Suami Meletoy, Istri Perkasa

Suami Meletoy, Istri Perkasa
chap 28


__ADS_3

"Kenapa orang ini ada disini nek?"


"Hanin, dia ini ibu mu... Walau bagaimana pun Jenilah yang melahirkan mu nak, maafkanlah ibumu, semua orang pernah khilaf."


"Maaf nek, ibu ku sudah mati."


"Hanin!"


"Nek, apa nenek tidak sakit oleh sikapnya? Apa yang sudah dia lakukan 18tahun yang lalu pada kita, Apa nenek sudah lupa?" Ucap Hanin dengan bibir bergetar.


"Hanin, ibu mu sudah bertaubat nak."


"Itu tidak menghapus luka hati dan penderitaan kita nek." Ucap Hanin dengan mata berkaca."Dia tidak meninggalkan apapun untuk kita nek. Karena dia kita di cemooh, karena dia kita harus menjalani semua kepahitan itu. Apa dia tau?"


Hanin mengusap pipinya yang mulai basah."Sedikitpun dia tidak memikirkan kita nek."


"Hanin, maafkan ibu nak." Jeni langsung bersujud di kaki anaknya."Ibu kilaf nak. Ibu menyesal, memang pantas kamu marah, ibu salah. Ibu memang ibu yang jahat..."


"Bagus kalau kau sadar."


"Tapi, ibu sudah sadar nak, maafkan ibu. Apa kata maaf saja tak bisa kamu berikan pada ibu nak?" Ucap Jeni mengiba dengan banyak air mata drama.


"Hanin," nenek mendekat pada Hanin yang berguncang bahunya. Walau gadis itu masih terus berusaha menahan agar tak jatuh lagi air matanya.


Nenek mengusap lengan Hanin dan memeluk nya.


"Maafkanlah ibumu nak."


"Pergi! Dari rumah kami. Kau tidak berhak tinggal di sini." Usir Hanin sambil menunjuk pintu keluar.


"Hanin..." Lirih sang nenek.


"Pergi nggak?"


Jeni menggelengkan kepalanya menatap Hanin dari bawah, "maafkan ibu nak."


"Pergi!"


Nenek melepas pelukannya, lalu mengangkat tubuh sang anak. Ia sangat paham dengan perasaan Hanin yang sudah terlanjur terluka oleh sikap Jeni. Oleh kepergian Jeni tanpa memikirkan mereka. Tentu aja, Hanin merasa di buang. Ditambah lagi ejekan dan rundungan yang Hanin dapat di masa kecilnya oleh karena kepergian Jeni.


"Nak, pergilah dulu, biar simbok yang membujuk Hanin."


"Tapi mbok... Tolong, Hanin sudah mengalami hal berat karena mu. Wajar jika dia kini membencimu. Tapi simbok akan tetap berusaha."Jadi, pergilah dulu."


Setelah Jeni akhirnya meninggalkan rumah Hanin dan Nenek. Hanin dengan lemas menjatuhkan tubuhnya pad kursi tamu. Dadanya masih bergemuruh marah. Tak mungkin ia bisa melupakan dan memaafkan begitu saja setelh apa yang dia lalui.


Hanin mengusap wajahnya kasar beberapa kali. Dan terakhir menyembunyikan wajahnya diantara kedua telapak tangannya.

__ADS_1


"Hanin, kamu harus bersabar." Ucap nenek lembut mengusap lengan Hanin.


"Kita, tidak boleh terus-menerus membenci dia. Jeni adalah anakku, dan juga ibumu. Kita tak bisa menghapus fakta itu Nin. Dan maaf kan dia. Tidak baik terus menyimpan dendam dan amarah.


Nenek yakin, Dia pasti udah mempersiapkan diri dengan kembali kemari. Dia udah menyesal, sudah sadar dan mau berubah. Itu yang penting Nin. Berri dia kesempatan untuk membuktikan. Heemm?"


Bahu Hanin berguncang, ia ingat bagaimana orang-orang msnandang dirinya dan sangat meremehkan. Bahkan, ia tak bisa menikah karena tak ada satupun keluarga yang mau berhubungan dengan Jeni nanti. Termasuk ibunya Adam.


Hingga akhirnya mama tantrilah yang datang melamar. Disaat yang lainnya mundur.


###


Siang ini Jeni datang lagi, dengan segala kemanisan sikap mencoba meluluhkan Hanin anaknya. Membantu meladang dan mengirimi makanan.


