Suami Meletoy, Istri Perkasa

Suami Meletoy, Istri Perkasa
Chap 38


__ADS_3

"Bidan Emi bilang, biar lancar lahirannya nanti...." Henri mengambangkan kalimatnya melirik dengan jantung berdebar kencang. "Harus... Sering di jengukin ..."


Dengan hati berdebar kencang Henri menunggu jawaban dari Hanin. Akankah dia setuju, ataukah menolaknya. Dari cahaya yang temaram itu, Henri masih menunggu reaksi Hanin. Wajah yang hanya datar tak menunjukkan ekspresi apapun.


Hanya suara rintik hujan yang terdengar dari luar.


'Mungkinkah dia menolak, apakah aku terlalu serakah karena memintanya? Kenapa aku tak bisa mengontrol lisanku, bagaimana jika dia marah? Sudah bisa menyentuh perutnya seperti ini aku sudah sangat senang, hanya karena dia mengijinkanku mencium perutnya lalu aku jadi menuntut lebih.'


"Itu, hanya gurauan bidan Emi, jangan di ambil hati." Suara Hanin memecah keheningan diantara mereka. Henri tersenyum kecut. Menarik tangannya yang sedari tadi mengelus perut Hanin.


"Aku mau tidur. Selamat malam." Ucap Hanin beranjak dari duduknya dan melangkah dengan membawa sebatang lilin sebagai penerang.


"Selamat malam." Balas Henri dengan lesu.


Malam itu, Henri tak bisa tidur. Begitupun dengan Hanin, hanya berbaring terpisah dinding penyekat diantara mereka. Hanin berbaring miring kesisi kiri di kamar. Sementara Henri berbaring menghadap sisi kanan di kursi tamu.


Henri beranjak dari tidurnya. Rasa tak tenang terus merasuki dirinya. Henri merasa gelisah. Ia mengusap wajahnya lalu berdiri dan berjalan ke kamar mandi. Setelah membasuh diri dengan air dingin malam itu. Henri hanya mondar-mandir dan berhenti tepat di depan pintu kamar Hanin. Tangannya terangkat hendak mengetuk, namun nggak jadi. Ia angkat lagi, dan pintu terbuka. Ia terkejut menarik tangannya ke balik pungung.


"Uumm.. aku.."


"Aku tak bisa tidur." Potong Hanin.


"Kenapa? Apa perutmu sakit?"


Hanin mengeleng."punggung ku, pegal."


"Bagaimana kalau, aku urut?"


"Baiklah.".jawab Hanin cepat, berbalik dan berbaring miring di ranjangnya.


Henri ikut masuk kedalam kamar. Duduk di pinggiran tempat tidur Hanin tangannya terulur menyentuh punggung bawah Hanin. Dan perlahan mengurut punggungnya.


Setengah jam berlalu, Henri masih mengurut punggung Hanin dalam keremangan.


"Kalau lelah, kamu boleh beristirahat."


"Aku baik-baik saja." Balas Henri sambil menggosok pungung Hanin.


Hingga ia lelah dan merebahkan diri di samping istrinya sampai pagi.


Keesokan paginya, Hanin membuka mata. Melihat tangan Henri masih menempel di punggungnya. Dan pria itu tertidur di ranjang yang sama dengannya.


Hanin tersenyum tipis. Ia beranjak kekamar mandi, membersihkan diri dan mulai memasak.


"Hanin , maaf, aku ketiduran." Suara Henri dengan nada gelisah dan gugup.

__ADS_1


"Tidak apa."


"Kamu marah?"


"Enggak."


Henri tersenyum lega.


Hari berlalu, malam itu, Hanin meminta Henri mengurut lagi punggungnya yang terasa sangat pegal.


"Anak papa, jangan nakal dan menyiksa mama ya." Celoteh Henri sembari tiduran dan mengurut pungung Hanin."Kasihan mama. Kalau nanti kamu mau keluar, keluarlah dengan cepat, agar mama tidak merasakan kesakitan terlalu lama. Heemm?"


Tiba-tiba Hanin membalikkan tubuhnya dan berhadapan dengan Henri.


"Apppaa aku salah bicara?"


"Tidak." Hanin menarik tangan Henri, melintang di perutnya hingga ke punggung belakangnya bagian bawah.


