Story Of Season : Winter

Story Of Season : Winter
Chapter 20


__ADS_3

Braakkk


Suara pintu terbuka dengan keras dari luar. Disana Crystal berjalan masuk dengan tergesa-gesa. Ia menghampiri Delphy dan ayahnya yang terkejut akan kehadirannya secara tiba tiba.


"Siapa yang mengizinkan seorang pengkhianat memasuki kamar Raja?!!" Teriak Crystal namun tak satupun pengawal maupun pelayan di sekitar sana yang berani menyahut.


"Apa maksudmu?!" Delphy menyahut tak terima.


"Crystal?!" Sentak Raja Whittaker.


Crystal berdiri di samping Raja, menghalangi Delphy. "Ayah tidak apa apa? Kenapa ayah membiarkannya masuk? Ayah lupa dia sudah meninggalkan tugasnya begitu saja dan baru kembali setelah enam bulan?"


Delphy mencengkram pergelangan tangan Crystal kemudian menariknya keluar dari kamar, mencegah saudari kembarnya itu berbicara lebih jauh dan berujung bertengkar di hadapan sang ayah yang sedang terbaring sakit.


"Lepas!" Crystal meronta, mencoba meloloskan diri. "Berani sekali kamu melakukan ini padaku!!!" Delphy tetap tak menghiraukannya.


"Pengawal!!!" Kali ini Delphy langsung melepasnya sebelum pengawal Kerajaan benar benar datang. Bagaimanapun ia tak mau benar benar terusir dari Istananya sendiri.


Kini Delphy dan Crystal tiba di Taman Istana. Tempat mereka dulu sering bermain bersama.


"Jangan membuat keributan di depan ayah." Ucap Delphy.


Crystal bersedekap dengan angkuh, "Memangnya apa hakmu mengaturku? Pengkhianat sepertimu bahkan tidak pantas berada di Istana."


"Siapa yang kamu sebut pengkhianat?"


"Siapa lagi jika bukan pengawal Putri Mahkota yang menghilang di tengah tugas?"


"Kamu bahkan tidak mengerti apapun!" Delphy menaikkan nada bicaranya, ia jengah dengan sikap Crystal, "Apa kamu bahkan tidak mencari tau apa yang terjadi padaku malam itu? Kamu bahkan tidak bertanya sedikitpun apa aku baik baik saja!!!"


"Bukankah semuanya sudah jelas sekarang? Kamu berdiri di hadapanku saat ini dalam keadaan baik." Tanpa melanjutkan perkataannya Crystal melangkah pergi, namun langkahnya sempat terhenti, "Omong omong, cepat lah pergi sebelum aku benar benar mengusirmu." Setelahnya Crystal pergi tanpa menoleh lagi.

__ADS_1


Delphy hanya bisa terpaku di tempatnya berdiri. Bagaimana Crystal mengusirnya membuatnya tak bisa berkata apa apa. Dalam hati, Delphy bertanya tanya bagaimana bisa saudari kembarnya yang dulu sangat dekat dengannya kini menjadi sangat jauh hingga bisa mengusirnya dari rumahnya sendiri.


Sial, Delphy tidak tau apa yang harus ia lakukan. Ia bahkan tidak tau siapa yang harus di salahkan saat ini. Hal hal yang ia alami akhir akhir ini membuatnya berfikir terlalu banyak, sampai sampai Delphy tak sempat bersedih dengan sikap Crystal padanya.


"Haaahhhh....." Delphy menghela nafas panjang berharap dapat melepaskan sedikit beban yang terasa menumpuk. "Lebih baik aku selesaikan dulu tujuan awal kembali kesini."


Langit tampak cerah saat ini meski cuaca mulai dingin. Seharusnya musim dingin hampir berakhir, namun kini musim gugur saja baru mulai. Delphy bahkan baru teringat ulang tahunnya terlewat.


Dari kejauhan Delphy melihat Colden berjalan menghampirinya. Dengan perasaan senang Delphy melambaikan tangannya.


"Kamu tidak apa apa? Apa ada yang terluka? Kenapa baru kembali?" Tanya Colden begitu berada tepat di hadapan Delphy. Ia memastikan setiap inchi dari tubuh adiknya itu tak ada luka.


"Tenang saja kak, aku baik baik saja." Balas Delphy sambil menjauhkan tangan Colden darinya. "Saat ini bukan aku yang harus dikhawatirkan."


Delphy dan Colden saat ini berada di gazebo, mereka memutuskan berbicara sembari meminum teh hangat. Tak butuh waktu lama sampai pelayan Istana menyajikan teh mawar dan kudapan untuk mereka.


"Aku bingung harus bertanya darimana." Tersirat nada frustasi dari Delphy.


Erd menawarkan kerjasama, namun ayah tak bisa ikut berdiskusi karena jatuh sakit. Sesuai peraturan Kerajaan, Crystal sebagai Putri Mahkota menggantikan tugas ayah sepenuhnya dengan di dampingi Ratu.


