
Seharusnya beberapa hari lagi sudah memasuki musim gugur, artinya cuaca akan terasa lebih dingin, namun sebaliknya cuaca malah semakin panas. Angin yang berhembus juga tidak terasa menyejukkan. Cuaca yang panas inilah yang menyebabkan Delphy jatuh sakit. Hidungnya terus menerus mengeluarkan cairan kental.
Bukan hal pertama kali hal ini dirasakan Delphy. Delphy tidak pernah terkena flu di musim dingin, tapi ia selalu terkena flu di musim panas hingga orang orang disekitarnya menyebutnya dengan 'flu musim panas untuk Delphy'.
Di meja kerjanya Delphy sejak tadi hanya sibuk membersihkan cairan yang keluar dari hidungnya. Laporan yang sudah menumpuk di mejanya belum sempat ia baca, jangankan untuk membaca laporan, mengangkat kepala saja sudah terasa sangat berat untuk Delphy saat ini.
Pintu ruangan terbuka tanpa diketuk, hanya Komandan Claude yang berani melakukan itu. Komandan Claude datang membawa setumpuk dokumen. Melihat hal itu, Delphy hanya mampu mengumpat dalam hati walau sejujurnya ia ingin protes saat itu juga, tapi tubuhnya terlalu lemas untuk menerima ocehan dari Komandan Claude.
Komandan Claude meletakkan setumpuk dokumen tersebut di meja, "Seorang Komandan mana yang membawakan laporan untuk bawahannya."
"Aku tidak pernah meminta Komandan melakukannya untukku." Delphy membaca sekilas dokumen tersebut. sial, laporan lagi, batinnya.
"Sayangnya aku tidak hanya membawakanmu laporan tapi juga ini." Komandan Claude meletakkan sebotol kecil berisikan air berwarna hijau pekat. "Lilian bilang kamu melupakan ini."
Delphy tidak melupakannya, kenyataannya ia sengaja meninggalkan botol itu. "Bawa pergi jauh jauh benda itu dariku."
"Habiskan sekarang, setelah itu kerjakan semua laporan. Jangan lupakan latihan sore nanti, pasukan khusus harus dibentuk lagi secepat mungkin."
Tanpa menjawab Delphy langsung menghabiskan isi botol itu dalam sekali tenggak disusul air mineral untuk menghilangkan rasa pahit yang menempel di lidah dan tenggorokannya. "Aku benci harus meminum obat ini setiap tahunnya."
"Aku pikir kamu tidak perlu meminumnya tahun ini, mengingat musim panas hampir berakhir."
"Musim panas hampir berakhir namun udara malah terasa semakin panas."
"Selesaikan laporanmu segera, aku harap sore nanti laporanmu sudah ada di meja kerjaku." Komandan Claude meninggalkan ruangan Delphy tanpa menunggu respon dari lawan bicaranya.
Setelah merasa flu nya sedikit mereda, Delphy mulai menyelesaikan laporannya satu per satu. Ia bahkan melupakan makan siangnya. Kebiasaan Delphy sejak dulu, tidak akan beranjak dari kursinya jika sudah fokus dalam mengerjakan sesuatu. Baginya, mengambil istirahat sejenak hanya akan membuatnya merasa malas untuk melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
Kebiasaan buruknya melewatkan makan menjadi lebih parah akhir akhir ini. Delphy semakin sering menghabiskan waktunya untuk melakukan pekerjaannya. Hingga Lilian beberapa kali harus mengantarkan makan untuk Delphy agar gadis itu menyempatkan diri untuk makan. Pernah beberapa hari jadwalnya cukup padat, ia hanya memakan sepotong roti di pagi hari, setelahnya menjalankan misi, melatih prajurit baru, mengerjakan laporan ia lakukan hingga larut malam.
Tepat setelah Delphy menyelesaikan laporan terakhirnya, ketukan pintu terdengar. Delphy langsung memberikan izin masuk. Seorang prajurit masuk dan memberikan sebuah kertas yang digulung kemudian pamit pergi.
Delphy melihat kertas kecil yang terikat pada tali yang menahan gulungan kertas. Disana terdapat namanya yang tertulis dengan lengkap termasuk nama belakangnya. Alis Delphy berkerut heran, seharusnya hanya anggota keluarga kerajaan dan beberapa pekerja istana yang mengetahui nama lengkapnya.
Pekerja Istana tidak mungkin mengirimkan surat untuknya, sedangkan anggota keluarga kerajaan tidak pernah mengirimkan surat untuknya. Delphy membuka gulungan kertas itu, disana hanya terdapat sebuah kalimat.
Kapan kamu akan menyadarinya?
Tidak ada nama pengirim disana. Delphy benci jika harus berhadapan dengan seseorang yang menyembunyikan identitasnya. Dulu Delphy pernah hampir langsung membunuh pelaku pembunuhan beruntun karena membuat Delphy harus mencari cari pelaku dengan petunjuk yang minim.
Saat ini Delphy harus mencari tau pengirim surat. Bagaimanapun identitasnya tidak aman saat ini jika sang pengirim bukan dari anggota keluarga kerajaan. Sayangnya Delphy melupakan wajah pengantar surat karena sibuk merapihkan laporan yang ia kerjakan.
