
Hanin menatap wajah Henri yang masih tidur terlelap. Dalam hatinya, Hanin pun berdebar kencang, takut jika Henri bangun dan menarik tangannya yang masih mengusap lembut piton Henri yang tengah tidur itu.
Takut Henri akan menganggap permintaan maafnya hanya bualan semata dan tidak tulus. Hanin masih terus bermain dengan piton Henri, sesekali tangan Hanin meremasnya lembut agar terbangun.
'Aahh, mungkin dia memang masih belum merasakan apa-apa.' pikir Hanin hendak menarik tangannya. Mata Hanin melebar, ia urung untuk mengakhiri aksi nya. Tangannya masih terus bermain dengan pithon Henri yang mulai bereaksi.
"Hanin... Jangan menggodaku..." Gumam Henri dalam tidurnya.
Netra Hanin melebar, ia buru-buru menarik tangannya dan memejamkan mata.
Henri membuka matanya, melihat Hanin yang tidur miring menghadap nya dengan mata terpejam.
"Hanya memimpikannya saja sudah terbangun." gumam Henri mengusap pithon nya pelan agar tenang dan tidur lagi.
Henri yang semula tidur terlentang memiringkan tubuhnya menghadap sisi Hanin. Menatap wajah cantik dan lembut itu lekat-lekat.
"Wajah, tidurnya cantik juga. Bulu matanya juga lentik, bibirnya merah alami, sepertinya sangat lembut." Pikir Henri yang tanpa sadar menyentuh bibir Hanin dengan jarinya.
"Benar lembut..." Gumam nya. "Hanin tidak hanya cantik, dia juga kuat, serba bisa. Kenapa ada orang sehebat kamu." Puji Henri lirih.
Wajah henri menghangat. Matanya berpusat pada bibir merona Hanin yang sedikit merenggang. Pria bertulang lunak itu menelan ludahnya dengan sangat susah. Nafasnya terasa memburu. Ia mendekatkan wajahnya pada Hanin. Semakin dekat dan semakin dekat. Hingga bibir keduanya saling menempel.
Henri menggerakkan bibirnya, menyesap dalam bibir Hanin yang berasa seperti ceri. Henri masih belum menghentikan sesapan dan gerakan bibirnya saat Hanin membuka matanya, karena merasakan bibirnya seperti tergelitik. Gadis itu terkejut, Henri sedang menciumnya.
"Apa yang orang ini lakukan? Tidak perlu seperti ini kami sudah beberapa kali melakukannya. Kenapa harus mencurinya saat aku sedang tidur seperti ini. Arrgg.. Dia benar-benar sudah sembuh. Tapi, kenapa dia diam saja dan tak mengatakan apapun? Malah terkesan menyembunyikan nya dariku." Batin Hanin merasa kecewa namun ia tidak marah. Entah kenapa Hanin justru merasa senang Henri sudah normal dan tidak bengkok lagi.
Henri menyudahi ciumannya. Menelan ludahnya yang telah bercampur dengan milik Hanin.
Cepat-cepat Hanin pura-pura tidur lagi dengan memejamkan matanya sebelum Henri sadar. Henri Manatap wajah cantik Hanin. Wajahnya menghangat, sadar telah mencium Hanin dalam lelapnya. Henri terus memandang wajah Hanin yang terlelap. Hingga ia ikut-ikut terlelap dengan sendirinya.
Keesokan paginya, seusai mandi, Hanin hendak mengganti bajunya dikamar seperti biasa. Namun dia teringat dengan ciuman dan pithon Henri yang terbangun semalam. Hanin terdiam sejenak, ia menyentuh bibirnya dan mengigit bibir bawah nya. Hanin, mengambil bajunya dan melangkah hendak keluar.
"Nggak pakai disini?"
Suara Henri mengagetkannya. Hanin melihat kearah Henri yang masih terbaring diatas kasur. Dengan mata yang terpaku kearah istrinya itu.
"Biasanya, kamu memakainya Disini, berganti baju disini. Kenapa tiba-tiba kamu mau ganti diluar." Selidik Henri yang merasa cukup berdebar, jika sampai Hanin tau jika dia mencuri cium semalam. Dan sadar jika dia sudah tertarik padanya dan sudah normal seperti pria lainnya.
