Suami Meletoy, Istri Perkasa

Suami Meletoy, Istri Perkasa
chap 36


__ADS_3

Hanin membuka matanya, hari sudah petang rupanya. Matanya perlahan mengerjab dan memindai seluruh ruangan. Ia sudah berada di kamar tidurnya. Hanin mengusap perutnya yang terasa sangat kencang. Setiap kali terbangun dalam keadaan perut yang sudah membesar seperti itu, ia sering kali merasa punggungnya sakit dan perutnya kencang. Dengan mengusap pelan perutnya, Hanin merasa cukup rileks.


"Apa Henri yang memindahkan ku kemari ya" gumam Hanin turun dari tempat tidurnya.


Hanin berjalan keluar dari kamar. Melewati ruang tamu dan menyibak gorden pintu dapur. Disana Henri baru saja selesai mencuci alat dapur seusai memasak.


"Kau sudah bangun? Ayo makan, aku masak nila asam manis."


Hanin mengangguk pelan dan melanjutkan langkahnya ke kamar mandi.


Di ruang tamu tempat biasa mereka makan bersama, sudah tertata rapi nasi, tempe goreng dan nila asam manis. Hanin duduk, saat itu Henri sedang mengisi nasi di piring.


"Ini..." Henri meletakkan piring berisi nasi dan filet nila ke piring Hanin."untuk mu yang filet aja. Nggak usah nyari duri ikan lagi."


"Aku bisa mengambilnya sendiri." Lirih Hanin mengambil sendok.


"Tidak apa, kamu baru bangun tidur pasti butuh tenaga."


Selepas makan malam. Hanin duduk di teras menyelesaikan rajutan untuk anaknya kelak jika jika sudah lahir. Dari dalam Henri membawa dua minuman jahe hangat dan beberapa potong kue pukis.


"Aku buat jahe hangat, biar nggak dingin." Ucap nya meletakkan nampan yang ia bawa di meja. Kemudian mengambil duduk di kursi yang lain tak jauh dari Hanin.


Istrinya itu tak menoleh hanya terus merajut tanpa memperdulikan Henri yang terus menatap pada Hanin.


"Tadi, tukang pijit nya datang."


Hanin menghentikan sesaat aktifitasnya. Lalu menoleh memandang suaminya.


"Tapi karena aku melihatmu tertidur sangat pulas, jadi aku menyuruhnya pergi dan kembali lagi besok. Maaf, aku tidak tega membangun kanmu." Kata Henri berbohong, pada kenyataannya, tak ada seorang pun yang datang. Ia takut akan membuat Hanin kecewa, hingga ia dengan terpaksa berbohong.


Mata Hanin terus bertumbu pada wajah Henri membuat suaminya itu sedikit salah tingkah.


"UMM... Jika tidak keberatan, aku bisa memijitmu untuk sementara waktu."


Hanin membuang nafasnya. Lalu melanjutkan lagi merajutnya.


"Apa kamu marah?"


Hanin diam. Masih melanjutkan merajut.


"Maaf, aku tidak akan lancang lagi. Jika besok tukang pijit itu datang lagi, aku akan memintanya menunggu." Lirih Henri.


"Tukang pijit itu tidak datang kan?"


"Datang, tapi aku memintanya pergi."


"Kenapa kamu bohong?"


Henri menelan ludahnya,


"Menurutmu, tukang pijit itu laki-laki atau perempuan?"


"Ibu-ibu..."


Hanin tersenyum lucu.

__ADS_1


"Kamu bohong lagi..."


Henri diam ada getar tak menyenangkan di dadanya.


"Jadi, kamu memanggil tukang pijit laki-laki?"


Hanin menatap lekat wajah Henri dan menghentikan aktifitasnya.


"Aku tidak memanggil tukang pijit. Jadi, tidak akan ada tukang pijit yang datang."


Wajah Henri berubah, pupil matanya melebar.


"Lalu, tukang pijit yang kamu suruh pergi itu siapa, Henri?"


"Jadi, kamu membohongiku?"


"Heemm... Aku berbohong... Apa kau merasa di bodohi?" Hanin mengusap perutnya yang tiba-tiba kencang lagi.


"Pulanglah ke kota Henri. Di sini bukan tempat mu." Hanin berdiri hendak masuk ke dalam rumah, namun perutnya serasa kram.


"Aaaakkkk....." Hanin memegangi perutnya dengan satu tangan memegang kursi sebagai penahannya agar tak tumbang. Wajah Hanin yang tampak begitu kesakitan. Mengundang reaksi Henri.


Henri berdiri dengan gelisah dan cemas mendekati Hanin. Memapah tubuh istrinya itu.


"Kenapa? Di mana yang sakit?"


Hanin tak menjawab, namun wajahnya yang menahan rasa sakit mengabarkan.


"Duduk dulu. Kita ke bidan desa."


Henri menuntun tubuh hanin untuk duduk, lalu dia berlalu masuk kedalam rumah, beberapa saat kemudian ia kembali.


"Tidak usah. Ambilkan hp ku saja."


Walau ragu, Henri masuk kedalam mengambil hp Hanin lalu menyerahkannya pada sang istri. Hanin memijit hp nya dari tampatnya berdiri Henri tau, Hanin sedang memencet kontak nomor Adam.


