Story Of Season : Winter

Story Of Season : Winter
Chapter 25


__ADS_3

"Terima kasih." Ucap Crystal pada Delphy di perjalanan mereka menuju ruang kerja Crystal.


"Para bangsawan itu, sejak dulu aku muak melihat mereka. Lebih berhati hatilah pada mereka."


Crystal mengangguk paham. Ia paham lebih dari siapapun bagaimana sikap para bangsawan itu. Selama Raja sakit, Crystal selalu tampil dalam pertemuan para bangsawan seorang diri. Tidak hanya satu atau dua kali, namun para bangsawan itu berkali kali meremehkannya, namun sepertinya saat ini karena Raja sudah tidak ada, mereka jadi lebih berani menunjukkan sikap kurang ajar mereka.


Ratu yang seharusnya mendampingi Crystal pun hanya terdiam melihat bagaimana Putri nya di perlakukan buruk oleh para bangsawan, bahkan Ratu hampir tidak pernah menyempatkan diri menghadiri pertemuan termasuk hari ini.


Omong omong soal Ratu, Delphy sejak kemarin bertanya tanya, sejak pemakaman Raja, ia tak pernah melihat Ratu. Yaahhh sejak dulu memang Delphy hampir tidak pernah berinteraksi dengan ibunya sendiri, namun bagaimanapun Delphy heran apa yang dilakukan oleh ibunya itu belakangan ini, bahkan tidak menghadiri pertemuan.


Sampai mereka tiba di ruangan Crystal, Delphy berniat pamit. Ia ingin menemui Komandan Claude dan Frost. Namun, ia teringat jika masih ada hal yang ingin ia bicarakan pada Crystal. Delphy melangkah masuk, kemudian duduk di sebuah sofa khusus untuk Crystal saat menerima tamu. Delphy meminta para pelayan memberikan mereka ruang.


Melihat Delphy duduk, Crystal pun ikut terduduk, cukup heran saat melihat Delphy yang tidak memilih pergi. "Ada yang ingin dibicarakan?"


"Ya, aku ingin membicarakan hal serius denganmu."


"Jika itu soal Erd, lupakan saja. Aku tidak ingin membahasnya denganmu."


Delphy terdiam, Crystal dapat menebak pikirannya dengan tepat. "Tolong dengarkan aku. Erd bukan orang baik."


Crystal mulai meninggikan nadanya, "Sudah kubilang bukan urusanmu, pergilah jika kamu masih ingin membahasnya." ia kesal Delphy mulai ikut campur urusannya di saat seperti ini, padahal dulu Delphy mengabaikannya saat Crystal meminta tolong.


"Aku minta maaf dulu mengabaikanmu, tidak membantumu. Tapi kali ini aku benar-benar meminta tolong padamu untuk jaga jarak dengan laki-laki itu."


"Memangnya apa yang kamu tau tentangnya? Jika bukan karena Erd, krisis pangan sudah memburuk. Pergilah sebelum aku benar benar mengusirmu dan jangan ikut campur urusanku, tugasmu hanya menjagaku."


Delphy menyerah, ia memilih pamit. Delphy cukup menyesal tidak mencoba menghentikan pertunangan dan lebih memilih mengikuti perasaannya saat itu. Sekarang ia tidak tau bagaimana memberitahu Crystal mengenai Erd.


Salahkah ia jika memikirkan perasaannya meski hanya sekali saja, Delphy terus berpikir. Sejak dulu ia selalu mengutamakan orang lain, namun kini Delphy sadar. Meski hanya sekali, seharusnya ia tidak menuruti kemauan hatinya saat itu. Sekarang Delphy sendiri yang susah.


Delphy menemui Komandan Claude di ruangannya. Pria itu tampak sedang berbincang dengan seorang Ksatria. Terlihat seperti obrolan yang serius sampai Delphy sendiri enggan untuk mendekat. Delphy masih sadar posisinya saat ini belum resmi kembali menjadi Ksatria Kerajaan yang memiliki pangkat.

__ADS_1


Namun, Komandan Claude yang sadar akan kehadiran Delphy malah memanggilnya untuk turut serta dalam diskusi mereka. Delphy hanya menurut dan berjalan mendekat.


"Lama tidak berjumpa, Delphy." Seorang Ksatria dengan rambut cepak menyapanya.


"Oh, Hai David." Balas Delphy. Delphy ingat, laki laki itu pernah berada di tim yang sama dengannya saat menjadi prajurit junior.


"Ehem." Komandan Claude berdehem, mencoba menarik perhatian Delphy dan David kembali. "Sebelum penobatan Tuan Putri saya ingin kalian berdua turun berpatroli secara langsung, cari tau kemungkinan lokasi yang digunakan para pemberontak untuk bersiap."


