Story Of Season : Winter

Story Of Season : Winter
Chapter 23


__ADS_3

Salju masih terus turun, meski tak banyak namun jika berlangsung lama pun sanggup menyelimuti rumah rumah dan jalanan. Orang orang masih beraktivitas seperti biasa, namun mulai mengenakan pakaian hangat.


Di antara orang orang yang memakai baju tebal, Delphy berdiri di pinggir jembatan, menatap sungai yang belum membeku tanpa mengenakan baju hangat. Orang orang yang berlalu lalang menatapnya aneh, namun sudah tak heran lagi dengan warna rambutnya. Bagaimanapun seluruh penjuru Negeri Whittaker mengetahui eksistensinya sebagai pahlawan.


Beberapa orang yang lewat menawarkan mantel, namun Delphy menolaknya, lebih memilih menikmati udara dingin yang menusuk, sambil menghilangkan mabuk sebelum pulang. Ia juga berusaha menata pikirannya, masih memikirkan apa yang harus ia lakukan selanjutnya.


Entah apa yang menarik dari sebuah sungai kecil yang mengalir, namun Delphy tetap tak mengalihkan pandangannya dari sana, hingga sebuah suara memanggil.


"Kapten Delphy?"


Delphy menoleh, itu Alice, prajurit wanita yang dulu sempat bertanding dengannya, namun Delphy tak dapat mengingatnya. Memang dasarnya Delphy sulit mengingat orang orang disekitarnya jika hanya dalam sekali interaksi.


Sadar jika Delphy tak mengingat Alice, gadis dengan rambut yang diikat ekor kuda itu memperkenalkan diri. "Saya Alice, dulu pernah bertanding melawan Kapten, namun saya kalah."


Delphy mengangguk pelan, mulai mengingat Alice. "Apa yang kamu lakukan disini?"


"Hanya sekedar lewat sekaligus memesan beberapa stok ransum." Jawab Alice, "Kapten sendiri, apa yang kapten lakukan disini? Aku lihat kapten hanya berdiam diri menatao sungai."


"Itu kamu tau jawabannya."


"Jadi itu benar? Kapten hanya menatap sungai?" Balas Alice dengan nada terkejut yang terdengar jelas.


"Kenapa? Memangnya aneh ya?"


Alice menggeleng pelan, "Tidak, hanya saja saya kira Kapten bukan tipe orang yang suka membuang waktu menikmati pemandangan."


"Aku hanya ingin menghilangkan mabuk sebelum kembali. Jika aku kembali dalam keadaan mabuk seperti saat ini, Pangeran Colden akan mengamuk melihat pengawal adiknya seperti ini."


Alice mengangguk paham, "Sejujurnya Kapten tak terlihat seperti orang yang sedang mabuk."


"Entahlah, sesaat setelah menghabiskan segelas bir aku merasa benar benar mabuk, namun aku sadar dengan cepat, hanya saja rasanya kepalaku terasa berat."

__ADS_1


"Kalau begitu, saya tau tempat yang bagus untuk menghilangkan rasa pengar setelah mabuk."


Delphy menggeleng, "Tak perlu, kamu kembalilah sebelum atasanmu mencarimu karena terlalu lama."


Seketika Alice tersadar jika ia sudah pergi dari markas terlalu lama. "Kalau begitu saya pamit dulu. Saya harap suatu saat kita bisa mengobrol lagi ya, rasanya menyenangkan mengobrol dengan Kapten."


Delphy tersenyum dan melambaikan tangan saat Alice mulai melangkah pergi. Delphy pun memutuskan untuk mencari tempat lain, rasanya ia sudah terlalu lama menatap sungai.


+++


Delphy kembali ke Istana saat malam hari. Gadis itu berjalan dengan langkah santai, seakan tak ada apapun yang terjadi di siang hari tadi. Sesampainya ia di gerbang Istana, rupanya Komandan Claude baru kembali dari bertugas.


Ingin rasanya Delphy mengurungkan niatnya kembali ke Istana saat itu. Ini sudah cukup larut bahkan sudah lewat tengah malam. Ia tak memiliki misi apapun sampai harus pulang di malam hari. Jika tertangkap basah, Delphy harus siap menerima ceramah dari Komandan Claude.


Belum sempat Delphy berputar arah, Komandan Claude sudah memanggilnya terlebih dulu, "Kemarilah, ada yang ingin ku bicarakan." Nada Komandan Claude terdengar sangat serius.


Delphy menghampiri Komandan Claude tanpa ragu, karena ia yakin Komandan Claude pasti ingin membicarakan hal yang penting.


"Tugas seperti apa?"


