
Seorang wanita berumur 45 tahunan turun dari bus antar kota di desa tertinggal. Ia lalu menaiki bus yang lebih kecil menuju balai desa. Sesampainya ia di balai desa, beristirahat dan memutuskan untuk makan bakso.
"Tempat ini sudah banyak berubah." Gumamnya menatap berkeliling. Ia berjalan memasuki kedai bakso di pasar balai desa.
"Bakso nya satu ya." Ucap wanita itu.
"Kamu... Kamu ibu Jeni kan?"
Wanita itu tersenyum,
"Kamu Jeni Wulandari kan?" Ucap penduduk desa.
"Iya, aku Jeni Wulandari."
"Wah, hampir ja aku pangling. Kamu udah cantik sekarang. Putih. Lama tinggal di kota ninggalin anak sama neneknya."
Wanita bernama Jeni itu tersenyum kecut. "Kamu siapa ya? Kok aku lupa?"
"Oohh, aku sesama pekerja di ladang nenek waktu itu. Sebelum tanah nya kamu jual."
"Oooohh maaf ya, nggak ingat." Ucap Jeni dengan sedikit tidak ramah sembari memakan baksonya.
"Kamu kenapa kok pulang? Udah dapat suami kaya?"
Seketika Jeni tersedak.
"Apa sih? Datang-datang sok kenal terus nanya-nanya hal pribadi. Nggak ada kerjaan ya? Sana meladang aja. Bikin semak di sini." Hardik Jeni dengan kesal menunjuk pintu keluar.
"Yeee... Sombong banget." Sambil keluar dari warung bakso. Jeni mendengus kembali memakan baksonya.
"Kenapa sih?" Tanya ibu-ibu penduduk desa yang lain.
"Itu, mamak nya Hanin pulang."berkata dengan sinis.
"Mamak nya Hanin? Masih hidup dia?" Suara ibuk-ibuk nomer dua, celingukan kedalam warung.
"Liat aja itu, songong banget. Beda sama sama anaknya yang ramah dan baik." Menunjuk kearah Jeni yang sibuk makan bakso.
"Apa? Lihat-lihat?" Hardik Jeni tidak ramah. Lalu kembali memakan baksonya. Sementara ibu-ibu yang bergosip itu kembali bergumam di depan warung bakso
"Wahh.. ngapain dia balik." Suara ibu-ibu penduduk desa yang lain.
"Jangan-jangan dia udah tau Hanin di nikahi sana tuan muda dan tanahnya kembali."
"Waahh... Dasar mata duitan."
"Apa?" Gumam Jeni menajamkan telinganya.
Mendengar para pembuat gosip yang membicarakan Hanin yang telah menikah dengan seorang dari kota yang kaya. Bahkan telah mendapatkan kembali tanah yang udah Jeni jual. Apa lagi dengan mahar berupa sapi yang banyak. Mata Jeni makin berubah menjadi hijau.
"Sepertinya putri sudah sangat mapan sekarang. Baiklah, aku akan kembali kerumah segera." Gumamnya dengan senyum terkembang di wajah Jeni.
Matahari semakin terik saja, saat Jeni sudah sampai di rumah yang ditunjuk warga. Bangunan yang terbuat dari kayu itu membuat Jeni melongo.
"Apa ini? Bukankah Hanin sudah dinikahi tuan muda kaya? Bagaimana bisa ini menjadi tempat tinggalnya? Apa itu hanya gosip murahan saja?" Geram Jeni merasa dipermainkan.
Dalam bayangannya rumah yang ditinggali oleh Hanin dan juga ibunya yang renta itu sudah besar dan megah. Tapi, ini justru kebaikan nya.
__ADS_1
"Sialan!"
"Loh, kamu Jeni kan?"
Jeni melihat keaarah sumber suara. Bu Sum tampak menautkan alisnya, mencoba menajamkan mata, menyakinkan diri jika yang berada di hadapannya adalah benar ibu Hanin yang minggat ke kota.
"Kamu... Sumiati?"
"Iya... Aku Sumiati. Kamu beneran Jeni kan? Ibunya Hanin?"
