
Berbincang sambil minum membuat siapapun akan terasa mudah mengungkapkan isi hatinya.Hal ini dapat dirasakan oleh Delphy, gadis itu tanpa ia sadari berbicara banyak hal karena meminum wine.
"Sudah merasa lebih baik?" Tanya Frost.
"Entahlah, aku merasa sedikit lebih lega." Jawab Delphy kemudian meminum winenya, "terima kasih sudah mau mendengarkanku."
"Apa kamu butuh jawabanku?"
Delphy mengangguk pelan, ia butuh jawaban Frost untuk menghilangkan pikiran pikiran buruk yang selalu menghantuinya. Ia yakin Frost akan memberikan jawaban yang dapat menenangkan hatinya walau entah kenapa ia bisa merasa seyakin itu.
"Sejujurnya aku tidak terlalu mengetahui sejauh apa penderitaanmu selama ini. Di anggap sebagai putri yang tekutuk aku yakin hal itu terasa sangat berat. Negeri Musim Dingin memang sangat tertutup, tak mudah memasukinya, karena itu aku bisa paham kenapa kamu bisa di anggap sebagai putri yang terkutuk.
Kamu memang banyak tertidur saat di Kapal, namun bukankah itu hal yang wajar? Kamu terlalu lelah, hingga tanpa kamu sadari tubuhmu meminta untuk beristirahat. Tak ada yang salah dengan hal itu."
Delphy kembali teringat akan suara di mimpinya yang menyuruhnya untuk beristirahat.
Frost meminum tegukan terakhir wine yang ada di gelasnya sebelum kembali melanjutkan. "Jika kamu merasa takdir mempermainkanmu kenapa tidak kamu saja yang mencari takdirmu sendiri? Hingga akhirnya kamu tau itulah takdirmu yang sebenarnya. Apakah kamu tidak merasa jika selama ini kamu merasa takdirmu terlalu buruk karena orang orang di sekitarmu?"
Delphy tertawa renyah, entah kenapa ia merasa bodoh saat ini. "Jika di pikirkan lagi ucapanmu benar. Berawal dari keluarga kerajaan yang menganggapku putri yang terkutuk hal itu membuat orang orang selalu menatapku aneh karena penampilanku."
"Mencari takdir ya." Gumam Delphy.
"Ah aku penasaran akan satu hal, sebenarnya berapa umurmu?" Tanya Delphy sambil menatap Frost.
"Lima tahun di atasmu." Jawab Frost.
Di temani wine, malam itu mereka menghabiskan malam dengan berbincang mengenal satu sama lain dengan lebih baik.
+++
Setelah memastikan tak ada barang yang tertinggal, Delphy dan Frost menunggangi kuda mereka masing masing. Kembali melanjutkan perjalanan dengan santai.. Sambil memperhatikan sekitarnya Delphy terbayang akan Raja Varsha. Jika tak saat itu ia tak berhasil memenangkan perang maka wilayah yang ia lewati saat ini masih menjadi Kerajaan Varsha.
__ADS_1
Jika saja perang itu tidak terjadi maka daerah di sekitar pelabuhan masih di menjadi kekuasaan Kerajaan Varsha. Tak satupun penduduk Kerajaan Whittaker yang bisa menuju pelabuhan dengan mudah karena pajak yang sangat tinggi untuk melewatinya. Padahal dulu Kerajaan Whittaker dan Kerajaan Varsha menjalin kerjasama yang sangat menguntungkan bagi kedua belah pihak. Namun sayang, sejak sang Raja berganti lima tahun silam, Kerajaan Varsha menjadi seenaknya hingga mengakibatkan perang.
"Setidaknya karena kamu memenangkan perang aku bisa melewati daerah ini dengan mudah." Ujar Frost.
"Jangan mengungkit hal itu. Terkadang rasa bersalah masih menyelimuti ku saat mengingat banyak juga dari prajuritku menjadi korban."
Tanpa terasa hari sudah cukup sore saat mereka menemukan sebuah sungai. Frost memutuskan untuk berhenti di pinggir sungai sejenak dan memakan perbekalan mereka. Delphy turun dari kudanya, ia membasuh wajahnya. Air dingin dari sungai menyegarkan wajahnya.
Delphy membiarkan Frost menghangatkan bekal mereka sendirian, gadis itu lebih memilih melepas sepatunya dan bermain main di sungai, mencoba menangkap ikan hingga tubuhnya basah kuyup karena ulahnya sendiri.