"Usap lagi."


Henri mngusap punggung Hanin, wajah istrinya yang menghadap kearahnya begitu dekat. Bahkan bibirnya hampir menempel di kening Hanin. Henri menarik nafas dalam-dalam. Lalu memberanikan diri mengecup kening itu. Bibirnya bertahan disana sangat lama.


Lalu bibir itu turun mengecup mata Hanin yang terpejam. Turun lagi hingga ke pipi, tanpa menolakan berarti dari Hanin, membuat Henri menginginkan lebih. Bibir itu bergeser ke sudut bibir Hanin. Menempel cukup lama di sana. Nafas Henri semakin berirama cepat. Menggerakkan bibirnya dan menyesap kuat.


Tanpa penolakan, justru mendapat sambutan dari Hanin. Hati berbunga, Henri mengeratkan pelukannya. Malam yang dingin nan syahdu. Mereka membaur bersama setelah sekian lama.


Hingga malam tiba, mereka bersantap malam dengan sayur pembangkit tenaga dan daging ayam yang dilumuri tepung.


"Hmmm.. kamu ingat apa kata bidan Emi saat terakhir kali kita kontrol?"


Hanin melirik suaminya. "Kenapa?'"


"Ingat nggak?"


"Iya kenapa?" Balas Hanin cuek.


"Harus sering di jengukin biar lancar."


Hanin menghentikan aktifitas makannya."Kamu mau lagi?"


"Boleh?"


.


.

__ADS_1


Malam itu, Hanin dan juga Henri menonton tv duduk bersama di kursi panjang. Henri mengusap perut Hanin, bibirnya melengkung kala merasakan pergerakan dari dalam sana. Ia berpindah posisi. Tidur berbantal paha istrinya dengan wajah yang menghadap ke perut Hanin. Mencium lembut perut yang sudah membuncit itu.


"Dia nanti mirip siapa ya? Kamu atau aku?"


"Terserah, semua sama saja." Balas Hanin sibuk mengganti cenel tivi.


Mendengar jawaban Hanin yang seperti tak bersemangat seperti dirinya, Henri memilih diam dan sesekali mengecup perut Hanin. Sesaat tenang, tangan Henri mulai usil bermain dengan pusar Hanin yang menonjol.


"Geli heenn..."


Henri makin jail memainkan pusar Hanin.


"Dibilang geli kok, bandel." Gemas Hanin menjewer telinga Henri, yang justru tertawa guriihh. Henri menegakkan punggungnya hingga berhadapan dengan sang istri.


"Aku mau nonton tv nggak kliatan..." Sembari menggeser tubuh suaminya. Namun wajah suaminya itu justru semakin mendekat, hingga bibir mereka saling menempel. Tangan Henri menelusup dibawah lutut Hanin dan satu lainnya di bawah punggung sang istri. Berjalan perlahan ke kamar tanpa melepas pangutannya.


.


.


Siang itu, Hanin merasa mulas, beberapa kali bolak balik kekamar mandi tapi tak juga buang hajat. Ia berjalan mondar-mandir tak tenang.


"Hpl masih lama Hanin, kenapa sekarang sudah mulas..." Gumamnya tak tenang dan gelisah. Ia berjalan tertatih ke teras melihat Henri yang masih meladang.


"Henri..."


"Henri!"


Pria itu seperti tak dengar, masih sibuk memberi pupuk.


"Henri!" Teriak Hanin yang sudah tak kuat menahan sakit di pinggang dan perutnya.


Henri menoleh, melihat Hanin yang bersandar memegangi kursi sebagai tumpuan. Gegas dia mendekat dan meletakan sembarang alat pemupuknya.


"Hanin? Kontraksi kah?"


"Aku tidak tau, punggungku sakit. Perutku mulas." Ucap Hanin dengan menahan sakit di wajahnya.


"Kita ke bidan."


Henri menuntun tubuh istrinya masuk ke mobil. Ia berlari sebentar kedalam, mengambil keperluan Hanin dan tas milik calon bayi mereka yang sudah di siapkan didalam tas.


Dengan cemas, Henri melajukan mobilnya sesekali menatap istrinya lalu mengusap sayang kelapa Hanin yang berkeringat menahan sakit.


"Sabar ya, tahan ya, sebentar lagi sampai."

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2