Story Of Season : Winter

Story Of Season : Winter
Chapter 21


__ADS_3

Kerajaan Whittaker delapan tahun lalu


"Ayah, apa benar aku akan mengikuti pelatihan bersama kakak kakakku?" Delphy kecil bertanya pada sang ayah yang sedang bersantai di gazebo taman.


Raja Whittaker tersenyum sambil mengusap kepala Delphy, "Tentu saja, kamu mau menjadi Ksatria hebat kan agar bisa melindungi Crystal?"


Delphy mengangguk dengan mata berbinar. Raja Whittaker tertawa gemas melihat putri sulungnya yang kini sudah terlihat seperti anak laki laki.


"Kamu tidak takut kan?"


Dengan sikap angkuh Delphy menjawab, "Tentu saja tidak!! Aku kan putri ayah yang paling hebat!"


Tidak tahan dengan tingkah putrinya, Raja Whittaker langsung memeluk Delphy dan menggendongnya, membawanya berputar putar di udara sambil tertawa. "Tentu saja, kamu adalah putri ayah yang paling hebat!"


+++


Seisi Kerajaan Whittaker dipenuhi rasa duka. Orang orang memakai pakaian hitam sebagai rasa hormat terhadap mendiang Raja Whittaker. Banyak warga berdiri di pinggir jalan demi melihat peti sang Raja di antar menuju peristirahatan terakhir.


Tak seorang pun Keluarga Kerajaan yang menaiki kereta kuda, mereka berjalan mengiri peti. Bersama Colden, Delphy berjalan di barisan belakang sambil menunduk menyembunyikan wajahnya yang tampak kacau. Sejak semalam Delphy terlihat seperti orang yang kehilangan alasan untuk tetap hidup, bahkan ia tak memakan apapun meski Lilian terus membujuknya sejak kematian Raja dua hari lalu.


Sayangnya begitu tiba di pemakaman Delphy harus menunggu seluruh Keluarga Kerajaan pulang untuk bisa berhadapan langsung dengan makam ayahnya. Sampai semua orang sudah kembali, Delphy mendekati makam ayahnya, berjongkok, kemudian meletakkan sebatang bunga berwarna putih, Delphy tak tau itu bunga apa, ia tak pernah tertarik dengan tumbuhan yang terlihat cantik jika bermekaran itu. Hanya satu hal yang ia tau, bunga itu sangat disukai ayahnya.


Cukup lama Delphy berjongkok di depan makam sang ayah tanpa berkata apapun sampai akhirnya air matanya kembali tumpah, namun sebisa mungkin ia menggigir bibirnya menahan tangis. "Maaf, aku menangis lagi, padahal aku tau ayah akan bersedih jika aku menangis." Delphy berusah mengusap air matanya dengan lengan baju.


"Aku harap ayah dapat beristirahat dengan tenang, aku akan menjaga Crystal dengan baik."


Setelah puas menatap makam sang ayah, Delphy berdiri kemudian tersenyum, "ayah....jangan khawatirkan apapun disana ya."


Delphy berjalan keluar pemakaman, di pintu masuk Colden masih menunggunya. Mereka berjalan berdampingan kembali ke Istana. Di saat seperti ini Delphy malah teringat akan rumor yang pernah beredar dulu, dimana Colden dikabarkan tidak normal karena memiliki hubungan dengan dirinya.


Rasanya sudah lama Delphy tidak berjalan berdua dengan Colden seperti ini. Dulu mereka sering melakukannya untuk menjalankan misi kini mereka sudah memiliki kesibukan masing masing.


"Pria yang bersamamu kemarin....siapa?" Colden bertanya dengan hati hati, karena ia tau saat ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya hal hal tidak penting kepada Delphy.


"Bukan siapa siapa."


Colden mengangguk, paham jika Delphy tak ingin di ganggu saat ini. Hanya saja Colden penasaran setengah mati apalagi saat melihat Delphy yang mau keluar dari Kamar Raja Whittaker setelah pria dengan warna rambut bergradasi putih itu menghampiri Delphy. Padahal saat di bujuk Crystal, Delphy tak bergeming sama sekali.

__ADS_1


Omong omong soal Frost, laki laki itu tak bisa mengikuti pemakaman karena bukan Keluarga Kerajaan maupun bangsawan. Bahkan sudah dua hari ini Frost tak bisa menemani Delphy, laki laki itu harus keluar dari Istana karena suasana duka. Istana hanya menerima tamu dari Keluarga Kerajaan. Namun, Frost meninggalkan surat sebelum pergi, memberitahu Delphy keberadaannya. Jaga jaga jika Delphy mencarinya.


"Kakak bisa kembali ke Istana duluan, aku ingin ke suatu tempat sebentar." Kata Delphy.


"Kemana? Tak apa, aku bisa menemanimu."


Delphy menggeleng, menolak tawaran yang diberikan Colden, "Tidak perlu, aku bisa sendiri."


"Tidak. Aku akan menemanimu saat ini."


Delphy menghela nafas, ia tau kakaknya tidak akan menerima penolakan saat ini. "Tidak jadi."


Colden mengerutkan keningnya menatap Delphy. Tak ada percakapan apapun lagi sampai mereka tiba di Istana. Delphy langsung menuju kamarnya, sedangkan Colden memiliki urusannya sendiri yang harus ia selesaikan.