Setelah hampir tiga hari lamanya, dan Hanin pun sudah cukup berfikir dan berdiam dimalam hari. Juga Nenek yang terus membujuk agar ia memaafkan sang ibu.


Siang itu, saat beristirahat dari meladang.


"Hanin, ini ibu bawakan makanan kesukaan mu. Cobalah." Jeni mennyodorkan rantang berisi sambal kentang."Ibu memasak ini dari subuh. Cicipilah Hanin."


Hanin pun mengambil sesendok sambal kentang lalu memakannya. Jeni dan beberapa ibu-ibu tersenyum, itu pertanda bagus.


Malam hari nya, Jeni kembali membawa minuman jahe, sesuai saran dari Bu sum agar mengantarkan jahe pada Hanin. Yang pasti merasa lelah malam itu.


"Masuklah Jeni." Nenek yang membukakan pintu kala itu. "Kebetulan kami sedang makan. Ayo ikut makan."


Hanin hanya diam dan melanjutkan makannya.


"Tidak apa. Ayo makan." Ucap nenek memutuskan, Jeni mengulas senyum dan mulai ikut makan.


Malam itu, Jeni tidur di rumah nenek dan Hanin. Tidur dikamar simbok.


'Yah, setidaknya aku sudah masuk kerumah ini lagi. Tinggal lanjutkan rencana.' kata Jeni dalam hati saat masih terjaga menatap langit-langit kamar malam itu.


Keesokan harinya, semua berjalan tenang, Hanin juga sudah mulai menerima kehadiran Jeni walau ia masih malas berinteraksi dengan ibunya.


"Kalau seperti ini terus, sepertinya semua akan berjalan lancar." Gumam Jeni menatap langit cerah siang itu.


Hingga menjelang petang, mereka kedatangan keluarga dari besan. Siapa kalau bukan Mama Tantri dan Henri. Jeni terperangah, melihat wanita yang kini sedang anaknya dengan hangat dan penuh senyuman.


"Siapa mereka? Kenapa Hanin memanggilnya mama?"


"Oohh, itu besan mu, Tantri namanya. Dan pria tampan disamping nya adalah Henri, menantimu." Jelas nenek setelah menyalami dan mendapat ciuman pipi dari Tantri dan Henri.


"Apa?" Mulut Jeni membulat sempurna.


"Ini mama Tantri, dan ini Henri suami,ibu." Hanin memperkenalkan."Dan ini anak nenek." Sambung Hanin lagi yang masih sedikit berat mengatakan ibu."Ibu...."

__ADS_1


"A-apa kamu bilang? Dia... Wanita ini besan ku?" Tanya ibu Jeni dengan wajah tegang dan gugup.


"Iya... Ini mama Tantri..." Jelas Hanin.


"Mak Yun, mereka bilang besan ku keluarga dari mak Yun." Ibu jeni.makin gugup mendapati wanita cantik itu tersenyum yang ia sendiri tak dapat mengartikan apa.


"Mama Tantri adalah kerabat Mak Yun. adiknya."


Bruukk!!


Tubuh Jeni, tiba-tiba jatuh terduduk.


"Jadi, ibu Jeni ini adalah besan ku? Ibu mu yang telah lama meninggalkanmu?" Tanya mama Tantri dengan senyum di wajahnya.


"Iya, mama kenal..."


"Tentu saja mama kenal. Benar kan Jeng?" Ucap mama Tantri sembari melirik Jeni yang terduduk lemas.


"Benarkah? Dimana? Hanin nggak tau, ternyata dunia sempit ini."


"Yaahhh, sebenarnya dia ini..."


"Ma-mari kita bicara dulu di luar, nyonya Tantri." Potong Jeni dengan terbata dan gugup akut.


"Kenapa tidak bicara di sini saja?" Tantang mama Tantri disertai senyuman di wajahnya.


Hanin yang bingung dengan kedua ibu nya itu, menautkan alis, menatap mereka bergantian.


"Ada apa ini ma? Bu?"


Jantung Jeni bertalu-talu, keringat dingin mengucur di punggung dan pelipisnya.


'Gawat, bagaimama ini, jika Hanin sampai tau. Habislah aku.' batin Jeni tak karuan. 'Baru aja dia mau memaafkanku, sudah muncul masalah lain lagi.'


"Mama.....?"


bersambung...


Readers, jangan lupa dukung terus ya karya Othor ini. biar semangat buat up terus.


like


komen


gift


vote

__ADS_1


salam


__ADS_2