Suami Meletoy, Istri Perkasa

Suami Meletoy, Istri Perkasa
bab 24


__ADS_3

"Apa yang kau lihat di bawah sana?"


"Lobang "


"Lobang? Lobang apa? Lobang angin?"


"Ck! Tentu saja lobang untuk pithon ku bersarang."


Wajah Hanin menghangat, entah kenapa dia merasa tersipu dan malu.


"Apa masih belum ketemu?"


"Apanya?"


"Lobang..."


"Sudah."


"Terus kenapa masih melihat di bawah sana?"


"Aku pikir ini terlalu kecil untuk pithonku masuk."


"Aaa......" Wajah Hanin sangat memerah sampai ke telinganya."Sudah. Jangan dilihat lagi." Hanin yang sudah terlanjut merasa malu itu menendang pelan dada Henri.


"Aduh."


Henri terjengkang hingga jatuh disamping ranjang.


"Henri, maaf." Ucap Hanin masih dengan wajah yang bersemu."Ayo kita lanjutkan."


"Uuugggghhhh, belum-belum badan ku sudah sakit semua." Keluh Henri bangkit memegangi punggungnya.


Ia merebahkan diri diatas ranjang samping istrinya.


"Jadi, mau dilanjut nggak?"


"Cepek. Sakit." Rengek Henri.


Hanin menghela nafasnya, ia teringat dengan filem yang tadi sempat ia tonton. Lalu merangkak naik diatas tubuh Henri.


"Apa?"


"Diam."


Hanin mulai memimpin. Mengecup setiap bagian tubuh Henri yang ia tau sensitif oleh sentuhan.


"Kau.... Nakal sekali..." Gumam Henri dengan wajah yang sudah memerah. Menikmati setiap sentuhan dari istrinya.


Tubuh Hanin bergerak bagai ular betina yang tengah menggoda pejantan. Bergerak kesana kemari Diatas tubuh Henri. Kelopak mata Henri terasa begitu berat, gelayar-gelayar mengjalari tubuhnya. Semakin membuatnya melayang.


"Hanin..."


Henri mendessaah pelan saat bibir istrinya sampai di pangkal paha. Membuat kecupan yang menjalar ke seluruh tubuhnya.


"Hanin... Aku... Sudah.... Tidak kuat lagi...." Gumamnya menarik tangan Hanin dan membalik tubuhnya hingga ia berada diatas tubuh istrinya. Membelah kaki Hanin dan siap menerjang masuk ke sarangnya.


"Aaarrrgggg... Sakit hen." Pekik Hanin saat pithon nya berusaha menembus sarangnya.


"Sakit?"


Mata Hanin memejam rapat, menggigit bibir bawahnya.


"Apa sakit sekali?"


Hanin mengangguk.


"Aneh, kenapa mereka semua bilang enak? Tapi Hanin malah kesakitan?" Gumam Henri pada dirinya sendiri."Apa mereka membohongiku?"


"Biar kulihat." Gumam Henri lagi melihat kebawah.

__ADS_1


"Sudah jangan!"


Henri terdiam. Ia menjatuhkan tubuh nya dan berbaring disisi Hanin. Henri mengambil lagi hp. Melakukan beberapa pencarian.


"Aaahh,, sepertinya aku kurang melakukan sentuhan rangsangan." Gumam Henri masih fokus pada ponselnya yang menyala itu.


"Maksudmu?"


Hanin tidur miring menatapnya,


"Kamu akan merasakan sakit jika kurang mendapat sentuhan, dan biasanya di malam pertama itu akan robek dan keluar darah perawan. Tapi ada juga yang memang karena sudah mengalami pelebaran karena rangsangan dari sang pria.


Aku, tidak ingin membuatmu sakit Hanin. Bagaimana jika kita perbanyak rangsangan dan tidak terburu-buru?"


Wajah Hanin menghangat, ia pun mengangguk pelan.


"Baiklah, sepertinya kita akan perlu banyak minum dan makanan." Gumam Henri sembari bangkit dan mengenakan lagi pakaiannya.


"Ayo keluar..."


Henri menarik tangan Hanin, membantunya mengenakan pakaiannya. Tak lupa ia mengecup bibir dan kulit tubuh istri nya beberapa kali.


.


.


.


Di dapur, Henri mulai memainkan perannya, sebagai seorang koki profesional. Sementara Hanin hanya menonton saja. Setelah semua siap, mereka kembali ke kamar. Menikmati masakan Henri sembari mengobrol.


"Henri, saat kamu melihat beberapa temanmu dikolam renang, apa yang kamu rasakan?" Tanya Hanin yang duduk sofa dekat balkon kamar.


"Aaarrrggg... Apa Soraya yang mengatakannya?" Balas Henri yang duduk di sebrang istrinya, menyimpan mulutnya dengan lasagna.