"Jangan pernah tinggalkan penjagaanmu dari Crystal. Sudah banyak rumor beredar tentang pemberontak yang ingin menjatuhkannya."


"Hal itu tentu tak dapat dihindari. Mereka baru akan mundur jika Crystal sudah membuktikan kekuatannya dalam memimpin."


"Minggu depan penobatannya akan dilaksanakan. Sampai saat itu cari tau tentang pemberontak yang ada. Ingat, Crystal benar benar tidak aman."


Delphy mengangguk paham. "Akan aku lakukan."


Setelah itu Delphy menuju kamarnya sambil berpikir mengenai kemungkinan lokasi para pemberontak berkumpul. Komandan Claude bahkan sampai harus memperingatkan Delphy tentang situasi Crystal.


Dalam perjalanan kembali ke kamar, Delphy teringat akan kalung yang sedang ia kenakan. Kalung dengan bentuk bandul yang membuat Delphy jatuh hati saat pertama kali menerimanya.

__ADS_1


Delphy menggenggam bandul kalungnya sambil memejamkan mata, teringat akan kata pemberi kalung yang berkata jika kalung itu akan menemaninya.


Jika dipikir pikir, Delphy teringat bandul kalungnya memiliki kaitan erat dengan musim dingin. Pantas saja ia sangat menyukainya. Sejak dulu Delphy selalu suka musim dingin, termasuk saat ini, salju yang masih terus turun.


Melihat Istana yang mulai diselimuti salju membuat Delphy teringat akan Negeri Musim Dingin di Benua Epokhes. Negeri yang akan selalu Delphy rindukan karena keindahannya.


"Suatu saat jika semua tugasku selesai, aku akan berkunjung ke Negeri Musim Dingin." Ujar Delphy pada dirinya sendiri.


Tiba di kamar, Delphy di sambut Lilian yang sudah menyiapkan teh hangat dan baju tidur untuknya. Delphy jadi merasa bersalah. Seharusnya Lilian sudah tertidur saat ini, namun wanita itu tak pernah lalai sedikitpun dalam mengerjakan kewajibannya.


"Terima kasih. Aku akan meminum tehnya, jangan khawatir. Kamu bisa tidur sekarang." Kata Delphy sambil berganti baju.


"Saya harap Nona benar benar meminum tehnya. Salju mulai turun, udara sangat dingin. Teh itu akan membantu anda menghangatkan diri setelah berada di luar seharian."


Delphy mengangguk, meyakinkan Lilian jika ia paham benar setiap ucapan Lilian. "Maaf sudah mengganggu waktu tidurmu."


Lilian menggeleng pelan, "tidak masalah, itu sudah menjadi tugas saya nona." Setelahnya Lilian pamit.


Begitu selesai berganti baju, Delphy meminum tehnya. Seketika ia merasa lebih tenang. Teh hangat buatan Lilian selalu menjadi kesukaan Delphy. Entah kenapa Delphy jarang meninggalkan sisa jika meminum teh buatan Lilian.


Delphy mulai merebahkan diri di atas kasur. Matanya terasa semakin berat, rupanya ia memang sudah lelah namun karena beban pikirannya sendiri ia jadi melupakan rasa lelahnya. Hingga akhirnya ia sudah berada di dunia mimpi.


+++


Orang orang berlari kesana kemari sambil sibuk memadamkan api yang kini kian membesar. Di bangunan besar disana, bagian Barat Istana api menjalar dari lantai atas, perlaha memakan bangunan bagian bawah. Jika dibiarkan satu bangunan bagian barat Istana akan habis begitu saja di makan api.


Di depan bangunan tersebut Delphy berdiri, menatap bangunan yang menjadi tempat tinggalnya sejak dua belas tahun lalu kini dimakan oleh api. Orang orang berteriak padanya, dari prajurit, Ksatria, pelayan hingga saudara saudaranya mencoba menyadarkannya yang kini hanya berdiri terdiam tak bergeming.


Hingga Delphy mendongak ke atas saat sebuah reruntuhan mengarah padanya terasa seperti sebuah slow motion bagi Delphy. Tetap terdiam seakan membiarkan reruntuhan itu menerjangnya, padahal Delphy selalu mempunyai reflek yang bagus namun kali ini seakan semua pengalaman yang ia punya hilang begitu saja.


"Masih mau membiarkannya begitu saja? Bangunlah, kamu sudah beristirahat bukan sebelumnya? Aku yakin kamu bisa melewatinya"

__ADS_1


Delphy mendengarnya, sebuah suara yang berasal dari kalung yang ia kenakan seakan menyadarkannya. Tapi semua terlambat, reruntuhan itu jatuh mengenai wajahnya.


__ADS_2