Suami Meletoy, Istri Perkasa

Suami Meletoy, Istri Perkasa
Chap 33


__ADS_3

Malam itu, Hanin tidur tak tenang, ia hanya berguling-guling di kasurnya. Ia ingin tau, apa Henri masih didepan rumah atau sudah pergi.


Hanin bangun dari pembaringan. Ia berjalan kedepan, mendekati jendela, lalu menyibak gordennya. Melihat ke arah luar yang remang, hanya lampu dari teras romah dan penerangan dari cahaya bulan. Tak terlihat sosok Henri. Dia mengedarkan pandangannya, melihat sekeliling lagi. Tak ada sesiapapun disana.


"Huuhh, cowok kemayu itu pasti sudah meringkuk di bawah selimut rumahnya yang hangat. Apa yang ku harapkan?" Gumam Hanin menutup kasar gerden yang dia sibak.


Hanin berjalan menuju pembaringan dan mencoba untuk tidur. Tak tarasa malam sudha berganti pagi, Hanin terbangun karena kandung kemih nya terasa penuh. Hanin berjalan menuju WC yang berada di luar rumahnya. Tepatnya di halaman belakang.


Saat itu sudah menunjukan pukul setengah enam pagi. Seusai menuntaskan hajad nya, hanin melihat sekeliling, ia tertegun, Henri tengah merapikan sesuatu, entah apa. Ia tersenyum pada Hanin yang tertangkap basah sedang melihatnya.


Hanin membuang nafasnya lalu berjalan masuk ke dalam rumah lagi.


"Kenapa dia pagi-pagi sudah kemari." Gumam Hanin antara jengkel dan juga senang. "Aku bukan nya senang di sudah ada disini."


Hanin masih mengurung diri di dalam rumah, sesekali ia mengintip apa yang Henri kerjakan. Dan seperti biasa, laki-laki itu sibuk meladang, saat ia merasa begitu gerah Henri melepas bajunya. Tubuhnya yang makin berisi dan berotot saja sejak sering mengantikan Hanin meladang, karena istrinya itu enggan beertemu dengannya dan hanya mengurung diri di dalam rumah.


Hanin menelan ludahnya, ibu-ibuk yang meladang di sekitar pun terlihat terpesona oleh pria lembek yang mulai menunjukkan kejantanannya.


Hanin tertawa jengkel melihatnya.


"Apaan? Sekarang mulai pamer dia." Dengus Hanin menutup kasar gorden jendelanya.


Ia mulai merajut sepatu untuk bayinya yang sebentar lagi lahir. Dari luar terdengar suara deru mobil yang berhenti. Hanin melongok. Lalu meninggalkan aktifitasnya, melihat siapa yang datang.


Hanin menyibak horden jendela dekat pintu rumahnya. Dari sana ia melihat Adam baru saja turun dari mobil dan melihat kearah Henri lalu kembali melangkah ke teras. Hanin langsung membuka pintu sebelum Adam mengetuk. Pria tampan itu tersenyum padanya.


"Hai, bagaimana keadaanmu?"


"Yaahh, seperti ini."


Adam melihat lagi kearah Henri yang sepertinya melihat juga kearah nya.


"Dia kembali?" Tanya Adam berganti menatap Hanin.


"Heemm..."


"Oohh...."

__ADS_1


"Duduklah mas Adam." Hanin mempersilahkan Adam duduk di bangku panjang teras. "Hanin buatin minum dulu."


"Nggak usah nin. Aku cuma bentar kok." Tolak Adam mengangkat tanganya.


"Ada apa mas?"


"Ini, oleh-oleh." Ucap Adam menyodorkan paperbag yang sedari tadi ia bawa.


"Makasih,"


Di kejauhan, Henri hanya menatap istri nya tang sedang berbincang dan tersenyum pada Adam. Hati marasa sangat sakit, tapi mau bagaimana lagi, sejak awal ialah yang memberi celah bagi Adam untuk mendekat.


Ditambah Henri dengan sadar meninggalkan Hanin yang tengah hamil sendirian hanya karena ia marah.


Apa salahnya jika Hanin menerima tawaran dari mamanya? Apa salahnya jika Hanin bersedia menikah dengannya karena uang. Toh, itu dilakukan untuk merubahnya menjadi pria sejati. Harusnya ia juga sadar, Hanin dengan telaten dan tulus padanya hingga akhirnya mampu membuatnya jatuh cinta.


Henri menghela nafasnya. Ia sudah bertekat bahwa akan terus berada disisi Hanin. Sampai wanita itu benar-benar memaafkannya. Dan membuka hatinya lagi. Wanita yang bahkan bersedia mengandung anaknya, yang memilih pergi hanya karena alasan yang sebenarnya masih bisa dimaafkan.


