Suami Meletoy, Istri Perkasa

Suami Meletoy, Istri Perkasa
Chap 39 - End


__ADS_3

Hanin di bawa ke ruang bersalin, dengan sabar dan sayang Henri menunggui sang istri. Menggenggam erat tangan guna menyalurkan energi positif nya. Tangan Henri mengusap kepala Hanin, meniup ubun-ubun nya sembari berdoa dan menguatkan.


Kadang kala Henri mengelap keringat di dahi dan wajah Hanin yang pucat dengan bibir yang kering.


"Bukaan 6, Nin."


"Tunggu sampai pembukaan sempurna, buka'an 10 ya. Selama itu jangan ngeden dulu. Kalau kamu dapat dorongan dari dalam, tarik nafas dan hembuskan, begitu saja terus." Jelas Bu bidan Emi sembari mempraktekan menarik nafas an menghembuskan dengan pergerakan tangannya.


"Dan buat kamu Henri, kasih istrimu makan, dan minum, biar ada tenaga." Sembari mengulurkan pokari dan biskuit keju dengan tangan yang bergetar, Henri menerima dan menyuapi Hanin.


Setelah menanti hampir lima jam lamanya dan perjuangan mengeluarkan si bayi menggemaskan. Hanin dan Henri akhirnya melihat buah hati mereka berjenis kelamin wanita. Dengan penuh rasa syukur Henri menghujani anak gadis nya dengan kecupan.


Menginap selama satu malam, Henri akhirnya membawa bayi berserta mamanya ke rumah yang sudah sangat ramai menyambut anggota baru. Papa dan mama Tantri sudah sangat tak sabar menggendong bayi bergantian.


"Kamu kasih nama siapa nin?" Mama Tantri mencubit gemas pipi gembul cucunya. Sembari duduk berjemur di bawah matahari pagi.


Hanin tersenyum kecil, menyenderkan kepala di bahu sang suami yang langsung melintangkan tangannya di belakang punggung Hanin dan memeluknya.


"Udah kami pikirkan kok."


"Kalau tempat tinggal? Udah kalian putuskan akan di sini atau di kota?"kini ganti papa yang bertanya.


"Di kota aja hen, biar mama bisa ikut jagain si gembul." Timpal mama Tantri sambil membalik tubuh cucunya agar mendapat panas matahari merata.


Hanin dan Henri saling berpandangan.


"Kamu udah ninggalin kerjaan lama banget hen. Papa kan dah bilang, kalau kamu penerus papa. Papa mau pensiun, jadi kalian harus balik ke kota. Kalau kamu nggak mau pisah dari istrimu, sekalian saja bawa ke kantor. Nanti biar gembul papa sama Mama yang jagain."

__ADS_1


Henri dan Hanin tersenyum tipis, enggan menjawab pertanyaan kedua orang tua yang sedang bahagia karena kehadiran cucu pertama yang menggemaskan itu.


.


.


Malam itu seusai makan malam, Hanin membawa piring bekas makan ke dapur. Sementara Henri mengikuti dengan membawa wadah sayur dan piring lauk menumpuknya menjadi satu dan tinggi.


Hanin menyabuninya sedangkan Henri mendekat membilas dan meletakkannya di rak piring yang bersih. Kedua nya hanya diam tanpa suara, Henri sangat tau, Hanin pastilah enggan untuk meninggalkan kampung dan rumah yang penuh dengan kenangan neneknya. Ada banyak hal yang sudah mereka lalui bersama.


Dan Henri tak ingin mengusik dengan meminta Hanin ikut serta ke kota. Namun, Henri juga sudah tak mau berpisah dengan keluarga kecilnya lagi. Ingin selalu menyertai apapun yang terjadi, meski begitu ia juga dilema, ada pekerjaan yang harus dia lakukan agar bisa tetap memberi nafkah bagi anak dan istrinya.


"Apa kamu akan kembali ke kota?"


"Kamu mau ikut?"


"Aku dilema Han. Satu sisi aku ingin bersama kalian, sisi lainnya, aku punya kewajiban untuk menafkahi kalian dan meneruskan usaha papa di kota. Menurutmu, aku harus bagaimana?" Henri balik bertanya pada Hanin ,menatap lekat wanita yang sudah melahirkan putrinya itu.


Hanin menundukkan kepalanya."aku tidak tau."


"Ikutlah dengan ku ke kota Han, kita masih bisa kemari saat liburan. Aku tak mau lagi berpisah dengan kalian. Tak mau jauh dari kalian. Ikutlah aku ke kota, kita bangun Masa depan bersama."


Malam itu, Hanin hanya tiduran tanpa bisa terlelap. Memandang anak gadisnya yang di tidur dengan pulas diantara ia dan Henri.


"Apa kamu mau berpisah dengan papamu sayang? Atau, kamu ingin tinggal dengannya?" Lirih Hanin berucap, ia berganti menatap langit kamarnya, "tempat ini, sudah terlalu banyak menyimpan kenangan. Mungkin biar tersimpan disini. Walau berat untuk meninggalkan. Semoga ini pilihan yang tepat."


.

__ADS_1


.


Keesokan paginya, mama dan papa kembali ke kota karena tak bisa berlama-lama di desa.


"Mama pamit dulu ya, kamu cepatlah menyusul, mama bisa kangen sama si gembul." Mencubit gemas pipi putri yang berada dalam gendongan Hanin.


"Iya ma."


"Beneran ya. Mama tunggu loh."


"Hen, papa tunggu di rumah dan di kantor."


Setelah berpamitan, mama dan papa berangkat ke kota. Sepasang suami istri itu menatap mobil hitam yang perlahan hilang di balik tikungan.


"Bagaimana?" Henri menoleh pada istrinya.


Hanin tersenyum kecil. "Ayo ke kota. Tugas istri memang harus menyertai suaminya. Bukan sebaliknya."


"Hahaha, Hanin, apa kamu lupa? Dari awal kita memang sudah terbalik." Kata Henri dengan senyum di wajahnya.


"Tak penting bagaimana awalnya hen, di akhir kamu sudah menjadi seorang ayah. Bukan lagi pria meletoy."


Keduanya tersenyum, dalam kebersamaan menatap hari yang cerah ini.


"Baiklah, ayo bersiap ke kota."


Dah Abis wweeeee....

__ADS_1


__ADS_2