
"Appa ini cukup?"
Soraya menyerahkan beberapa lembar uang pada henri. Pria itu langsung menyerahkannya pada Hanin yang menghitungnya dengan cermat. Lalu gadis itu tersenyum sumringah mengkode Henri jika jumlahnya membuat senang.
"Tentu saja. Terima kasih." Jawab Henri menaikkan alisnya."Jika kau butuh lagi, jangan lupa telpon." Sambung nya sembari membuat gerakan di samping telinganya.
"Okey..."
"O iya, Aku tambahkan sedikit bonus ke akunmu sebagai kado pernikahanmu yang tidak mengundang kami." Lontar Soraya dengan nada yang dibuat sinis, dengan diakhir senyuman yang lebar.
"Terima kasih, nanti aku akan mengeceknya." Jawab Henri.
"Hei! Sudah belum?" Seru Soraya melongokkan pekerja ya yang mengangkut karung-karung di belakang Henri.
"Pas!"
"Kalau kalian ke kota lagi, kabari aku. Dan mampir lah kemari."
"Baiklah. Kami langsung pulang ya." Pamit Henri menepuk lengan Soraya.
Henri berbalik sembari menuntun Hanin untuk kembali ke truk mereka.
"Hei, tunggu." Henri dan Hanin serempak menoleh.
"Bukan kamu Henri, tapi istrimu."
Hanin menunjuk dirinya sendiri.
"Kemarilah sebentar."
Hanin dan Henri saling berpandangan.
"Mau apa?" Tanya Henri dengan mata sedikit memicing.
"Aku tidak akan mengembatnya. Tenang saja. Walau aku suka wanita, tapi tidak akan makan milik temanku sendiri."
Hanin berjalan mendekat, Soraya pun sama, lalu ia berbisik di telinga Hanin.
###
"Apa yang Soraya bilang padamu?"
"Bukan hal penting." Jawab hanin membetulkan posisi duduknya diatas jok mobil.
Henri pun tak ambil pusing. Lalu ia melajukan truk nya menuju desa.
Sesampainya di desa mereka disambut oleh beberapa orang pekerja. Termasuk Bu Sum.
"Wah, kentang dan hasil panen kita dibeli dengan harga dua kali lipat dari kemarin?"
"Sungguh?"
Hanin tersenyum lebar disertai anggukan. "Ini semua berkat Henri."
Bu sum menatap Henri dengan kagum dan haru.
__ADS_1
"Beberapa dari mereka bersedia menjadi langganan. Dan kita dapat satu lagi hasil rekomendasi dari temanku." Sambung Henri sembari memasukkan hp saku celananya.
"Benarkah?"
Wajah Hanin berbinar terang.
Setelah membagi hasil penjualan dan hasil panen, para pekerja pun kembali kerumah.
"Aku.... Sudah sangat berperan kali ini,"
"Iya, hasil yang sangat diluar dugaan." Senyum Hanin masih mengembang.
"MMM... Jadi harusnya aku dapat sesuatu kan?"
"Okey, kamu mau apa?" Tanya Hanin menatap lekat suaminya.
"Aku mau..."
Dari ujung gang pekarangan rumah Hanin tampak sebuah mobil SUV mendekat. Membuat kata-kata Henri terjeda.
"Siapa yang datang?"
"Aahh, itu mobil papa." Seru mama Tantri dari dalam rumah, berlarian keluar dengan senang.
Mobil papa berhenti tepat didepan rumah. Lalu pria paruh baya itu keluar dan disambut pelukann hangat istrinya.
"Papa, mama kangen."
"Kalau kangen, kenapa pergi lama-lama meninggalkan papa sendiri dirumah?"
"Mama kan mengunjungi mantu dan anak mama." Ucap mama cemberut manja.
"Papa, apa papa juga akan menginap disini?" Tanya mama Tantri sembari berjalan beriringan bersama menuju teras.
"Papa akan menginap untuk malam ini."
Hanin menyambut papa dengan menyalami dan mencium punggung tangannya. Henri pun mengikuti. Hal yang bahkan tak pernah ia lakukan.