__ADS_1
Sementara Hanin hanya mematung,
'Bagaimana ini? Kalau aku tetap ganti diluar, dia akan curiga, jika tetap ganti disini, aku juga merasa...' pikir Hanin gugup. Ia jadi melihat Henri sebagai lelaki seutuhnya. Tidak seperti sebelumnya yang terkadang ia masih berfikir jika Henri seorang gadis.
"Mmmm.. kamu sudah bangun. Mandi gih sana. Terus kita ke ladang. Jangan malas-malasan." Ucap Hanin akhirnya bersikap sebiasa mungkin agar Henri tak curiga jika ia sudah menyadari perubahan suaminya.
"Iya...." Balas Henri bangkit dari ranjang. Ia mengambil handuk dan keluar kamar. Hanin pun bernafas lega. Cepat-cepat ia berganti baju dan menunggu di luar rumah.
"Ada apa dengan ku. Gara-gara semalam pria letoy itu menciumku dan sadar jika dia sudah normal, aku malah jadi begini. Bukankah sejak awal ini yang jadi tujuanku?" Hanin bergumam pelan dan memejamkan matanya.
"Selama ini aku hanya berusaha mendidik nya menjadi seorang yang tak manja. Aku juga ingin dia sembuh, tapi.. tidak secepat ini. Sebenarnya dia itu beneran menyimpang atau tidak sih?"
"Tapi kenapa dia letoy? Dan kenapa semalam pithon nya bangun, aahh, ya ampun kenapa aku malah bertanya, bukankah aku yang membangunkan nya? Tapi, dia menyebut namaku samar."
Hanin terus bermonolog hingga suara Henri mengagetkan nya.
"Ayo! Jangan malas-malasan." Seru Henri dengan wajah berseri. Berjalan mendahului dan melambaikan tangannya menyapa para pekerja.
____
"Hari ini aku akan ke kota, untuk menjual hasil panen."
Hanin menggeleng.
"Kalau begitu, bawa Henri serta." Ucap mama Tantri dengan senyum yang mengembang di wajahnya."Nanti mama yang akan menjaga nenek."
Hanin menatap Henri yang berdiri tak jauh darinya.
"Kamu mau ikut?"
"Boleh?"
Hanin tersenyum kecil. "Tentu..."
Malam itu mereka berangkat pukul 11 malam. Hanin yang menyetir. Sementara Henri sebagai penumpangnya, rencana, saat pulang nanti, henrilah yang jadi supirnya. Bergantian.
Mereka mendatangi beberapa gudang dan pusat distribusi. Namun tak satu pun dari mereka yang mau membelinya dengan harga yang Henri minta.
__ADS_1
Henri tau kualitas barangnya, ia sering menggunakan nya dan cukup tau harganya, memang jauh berbeda dengan yang gudang tawarkan. Sudah tentu Henri tak mau menjualnya. Hingga ia hanya uring-uringan saja sepanjang jalan dan di setiap gudang.
###
"Apa? Otak mereka sudah tergadai? Bagaimana bisa mereka membelinya dengan begitu sangat murah?"
"Itu harga yang setandar Henri," jelas Hanin yang masih mencoba bersabar dengan Henri yang sudah beberapa kali menolak harga yang ditawarkan.
"Tapi itu sangat murah untuk barang berkualitas seperti ini. Aku ini seorang koki, aku tau barang berkualitas dan yang ecek-ecek."
"Sudahlah..." Hanin mencoba menarik tangan Henri yang marah-marah pada paman pemilik gudang yang menawar harga murah.
"Sudah bagaimana? Ini tak bisa di biarkan, bagaimana bisa kau menghargai sangat murah, dan mengambil untung begitu banyak? Apa kau tak punya perasaan? Para pekerja pertanian sudah bekerja dengan sangat keras untuk ini. Dan kau menghargainya begitu murah?"
Henri masih saja terus meningkat suaranya pada pemilik gudang. Hingga paman itu meradang dan menghardik Hanin yang lebih banyak diam menahan Henri yang kesal.
"Hei Hanin! Siapa orang ini? Kenapa dia marah-marah. Kalau kalian tidak mau menjualnya pada kami, tidak perlu bicara seperti ini? Aku sangat tersinggung. Memang seperti ini orang berdagang." Hardiknya menunjuk-nunjuk Hanin.
Bersambung...
_____
Dukung terus karya Othor ini ya, dengan:
Like
Komen
Vote
Dan kasih Gift
Terima kasih.
Salam sehat dan waras.
☺️
__ADS_1
______