penuh kegelapan, tidak ada musim apapun, semua terasa sesak dan hampa. Tidak ada bunga penuh warna, hanya bunga berwarna hitam. Alam di penuhi warna hitam dan abu abu. Tidak ada senyuman."


"Kemudian, dewa menurunkan penjaga musim. Musim semi, musim panas, musim gugur dan musim dingin. Mereka melawan kegelapan itu dan menjaga keseimbangan alam. Tanpa mereka musim di dunia ataupun kegelapan pasti masih berantakan."


Delphy mengambil suapan terakhir pudingnya, "Aku tidak pernah mendengar hal itu."


"Tentu saja, keberadaan mereka menjadi rahasia, mereka berbaur dengan orang lain. Dan kamu salah satunya."


Puding yang baru masuk ke dalam mulut Delphy ditelannya dengan susah payah. Kali ini ia benar benar kehabisan kata kata. Delphy tidak tau harus menjawab apa, ia tidak mengerti.


"Saat ini, kamu berada di Benua Epokhes. Benua dimana para penjaga musim terlahir. Saat ini juga kamu berada di Negeri musim dingin, dimana sepanjang tahunnya di penuhi musim dingin. "


"Sepertinya ada kesalahpahaman. Aku lahir di Negeri Whittaker, Benua Utara."


"Aku tau. Hal itu karena kamu adalah titisan dewa musim dingin itu sendiri yang terlahir untuk menjaga Benua asal kelahiranmu. Setiap Benua memiliki empat titisan dewa musim. Sedangkan mereka yang terlahir di Benua ini sebagai penjaga musim adalah mereka yang akan membantu setiap titisan dewa musim dalam melakukan tugas mereka."


"Tidak mungkin, aku hanya terlahir sebagai putri yang terkutuk, aku bukan dewa, tugasku hanya menjaga Negeri ku." Delphy menggelengkan kepala dengan keras.


Ailee menggeleng pelan, "Tidak Delphy, selama ini mungkin keluargamu mengira kamu adalah putri yang terkutuk karena penampilanmu, meski sebenarnya rambut putih dan mata abu abu mu adalah wujud dari dewa musim dingin."


Delphy tertunduk, mencoba mencerna setiap perkataan Ailee.


"Aku tau, mungkin akan sangat membingungkan untukmu. Perlahan kamu akan mengetahuinya, karena hal itulah kamu berada disini."


"Apakah Frost salah satu penjaga musim dingin?"


Ailee mengangguk. "Frost adalah penjaga musim dingin yang akan membantumu." Ailee menghela nafas sejenak, "Seharusnya bukan seperti ini pertemuanmu dengan Frost, hanya saja terjadi hal tak terduga."


"Kalian menculikku di saat aku harus menjaga saudari ku."


"Sedikit terjadi kesalahpahaman, orang yang kami utus untuk menjemputmu hilang entah kemana. Tidak ada kabar apapun darinya sejak ia menginjak Kerajaan Whittaker. Karena itu aku mengutus Frost secara langsung, namun ia menemukanmu di tengah para perampok." Ailee melanjutkan, "Sebaiknya kamu istirahat dulu malam ini, kita lanjutkan esok pagi, masih ada banyak hal yang ingin kukatakan.


Ailee beranjak pamit lebih dulu dari meja makan. Frost yang masih terlihat tidak bersahabat membuat Delphy memutuskan untuk kembali ke kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2