
Pelabuhan cukup ramai saat ini. Orang orang berlalu lalang dengan mantel tebal dan tas koper. Ada juga kuli panggul yang siap membantu para penumpang dengan bawaan barang yang banyak.
Transaksi para pedagang juga banyak di lakukan di pelabuhan. Pasokan bahan makanan Negeri Musim Dingin yang berasal dari Negeri tetangga dikirimkan ke sini, meski ada juga yang melalui transportasi darat. Hal ini yang membuat Negeri Musim Dingin tak pernah kehabisan stok makanan meski musim dingin terjadi sepanjang tahun. Mereka melakukan kerjasama dengan Negeri lain dalam urusan pasokan bahan makanan
Orang orang sibuk kesana kemari. Delphy menjadi salah satu orang yang sibuk kesana kemari. Ia kehilangan jejak Frost setelah harus pergi ke toilet umum. Tak hanya satu kapal yang sedang bersandar, ia tidak tau harus pergi ke kapal mana. Pikiran buruk mulai menghantui Delphy, seperti bagaimana jika Frost ternyata meninggalkannya.
Delphy menggelengkan kepalanya dengan kuat, berusaha menghilangkan pikiran pikiran buruknya. Frost tidak mungkin seperti itu. Matanya mulai memperhatikan kerumunan orang dengan baik. Ia pasti dapat menemukan Frost jika mencarinya dengan teliti.
Sayangnya hingga satu jam mengelilingi pelabuhan, Delphy tak kunjung menemui Frost. Delphy mulai putus asa. Ia memutuskan untuk duduk di pinggir pelabuhan.
"Kalau kamu tersesat, diam saja di satu tempat, biar aku yang mencarimu."
Mendengar suara itu, Delphy langsung mendongak. Frost berdiri di depannya dengan tatapan tajam, ia terlihat marah.
Delphy berdiri kemudian menjawab dengan takut. "Kupikir kamu meninggalkanku."
"Jangan berpikiran macam macam, aku membeli tiket tadi." Jawab Frost.
Mereka mulai memasuki kapal. Dewi fortuna sepertinya sedang berpihak pada mereka. Meski pelabuhan ramai, kapal yang mereka naiki cukup sepi. Cukup lengang untuk bisa bersantai selama tiga bulan perjalanan di kapal. Kapal berangkat tak lama dari mereka masuk.
"Omong omong, bagaimana kamu bisa menemukanku?" Tanya Delphy.
"Rambutmu itu mencolok tau." Jawab Frost, "karena itu diam saja di tempat, aku pasti bisa menemukanmu."
Setelah meletakkan barang, Frost pergi memesan makanan. Ailee tak sempat menyiapkan bekal untuk mereka selama beberapa hari di kapal. Tentu saja Frost juga akan menolaknya jika Ailee melakukan itu. Mengeluarkan beberapa keping emas tak masalah baginya.
Sedangkan Delphy, gadis itu lebih memilih pergi ke Deck kapal mencari udara segar. Tentu saja sudah memberitahu Frost terlebih dulu.
Hanya ada segelintir orang di deck kapal, sebagian besar dari mereka anak muda. Udara dingin tentu saja membuat para orang tua memilih menghangatkan diri di dalam kapal dibandingkan mencari angin di deck.
Delphy menoleh saat merasa seseorang berjalan mendekatinya. Bukan Frost, melainkan seorang pria yang terlihat memasuki usia kepala lima. Rambutnya memutih termakan usia.
Pria itu berhenti tepat d samping Delphy kemudian menyodorkan coklat panas. "Minumlah selagi panas." Ujar Pria itu.
Delphy menerimanya dengan canggung, "Terima kasih."
__ADS_1
"Hei nak, Menurutmu takdir itu apa?"
"Hmmm....Jalan hidup seseorang yang tidak bisa d ubah." Jawab Delphy kemudian menyeruput coklat panasnya.
Pria itu mengulurkan tangannya. Dengan ajaib sebuah kalung dengan bandul berbentuk kristal muncul di telapak tangan pria itu.
"Terima kasih sudah mau menjawab pertanyaanku." Ucap pria itu lalu memberikan kalung tersebut pada Delphy. "Kalung ini akan menemanimu, kamu bisa memakainya, nak."
Delphy menerima kalung tersebut dengan ragu. Pasalnya, bagaimana bisa seorang pria asing yang dengan ajaib memunculkan kalung itu d telapak tangannya kemudian diberikan kepada Delphy. Namun, Delphy tidak merasakan bahaya pada pria itu, tak ada alasan untuk menolak sebuah kalung.
"Terima kasih." Balas Delphy, "sepertinya saya terlalu banyak menerima dari anda."
Pria itu menggeleng lemah, "Karena kamu telah dan akan memberiku lebih banyak hal, nak."
