Suami Meletoy, Istri Perkasa

Suami Meletoy, Istri Perkasa
Chap 34


__ADS_3

Hanin berjalan mendekat dengan langkah pelan. Ia menerka-nerka, Hanin berhenti tepat didepan tenda. Tangannya terangkat mencoba membuka resleting tenda itu. Ia menelan ludah dengan susah, sembari tangan terus menarik rislesting tenda.


Tenda mulai terbuka, mulut Hanin terbuka, ia segera menutupnya dengan tangannya. Didalam tenda itu Henri sedang meringkuk berbalut selimut kepompong. Pria itu sedang terlelap tanpa menyadari kehadiran Hanin.


"Apa selama ini dia tidur disini?" Gumam Hanin, hatinya mulai tersentuh. Namun mengingat bagaimana Henri meninggalkannya dan perjuangannya hamil seorang diri membuat Hanin menolaknya.


Hanin menutup lagi rislesting tenda. Lalu, ia kembali kedalam rumah. Di kamar nya Hanin di buat tak bisa tidur. Bayangan Henri yang terus berkelebat mengisi otaknya.


Selama hampir satu Minggu ini pria itu terus berada disekitarnya mesti tak datang mendekat, hanya sesekali bertemu pandangan dan melempar senyum tampannya pada Hanin.


"Jangan goyah Hanin, kamu sudah di tinggalkan, lalu dia tiba-tiba datang, jangan dengan mudahnya kamu membuka diri." Gumam Hanin menyusut airmatanya.


Seharian ini Hanin duduk diteras, ia hanya melihat kearah ladang yang di garap oleh Henri. Tidak begitu buruk. Henri sudah berusaha cukup keras. Beberapa kali pandangan mata Hanin dan Henri bertemu, seperti biasa, Henri tersenyum manis padanya, sementara Hanin memilih memalingkan wajahnya.


Hingga Hanin merasa kandung kemih nya penuh. Hanin berjalan masuk kedalam rumah terus berjalan ke belakang rumah dan membuang hajadnya. Hanin kembali lagi ke teras. Ia tertegun, Henri sudah duduk di ujung lantai teras menghadap ladang. Pria itu menoleh melempar senyuman.


Hanin hanya terdiam di ambang pintu. Ia membuang wajahnya dan hendak berbalik, ketika rasa yang enggan dia rasakan dihatinya mulai merayapi.


"Hanin..."


Hanin menghentikan langkahnya.


"Bolehkah... Aku meminta air?"


Hanin membisu, suara Henri cukup menggetarkan hatinya, membuatnya goyah ingin berbalik dan memeluknya. Namun ego akan rasa di tinggalkan membuatnya kuat bertahan.


"Aku... Ambilkan..." Sahut Hanin akhirnya. Henri tersenyum mengiringi tubuh Hanin yang menghilang ke dalam rumah.


Senyum itu masih tersungging mana kala Hanin keluar dengan segelas air putih di tangan. Wanita itu letakkan gelas di atas meja. Ia hendak berbalik masuk kembali kedalam rumah.


"Tunggu, aku tidak akan lama. Hanya akan minum." Ungkap Henri cepat mengambil gelas dan menahan langkah Hanin tanpa menyentuhnya.


Seusai meminum habis dan meletakkan lagi gelas di meja. Henri bergegas pergi. Sebelum ia berbalik dan berkata.


"Tetaplah di sini. Aku sangat senang bisa melihatmu lagi. Aku... Tidak akan mengganggu..."


Henri berjalan menjauh, saat itu semua pekerja sedang beristirahat kembali ke rumah. Jadi, Henri hanya duduk di bawah pohon yang rindang sendiri saja. Karena ini tidak sedang musim panen jadi, tidak banyak yang bisa dikerjakan.

__ADS_1


Hanin masih duduk di teras, menatap suaminya yang sedang menggelar tikar. Lalu tiduran disana, cukup lama Hanin hanya memperhatikan suaminya itu.


Hanin hanya menghela nafasnya,


"Sepagian ini dia makan apa?" Gumam Hanin masih memperhatikan sosok yang tengah tiduran di bawah pohon."Apa yang dia makan selama ini?"


Hanin mengigit bibirnya, ia ingat, selama ini bahkan Hanin tak pernah melihat Henri makan.


"Dia tidak mungkin tidak makan sama sekali kan?" Gumamnya gelisah.


Hanin beranjak dari duduknya lalu berjalan masuk kedapur. Mengambil nasi dan ikan bandeng tak lupa memberi oseng sayur daun bawang yang terlihat pedas menggoda. Ia juga mengisi satu botol tempat minum. Lalu berjalan keluar rumah.