"Serahkan bagian Pusat Kota pada saya." Ujar Delphy.


"Maksudmu, aku harus berpatroli di pinggir kota?" Sahut David.


"Tentu saja, pinggiran kota biasanya menjadi daerah yang rawan. Aku tidak memiliki bawahan untuk membantuku saat ini, sudah pasti bagian itu lebih cocok untukmu."


Belum sempat David menyahut, Komandan Claude sudah menginterupsi kembali, "Ya, memang itu yang saya rencanakan."


Delphy menjulurkan sedikit lidahnya, mengejek David yang tidak bisa membantah lagi. Setelahnya Komandan Claude pergi, masih ada yang harus ia urus. Penobatan semakin dekat, sudah pasti semua orang di Istana akan sangat sibuk.


"Kemarilah." Ucap Frost saat sadar akan keberadaan Delphy meski tak mengalihkan perhatiannya dari buku sedikitpun.


Delphy mendekat, mengambil sepotong biskuit milik Frost dan memakannya, "Apa saja yang kamu lakukan selama disini?"


"Tidak ada, aku menunggu pergerakan darimu, namun sepertinya kamu masih tidak sadar akan kenyataan. Mungkin setelah ini aku akan kembali ke Epokhes."


Delphy cukup terkejut dengan ucapan Frost, ia heran kenapa laki laki itu secara tiba tiba ingin kembali.


Frost menutup bukunya, kemudian memberikan penjelasan sebelum Delphy bertanya, "Percuma bukan jika aku tetap disini namun kamu sendiri masih seperti ini."


Delphy merasakannya, Frost terasa dingin sama seperti saat mereka pertama kali bertemu. "Sebenarnya itu yang ingin aku tanyakan." Delphy menghela nafasnya sebelum melanjutkan, "Bagaimana memperingatkan Crystal tentang Erd? Sejujurnya aku tidak tau harus memulai darimana."


"Tidak akan bisa, ia sudah terlalu kecewa denganmu. Aku bertemu dengannya kemarin."

__ADS_1


"Bagaimana bisa?"


"Setelah kamu pergi dalam keadaan mabuk, aku menuju Istana berniat memastikanmu kembali dengan aman. Namun aku malah bertemu dengan kembaranmu. Ia mengajakku berbicara, menanyakan tentang hubunganmu denganku juga tentang dirimu selama menghilang. Selama obrolan itu aku sudah mencari tau sejauh mana hubungannya dengan Erd."


Delphy mengangguk paham. "Untuk saat ini bisakah kamu membantuku mencari tau informasi tentang kemungkinan keberadaan pemberontak? Aku rasa jika mereka memang ada, mereka harus kita selesaikan terlebih dulu."


"Para bangsawan itu, merekalah pemberontak sebenarnya. Beberapa dari mereka merencanakan kudeta. Informasi di bar ini cukup akurat asal kamu tau. Namun belum ada informasi bagaimana mereka akan bergerak, hanya saja seseorang menyewa pembunuh masuk ke Istana."


"Kapan mereka akan bergerak?!"


Frost menggidikkan bahunya, "Entahlah, suara mereka terlalu kecil, aku tidak mendengarnya."


Melihat Delphy ingin pergi begitu saja, Frost menahan tangannya. "Ayo pergi bersama."


Delphy mengangguk, menerima tawaran Frost. Mereka kembali ke Istana.


Di perjalanan kembali, Delphy melihat Ratu. Wanita itu mengenakan tudung, meski wajahnya tidak sepenuhnya terlihat, namun Delphy yakin wanita itu ibunya. Ratu terlihat berjalan bersama seorang pria dengan sebilah pedang. Tidak sembarang orang yang bisa mempunyai pedang, sempat terlintas di pikiran Delphy jika itu salah satu prajurit Istana.


"Ke makam ayah kah?" Gumam Delphy.


Frost yang mendengar Delphy bergumam bertanya, "Ada apa?"


"Tak apa."


Kini Frost dapat memasuki Istana berkat Delphy yang kembali dikenal sebagai pengawal Crystal. Mereka menuju Istana Pusat, dimana Crystal berada. Hanya berkeliling memastikan setiap sudutnya tidak ada yang mencurigakan.


Tak sampai disana, bahkan Delphy pun memerika markas memastikan tidak ada pembunuh yang menyamar maupun bersembunyi. Namun anehnya tidak ada keanehan yang Delphy temui. Delphy tak menurunkan kewaspadaannya sedikitpun hingga matahari terbenam, ia berniat menghampiri Crystal.


Namun sebuah suara keramaian terdengar dari Istana bagian Barat. Tak lama Frost menghampirinya dengan wajah panik.


"Terjadi kebakaran di Istana bagian Barat."

__ADS_1


__ADS_2