"Heemm.. disana ada banyak gadis...."


"Benarkah?"


"Heemm,,"


"Ceritakan padaku."


"Tidak mau."


"Ceritakan padaku..." Rengek Hanin dengan manja.


"Ogah."


Hanin menyipitkan matanya, terdiam sejenak. Sedangkan Henri terus saja memasukkan salad ke mulutnya.


Hanin beranjak dari duduknya memangkas jarak dan duduk di pangkuan Henri.


"Hey, apa-apaan kau ini?"


"Kamu bilang harus ada sedikit rangsangan dari pasangan. Jadi..."


"Bukan seperti ini... Jika seprti ini, justru aku yang..."


Hanin udah membungkam mulut Henri, mata Henri mulai menggantung dan perlahan memejamkan matanya. Bergelut lidah dalam ruang yang sama.


"Apa yang kamu rasakan?" Tanya Hanin menjeda ciumannya.


"Senang."


"Hanya itu?"


"Entahlah, aku belum pernah merasakan ini sebelumnya..."


Hanis tersnyum tipis, ia mulai membuka penutup tubuhnya satu persatu. Sembari terus mendapat sentuhan dari bibir Henri.

__ADS_1


Malam itu, menjadi malam yang sangat panjang bagi keduanya. Hawa dingin malam itu tak mereka rasakan karena hawa panas di dalam diri mereka yang perlahan keluar. Dan berakhir dengan suara jeritan Hanin saat Henri berhasil menembus sarang beracun.


Pagi yang masih gelap itu, mengantarkan mereka terlelap di peraduan. Henri memeluk tubuh istrinya.


"Aku mencintai mu Hanin. Terima kasih."


###


Hari semakin siang. Mama Tantri dan nenek merasa heran karena anak dan cucu nya tak kunjung keluar dari kamar. Sudah tak ikut sarapan, ini pun sudah waktunya makan siang.


"Ada apa ini? Apa mereka baik-baik saja?"


"Iya, tidak biasanya Hanin sampai jam segini belum bangun." Timpal nenek pun merasa heran.


"Apa jangan-jangan mereka sakit?" Gumam mama Tantri dengan khawtir.


"Mungkinkah?"


"Nenek, saya sangat khawatir. Ayo kita lihat dulu." Ajak mama Tantri bergegas ke kamar anaknya.


Tok tok tok.


"Hei? Kalian baik-baik saja?"


"Henri? Hanin?"


Tak ada jawaban meski mereka terus mengetuk berkali-kali. Mama Tantri makin terlihat khawatir.


"Bagaimana ini nek. Jangan-jangan mereka mati didalam?"


"Hus! Kok gitu bicaranya. Mungkin mereka masih tidur."


"Tidak mungkin! Ini kelewat siang."


"Biar aku buka pake kunci duplikat saja." Gumam mama Tantri yang sudah sangat cemas dan khawatir.


Setelah mendapatkan kunci dan membuka pintu. Mama terkejut dengan keadaan kamar yang sangat berantakan. Selimut di mana-mana, pakaian berserakan. Dan ranjang kamar yang kosong.


"Henri?" Mama Tantri tampak sangat khawatir, mulai berkeliling.


"Nak Tantri."sebut nenek melihat ke satu sudut kamar."kita keluar saja."


"Keluar bagaimana?" Protes mama Tantri menoleh pada nenek dengan kesal. Ia sangat khawatir nenek malah mengajak keluar.


"Kita keluar saja. Mereka sedang istirahat."


"Apa? Nenek menemukan mereka?" Mama Tantri mendekat dan ikut melihat ke arah nenek melempar pandangannya.


Mulut mama Tantri terbuka lebar. Melihat Henri dan Hanin tertidur pulas di karpet bulu, saling memeluk tanpa berbusana. Tidur dibawah selimut yang sama yang hanya menutupi bagian pinggang ke bawah.


"Tutup mulut itu, nanti kemasukan lalat. Ayo keluar."


Nenek menarik tangan Tantri keluar dari kamar tanpa suara. Agar pasangan yang masih terlelap setelah pertempuran Semalam.


"Nenek, apa itu artinya Henri sudah normal?" Mama Tantri tertawa girang. Terlihat gurat bahagia disana.


###


Di belahan bumi yang lain.


Seorang wanita berumur 45 tahunan turun dari bus antar kota di desa tertinggal. Ia lalu menaiki bus yang lebih kecil menuju balai desa. Sesampainya ia di balai desa, beristirahat dan memutuskan untuk makan bakso.


"Tempat ini sudah banyak berubah." Gumamnya menatap berkeliling. Ia berjalan memasuki kedai bakso di pasar balai desa.


"Bakso nya satu ya." Ucap wanita itu.


"Kamu... Kamu ibu Jeni kan?"


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2