
Hanin terpaku di dalam kamar mandi, ia memandangi tubuh nya yang terpantul di kaca kamar mandi. Melihat gstring dengan kain tipis sepaha berwarna merah muda. Dengan bando yang membentuk telinga kucing.
Di pinggiran wastafel kamar mandi, Hanin melihat lagi sarung tangan berbentuk kaki kucing dan ekor belang yang belum sempat terpasang. Ia menutup wajahnya malu.
"Apa ih yang Henri pikirkan? Malu sekali." Lirihnya. Ia menurunkan tangannya, mengintip penampilannya malam ini.
"Aku tidak mau memakainya. Kenapa harus pakai yang aneh-aneh begini." Gumam Hanin lagi.
Hanin lalu melepas semuanya. Dan menggantinya dengan belitan handuk. Ia kembali mematutkan diri di cermin.
"Begini lebih baik."
Hanin menyentuh dadanya yang berdebar.
"Aneh, kenapa aku jadi gugup begini. Padahal biasanya aku bahkan mempertontonkan tubuhku padanya. Apa karena akan melakukan itu dengan nya?"
Hanin menghela nafas nya. "Sudahlah Hanin, yang penting dia sembuh. Tidak masalah, toh kalian juga sudah menikah. Melayani dia adalah kewajiban, jangan ragu dan menurut saja."
Hanin mulai melangkah kan kakinya mendekati pintu. Menariknya perlahan.
Ceklek.
Pintu terbuka lebar. Hanin berjalan dengan mengigit bibirnya gugup. Wajah Henri terlihat sangat tegang. Ia memindai tubuh Hanin yang hanya berbalut handuk itu.
"Kenapa.... Kamu.... Pakai handuk?" Lirihnya sedikit kecewa.
Hanin menyatukan jarinya.
"Aku.... Malu..."
"Malu?"
"Apa ini tidak bekerja? Apa yang kamu rasakan? Apa pithon mu bereaksi? Apa aku sebaiknya ganti saja?" Berondong Hanin dengan wajah antusias.
"Tidak, tidak usah. Begini saja lebih cepat."
Henri meraih pinggang Hanin lalu melummat bibir lembutnya.
Dalam benak Henri, ia teringat dengan petunjuk dari Catty.
Flash back.
"Bagaimana caranya melakukan itu?" Dahi Catty mengernyit bingung." Itu apa?"
"Hiihh.." Henri sudah tampak bingung dan frustasi ditambah kesal."itu! Yang membuatmu hamil."
"OOO bercinta maksudnya."
"Ssstttt...." Henri mendelik sembari tolah toleh.
"Tidak apa-apa kak, kalau mereka ikut penarasan biar mendekat untuk dengar." Kekeh Catty melihat sekeliling mal yang tampak ramai.
"EHEM, pertama, lakukan pemanasan dulu."
"Pemanasan?"
"Ummm...."
"Maksudnya sepeti perenggangan begitu? Jika tidak lakukan apa badan akan keseleo semua?"
"Ck!" Caty berdecak kesal."padahal Kaka yang dulu asal memasukkan linggeri ke koper ku. Tapi ternyata kamu tidak tau apa-apa." Cemooh Cathy.
__ADS_1
"Sudah, kamu mau memberitahu atau tidak?"
"Tentu Saja. Jangan marah. Maksudnya pemanasan disini adalah, berciuman, melakukan beberapa sentuhan untuk rangsangan. Maksudnya seperti meremas menyentuh, mencium. Yah, semacam itu."
"Kenapa harus seperti itu?"
"Kenapa? Apa dulu saat pelajaran reproduksi Kaka tidur? Atau jangan-jangan membolos?"
Henri tersenyum palsu..
Kembali ke masa kini.
'baiklah, aku sudah melakukan pemanasan. Tubuhku juga sudah mulai panas. Selanjutnya apa?' batin Henri mulai membuat jarak menatap wajah Hanin yang merona dan mata yang tidak terbuka sempurna.
"Apa kamu bereaksi?"
"Kamu mau menyentuhnya?"
Hanin mengulurkan tangannya tepat di pusat Henri.
"Keras... Kamu bereaksi padahal kita baru berciuman."
"Selanjutnya bagaimana?" Celetuk Henri.
"Hah? Kamu tidak tau?" Hanin terkejut.
Henri menggeleng.
"Bu-buka baju dulu."
Henri lalu membuka baju,
"Celananya juga."
"Kenapa kamu memalingkan wajah? Apa tubuhku begitu menjijikkan? Apa aku sangat memalukan." Cerca Henri sedikit tersinggung.
"Bukan, aku hanya malu."
"Aku tidak malu melihat tubuhmu, kenapa kamu malu melihat tubuhku?"
"Sudahlah, tidak usah dibahas, kita lanjutkan lagi saja." Hanin meluruskan pandangannya, melihat lagi tubuh Henri yang polos.
"Ya ampun, Pithon mu sudah tidur lagi." Oceh Hanin menutup wajahnya yang memerah.
