Story Of Season : Winter

Story Of Season : Winter
Chapter 7


__ADS_3

"Perjamuan makan malam nanti ayah harap kamu tidak mengecewakan, Crystal." Raja Whittaker menatap lekat pada Putri Mahkotanya.


"Baik ayah." Jawaban singkat dari Cyrstal cukup memuaskan Raja.


Makan malam yang diadakan di Kerajaan Ash-Shaif tiga hari lagi adalah makan malam pertama kali yang diadakan bersama Kerajaan Ash-Shaif setelah pertunangan Erd dengan Crystal untuk menentukan tanggal pernikahan. Entah apa yang membuat Raja Whittaker memutuskan untuk mempercepat pernikahan mereka.


Crystal hanya bisa mengiyakan. Tidak ada bantahan apapun darinya. Delphy berdiri dengan tegap di samping Crystal. Tatapan datar yang diberikan Delphy membuat Crystal sendiri merasa enggan menyapa kembarannya itu. Pertemuan terakhir mereka di Perpustakaan pribadi Crystal adalah hari terakhir hubungan mereka seperti saudara kembar pada umumnya.


Setelah hari itu mereka hanya akan bertemu jika ada hal yang penting. Seperti mengawal Crystal berpergian atau melakukan pertemuan penting. Terasa sangat canggung bagi Crystal, tapi tidak dengan Delphy yang semakin tidak peduli.


"Sedangkan tugas untukmu Delphy, Pangeran Erd memintamu secara khusus untuk ikut serta dalam perjamuan makan malam, karena itu tugasmu akan diambil alih oleh Scarlet."


Delphy tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, "Jika saya boleh tau, apa alasan Pangeran Erd meminta saya secara khusus?"


"Sebagai ucapan rasa terima kasihnya karena menjaga keamanan pada pesta pertunangan."


"Saya mengerti, akan saya lakukan yang terbaik untuk makan malam nanti."


Delphy pamit lebih dulu untuk menemui Scarlet. Satu satunya prajurit perempuanĀ  yang selamat di regunya yang saat ini berada di bawah regu yang dipimpin Komandan Claude secara langsung.


Tujuan Delphy saat ini markas divisi satu. Ia harus memastikan Scarlet dapat mengawal Crystal dengan baik. Penyerangan saat pesta pertunangan yang kemungkinan terulang membuat Delphy harus memperingatkan Scarlet agar memperketat pengawasan meski Delphy sendiri tidak akan menurunkan kewaspadaannya. Keselamatan Crystal masih menjadi tanggung jawab Delphy.


Setidaknya tanggung jawab Keluarga Kerajaan Ash-Shaif bukan tanggung jawabnya, jadi ia bisa lebih fokus terhadap keselamatan Crystal. Delphy akan menyalahkan dirinya sendiri jika sesuatu yang buruk terjadi pada Crystal.


Baru saja Delphy tiba di markas prajurit, Scarlet sudah lebih dulu menghampirinya. Gadis dengan potongan rambut sebahu itu menunduk kepada Delphy sebagai tanda hormatnya.


"Ada banyak hal yang harus saya sampaikan, bisa kita bicara di ruangan saya?"


Cukup lama mereka berbincang, Delphy menyampaikan sedetail mungkin tugas yang harus dilakukan Scarlet, sebaliknya ada banyak hal yang ditanyakan oleh Scarlet kepada Delphy hingga mereka merasa cukup.


Kini Delphy duduk di pinggir lapangan memperhatikan setiap prajurit yang sibuk mengayunkan pedangnya. Melihat dengan seksama, sesekali memberitahu jika ada kesalahan. Suara pedang yang beradu menemani Delphy yang larut dalam pikirannya. Akhir akhir ini ia senang sekali melamun.


Tidak ada petunjuk apapun tentang surat yang ia dapatkan. Beberapa prajurit yang bertugas menjaga markas saat itu juga tidak mengetahui secara detail wajah pengantar surat, tapi mereka tau pasti pengantar surat itu seorang laki laki. Kata mereka saat itu ia sedikit menunduk dan rambutnya yang cukup panjang menutupi sebagian wajahnya. Penjaga mengizinkan masuk karena laki laki itu menunjukkan surat tugas dari Istana.


Saat tersadar dari lamunannya, Delphy berdiri dari duduknya, mengambil sebilah pedang kemudian mengacungkannya, "Jika salah satu dari kalian melukaiku dalam lima belas menit, latihan hari ini selesai."


Tidak cukup sulit bagi Delphy untuk mengatasi prajurit yang masih berlatih. Pelatihan yang diberikan di markas prajurit tidak bisa dibandingkan dengan pelatihan yang ia terima secara khusus bersama para Pangeran.


