
Terbangun dalam keadaan terkejut cukup membuat kepala Delphy terasa sakit. Mimpi yang ia alami semalam terasa sangat nyata baginya. Bagaimana orang orang berteriak melihat kobaran api hingga bagaimana reruntuhan bangunan menerpanya dan sebuah suara yang menyuruh nya bangun.
Delphy memegang lehernya yang terasa sakit. Sepertinya ia salah posisi tidur semalam. Delphy melihat keluar jendela, hari sudah terang. Lilian tidak membangunkannya, mungkin karena tau jika Delphy tidur larut semalam, selain itu Delphy belum memiliki jadwal resmi apapun seperti dulu.
Cukup lama Delphy hanya terdiam sambil duduk d atas kasur. Ia tak melihat keberadaan Lilian. Biasanya Lilian akan menawarkannya teh hangat saat ia bangun.
Tak mau berdiam diri lebih lama, Delphy bersiap untuk memulai hari, meski sejujurnya Delphy sendiri tidak tau harus memulai hari seperti apa. Dulu ia akan langsung ke markas, menerima misi ataupun melatih prajurit baru dan sekedar menyusun laporan.
Selesai bersiap, Delphy berniat menghampiri Crystal. Ia baru ingat masih ada yang ingin ia bicarakan pada saudari kembarnya itu. Namun, di depan pintu Delphy melihat Lilian yang baru tiba sambil membawa nampan berisikan teh dan beberapa kudapan.
"Ah maaf nona, saya pikir anda masih tertidur jadi saya sedikit menunda membuat teh nyaa agar tetap hangat." Ucap Lilian merasa bersalah.
"Tak apa Lilian, aku paham."
Setelah itu Delphy langsung meminum teh nya sedikit dan mengambil sepotong biskuit. "Aku pergi dulu ya."
Delphy melangkah pergi, tujuannya saat ini ialah kediaman Putri Mahkota, meski ia tidak tau apakah Crystal akan berada di kediamannya atau tidak. Bagaimanapun penonatan Crystal berlangsung tidak lama lagi, gadis itu sudah pasti sangat sibuk.
Di sepanjang jalan, Delphy melihat keluar jendela. Salju sudah berhenti turun, sepertinya salju sudah menyelimuti seluruh Negeri. Bahkan di Istana saja, para pekerja sibuk membersihkan tumpukan salju yang menghalangi jalan.
Baru saja Delphy akan melangkah keluar Bangunan, Lilian memanggilnya dengan tergopoh gopoh. Wanita itu memberikan mantel pada Delphy.
"Ah iya aku lupa, Terima kasih Lilian." Delphy menerima mantel itu kemudian pamit pergi.
Delphy menuju bangunan Istana bagian pusat, tempat dimana anggota keluarga kerajaan inti tinggal. Delphy merasa sedikit aneh saat memasuki bangunan bagian pusat. Biasanya ia membawa sebilah pedang yang tersampir di pinggangnya, membuktikan jika ia salah satu ksatria kerajaan. Namun, seluruh pedang yang Delphy punya sudah di tarik saat Delphy dinyatakan bukan lagi seorang Ksatria.
Jika Crystal benar benar menjadikan Delphy sebagai pengawalnya lagi, ia tentu akan mengembalikan pedang Delphy. Mungkin saat ini karena Crystal belum memberikan perintah resminya.
Delphy memasuki ruangan Crystal setelah penjaga pintu membukanya. Untung saja Crystal masih berada di ruangannya. Putri Mahkota yang segera menjadi seorang ratu itu sedang sibuk menata rambutnya dibantu oleh ketiga pelayannya.
"Maafkan saya sudah mengganggu di waktu yang tidak tepat."
"Tak apa, aku memang menunggumu. Aku ada pertemuan dengan para bangsawan, jadilah pengawal ku saat itu."
__ADS_1
Delphy mengangguk paham, kemudian atensinya jatuh pada lemari kaca yang berada di dekat meja. Ke empat pedangnya yang tersisa berada disana. Delphy sedikit heran, entah sejak kapan Crystal memiliki ketertarikan pada pedang sampai harus menyimpan pedang miliknya disana.
"Ah itu aku sengaja menyimpannya. Ukiran pedangmu terlalu bagus untuk ku kembalikan ke markas prajurit."
Delphy mengangguk paham. Padahal jika pedang itu berada di markas prajurit, tak akan ada seorang pun yang berani menyentuh nya. Seluruh prajurit Istana tau jika Delphy akan mengoceh sepanjang latihan jika pedangnya di sentuh siapapun.
Crystal yang sudah selesai bersiap kini mendekat pada Delphy, "Aku akan meminta pelayan agar mengembalikan pedangmu. Namun, bisa kamu biarkan satu pedangnya?"
"Baiklah, tak apa. Anda bisa menyimpan salah satunya."
"Aku mau yang itu."
Crystal menunjuk pedang yang berada di paling atas berwarna perak dengan ukiran ranting ranting pohon tanpa daun. Delphy hanya mengangguk meski sebenarnya itu adalah pedang kesayangannya.