"Ini karena aku kesal." Henri membuang wajahnya Dengan menahan malu.
Hanin mendekat dan memeluk leher Henri, ia mendaratkan bibirnya pada bibir sang suami. Saling membelit lidah dan bertukar ludah. Henri memeluk tubuh Hanin dengan lembut menarik handuknya hingga terlepas.
Nafas keduanya memburu. Henri mencium sepanjang leher Hanin, lalu turun ke dadanya. Seperti yang dulu pernah ia lakukan. Meremas bola kenyal dan padat yang menggoda. Bibirnya mengecup setiap inci gundukan itu. Hingga menyentuh puncak kemerahan yang melambai-lambai meminta untuk di gulum.
Henri memakan pucuk yang bagai buah stroberi ranum nan manis. Lidahnya bergoyang dan mengorek nakal. Rasa geli menjalari seluruh tubuh Hanin yang menegang. Tangan nya memeluk kepala Henri dan sesekali meremas rambut gondrong Henri.
Mulut Hanin terbuka, matanya terpejam menikmati gelayar menyenangkan yang merasuki setiap aliran darahnya. Dadanya serasa sangat kencang, apalagi saat tangan Henri sibuk meremmaas. Benda kenyal dan padat itu makin menegang saja.
Henri menatap wajah istrinya, begitu pasrah dengan mata berkabut.
Henri membawa tubuh itu ke pembaringan. Merangkak diatasnya melummmaat lagi bibir mungil Hanin.
"Hanin," bisiknya, Hanin membuka matanya yang sempat terpenam menikmati."selanjutnya bagaimana?"
"Kamu.... Tidak tau?"
__ADS_1
Henri menggeleng.
"Aku juga tidak tau." Hanin pun ikut menggeleng pasrah.
"Haahh?" Henri terkesima, "Lalu bagaimana sekarang?"
"Coba gunakan instingmu."
"Insting yang mana?"
Hanin tercenung sesaat."aahh, iya benar. Kamu kan bukan pria sejati. Tentu saja kamu bingung."
"Apaa? Apa maksudmu aku bukan pria sejati?"
"Kamu kan sedikit bengkok. Tentu saja kamu tidak tau harus memerankan wanita atau laki-laki dalam kasus ini. Itu namanya bukan pria sejati."
"Masuk akal, tapi entah kenapa aku kesal mendengarnya." Henri menjatuhkan diri disamping Hanin.
"Bagaimana kondisi pithon mu?"
"Lihat saja." Ungkap Henri lemas.
Hanin meraba pusat Henri, wajahnya berkerut. "Sudah lembek."
Keduanya mendessaah bersamaan.
"Ah, aku tau." Henri bangkit dari berbaring nya. Lalu mengambil hp dari atas nakas. Melakukan pencarian.
"Aahh, ini dia." Ucapnya dengan wajah berbinar terang sambil menunjukkan pada Hanin.
"Apa?"
Mata Hanin langsung melebar. "Kamu...." Hanin menepuk kuat lengan suaminya.
"Kita sama-sama tidak ahli di bidang ini. Jadi sebaiknya kita belajar dari sini. Hanya satu saja. Nanti kita praktekkan."
Hanin berpikir sejenak.
"Baiklah." Setujunya, Hanin pikir, ide Henri cukup masuk akal, dari pada nanti salah masuk kamar. Pikir Hanin kala itu.
Akhirnya mereka berdua bersama-sama menonton filem kakek Sugiono. Hanin menggigit bibirnya, ini pertama kalinya ia melihat filem seperti itu dan ia merasa jijik sekaligus geli.
"sudah aku tidak sanggup lagi melihatnya." Ungkap Hanin menyerah membalikkan tubuhnya dan terlentang.
Henri menatap wajah istrinya yang saat itu sama-sama tengah menonton dengan posisi tengkurap berselimut kain putih yang tipis. Henri meletakkan hpnya begitu saja. Mengikuti hanin yang berbaring dengan posisi terlentang juga.
Hanin penasaran, melihat adegan semacam ini, apakah Henri bereaksi atau tidak. Tangannya meraba menyentuh burung Henri yang bahkan sangat lembek.
Hanin menghela nafasnya.
"Biasanya, laki-laki akan bereaksi jika melihat filem semacam ini."
"Apa kamu mau bilang lagi aku bukan laki-laki?"
Hanin terdiam sesaat. "Apa aku menyinggung mu?"
Henri menggeser tubuhnya hingga berada diatas tubuh Hanin.
"Sepertinya, aku hanya bereaksi padamu." Ungkap Henri melimmaat bibir lembut istrinya. Tangan Henri mencengkram tanagan Hanin, lalu menuntunnya kebawah dan menyentuh pithon Henri yang bergerak bangun.
"Kita baru sebentar berciuman." Gumam Henri melepas panggutannya.
__ADS_1
"Kenapa... Hanya denganku?"
bersambung...