Selang satu menit seorang prajurit perempuan dengan rambut diikat ponytail mengajukan diri untuk menerima tantangan Delphy. Dengan senang hati Delphy bersiap melawannya. "Alice?" Delphy meyakinkan nama lawannya.

__ADS_1


"Ya Kapten." Alice menyahut, mengambil kuda kuda. Prajurit lain menepi memberikan Delphy dan Alice ruang.


Teriakan dukungan untuk Alice terdengar. Pertarungan mereka dimulai, terlihat imbang di awal. Beberapa kali Delphy terpojok, Alice tidak mengurangi kecepatan serangannya. Alice memang terkenal dengan kecepatannya dalam berpedang. Sorakan prajurit meramaikan lapangan.


Sayangnya hingga lima belas menit berlalu kecepatan berpedang Alice masih belum cukup untuk melukai Delphy. Kali ini seorang prajurit laki laki yang terlihat berwibawa mengarahkan pedangnya pada Delphy. Lagi lagi Delphy dengan senang hati melawannya.


"Adolf, prajurit junior yang terkenal dengan kewibawaannya. Katanya sih calon Kapten." Delphy mengatakan semua yang ia tau tentang lawannya berniat meremehkan.


Tidak mau kalah, Adolf membalas seakan ingin mempermalukan Delphy jika kapten regu khusus itu kalah, "Kapten Delphy, prajurit senior yang telah dilatih sejak muda, terkenal akan kemampuan berpedangnya yang luar biasa. Dilatih secara khusus bersama para Pangeran karena potensi yang dimilikinya."


Delphy bertepuk tangan menanggapinya.


"Sepertinya akan memalukan jika anda kalah dengan prajurit junior seperti saya yang tidak menerima pelatihan khusus." Adolf bersiap pada posisinya.


Pertarungan dimulai, Delphy terlihat lebih serius kali ini, ia mengayunkan pedangnya lebih cepat, sambil mengamati jalannya pertandingan, ia juga memberikan serangan balasan. Tidak pernah Delphy bayangkan jika ada seorang prajurit junior yang cukup membuatnya bertarung secara serius.


Pertarungan berlanjut dengan sengit sampai Delphy kalah kekuatan saat adu pedang, tangannya tergelincir, pedang Adolf mengenai lengan atasnya. Semua prajurit bersorak gembira.


Delphy tersenyum puas. Latihan yang sengaja ia ketatkan beberapa hari ini cukup memuaskan. "Latihan hari ini selesai, kalian bisa pulang menemui keluarga kalian, dua hari lagi kalian akan menerima misi pertama."


Delphy meninggalkan lapangan, ia harus bersiap untuk berangkat menuju Kerajaan Ash-Shaif besok. Lilian akan menceramahinya jika kembali terlambat hari ini, karena pagi tadi Lilian sudah memperingatkan agar Delphy istirahat lebih awal hari ini, sudah cukup Lilian melihat Delphy tidur larut malam. Setidaknya Lilian ingin Delphy istirahat cukup sebelum melakukan perjalanan jauh.


Seharusnya Colden sudah menunjukkan batang hidungnya saat ini, laki laki itu bilang ingin menemui Delphy. Sekedar obrolan ringan setelah lama tidak bertemu. Colden yang sering berada di Istana bagian barat, Delphy berada di Istana bagian Tenggara, hanya untuk berpapasan pun sangat sulit.


Hingga tiga puluh menit berlalu, Colden baru menampakkan dirinya. "Maaf aku terlambat, perpajakan menjadi lebih sibuk setelah penyatuan kerajaan."


Delphy mempersilahkan Colden duduk disebelahnya. "Kita bisa pindah jika kakak tidak mau duduk tanpa alas."


Colden tertawa, "Memangnya kenapa? Duduk tanpa alas seperti ini tidak buruk."


"Sebenarnya aku lebih takut jika ada yang meilhat," Delphy menatap pantulan bulan di danau, "Seorang Pangeran duduk di atas tanah tanpa alas bersama seorang pengawal."


Colden menepuk pundak Delphy, "Sedang ada masalah?"


Delphy menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, ia menoleh menatap Colden, "Apa yang ingin kakak bicarakan?"


"Tidak ada, aku hanya rindu dengan adikku."


"Aku masih berada di Istana, kakak bisa menemuiku kapanpun."

__ADS_1


"Kapanpun? Aku sangat sibuk, kamu sibuk, meski berada di rumah yang sama, tapi kita seakan berada di rumah yang berbeda. Aku ingin tau bagaimana rumah yang sebenarnya." Colden menatap danau, tatapannya menjadi sendu.