"Kemarilah, makanan sudah siap." Panggil Frost.
"Aku segera kesana." Sahut Delphy.
Dalam keadaan basah kuyup dan menggenggam ikan hasil tangkapannya Delphy menghampiri Frost. Frost tak bisa berkata kata saat melihat keadaan Delphy. Dalam pikiran Frost, bagaimana bisa di saat seperti ini Delphy malah bermain main hingga pakaiannya basah.
"Aku tidak tau apa yang ada di pikranmu saat ini."
"Tapi kita akan melanjutkan perjalanan di malam hari, Delphy." Jengah Frost.
"Ah iya aku lupa." Delphy menarik tangan Frost. "Kemarilah." Mereka tiba di pinggir sungai.
"Sekarang apa yang ingin kamu lakukan?"
"Basuhlah wajahmu dulu, wajahmu terasa sangat kusut tau." Canda Delphy.
Meski menyebalkan, Frost tetap membasuh wajahnya. Dalam hati ia berterima kasih kepada Delphy, tubuhnya terasa lebih segar setelah membasuh wajah. Saat Frost sedang membasuh wajah, tak ada angin tak ada hujan Delphy malah terpeleset hingga tubuhnya tercebur dalam sungai yang.
Frost menghela nafas kemudian berniat membantu Delphy, sayangnya Frost tidak tau jika dirinya sedang di permainkan oleh Delphy. Bukannya keluar dari sungai saat Frost mengulurkan tangannya, Delphy malah menarik Frost masuk ke dalam sungai. Kini keduanya sama basahnya.
"HEI!" Teriak Frost, entah sejak kapan terakhir kali laki laki itu berteriak. Ia geram namun tidak bisa marah, apalagi melihat Delphy yang tertawa dengan puas.
__ADS_1
"Aduh perutku sakit karena tertawa terlalu keras." Delphy memegangi perutnya yang terasa keram. "Maaf maaf, habisnya aku bosan melihat wajahmu yang seakan sudah sangat lelah dengan dunia."
"Setelah ini tidak ada ampun untukmu." Tanpa aba aba Frost kembali menarik masuk Delphy ke dalam sungai. Hingga akhirnya mereka bermain main di sungai.
Makanan sudah kembali dingin saat mereka selesai bermain. Namun Delphy dan Frost tetap memakannya dengan lahap tanpa di panaskan kembali.
"Ku pikir kamu bukan orang yang membosankan." Kata Delphy membuka obrolan.
"Aku hanya menyesuaikan diri, karena aku sedang bersama dengan anak kecil saat ini."
"Siapa yang kamu maksud anak kecil?" Nada tak terima terdengar jelas dari Delphy.
"Siapa lagi jika bukan seseorang yang hilang di kapal, tersenyum lebar karena menangkap ikan dan membuatku basah kuyup."
"Umurku sudah tujuh belas tahun asal kamu tahu!"
"Shut shut, sudah. Lebih baik kamu kembali makan wahai Kakak Delphy yang sudah dewasa."
Meski semakin kesal Delphy tak membalas, perutnya sudah sangat lapar saat ini, sejak tadi perutnya sudah berbunyi, berteriak meminta untuk segera diisi. Delphy makan dengan wajah sebal, melihatnya membuat Frost tersenyum tipis.
Seharusnya selesai makan mereka melanjutkan perjalanan, namun sepatu Frost yang basah karena ulah Delphy menjadi alasan terbesar untuk menunda perjalanan. Delphy sendiri sudah meminjam baju ganti dari Frost.
Frost bertelanjang kaki, sepatu nya ia dekati pada perapian bersama baju yang basah. "Kemarin kamu ingin cepat sampai di pusat kota, sekarang kamu lah yang membuat perjalanan ini menjadi lebih lama."
"Tidak apa, berkatmu kemarin aku merasa sedikit lebih tenang. Meski sebenarnya aku juga belum siap untuk mengetahui kemungkinan terburuk nanti."
Ringkikan kuda terdengar. Delphy dan Frost menoleh ke sumber suara. Kuda milik Frost berlari kabur dengan panik. Tepat di sebelah kuda milik Delphy sebuah belati tertancap pada batang pohon.
Delphy dan Frost mengambil kuda kuda. Bahkan Frost sudah menggenggam pedangnya. Perampok mana yang berani melakukan aksinya saat hari masih terang meski sudah sore.
"Pegang ini." Frost memberikan sebuah belati kepada Delphy.
__ADS_1