"Anda bisa memilikinya."
"Terima kasih." Crystal tersenyum senang kemudian memerintahkan salah satu pelayannya. "Ambilkan salah satu pedang dan berikan kepada Delphy."
Saat menerima pedangnya, Delphy merasa lega. Rasanya ia merasa aman hanya dengan sebilah pedang. Setelah itu Crystal dan Delphy berjalan bersama menuju ruang pertemuan.
"Bukankah wajar jika dua orang yang sudah bertunangan menjadi dekat?"
"Maksudku, sebelumnya kamu sangat menolak pertunangan itu."
"Memangnya apa pedulimu? Kamu bahkan tidak mau membantuku menolak pertunangan dulu."
Sial, pikir Delphy. Bukan jawaban itu yang ingin ia dengar. Jika di lanjutkan mereka hanya akan bertengkar. Padahal Delphy hanya ingin tau bagaimana Erd mendekati Crystal, apakah laki laki itu benar benar baik atau seperti yang dikatakan Frost.
Delphy tak melanjutkan percakapan sampai mereka masuk ke dalam ruang pertemuan. Disana baru ada beberapa bangsawan, masih banyak kursi yang kosong. Padahal waktu pertemuan harusnya sudah di mulai.
"Hanya segini saja?" Tanya Crystal, namun tak seorang pun menjawab.
Sial mereka meremehkan Crystal secara terang terangan, pikir Delphy. Namun Delphy tak berbuat apapun, ia hanya mengambil posisi, berdiri di dekat pintu.
__ADS_1
Crystal langsung duduk di kursinya. Cukup lama hingga akhirnya para bangsawan yang tersisa datang secara bergerombol.
"Ah maafkan saya tuan putri, saya kira anda masih berdandan." Ucap salah seorang bangsawan dengan perawakan gendut dan berkumis.
Kemudian, para bangsawan itu mengambil tempat duduk mereka masing masing sambil tertawa, mengobrol satu sama lain seakan tak ada sosok yang harus mereka hormati disana. Jelas sekali para bangsawan itu meremehkan Crystal.
Dengan nada rendah hati Crystal menjawab. "Tak apa, duduklah."
"Omong omong, ternyata anjing setia anda sudah kembali ya, tuan putri." Sahut bangsawan lainnya.
Rasanya Delphy ingin sekali menyumpal mulut para bangsawan itu dengan sebilah pedang.
"Jangan alihkan pembicaraan, kita sudah terlambat." Tegas Crystal.
Pertemuan di mulai dengan Crystal yang membahas tentang krisis pangan yang sempat di alami. Namun karena kini para pedagang Ash Shaif lebih dominan, banyak penduduk Whittaker yang mengalami kesulitan ekonomi.
Membahas perekonomian seperti ini membuat Delphy berpikir, bukankah seharusnya Colden ikut serta dalam pertemuan ini? Bagaimanapun Colden memegang bagian perekonomian di Kerajaan ini.
Saat Crystal memasuki pembicaraan inti, entah kenapa suasana menjadi lebih tegang seakan Kerajaan Whittaker akan jatuh begitu saja jika hal ini tak segera di selesaikan.
"Karena itu saya memutuskan untuk mengurangi pajak rakyat kecil dan menaikkan pajak bangsawan."
"Wahh, dia gila." gumama Delphy mendengar ucapan Crystal. Para bangsawan mana yang mau merugi hanya demi rakyat kecil, semua orang tau itu. Bangsawan sok berkuasa yang tidak mau berkorban bukan lagi jadi rahasia umum.
Dan benar saja, para bangsawan itu mulai menyuarakan protes mereka. Bahkan salah seorang bangsawan sudah menggebrak meja terlebih dulu.
Crystal tidak mau kalah, ia meninggikan suaranya. "Diamlah!!" Seketika ruangan hening kembali, Crystal mulai melanjutkan perkataannya. "Pajak itu nantinya akan kembali ke rakyat yang membutuhkan, bukan untuk saya sendiri! Bukankah kalian juga sudah banyak di bantu oleh Kerajaan? Kalau begitu apa salahnya sedikit berkorban."
Delphy menatap Crystal dengan rasa takjub. Dalam hatinya ia bertanya tanya, sejak kapan Crystal menjadi terlihat tegas seperti ini.
Seorang bangsawan berperawakan yang duduk di dekat Crystal menggebrak meja kemudian tanpa ragu menarik kerah baju Crystal. "Memangnya Kerajaan ini juga bisa apa tanpa kami?!"
Belum sempat Crystal menjawab, sebilah pedang sudah berada tepat di leher bangsawan itu. Dengan tatapan dingin, tanpa ragu pedang itu siap kapan saja memutus leher sang bangsawan.
__ADS_1
"Lepaskan tanganmu sebelum kepalamu yang terlepas." Delphy berucap dengan dingin.
Bangsawan tersebut langsung menurunkan tangannya dengan gemetar dan raut wajah kesal.