Namun sayang, perjanjian itu sebenarnya terlalu merugikan kita. Erd memaksa penduduk mereka berjualan langsung disini bukan hanya mengekspor barang ke Whittaker. Meski sebenarnya kita bisa mengekspor pangan dari negara lain, tapi Crystal terlalu keras kepala, ia menganggap Erd akan menjadi pasangan hidupnya tak ada salahnya mempercayakan Erd dalam kerjasama ini.


Ayah tak bisa berbuat apapun dalam kondisinya saat ini dan Ratu sepenuhnya mendukung Crystal. Sedangkan aku tak memiliki hak apapun, Crystal sama sekali tak mau mendengarkanku."


Delphy menghela nafas panjang kemudian memijat pelipisnya. Seperti biasa Crystal dan sifat keras kepalanya selalu membuat Delphy kesulitan.


"Lalu bagaimana denganku? Haaahh, bahkan aku bukan lagi Ksatria Kerajaan."


"Semenjak kehilanganmu, Crystal menganggap kamu lepas dari tanggung jawab, tak hanya Crystal bahkan Ratu juga mengecammu. Untungnya Crystal hanya mencabut gelar Ksatriamu dan tidak mengumumkan kamu sebagai pengkhianat. Ayah tak memiliki argumen apapun untuk membelamu."


Delphy hanya terdiam, meski dalam pikirannya bertanya tanya, tak adakah prajurit yang menjelaskan kejadian malam itu? Berdiri menghadapi perampok seorang diri kemudian menghilang selama enam bulan.

__ADS_1


"Bagaimana denganmu? Apa yang terjadi selama enam bulan ini?" Kini giliran Colden yang bertanya.


"Aku akan menjelaskannya nanti jika waktunya sudah tepat."


Colden menatap heran mendengar jawaban Delphy, meski sebenarnya ia penasaran tapi Colden memilih untuk diam. Karena ia yakin sesuatu pasti terjadi. Entah itu Delphy terluka parah hingga harus menyembuhkan diri terlebih dulu agar bisa kembali atau ia baru bisa lepas dari tangan penjahat, setidaknya itulah yang Colden pikirkan.


Angin yang berhembus cukup kencang seakan menemani mereka yang larut dengan pikirannya masing masing.


"KAK!!!" Dari kejauhan terlihat Blaze berlari mendekat. Wajahnya terlihat panik. "Ayah....baru saja wafat."


Tanpa berkata apapun Delphy langsung berlari menuju kamar Raja Whittaker. Colden dan Blaze mengikuti Delphy. Sesampainya mereka di Kamar Raja, disana sudah ada Crystal, Ratu, dan Bach yang berdiri mengitari Raja Whittaker yang kini terbujur kaku dengan air mata yang tak dapat mereka tahan.


Delphy berlari memeluk tubuh sang ayah. Tangannya gemetar merasakan tubuh ayahnya yang kini menjadi dingin. Ia tak percaya, baru beberapa saat lalu tubuh ayahnya sangat hangat ketika ia peluk.


Liquid bening mulai keluar dari kedua mata Delphy. Sebisa mungkin Delphy menahan tangisnya meski ia tak bisa melepaskan pelukannya dari tubuh Raja Whittaker. Dadanya terasa sangat sesak menahan tangis.


Crystal menarik tubuh Delphy agar tubuh Raja Whittaker dapat segera di bersihkan sebelum proses pemakaman. Namun Delphy tak beranjak sedikitpun, ia masih tak mau melepas pelukannya.


"Delphy, kemarilah, jasad ayah harus di urus sebelum pemakaman." Meski dengan sesenggukan Crystal berusaha menarik Delphy.


Ratu keluar ruangan terlebih dulu menyiapkan prosesi pemakaman, sedangkan Bach dan Blaze keluar setelah Colden mengajak mereka.


Crystal masih berusaha mengajak Delphy keluar, "Jangan seperti inii, kumohon." Crystal kembali menangis.


Rupanya berita kematian Raja tersebar dengan cepat di Istana sampai sampai Frost dan Claude yang sedang berada di luar langsung menuju Kamar Raja menghampiri Delphy. Melihat Delphy seperti itu, Frost langsung menariknya kedalam pelukannya. Sedangkan Crystal dibawa keluar oleh Claude.


Dalam pelukan Frost, Delphy menangis sejadinya. Ia bahkan memeluk Frost dengan erat. Frost hanya menepuk pelan punggung Delphy.


"Menangislah, tak apa. Ini memang menyakitkan, aku tau, kamu tak perlu menahannya." Hanya kata kata itu yang bisa terucap oleh Frost.


Tangisan Delphy semakin keras. Baju Frost kini basah oleh air mata Delphy. Delphy teringat setiap kenangannya dengan sang ayah. Baginya ia hanya punya ayahnya sebagai orang tua, Ratu tak pernah mempedulikannya. Namun kini, ayahnya telah pergi meninggalkannya.

__ADS_1


__ADS_2