Tak cukup dengan mencari pengirim surat, Delphy juga harus mencari tau arti isi suratnya. Tidak mungkin hanya orang iseng. Beberapa kecurigaan terlintas dipikiran Delphy. Tapi ia tidak bisa hanya mengandalkan kecurigaan tersebut, setidaknya ia harus mencari seseorang yang bisa ia ajak bicara masalah surat ini. Namun ia tidak tau siapa orang tersebut. Kakak kakaknya setiap hari sangat sibuk, ia juga tidak menemui mereka beberapa hari ini.
Surat itu ia masukkan ke dalam laci meja lalu menuju ke tempat latihan setelah mengantarkan laporan ke Komandan Claude. Setibanya Delphy di tempat latihan, fokusnya tertuju pada seorang laki laki yang kini terlihat sibuk memperhatikan prajurit yang sedang latihan berpedang.
"Senang bertemu denganmu Tuan Delphy." Erd membalas dengan senyuman ramah.
Delphy berjalan mendekat, "Apa yang anda lakukan disini Pangeran?"
"Hanya melihat bagaimana prajurit Kerajaan Whittaker berlatih, karena sepertinya saya harus mengetahui lebih dalam tentang kerajaan ini sebelum menjadi bagian dari kalian."
"Saya minta maaf sebelumnya Pangeran, tapi hanya pihak yang bersangkutan yang diperbolehkan memasuki markas prajurit."
"Hmmm....tapi Raja sendiri yang mengizinkan saya memasuki wilayah anda, Tuan Delphy." Sambil menekankan 'wilayah anda' Erd tetap mempertahankan senyum ramahnya. "Anggap saja saya ingin mengetahui kinerja prajurit yang akan mengawal tunanganku ke kerajaan Ash-Shaif nantinya."
__ADS_1
Sontak Delphy mengerutkan dahinya. Ini pertama kalinya orang luar memasuki markas prajurit. Komandan Claude tidak akan menyukai hal ini, namun jika ayahnya sendiri yang memberikan izin, Delphy tidak bisa melakukan apapun selain mencoba berbicara dengan ayahnya secara langsung.
"Anda tidak perlu khawatir akan hal itu, mereka semua terlatih dengan baik."
"Saya sangat paham tentang hal itu, mereka luar biasa dan tenang saja saya hanya mampir sebentar." Erd menepuk bahu kanan Delphy, "Saya akan pergi sekarang."
Baru beberapa langkah, Pangeran Erd berhenti kemudian menoleh kepada Delphy, "Sampai jumpa di acara makan malam." Kemudian pergi begitu saja meninggalkan Delphy yang menatapnya curiga.
Sepanjang melatih para prajurit Delphy tidak bisa fokus sama sekali. Belum selesai dengan surat misterius, kini ia harus mencurigai gerak gerik Erd. Ia juga harus menemui ayahnya untuk memperjelas alasan ayahnya mengizinkan orang lain bahkan dari kerajaan tetangga memasuki markas prajurit dimana pusat pertahanan kerajaan berada. Selain itu ia sama sekali tidak mengetahui Pangeran Erd yang akan berkunjung setelah acara pertunangannya dengan Crystal.
Meski Komandan Claude meminta Delphy membentuk kembali pasukan khusus secepatnya, Delphy memilih untuk menundanya saat ini. Delphy ingin menjalankan misi pribadinya terlebih dahulu. Dua orang yang tersisa dari pasukan khususnya sudah cukup untuk saat ini. Delphy akan mengandalakan dua orang kepercayaannya itu untuk misi yang akan ia jalankan.
Bagaimanapun ia merasa dirinya dan kerajaan tidak dalam baik baik saja. Pasukan khusus hanya akan menambah beban pikirannya saat ini, apalagi ia merasa belum ada prajurit yang kemampuannya meyakinkan, begitu juga dengan kesetiannya.
Delphy menjatuhkan dirinya di kasur setibanya ia di kamar. Latihan hari ini terasa cukup berat baginya. Kepalanya terasa tiga kali lebih berat. "Lilian, bisa kamu ambilkan beberapa cemilan dan teh hangat untukku? Flu membuatku gila."
"Akan segera saya antarkan, Nona."
Setelah melihat Lilian pergi, Delphy menatap langit langit kamarnya. Hingga tidak terasa ia sudah berada di alam bawah sadarnya menemui bunga tidur.
***
Hamparan salju disertai badai salju menjadi hal yang pertama kali Delphy liat saat membuka mata. Rasa dingin harusnya terasa menusuk di saat ini, namun Delphy merasa nyaman dengan dingin yang ia rasakan. Tidak ada apapun disekitarnya, hanya ada hamparan salju yang luas.
Delphy berjalan lurus meski tidak tau kemana ia akan berakhir bahkan tidak tau dimana ujung dataran yang hanya di penuhi salju ini. Hingga Delphy melihat sebuah cahaya biru, ia langsung menuju cahaya itu tanpa berpikir apapun. Rasanya Delphy benar benar merindukan cahaya tersebut, ia ingin menggapainya apapun yang terjadi.
Semakin dekat Delphy dengan cahaya itu semakin bersinar pula cahaya biru itu. Tanpa disadari Delphy menteskan air matanya ketika berhasil mendekat dengan cahaya itu "Aku harus apa?" gumam Delphy sesaat sebelum akhirnya ia tenggelam dalam terangnya sinar biru itu.
__ADS_1
***
Setetes air mata mengalir di pipi Delphy ketika ia bangun dari tidurnya. Ia tidak tau apa yang terjadi, semuanya terasa begitu menyedihkan. Delphy merasa ia benar benar rindu akan sesuatu meski ia tidak tau apa itu.