
Sepuluh tahun lalu
Entah kenapa musim panas tahun ini cuaca tidak terlalu panas, bahkan bisa di bilang hampir seperti musim gugur. Padahal baru saja memasuki pertengahan musim panas.
Di dalam kamarnya, Delphy yang terserang flu tidak beranjak dari kasurnya sama sekali. Hingga kemarin saat cuaca sedang panas, suhu udara yang tinggi cairan kental tak berhenti keluar dari hidungnya, bahkan demam sempat ia rasakan.
Kini, suhu udara mendadak menjadi lebih rendah. Meski belum sepenuhnya sembuh, Delphy mulai merasa lebih baik. Setidaknya ia tak lagi meminum cairan hijau pekat yang rasanya sungguh pahit.
"Lilian, apakah aku sudah boleh keluar?" Tanya Delphy.
Lilian menggeleng pelan, "Anda masih harus beristirahat."
Mendengar hal itu, Delphy kecil memajukan bibirnya. Sejak kemarin ia sudah lelah berada di kamarnya, ia ingin bermain dengan Crystal ataupun menonton kakak kakaknya berlatih pedang dan panah.
Pintu kamar Delphy terbuka di iringi teriakan seseorang, "DELPHHHHYYYYYY!!!!!! AYO KITA MENONTON KAK COLDEN DAN KA BACH LATIHAN!"
Sontak Delphy menutup telinga mendengar teriakan Crystal. Sedangkan Lilian mempertahankan sikap segannya pada Crystal.
"Tidak usah berteriak, telingaku masih berfungsi dengan baik!" Sahut Delphy kesal.
Crystal berjalan mendekati Delphy, "hehe, aku terlalu senang mendengar kabar kamu sudah baikan."
"Tapi kamu bahkan tidak menjenguk ku sekalipun saat aku sakit, saudara macam apa itu?" Ujar Delphy dengan nada kesal, "padahal aku selalu mengunjungimu saat kamu sakit."
"Ibu tidak memperbolehkanku, katanya aku akan tertular jika berada di dekatmu."
Mendengar hal itu entah kenapa Delphy merasakan sesak di dadanya. Ratu hampir tidak pernah mengunjungi kamarnya, bahkan saat sakit pun Ratu tidak berkunjung sama sekali.
__ADS_1
"Ada apa? Kenapa kamu tiba tiba melamun?" Ucap Crystal melihat Delphy yang tiba tiba termenung.
"Tidak apa apa." Delphy turun dari kasurnya.
"Anda mau kemana Tuan Putri?" Tanya Lilian melihat Delphy yang tiba tiba memakai sepatunya.
"Aku pergi dulu Lilian!" Tanpa menjawab pertanyaan Lilian, Delphy berlari begitu saja keluar kamar.
"Hei tunggu aku!!!" Teriak Crystal sambil berusaha mengejar Delphy.
Melihat hal itu Lilian hanya tersenyum.
Berbeda dengan Delphy yang mengenakan boots dan celana, gaun panjang dan sepatu yang dikenakan Crystal sangat tidak cocok untuk berlari. Dengan susah payah Crystal mengikuti Delphy.
Mereka berada di pinggir lapangan melihat Colden dan Bach beradu pedang. Delphy selalu merasa kagum melihat bagaimana Colden mengayunkan pedangnya. Tak sedikitpun Delphy melepaskan pandangannya dari cara berpedang Colden.
Bach terlihat kewalahan mengatasi setiap serangan dari Colden. Sejak tadi Bach berada di pihak yang tersudutkan, meski Bach berhasil memberikan serangan balasan kepada Colden namun Colden dapat menghindarinya dengan mudah.
"Aku juga." Balas Delphy. "Aku ingin bisa berpedang lebih baik dari Ka Colden saat sudah besar."
Blaze menghela nafas, "Sebenarnya aku juga, hanya saja aku merasa belati lebih mudah di gunakan."
"Bukankah itu karena kakak lemah? Pedang kan berat." Sahut Crystal.
Mendengarnya Delphy tertawa dengan keras.
"Lihatlah siapa yang mengatakan hal itu, seseorang yang bahkan tidak bisa menarik busur panah." Balas Blaze tidak terima.
__ADS_1
"Aku kan Putri Mahkota, aku lebih pantas memegang buku daripada senjata tau!"
Adu mulut antara Crystal dan Blaze tidak dapat dihindari. Delphy yang berada di antara mereka memilih pindah tempat duduk.
Meski sebenarnya Delphy tak ingin mendengar lebih jauh bagaimana Crystal mempertahankan argumennya sebagai Putri Mahkota. Karena sejujurnya Delphy masih menginginkan posisi itu. Posisi yang ia kira adalah haknya sejak ia lahir.
Pertandingan di menangkan Colden setelah Bach mendapatkan pedang berada tepat di lehernya.
Colden menghampiri Blaze dan Crystal. "Berhentilah bertengkar, lebih baik kalian belajar."
Crystal menunjuk Blaze. "Kak Blaze yang memulainya."
Belum sempat Blaze menjawab, Colden kembali berucap. "Sudah hentikan. Crystal sebaiknya kamu ke perpustakaan sekarang sebelum Yang Mulia Ratu mencarimu."
Mendengar sang Ratu di sebut, Crystal langsung teringat akan jadwalnya untuk belajar saat ini.
"Aku lupa." Crystal langsung pergi ke perpustakaan.
"Dan Delphy, kamu sudah sembuh?" Tanya Colden.
"Cuaca sudah dingin, aku merasa jauh lebih baik saat ini." Jawab Delphy.
Colden mendekat kemudian meletakkan tangannya pada dahi Delphy, memastikan Delphy sudah tidak demam lagi. Dan benar saja, suhu tubuh Delphy sudah kembali normal, padahal baru kemarin Delphy demam tinggi.
"Tapi saat ini udara menjadi dingin tiba tiba, lebih baik kamu tetap beristirahat."
Bach menyahut, "Bukankah aneh di tengah musim panas udara malah dingin? Aku bahkan membawa mantel saat kemari."
__ADS_1
"Mungkin karena doaku terkabul?" Ucapan Delphy membuat ketiga kakaknya bingung, "semalam aku berharap, meski musim dingin masih jauh, setidaknya udara terasa seperti musim dingin agar aku sembuh. Walau tidak sedingin musim dingin, namun ini lebih baik."
Mendengar ocehan Delphy yang masih berusia tujuh tahun saat itu, ketiga kakaknya hanya mengiyakan menghibur Delphy.