"Hei?"


Henri menoleh pada ibu-ibu yang berdiri tak jauh darinya, yang juga melihat kearah yang sama.


"Benar, dia itu istri mu, tak seharusnya dia membiarkanmu di luar semetara dia justru menerima pria lain." Timpal ibu-ibu pekerja yang lain.


Henri hanya mengulas senyum. Ia memang marasa kesal tapi, ia berusaha menahannya. Agar tak membuat Hanin makin marah padanya. Disini dialah yang bersalah.


"Haaahhh,, jangan seperti itu, Adam lah yang sudah menemani Hanin selama ini, kemana pria ini selama ini?" Sahut ibu-ibu yang pro dengan Adam.


"Tapi, tetap saja, Henri ini suaminya. Harusnya Hanin lebih menghargai Henri,"


"Hei, siapa suruh dia kemarin pergi? Inilah buah dari yang dia tanam." Sinis ibu-ibu yang lain lagi.


"Tetap saja, Henri ini adalah suaminya. Tidak sepatutnya....."


"Ibu-ibu, mari kita bekerja lagi." Ucap Henri lembut dan melanjutkan meladang. Mencoba tegar meski hatinya hancur. Setiap ia melirik kearah teras rumah Hanin, Dimana disana istrinya sedang menemui pria lain saingannya.


###

__ADS_1


"Hati hati mas Adam. Terima kasih oleh-oleh nya."


"Jika butuh apa-apa, panggil aku. Aku pasti akan segera datang."


"Baiklah,"


Mobil yang Adam kendarai mulai bergerak menjauh. Dan Hanin masih menatap mobil itu hingga hilang di ujung gang. Saat itu mata Hanin dan mata Henri bersiborok. Dengan cepat Hanin memalingkan wajahnya lalu bergegas masuk kedalam rumah.


Malam itu Hanin membuka pintu depan rumahnya, seorang ibu-ibu tetangga membawa serantang ditangannya tersenyum pada Hanin. Namun hanya melewati saja, dan terus berjalan ke arah belakang rumah.


Hanin bertanya-tanya tapi ia tak terlalu kepo. Ibu itu lalu terlihat muncul dari samping rumahnya tanpa rantang ditangannya. Lewat begitu saja.


Tak lama ibu tetangga yang lain juga melakukan hal yang sama Hanin mengernyit heran.


"Kenapa dengan mereka." Gumam Hanin. Ia coba menyapa namun, ibu tetangga itu seperti tak perduli padanya.


"Apa salahku padanya?" Gumam Hanin lagi semakin heran. Lalu ia putuskan masuk saja kedalam rumah.


Keesokan paginya, Hanin hendak mengambil sayur yang ia tanam di halaman belakang. Ia tertegun di ambang pintu dapur yang menghadap ke arah belakang rumah.


Henri yang tengah melipat beberapa tongkat dan memasukkan kedalam sebuah tas tersenyum pada Hanin.


"Selamat pagi." Sapa Henri lembut.


Hanin membuang nafasnya, ia berjalan begitu saja mengambil beberapa sayur dan langsung masuk kedalam rumah.


"Kenapa sepagi ini dia sudah ada disini?" Gumam Hanin begitu menutup pintu dapur. Hanin menggeleng, "lupakan. Jangan terpengaruh olehnya."


Sudah hampir satu Minggu, Hanin memperhatikan Henri yang Sibuk meladang, melihat ibuk-ibuk tetangga sering melintas ke halaman belakang, juga melihat Henri yang pagi-pagi sekali sudah ada di belakang rumah dengan aktifitas nya yang entah apa.


Malam itu, Hanin merasa tak tenang, ia ingin buang air besar dibelakang rumah. Hanin membuka pintu dapur, lalu bergegas memasuki WC dan menuntaskan hajadnya.


Selama ia berada di dalam bilik merenung,


"Rasanya tadi aku seperti melihat sesuatu yang asing di belakang rumah. Sesuatau yang bercahaya." Gumam Hanin berfikir.


Setelah menyelesaikan urusannya, Hanin melangkah ke halaman belakang, ia terkejut, sebuah tenda berdiri tegak dengan cahaya remang dari dalam tenda itu. Didepan tenda terlihat ada tumpukan kayu yang masih menyala Baranya.

__ADS_1


Hanin berjalan mendekat dengan langkah pelan. Ia menerka-nerka, Hanin berhenti tepat didepan tenda. Tangannya terangkat mencoba membuka resleting tenda itu. Ia menelan ludah dengan susah, sembari tangan terus menarik rislesting tenda.


Bersambung...


__ADS_2