Lilian sudah menunggu kedatangan Delphy, wanita itu menyiapkan makanan berharap Delphy mau memakannya meski hanya sedikit. Namun Delphy lagi lagi tak mau menyentuh makanannya.


"Tuan Putri, saya harap kali ini anda mau makan meski hanya satu suap." Lilian berusaha membujuk Delphy, ia benar benar tidak bisa melihat tuannya dalam kondisi seperti ini.


"Lilian, berhenti memanggilku tuan putri. Ayah sudah tidak ada, tak akan ada lagi yang mengingatku sebagai putri raja."


Lilian tak menjawab, ia mengambil nampan berisi makanan kemudian duduk di samping Delphy. "Baiklah saya mengerti, setidaknya nona makanlah dulu meski sedikit. Tolong jangan membuat saya khawatir seperti ini."


"Maaf sudah membuatmu khawatir. " Sesal Delphy.


Lilian mengangguk paham. Bagaimanapun Lilian juga pernah merasakan kehilangan ayah, hingga kini ia hanya memiliki ibunya yang sudah tua.


Meski masih tersisa banyak Delphy menyudahi makannya. Lilian paham, ia tak berbicara apapun dan hanya membereskan sisa makanannya. Melihat Delphy yang sudah mau makan meski sedikit sudah cukup membuat Lilian merasa lega.


Pintu kamar di ketuk dari luar, "Ini aku, Blaze! Aku datang bersama Kak Bach!"


Delphy mengisyaratkan Lilian untuk membuka pintu, membiarkan Blaze dan Bach masuk.


Blaze berlari memeluk Delphy dengan kuat, sampai sampai Delphy sendiri merasa sesak karenanya. Melihat Blaze yang memeluk Delphy, Bach pun langsung mengikutinya.


"Aaahhhh aku rindu denganmu!!! Kemana saja kamu enam bulan ini? Aku pikir kamu sudah tiada." Cerca Blaze tanpa melepas pelukannya.


"Benar! Ternyata kamu masih hidup" Sahut Bach.

__ADS_1


Sontak Delphy langsung memukul Blaze dan Bach agar melepaskan pelukan mereka. "Bicaramu asal sekali kak! Aku masih hidup tau!! Lepas dulu pelukan kalian, aku sulit bernafas!"


Blaze dan Bach langsung melepas pelukan mereka.


"Jadi apa yang sebenarnya kamu lakukan selama enam bulan ini?" Bach bertanya.


"Kakak sungguh ingin mengetahuinya?"


Blaze dan Bach mengangguk dengan kompak layaknya anak kecil yang penasaran dengan dongen yang diceritakan ibunya.


"Sayangnya aku tidak ingin memberitahu."


"Hei!! Anak ini!!!" Blaze langsung menerjang Delphy, menggeletikinya hingga Delphy tertawa dengan keras. Sedangkan Bach hanya tertawa melihat adik perempuannya itu tersiksa karena lelah tertawa.


"Hentikan hentikan hentikan, sudah cukup perutku sakit." Kata Delphy sambil menahan tangan Blaze.


Blaze meletakkan tangannya di pinggang, seperti seorang ibu yang ingin memarahi anaknya. "Masih tidak ingin memberitahu?"


Delphy merapihkan pakaiannya yang berantakan karena ulah kakak terakhirnya itu. "Banyak hal terjadi, akan kuceritakan nanti."


Bach mengerti, adik perempuannya itu belum mau menceritakan hal yang terjadi padanya. "Tak apa, aku mengerti."


Sesaat Delphy teringat, ia harus segera meninggalkan Istana. Dirinya bukan lagi Ksatria Kerajaan sehingga ia tak memiliki alasan untuk tetap berada di Istana ditambah namanya tidak tercatat sebagai keluarga Kerajaan. Jika ia tetap berada di Istana hanya akan menimbulkan kekacauan nantinya apalagi Crystal sudah mengusirnya.


"Kalian masih tetap ingin berada disini?" Tanya Delphy.


"Apa kamu mengusir kakakmu ini?" Blaze memicingkan matanya sebal.


"Bukan seperti itu, hanya saja masih ada yang harus kulakukan."


Bach menarik tangan Blaze berniat mengajaknya keluar, "Oke aku paham, kami hanya ingin memastikan keadaanmu. Omong omong jangan terlalu larut bersedih ya, ayah juga akan bersedih jika kamu terus bersedih."


Delphy mengangguk paham, "Aku tau."


+++


Danau di Taman belakang Kerajaan memang menjadi pemandangan indah saat ingin merenung. Duduk di pinggirnya sembari meluruskan kaki dan merasakan sensasi sentuhan telapak tangan dengan rumput. Delphy selalu menyukainya.

__ADS_1


Sambil menatap pantulan bayangan dirinya di Danau, Delphy merenung. Ia menunggu Crystal datang. Kembarannya itu ingin bertemu dengannya. Entah apa kali ini yang ingin ia bicarakan. Delphy hanya berharap pertemuannya dengan Crystal kali ini tidak menimbulkan pertengkaran.


Jika Crystal ingin membahas tentang keberadaan Delphy di Istana seperti ingin mengusir, tanpa di perpanjang pun, Delphy akan langsung pergi. Meski nantinya Delphy tidak tau bagaimana ia bisa mengembalikan kondisi Kerajaan seperti semula jika tidak berada di Istana.


__ADS_2