Papa mengulas senyum senang. "Sepertinya papa sudah melewatkan banyak hal."
"Benar pah, dalam waktu singkat, anak mu ini berubah. Walau belum sepenuhnya menjadi laki-laki." Timpal mama Tantri.
"Dimana nenek?"
"Nenek masih di ladang stroberi." Ungkap Hanin, "Biar Hanin jemput dulu."
"Nggak usah, Nin. Kami saja yang kesana nanti."
"Kalau begitu, Hanin buatin minum dulu ya." Pamit Hanin beranjak masuk kedalam rumah. Yang diangguki mama dan papa serentak.
"Papa kemari karena ingin menjemput mama." Gumam papa sembari memeluk istrinya dengan erat dan gemas. Begitu mereka sampai di teras.
"Uummm.... Mama sangat terharu, tapi mama tak ingin kembali sendiri." Mama Tantri memasang wajah cemberut yang manja menatap sang suami berharap ia mengerti kode darinya.
"Kenapa? Mama kan pulang bareng papa."
__ADS_1
"Yah, mama pingin pulang ditemenin cewe pa, biar ada temen ngbrol yang sealiran."
"Oh, kalau gitu, ajak saja Hanin." Celetuk papa tanpa Beben. Lalu memandang Hanin yang baru saja keluar dengan beberapa gelas kosong dan teko diatas nampan yang dibawanya. Hanin tampak sedikit terkejut. "Ikut kami ke kota ya Nin."
Hanin memandang suami dan mama Tantri."tapi, Hanin masih harus jaga nenek."
"Nenek juga ikut ke kota." Ucap mama Tantri
"Hanin masih ada tangungan ladang, ayah."
"Aahh, ladang kan bisa diserahkan pada Bu Sum dan yang lainnya. Ayolah Hanin,ikut." Bujuk mama Tantri masih dalam pelukan suaminya.
"Nenek juga udah setuju kok waktu tadi mama tawarin, asal kamu ikut." Terang mama Tantri."yaaahh, ikut ya?"
______
Keesokan paginya, seluruh keluarga bertolak ke kota. Berikut nenek dan Hanin. Ladang di serahkan pada Bu Sum dan pekerja lainnya.
Papa dan Henri duduk di depan dan semua wanita di belakangnya. Bercerita entah apa. Sesekali Henri melirik kebelakang dari kaca sepion. Dan tentu saja sang papa yang bermata tajam namun terkesan cuek itu tersenyum melihat anaknya yang terus mencuri pandang.
Sesampainya di kota, Hanin dan nenek di kejutkan oleh rumah mewah di hadapan mereka. Nenek dan Hanin saling berpandangan, rumah itu tentu berkali-kali lipat dari rumah gubuknya di kampung.
"Ayo masuk. Ini juga akan jadi rumahmu nanti Hanin, jadi jangan sungkan." Ajak mama Tantri ramah menuntun nenek masuk lebih dulu.
.
.
Hanin duduk di pinggiran kolam, ia memasukkan kaki-kaki nya hingga menyentuh air.
"Apa kamu mau berenang nak?"
Hanin menggeleng. "Tidak. Hanin tak bisa berenang."
"Kalai begitu, lain kali biar Henri yang ajarin." Lontar mama Tantri sembari berjalan mengelilingi kolam, menuju Gasebo di ujung kolam. Disana nenek dan papa sudah duduk berbincang.
Hanin tersenyum kecil, merasakan keluarga yang sangat hangat itu. Hanin merasa sangat bersyukur. Dari arah belakang nya, Henri mendekat dan duduk di sampingnya. Juga menjulurkan kaki kedalam kolam.
"Kamu masih punya hutang padaku."
"Hutang apa?"
"Permintaan. Kamu bilang akan mengabulkan permintaanku. Waktu di desa aku belum sempat menyebutkan nya."
Hanin tersenyum dengan sangat manis.
"Baiklah katakan."
"Dua."
"Apa yang dua?"
"Permintaan yang harus di kabulkan."
"Okey." Hanin sedikit memiringkan tubuhnya memandang Henri dengan serius.
__ADS_1
"Pertama...."
Bersambung....