Suami Meletoy, Istri Perkasa

Suami Meletoy, Istri Perkasa
Chap 31


__ADS_3

"Apa? Nenek pingsan?"


Henri menoleh kebelakang, ia berfikir, antara istrinya yang masih sakit dirumah, atau bergegas ke ladang.


"Sebentar, saya lihat Hanin dulu dan kunci pintu." Ucap henri akhirnya.


"Ada apa?"


Suara Hanin muncul dari belakang Henri. Ia sudah bangun beberapa saat yang lalu.


"Nenek mu Nin." Sahut Bu darti masih dengan muka cemas.


"Nenek kenapa?"


"Nenek mu pingsan Nin."


Netra Hanin membola.


Dengan bergegas mereka bertiga menuju ladang di bukit tempat nenek biasa meladang. Sesampai nya di sana, sudah ada kerubungan orang-orang di saung.


"Nenek..."


Suara Hanin memecah kerumunan.


"Nenek..."


Wajah-wajah sedih dan prihatin tampak di raut orang-orang itu.


"Yang sabar ya Nin."


Hanin mendekati tubuh sang nenek yang terbaring di saung dengan wajah pucat.


"Nenek..."


"Yang sabar ya Nin, kami turut berbela sungkawa."


Hanin menyentuh tubuh sang nenek yang masih sedikit hangat, tubuh yang terbujur kaku itu tampak tersenyum di tengah guratan keriputnya.


"Nenek..."


"Nek, bangun nek. Ini Hanin."


Bu Sum mengusap lengan dan Pundak Hanin.


"Tadi, nenekmu tiba-tiba ambruk nin, kami langsung membawanya ke saung ini. Tapi... Saat kami periksa dan kasih minyak angin, ternyata udah nggak bernafas lagi."


Bahu Hanin berguncang hebat, air matanya luruh, menangis terisak-isak. Memeluk jasad sang nenek.

__ADS_1


"Yang sabar ya Nin." Ucap Bu Sum mencoba menghibur.


Hari itu, Hanin hanya terdiam dengan lelehan air mata di pipi. Henri yang mengurus semuanya. Hingga jasad nenek di kebumikan. Henri terus mendampingi Hanin.


"Han, makan dulu." Henri menyendok nasi beserta lauk gulat kakap lalu mendekatkannya ke mulut Hanin.


"Aaaaa..."


Hanin tak bergeming, masih diam dan menatap suaminya.


"Ayo makan, kamu belum makan dari tadi."


"Aku nggak berselera hen."


"Nggak berselera, tetep harus makan. Nenek pasti sedih jika lihat kamu kek gini. Ayo makan. Buka mulutnya."


Hanin memaksakan diri membuka mulut, baru tiga suap, Hanin sudah merasa mual.


"Udah hen."


"Lagi dong, kan baru tiga suap."


"Udah aja. Aku mual rasanya."


"Itu karena kamu nggak makan."


Henri menghentikan gerakan tangannya. Menatap lekat wajah sang istri yang memilih mengalihkan pandangannya.


"Aku... Sangat mengkhawatirkanmu.." Henri mengambil kedua tangan Hanin dan menggenggam nya. "Kamu makan cuma sedikit. Jarang keluar hanya duduk diam dikamar. Aku tau kamu sangat sedih, tapi bukan berarti kamu boleh larut sampai seperti ini. Kamu masih punya aku Hanin."


Hanin menatap wajah suaminya. Mata nya mulai berkaca-kaca.


"Apa kamu akan meninggalkan ku?"


"Tidak akan pernah."


Hanin menangis sesenggukan mengangkat tangannya dan memeluk sang suami. Henri pun membalas pelukan istrinya.


"Aku akan selalu berada di sisimu." Gumam Henri.


###


Satu Minggu berlalu setelah nya Hanin yang kini sudah tak begitu sedih lagi setelah kepergian Sanga nenek, merasakan tubuhnya yang tak beres. Ia mudah lelah dan sering merasa mulai walau tidak sampai muntah.


"Ada apa dengan ku ini? Kenapa tubuhku rasanya tak enak terus." Gumam Hanin pelan saat sedang meladang bersama Bu sum dan Bu welas.


"Kenapa Han?"

__ADS_1


"Enggak papa Bu, hanya, rasanya . Uuugggghhhh..." Hanin sudah merasa mual lagi.


Bu welas dan Bu Sum saling berpandangan.


"Wajahmu pucat. Istirahat dulu aja Han." Ajak Bu Sum mendekat dan mencoba memapah Hanin. Namun, gadis itu justru semakin merasa mual dan hendak muntah.


"Han, kamu.... Apa kamu hamil?"


Hanin terperajat mendengar ucapan Bu welas yang tiba-tiba menanyakan apakah dia hami atau tidak. Hanin mengeleng.


"Nggak apa nggak tau?"


"Nggak tau Bu."


"Kamu kapan terakhir haid?"


Hanin tampak berpikir sejenak.


"MMM.. iya, sebenarnya aku sudah telat 10hari."


"Nah, mungkin aja kamu hamil." Ucap Bu Sum sumringah."Coba kamu cek dulu. Siapa tau hamil."


"Tapi Hanin nggak punya tespack."


"Pake punya mantu ibu saja. Tunggu sebentar. Ibu ambilkan." Ucap Bu Welas bersemangat.


Setelah menunggu kurang lebih setengah jam, Bu welas datang dengan sedikit berlari.


"Ini. Sana cek."


Hanin menerima benda pipih yang Bu Welas ulurkan padanya. Ia tersenyum kecil.


###


Siang menjelang sore, Henri selesai berberes baju dan beberapa barang di kamar untuk di bawa ke kota. Dia memang pulang lebih dulu dari meladang karena memang sudah selesai. Besok, memang Henri berencana kembali ke kota meneruskan perusahaan yang papanya rintis. Karena anak tunggal, Henri jadi mau tak mau lakukan juga.


Henri melihat sebuah amplop map yang terselip ditumpukan baju Hanin. Dengan penuh rasa penasaran, Henri mengambilnya. Membuka map itu lalu menarik kertas di dalamnya. Ia membaca dengan sesama. Matanya melebar melihat isi dari kertas itu.


Ya, itu adalah kertas perjanjian Hanin dan mama Tantri, tentang tanah dan pernikahan mereka. Henri merasa lemas. Ia merasa sangat tertipu, bagaimana bisa mama dan Hanin melakukan perjanjian semacam ini. Hatinya sangat terluka, dua orang wanita yang sangat ia cintai justru menipu dan mempermainkan perasaan dan pernikahan.


"Hen, lihat, aku..." Suara Hanin yang ceria muncul dari balik gorden kamar mereka.


Hanin tertegun melihat Heri hanya mematung dengan sebuah map coklat yang Hanin tau apa itu. Hanin melangkah pelan dengan wajah pias, mendekat pada Henri.


"Apa kamu menikahiku demi tanah ini?"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2