"Ada aku di sini Hanin. Biarkan aku yang mengantarmu ke bidan." Pinta Henri merebut hp milik Hanin.


"Aaaakkkk...." Pekik Hanin menahan sakitnya.


Henri membopong tubuh istri. Tak ingin wanita itu semakin lama menahan rasa sakitnya. Ia berjalan hingga di ujung gang rumah Hanin, dimana dia memarkirkan mobilnya selama ini.


"Bertahanlah, kita kebidan desa."


.


.


.


"Tidak apa, ini hanya kontraksi ringan. Jangan terlalu banyak beraktifitas berat dan jangan banyak pikiran. Jika sudah mendekati hpl memang akan sering mengalami kontraksi." Jelas Bu bidan setelah memeriksa Hanin.


Bidan desa itu menatap tidak suka pada Henri.


"Kau suaminya?"

__ADS_1


Henri mengangguk.


"Kemana saja kau selama ini? Istri hamil bukannya di dampingi..."


"Dia bekerja bidan Emi." Potong Hanin cepat,


"Baiklah dia bekerja." Balas bidan Emi yang masih terlihat kesal pada Henri yang terlihat jelas di wajah pria itu penyesalan yang dalam."kamu istirahat dulu disini. Besok saja pulang, ini sudah cukup malam."


"Hmmm...."


Bidan Emi pergi. Henri bersungut mendekat ke brankar.


"Maaf,"


"Untuk apa?"


"Karena aku sudah pergi dan membiarkan mu sendiri melalui ini."


"Aku tidak sendiri Henri, ada mas Adam yang selalu menemaniku." Ucap Hanin tanpa melihat wajah suaminya."Dia yang selalu menemani ku kontrol dan menjagaku selama ini."


Henri menundukkan kepalanya, rasa nyeri meremas dadanya. Ia tau ini sudah terlambat, namun Henri ingin memperbaikinya.


'Semua memang salah ku. Aku yang pergi, aku yang membiarkan Hanin bergantung pada Adam. Aku yang sudah memberinya celah. Sekuat apapun Hanin tetaplah wanita yang membutuhkan pria disisinya. Tapi aku malah pergi.' batin Henri menyesali, menjambak rambutnya kasar di taman depan kamar Hanin di rawat.


'Betapa tidak berguna nya aku. Hanin lebih memilih Adam disaat aku ada disisinya. Kenapa aku....'


"Kopi!"


Henri mendongakkan kepalanya. Melihat bidan Emi yang mengulurkan segelas kopi padanya yang lalu Henri terima.


"Kau kusut sekali." Ucap bidan Emi duduk di sisi henri.


"Aku tidak mau tau apa yang membuatmu pergi dan kembali lagi. Aku hanya mau kamu tau, Hanin berjuang seorang diri selama ini, dia sering datang sendiri saat kontrol. Aku kasihan padanya, saat yang lain selalu ditemani oleh suaminya. Dia hanya termenung sendiri sambil mengusap perutnya dengan wajah sedih."


Rasa nyeri kembali menelusup di dada Henri. Apa yang sudah ia lakukan selama ini? Kemana dia saat Hanin membutuhkannya? Betapa jahatnya dia pada sang istri, wajar jika sekarang Hanin membencinya.


"Apa Adam...." Henri tak sanggup melanjutkan ucapannya, menunduk dan mengusap wajahnya.


"Adam?" Bidan Emi membisu sesaat."dia pernah mengantar Hanin saat Hanin mengalami pendarahan."


Deg!


Jantung Henri serasa berhenti berdetak. Ia meruntuki sikap dan perbuatannya. Sesal, sudah pasti.


"Hanya saat itu saja aku melihat Adam. Hanin juga hanya rawat inap selama dua hari. Yang kudengar saat itu Hanin sedang bekerja di ladang, mungkin karena kecapekan jadi mengalami pendarahan. Untung tidak parah. Dan saat itu kebetulan ada Adam, jadi Adam yang memaksa mengantar walau Hanin menolak."


Henri menatap wajah sang bidan.


"Asal kamu tau, Adam sudah menikah, dan Hanin tak ingin terlalu dekat dengan Adam, tak mau merepotkan pria yang udah menikah, takut nanti jadi fitnah."


Henri sedikit terkejut, apa yang di ucapkan oleh bidan Emi dan yang Hanin ungkapkan sangat berbeda.


'jadi, apa dia mengatakan semua itu hanya untuk menyakitiku?' pikir Henri dengan wajah sedih.


"Jujur saja Henri, aku sangat kesal padamu, Hanin itu yatim piatu. Neneknya juga sudah meninggal, harusnya kamu sebagai suami mendampingi apapun yang terjadi. Aku tak tau apa yang membuat kamu pergi. Jika benar kamu memang bekerja, alangkah baiknya jika membawa istrimu serta, agar dia merasa tak sendiri saat hamil begini." Sambung bidan Emi. "Sudah malam, sebaiknya kamu istirahat."

__ADS_1


Selepas peninggalan bidan Emi. Henri terus merasakan tekanan menyakitkan di dadanya. Ia berjalan mendekati tempat istrinya tengah tidur. Henri menatap wajah yang tenang itu.


"Maaf... Maafkan aku.."


__ADS_2