Suami Meletoy, Istri Perkasa

Suami Meletoy, Istri Perkasa
Chap 22


__ADS_3

"Pertama, aku mau terapi itu tetap di lanjutkan."


Mata Hanin mengerjab,


"Terapi yang mana?"


Henri terdiam sejenak. Tanganya terangat menyentuh bibir Hanin.


"Terapi kontak fisik..." Ucapnya mengusap lembut bibir istrinya, lalu Tangan itu turun perlahan.


"Aaahh, itu..." Hanin memalingkan wajahnya menghilangkan rasa canggung yang dia rasakan."Itu, tidak begitu berhasil. Aku sedang memikirkan cara lain. Tenang saja, kalau kamu ada tekat pasti sembuh."


"Aku tidak mau cara ini..."


"Tapi ini tidak berhasil..." Gumam Hanin mencoba memancing Henri walau sejujurnya, ia cukup tau, suaminya itu bereaksi.


"Siapa yang bilang tidak berhasil..."


Hani menoleh seketika.


"Jadi itu berhasil?"


"Kurasa kalau denganmu berhasil."


Hanin tertawa tanpa suara.


"Sungguh..." Henri mengangkat dua jarinya. Hanin memandang Henri dengan tatapan yang berbeda.


'kemana arah pandangan matanya itu berpusat? Tidak mungkin di bibir ini kan? Apa dia sungguh menginginkan nya? Apa benar dia sudah normal? Aku tau malam itu, dia bereaksi.' Hanin mengalihkan pandangannya. Karena menyadari kearah mana tatapan mata Henri terpantik. Ia sungguh merasa sangat canggung sekarang.


"O iya,masakanmu waktu itu sangat enak. Bagaimana kalau kau coba masak untukku?"


"Apa kau sedang mencoba mengalihkan topik?"


Hanin tertawa kecil bangkit dari duduknya. "Sudah terlalu lama duduk disini. Ayo masak chef Henri."


Henri ikut berdiri dan keluar dari kolam."Ingat janjimu. Mengabulkan permintaanku."


Henri berjalan lebih dulu dengan senyum nakal dan jari yang terangkat dan ia goyangkan.


###


"Hmmm... Sepertinya benar. Henri sudah sembuh." Gumam mama Tantri yang sedari tadi memperhatikan pasangan itu, yang kini beranjak masuk kedalam rumah.


"Biarkan saja ma."


Mama Tantri mengabaikan suaminya, ia memilih Mendekati nenek.

__ADS_1


"Nek, bagaimana menurut mu?"


"Bagus jika dia sembuh."


"Ini bagus. Semoga mereka bisa cepat memberi kita cucu."


"Mama, jangan kebanyakan menandai. Nanti jatuh sakit, kalau ketinggian."


"Tidak." Mama Tantri mendekat pada suaminya dan asal duduk di atas pangkuan sang suami."Karena aku, akan jatuh kepangkuanmu."


"Mama, hentikan, malu sama nenek."


______


Di dapur,



Hanin duduk menyaksikan sang suami yang sibuk memperagakan aksinya memasak. Sesekali, Henri menoleh dan melirik Hanin, lalu melempar senyumnya.


"Wuuaahhh, aku baru tau, jika memasak pun bisa dengan banyak gaya." Hanin menggeleng kan kepalanya melihat aksi Henri yang terus memamerkan kemampuannya.


"Ini namanya lasagna."


"Aku tau."


"Oh ya? Pernah memakannya?"


"Oooohhh... Tapi, kamu pasti belum pernah coba yang sepesial."


Henri menyendok lasagna itu lalu menyuapkannya pada Hanin. Hanin membuka mulutnya dan melahap lasagna yang Henri sodorkan.


"Hmmm .. ini enak banget."


Henri tersenyum dengan penuh percaya diri dan sombong.


"Aku mau coba seafood nya." Hanin menunjuk asam manis diatas meja.


Henri menyuapi nya lagi.


"Bagaimana?"


"Kalau begini? Alangkah baiknya jika kamu yang masak setiap hari."


"Okey."


"Kamu setuju?"

__ADS_1


"Heemm...."


Wajah Hanin berbinar dan senyum terulas panjang di mulutnya.


"Jangan hentikan terapinya." Gumam Henri sembari mengusap bibir Hanin yang kotor oleh kuah asam manis.


Bibir Hanin merenggang, tanpa menunggu jawaban atau pun respon, Henri cepat-cepat melahab bibir itu.


'Mumpung lagi terbuka, sebaik ya masuk saja.' kata Henri dalam hati.


Hanin memejamkan matanya, merespon sentuhan lembut dari sang suami. Gadis itu menggerakkan rahangnya mengikuti alur perciuman dari Henri.


"Hanin, malam ini kita, lakukan. Ya?"


Hanin mengerjab dengan wajah yang merona karena malu. "Lakukan apa?"


Henri hanya mengkode dengan matanya.


"Bagaimana jika kamu tak juga bangun?"


Henri menarik tangan Hanin, lalu menyentuhkan pada pangkal pahanya, lalu bergerak terus hingga ke pithonnya yang siap mematuk.


Mata Hanin sedikit melebar.


"Aku rasa, jika kamu, pasti berhasil."


______


Malam itu, Henri duduk tak tenang di pinggir an ranjang kamar nya. Ia terus menggosok bantal yang sudah rapi mengusap merapikan sepray yang memang sudah sangat rapi itu. Rasa gugup terus menyergapnya. Ia berulang kali melihat pada pintu kamar mandi dimana Hanin terakhir kali memasukinya untuk bersih-bersih skalian berganti baju.


Jantung Henri berdebar kuat.


"Kenapa dia lama sekali." Gumamnya dengan perasaan gugup.


Henri terus berusaha menenangkan detak jantungnya yang terus menggedor kuat. Ia sampai takut jika bajunya sampai robek karena kuatnya jantung itu berdetak.


Henri memegangi dadanya mencoba menenangkan diri.


"Tenang Henri, kenapa kamu jadi gugup begini?"


Pikirannya sudah traveling kemana-mana. Membayangkan Hanin mengenakan linggeri yang tadi dia beli di mall bersama Catty. Wajah putih nan cantik itu sudah memerah dan malu.


Ceklek,


Suara pintu kamar mandi di buka. Jantung Henri makin berdebar kuat, seluruh oksigen seolah pergi entah kemana hingga dadanya menyempit dan butuh asupan.


"Ya Tuhan, kenapa ini?"

__ADS_1


__________


Bersambung


__ADS_2