
"Sudah kuduga kamu akan memutuskan untuk kembali." Ujar Frost setelah Delphy mengatakan ingin kembali ke negara asalnya.
"Aku harus memastikan keadaan disana, karena aku adalah Ksatria Negeri Whittaker yang sudah bersumpah setia pada Kerajaan."
"Baiklah, aku akan mengantarmu." Satu kalimat dari Frost membuat senyum Delphy terbit.
Tidak pernah Delphy sangka Frost akan mengatakannya semudah itu. "Sungguh??!!!"
"Bersiaplah, kita berangkat esok pagi."
Delphy memeragakan sikap hormat dengan senyum mengembang, "Siap laksanakan!!" Lalu pergi menuju kamarnya.
Tiba di kamarnya, Delphy mengambil buku "Memori Musim Dingin." Buku yang belum sempat ia baca hingga selesai.
Halaman demi halaman di buka oleh Delphy. Kisah tentang bagaimana seorang anak laki laki yang membenci musim dingin hingga pengembangan karakternya sangat menarik. Sayangnya waktu yang Delphy miliki untuk membaca buku itu hingga habis tidak akan cukup, esok pagi ia akan berangkat kembali ke Whittaker.
Namun pada pertengahan bab membuat Delphy semakin penasaran dengan kelanjutan kisahnya. Rasanya cerita pada buku itu memaksa Delphy masuk ke dalam ceritanya, turut serta berkontribusi pada perkembangan sang tokoh utama.
Pintu kamar terbuka tanpa Delphy sadari, Ailee lah pelakunya. Saat Delphy sadar, Ailee sudah berada di dekatnya. Membaca buku membuat Delphy tak sadar akan sekitarnya.
"Aku sudah mengetuk pintu berkali kali, namun tak ada jawaban, ku pikir sesuatu terjadi." Ujar Ailee.
Delphy menutup bukunya kemudian beralih menatap Ailee. "Ah maaf, aku terlalu fokus membaca tadi."
"Ku dengar kamu akan kembali besok?" Delphy mengangguk, "Tapi sepertinya kamu masih penasaran akan buku ini."
"Yaahh, buku ini membuatku seakan masuk ke dalam ceritanya." Jawab Delphy.
"Bawalah, baca itu saat di perjalananmu, tiga bulan bukan waktu yang singkat."
__ADS_1
Delphy tersenyum sumringah. "Terima kasih."
"Kalau begitu kamu bisa menutup bukunya dan makan malam terlebih dulu."
+++
Frost dan Delphy sudah bersiap di depan kuil menunggu kereta kuda yang akan mengantar mereka hingga pelabuhan. Kali ini Delphy mengenakan baju yang berbeda dan sebuah mantel untuk menghangatkan diri, tak lain dan tak bukan ialah milik Frost, meski dengan lengan baju dan bagian celana yang harus di tekuk. Sebenarnya Delphy tak pernah memintanya, namun Frost sendiri yang memaksa Delphy berganti pakaian.
"Ganti saja, bajumu sudah bau." Ucap Frost kala itu.
Jika mengingat hal tersebut membuat Delphy merasa geli sendiri. Frost terlihat sangat dingin, namun di satu sisi sebenarnya laki laki itu perhatian.
Delphy melirik Frost yang berdiri di sampingnya. Jika dilihat dari samping, garis rahang Frost makin terlihat tegas. Wajah samping yang indah memang.
"Ada apa?" Frost tiba tiba berujar sambil melihat Delphy.
Dengan gelagapan Delphy menjawab, "T-tidak ada." Tak pernah disangka oleh Delphy jika dirinya akan ketahuan memperhatikan seseorang.
Lagi lagi, pemandangan Kota Figo sungguh damai. Hanya saja kali ini lebih banyak orang yang berdoa di monumen berbentuk kepingan salju. Melihat hal itu, membuat Delphy merasa sedikit mengganjal di hatinya. Hingga kereta kuda mulai meninggalkan kota, rasa kerinduan kembali muncul dalam benak Delphy.
Frost memperhatikan setiap gerak gerik Delphy kemudian berbicara, "aku tidak tau kenapa kamu tak menanyakan hal ini, tapi aku akan memberitahumu alasan aku malah membawamu kesini setelah di kelilingi perampok."
Pemandangaj luar jendela tak lagi jadi perhatian Delphy, kini atensinya jatuh pada Frost.
Frost melanjutkan, "Sejak awal Pangeran Erd memiliki rencana buruk akan dirimu. Jika aku tidak menyelamatkanmu saat itu, tidak hanya kerajaanmu saja yang hancur, tapi kamu juga mungkin akan mati."