Delphy mengalihkan pandangannya pada kalung yang ia genggam, namun ketika Delphy kembali ingin menatap sang lawan bicara, ia telah menghilang dari pandangan Delphy.
Masih ada satu pertanyaan yang belum sempat terucap oleh Delphy. Apa yang sudah ia berikan kepada pria itu dan apa yang akan ia berikan kepada pria itu. Sayangnya pria itu hilang begitu saja dari pandangan dengan cepat, padahal deck kapal cukup luas dan posisi mereka berdiri sebelumnya jauh dari pintu.
Nihil. Mau bagaimanapun Delphy mencari hingga ke dalam kapal, ia sama sekali tidak bisa menemukan jejak Pria tua itu.
"Tidak, ternyata udara di dalam lebih nyaman." Delphy menjawab dengan sedikit canggung, terkejut akan kehadiran Frost.
Frost memberikan satu kotak makanan kepada Delphy tanpa berucap apapun kemudian memilih masuk ke kamar yang sudah ia pesan meninggalkan Delphy sendiri yang lebih memilih kembali ke Deck kapal, menikmati pemandangan senja, melihat mentari terbenam sembari mengisi perut yang kosong.
Hari sudah larut saat Delphy memutuskan masuk ke kamar dan tidur. Di sana, Frost terlihat masih membaca buku di atas kasurnya.
+++
Lagi lagi hamparan salju yang luas di sertai badai. Pemandangan yang tak lagi asing bagi Delphy. Bukan pertama kalinya ia berada di tempat ini.
"Apakah kamu sudah tau apa yang harus kamu lakukan?" Sebuah suara terdengar jelas di telinga Delphy, namun ia tidak tau darimana sumbernya.
"Tidak, aku tidak tau." Jawab Delphy dengan lantang.
"Kalau begitu kamu akan segera mengetahuinya."
__ADS_1
"Kenapa tidak kamu saja yang memberitahu ku?!" Teriak Delphy, "aku lelah, aku hanya ingin menjalani kehidupan ku seperti biasa."
Tak ada jawaban apapun, hanya sebuah cahaya biru yang mendekat. Semakin mendekat hingga Delphy tenggelam oleh cahaya itu.
Hangat. Rasa hangat yang membuat Delphy menyukainya meski selama ini ia menyukai rasa dingin lebih dari apapun. Tapi dapat merasakan sebuah kehangatan di tengah badai salju menjadi euforia tersendiri bagi Delphy.
"Maaf membuatmu kesulitan. Sekarang kamu bisa istirahat lebih dulu. Tetaplah disini untuk sesaat. Karena tidak ada yang bisa melakukannya selain dirimu."
Delphy mulai menangis. "Melakukan apa? Kenapa harus aku?"
"Karena ini tentang dirimu dan musim dingin yang kamu sukai."
+++
Delphy terbangun dari tidurnya. Kalung kristal yang ia dapatkan mengeluarkan cahaya sesaat. Nafasnya terasa sesak. Rasa kesal menyelimuti Delphy, ia tidak tau penyebabnya. Bagaimana bisa seseorang yang baru bangun dari tidurnya langsung merasa kesal.
Hari masih gelap untuk memulai aktivitas. Bahkan mungkin saja para awak kapal masih tertidur dengan pulas, hanya beberapa saja yang tetap terjaga memastikan keamanan kapal.
Di tempat tidur nya, Frost terbangun saat sebuah cahaya muncul dari dekat Delphy. Hanya saja ia tak berani berkata apapun saat melihat Delphy yang terbangun dengan perasaan kesal. Entah apa yang membuat gadis itu kesal hingga terbangun di tengah malam, Frost tidak mengetahui apapun.
Cukup lama Frost memperhatikan Delphy hingga gadis itu benar benar tenang.
"Bermimpi buruk?" Tanya Frost.
"Tidak." Jawab Delphy singkat.
Frost berniat kembali tidur saat Delphy bertanya, "apa kamu pernah bermimpi aneh saat tau kamu adalah penjaga musim?"
"Tidak." Jawab Frost, "ada apa?"
"Ah tidak apa apa, kembali lah tidur. Maaf mengganggumu."
Delphy yang tidak bisa kembali tertidur memutuskan membaca buku yang ia pinjam dari Ailee.
"Musim dingin tidak seburuk itu jika kamu dapat menikmati setiap momen yang ada. Dingin yang menyelimuti tubuhmu masih bisa di hangatkan dengan membuat perapian di rumah, ditemani secangkir minuman hangat dan obrolan bersama keluarga, bukankah hal itu jauh lebih hangat dan nyaman dari apapun?"
__ADS_1
Entah kenapa Delphy merasa tidak asing dengan dialog itu.