"Sepertinya kakak yang mempunyai masalah."


"Akhir akhir ini ayah menjadi berbeda." Sedikit jeda dari Colden, Delphy tetap mendengarkan. "Dia tidak lagi mendengarkan perkataan siapapun, pernikahan Crystal akan dilaksanakan bulan depan, ayah tetap memaksa meski Crystal menolak dengan keras, saat aku membela Crystal ayah marah besar, Ibu mendukung ayah sepenuhnya, Blaze dan Bach tidak berani mengatakan apapun."


Delphy terdiam, ternyata hari pernikahan Crystal sudah ditentukan bahkan sebelum acara makan malam, ia tidak tau hal itu. Meski sebenarnya Delphy sendiri tidak setuju dengan pernikahan Crystal, ia tidak ingin membujuk ayahnya. Delphy sendiri sudah lelah dengan permasalahan yang ia hadapi.


Mengenai ayahnya, Delphy tidak tau apapun. Ia tidak pernah mengikuti rapat keluarga.


"Tidak ada yang bisa aku lakukan. Crystal seorang putri mahkota, tentu saja ia harus melakukan kewajibannya. Aku yakin ayah melakukan yang terbaik untuk Crystal agar bisa menjadi Ratu yang baik nantinya."


"Crystal belum siap untuk sebuah pernikahan, usianya baru menginjak tujuh belas tahun, ia bukan rakyat jelata yang biasa menikah di usia muda. Masih banyak hal yang harus ia pelajari sebelum menjadi Ratu. Jika ia melakukan kesalahan, bisa saja pemimpin negeri ini bukan jatuh ke tangan Crystal melainkan Erd."


Tidak ada jawaban dari Delphy. Tanpa dijelaskan Colden, Delphy sudah mengetahui hal itu dengan baik. Resiko pemimpin wanita di sebuah kerajaan lebih besar.


"Biarkan Crystal mengatasi masalahnya, ia tidak bisa selalu bergantung pada kita." Delphy berdiri dari duduknya, "Aku harus kembali ke kamarku sekarang atau Lilian akan marah."


Colden berdiri, menatap lekat pada kedua netra beda warna yang dimiliki Delphy."Aku tau kamu masih peduli dengan Crystal, masih ada kesempatan untuk berbaikan dengannya, kamu kakak yang baik, aku tau itu. Jika ada masalah, kamu bisa cerita padaku seperti aku yang bercerita padamu. Aku mengkhawatirkanmu akhir akhir ini, lebih dari apapun."


"Terima kasih sudah mengkhawtirkanku, selamat malam Kak."


"Selamat malam."


Delphy meninggalkan Colden yang masih memilih mencari udara segar di pinggir danau.


Beberapa lampu yang menyala menambah penerangan meski samar, setidaknya cukup untuk melihat jalan. Delphy berjalan dengan pikiran berkecamuk. Surat, Erd, Ayahnya, Crystal, rasanya ia ingin mengundurkan diri dari dunia, belum lagi musim panas yang menjadi lebih panjang sungguh menyiksa fisiknya. Definisi mental dan fisik terluka di saat bersamaan.


Padahal kesibukan yang ia miliki membuatnya lupa akan dirinya yang tidak dapat berdiskusi tentang politik, namun Colden kembali mengingatkannya. Bahkan kali ini menjadi lebih sakit dari biasanya, pertemuan keluarga kerajaan, seharusnya ia berada disana, menyaksikan secara langsung bagaimana perdebatan yang terjadi di antara anggota keluarga.


Jika Colden mencari definisi rumah yang sebenarnya, Delphy mencari arti keluarga yang sebenarnya.


Delphy mengalihkan pikirannya. Ia harus belajar etika di meja makan. Delphy tidak pernah makan bersama di meja makan yang memperhatikan etika saat makan. Biasanya ia akan makan sendirian di kamar atau bersama para prajurit yang harus menghabiskan makanannya dengan cepat.


Tanpa terasa Delphy sudah tiba di depan kamarnya. Perhatiannya tertuju pada gulungan kertas yang tersangkut di gagang pintunya. Delphy mengambilnya, terdapat namanya pada kertas kecil yang disangkutkan pada tali gulungan persis seperti saat ia menerima surat di ruang kerjanya, membuka gulungan kertasnya, hanya ada dua baris kalimat disana.


Belum berhasil mengetahui dirimu? Aku tidak sabar bertemu denganmu dan menceritakan segalanya.


"Sepertinya kali ini penulisnya dalam keadaan baik, tulisannya terasa lebih bersahabat dari sebelumnya." Delphy bergumam sendiri sembari membuka pintu.

__ADS_1


__ADS_2