Hanin melangkah dengan perutnya sudah membesar, dengan sebotol minum dan sepiring nasi ditangannya. Ia berjalan ke arah Henri yang masih terlihat tertidur itu.


Kaki Hanin baru melangkah beberapa langkah dari teras. Ia berhenti,melihat seorang ibu-ibu pekerja datang membangunkan Henri. Dan memberinya makanan. Lalu datang yang lain lagi, juga membawa beberapa makanan kecil dan minuman dingin.


Hanin menatap piring dan botol ditangannya. Rasa sedih menelusup ke dadanya.


"Apa yang ku pikirkan. Benar-benar bodoh." Lirihnya, lalu membalikkan badannya, memutuskan niatnya untuk memberi makan Henri. Karena melihat sudah banyak yang peduli padanya.


Tanpa dia sadari, Henri melirik nya di kejauhan dengan pandangan yang entah apa.


"Ada apa buk?"


"Ada apa? Kamu tu jadi istri yang berperasaan sedikit. Suamimu tidur diluar kamu tau nggak?"


Hanin hanya terdiam, ia juga tau itu. Ia pernah melihat sendiri Henri yang tidur di dalam tenda. Tapi kenapa ibu Ning marah kepadanya sekarang.


"Apa kamu sama sekali nggak mikir, dia makan apa? Apa dia kedinginan atau tidak?"


"Maaf Bu, itu bukan urusan saya." Ketus Hanin dengan Bu Ning sibuk ikut campur.


"Bukan urusan saya gimana? Dia itu suami kamu. Kok bukan urusan saya....."


"Bu Ning sudah, jangan urusi rumah tangga orang." Potong Bu welas menarik tangan Bu Ning menjauh, ditangan Bu welas tampak menenteng rantang.


"Tidak bisa Bu, saya jadi kesal sama dia, nggak berperasaan sekali jadi orang.. bla bila bla.."

__ADS_1


Suara Bu Ning makin menjauh.


Hani hanya menghela nafasnya, mereka tak tau bagaimana perasaannya juga apa yang sudah dia lalui selama ini. Kemana pria itu, Sampai membuat Hanin sakit hati.


Mata Hanin bertemu pandang dengan Bu sum. Wanita paruh baya itu tersenyum pada Hanin. Hanin pun membalas dengan sungkan.


"Kamu belum tidur?" Bu sum datang mendekat.


"Ibu dari belakang? Apa ibu juga mau menghakimi ku?"


Bu sum menggeleng, ia langsung mengambil duduk di kursi teras.


"Duduklah, temani ibu ngobrol." Ucap Bu Sum sembari meletakkan rantang nya di meja. Ia membukanya saat Hanin memutuskan untuk ikut duduk.


"Ini makanlah."


Hanin melihat isi rantang itu, hanya minuman teh panas dan beberapa kue serta gorengan.


"Kenapa Bu Sum membawa makanan...."


Bu sum menghela nafasnya, menatap lekat pada Hanin.


"Ibu yakin kamu bukannya tidak tau. Bukankah kamu juga tau dia mendirikan tenda di belakang rumah kalian?"


Hanin hanya menghela nafasnya. Hanin mengusap perutnya yang makin membesar, menutup matanya, mengingat kembali apa yang sudah ia lalui. Terlebih, saat ia membutuhkan Henri di sisi nya di awal kehamilannya yang sangat sulit tanpa didampingi seorang suami.


Namun pria itu tak pernah datang, hanya karena ia menikah demi tanahnya bisa kembali. Tapi, bukankah itu karena mama Tantri yang menawarkan nya? Lalu dimana letak salahnya? Sangat tak adil jika dia ditinggalkan hanya karena itu kan?


"Hanin, ibu tau kamu pasti sangat kecewa oleh sikap Henri. Ibu juga tau bagaimana kamu berjuang selama dia tak ada. Ibu tau bagaimana sedihmu. Tapi..." Ibu sum sengaja menggantung kalimatnya, ia mengulurkan tangannya menyentuh perut Hanin.


"Dia.... Pasti sangat senang jika nanti saat ia melihat dunia untuk pertama kalinya, ada ayahnya."


Bu sum menarik tangannya, ia tersenyum sangat teduh.


"Jika kamu masih marah, marahlah. Jika kamu masih sakit hati, tidak apa-apa. Tapi Hanin, terbukalah demi dia." Kata Bu Sum sembari melirik perut Hanin."Lakukan untuknya... Dia berhak..."


Hanin menunduk. Setelah cukup lama berbincang dengan Bu Sum, Hanin hanya diam didalam rumah. Tentu saja ia memikirkan semua wejangan dari wanita paruh baya yang sudah dia anggap sebagai ibu itu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2