"Kenapa? Aku bisa melawannya dengan pedangku. Berada di tengah pertarungan pedang adalah hal biasa bagiku, dan sekarang Kerajaan ku dalam bahaya namun tidak ada yang bisa kulakukan."
"Karena kamu tidak mengerti apapun tentang dirimu, Pangeran Erd adalah titisan Dewa Musim Panas dan dia sangat mengerti hal itu."
__ADS_1
"Lalu kenapa? Kamu meragukan kemampuanku? Seharusnya aku bisa melindungi keluargaku. Tapi kalian malah membawaku kesini dan berkata omong kosong." Delphy tersenyum sinis, "Titisan Dewa Musim Dingin? Jangan bercanda, bahkan orang orang tak pernah melihatku sebelumnya termasuk ibuku. Tidak mungkin seseorang yang diberi anugrah malah dijauhi, bukan begitu?"
Frost menyandarkan tubuhnya, "Percuma memang, sejak awal kamu menolak percaya."
"Sebaiknya hentikan saja omong kosongmu, aku hanya perlu kembali.".
Tak ada jawaban apapun dari Frost, laki laki itu memilih memejamkan matanya mengabaikan Delphy. Sepertinya Frost menyerah meyakinkan Delphy saat ini, ia terlalu keras kepala.
Negeri Musim Dingin ini benar benar di penuhi salju. Sejak tadi rumah rumah penduduk dan jalanan di selimuti salju. Hal ini membuat Delphy penasaran bagaimana dengan Negeri Musim Semi, apakah bunga bunga berwarna cantik akan tumbuh setiap tahunnya?
Meski mau bagaimanapun wujud Negeri lain di Benua Epokhes, Delphy merasa yakin jika ia hanya akan jatuh cinta pada Negeri Musim Dingin. Delphy mulai membayangkan bagaimana jika ia dan saudari kembarnya terlahir di Negeri Musim Dingin. Apakah mereka akan bermain salju setiap hari dan Delphy tidak akan pernah merasakan flu musim panas. Selain itu tentu saja karena tidak akan ada orang yang melihat penampilannya dengan tatapan menjijikan. Pikiran Delphy melayang pada delapan tahun lalu.
Flashback
"Crystal, lihat kesini!!!" Panggil Delphy. Namun saat Crystal menoleh pada Delphy, sebuah bola salju menghantam wajahnya.
Tawa puas terdengar jelas dari Delphy, sedangkan Crystal menatap Delphy dengan kesal dan balas melempar bola salju. Hingga perang bola salju antar kedua saudara kembar itu tak terelakkan dan berhenti ketika Ratu memanggil Crystal meninggalkan Delphy sendirian di tengah hamparan salju.
Setelah merasa bosan bermain sendirian, Delphy keluar Istana di temani Claude yang kebetulan memiliki urusan di luar Istana. Delphy yang tidak pernah lagi di anggap sebagai keluarga kerajaan membuatnya bebas bermain keluar dan peraturan yang dimilikinya tidak seketat milik saudara saudaranya.
Rasanya Delphy ingin meminum coklat panas dan sepotong roti saat ini. Ia juga tidak ingin mengikuti Claude membereskan urusannya, karena itu Claude memesankan coklat panas dan sepotong roti di sebuah kedai setelahnya meninggalkan Delphy sendirian di kedai itu setelah berpesan pada pemilik kedai.
Sayangnya, para pengunjung kedai yang cukup ramai saat itu melihat Delphy duduk sendirian merasa aneh. Rambut putih dan dengan satu mata yang ditutupi membuat orang orang menatap dia aneh.
Hal itu membuat Delphy benci harus berurusan dengan orang lain. Menerima tatapan intimidasi di usianya yang masih belia tentu saja akan menjadi trauma tersendiri baginya. Sayangnya tak ada yang paham satupun dengan hal itu.
Delphy tak pernah keluar Istana selain Claude yang mengajaknya untuk melihat pemandangan atas bukit di saat musim salju. Hanya itu satu satunya alasan Delphy ingin keluar Istana.
Namun, suatu hari Delphy menang melawan Blaze saat latih tanding, Colden dan Bach serta gurunya menatap Delphy dengan kagum. Sejak saat itu Delphy ingin orang orang dapat menatapnya dengan kagum bukan aneh maupun jijik.
__ADS_1
Flashback End
Delphy tersenyum tipis mengingat masa lalunya. Mungkin saja jika ia tidak berkunjung ke kedai saat itu ia tidak akan menjadi Ksatria hebat yang selalu di puji banyak orang.