Jeni tersenyum canggung. "Iya."
"Waahh, lama sekali kamu nggak pulang. Udah tambah cantik kamu Jeni."
"Aahh, kamu bisa aja sum."
"Gimana keadaan kota."
"Keras Sum. Makanya aku pulang." Ungkap Jeni dengan memasang wajah sedih.
"Ooohhh....."
"Hanin... Sama simbok..." Tanya Jeni sengaja menggantung kan ucapannya, menunggu reaksi dari Sum.
"Ooh, mereka baik, sehat banget malah."
"Kok rumah sepi?"
"Mereka lagi ke kota, tempat besan."
"Apa?"
"Oohh begitu ya. Orang kota mana?"
"Oh itu aku kurang paham. Masih saudaraan sama Mak Yun."
"Mak Yun? Mak Yun yang di petak sembilan itu?"
"Iya."
"Wahh, berarti orang kaya."
Bu sum tersenyum kecut, sudah bisa di bayangkan akan seperti apa nanti nya mengingat Jeni seorang mata duitan.
###
Hanin membuka mata dari tidur lelepnya setelah hampir seminggu ia dan sang nenek menetap di kota.
"Good morning."
Sapaan ramah dari sang suami yang sejak tadi hanya tiduran miring menghadap istrinya dengan menjadikan tangannya sebagai penyangga kepala.
"Kapan kamu bangun?" Hanin mengerjab menatap suaminya dengan mata bantal.
"Dari tadi?"
"Dari tadi? Ngapain aja dari tadi?"
__ADS_1
"Mandangin wajahmu."
Hanin mencolek perut Henri. "Sekarang dah pintar merayu ya?"
"Nggak ngerayu, ini beneran. Dari tadi aku cuma mandangin wajahmu." Ungkap Henri mengangkat kedua jarinya.
"Iya deh, percaya." Ucap Hanin mulai bangkit dengan wajah yang masih sedikit menghangat.
"Tunggu." Henri menarik tangan Hanin hingga tubuh gadis itu kembali terbaring di ranjang.
"Aku sudah selama itu menunggu bangun. Masak mau main pergi aja." Lintas Henri mengukung tubuh sang istri.
Hanin mendelik. "Kamu mau apa?"
"Yaahh, melakukan hal yang biasa suami istri lakukan."
"Henri! Aku baru bangun. Biarkan aku gosok gigi dulu." Pekik Hanin panik menutup mulutnya dengan segera.
"Enggak usah. Ini namanya morning kiss." Henri memajukan tubuhnya menahan tangan Hanin agar berhenti berontak.
"Jangan macam-macam, kau sudah melakukannya semalam."
"Kurang .. aakkkk...." Henri memekik kesakitan."sayang, kenapa kamu gigit tanganku?"
"Makanya jangan nakal." Tukas Hanin berlarian keluar kamar begitu terlepas dari suaminya.
.
.
Di meja makan.
"Hari ini kalian balik ke kampung?"
"Iya ma."
"Aaahh, sayang sekali. Padahal mama masih pengen bersama kalian."
Hanin tersenyum kecil."lain kali mama bisa main ke kampung."
"Kamu tetap tinggal kan hen?" Mama Tantri berganti menatap anak semata wayangnya.
"Iya ma, cuma seminggu, abis tu nyusul hanin ke kampung."
Memang Henri berencana untuk meneruskan perusahaan ayahnya. Sementara Hanin akan kembali lebih dulu ke desa. Henri hari ini mengantar Hanin dan nenek di depan rumah mereka. Karena sudah ada sopir yang siap mengantar sampai ke depan rumah di kampung tertinggal.
"Hati-hati dijalan."
"Hmmm... Kami pergi dulu. " Pamit Hanin mencium tangan suaminya. Ia lalu melangkah hendak memasuki mobil, lengan nya di tarik oleh Henri.
Suaminya itu seolah enggan untuk melepaskan sang istri. Henri memeluk erat tubuh istrinya.
"Jangan terlalu dekat dengan Adam."
Hanin memgulas senyum. "Baiklah."
Bersambung..
__ADS_1