Suami Meletoy, Istri Perkasa

Suami Meletoy, Istri Perkasa
chap 29


__ADS_3

"Hanin! Semvak ku dimana ya?" Suara seruan Henri dari dalam kamar. Pria itu langsung berniat mengganti bajunya begitu sampai. Dan langsung masuk ke kamar setelah memberi salam mertuanya.


"Iya."


Hanin bergegas masuk ke dalam kamar. Begitu Hanin tak terlihat lagi, Jeni merasa sangat lega. Jeni menatap Tantri dengan mengiba.


"Nyonya, tolong..."


"Ayo keluar." Ajak Tantri dengan wajah yang sedikit garang, tentu membuat Jeni bergidig.


Sesampainya mereka di ladang jagung bekalang rumah. Tantri menatap jengah pada Jeni yang terus memasang tampang memelas.


"Kau bilang akan menghilang dari hadapanku." Ucap mama Tantri dengan tangan yang dia lipat di dadanya.


"Sa-saya memang bermaksud untuk pergi."


Mama Tantri menghela nafasnya kasar.


"Jadi, kamu mamanya Hanin? Dunia ini sempit sekali, bagaimana bisa wanita selingkuhan teman suami temanku adalah mama nya Hanin. Wanita yang juga mencoba merayu suamiku. Untung saja dia cukup pintar dan tidak tergoda oleh mu." Ucap Tantri dengan pandangan merendahkan.


"Sekarang, aku mau kamu pergi juga dari sini, jangan usik Hanin dan juga anakku."


"Ta-tapi.... Saya harus kemana? Sa-saya sudah tak punya tempat lain."


"Itu urusan mu! Atau aku harus bertindak lebih lagi dari yang dulu?"


"Ti-tidak! Maafkan saya." ibu Jeni memelas.


"Bagus, sekarang pergilah, sebelum Hanin dan nenek mengetahui semuanya. Apa yang membuat mu kembali ke desa ini, dan juga semua kegatelan mu yang gagal." Mama Tantri menyipitkan matanya penuh ancaman.


"Tapi, malam ini, kemana aku harus pergi?"


"Terserah."


"Nyonya, saya mohon. Malam ini saja. Biarkan saya menginap di sini. Besok pagi sekali, saya akan langsung pergi. Saya janji." Mohon Jeni mengiba, agar Tantri merasa sedikit kasihan padanya.


"Baiklah, hanya malam ini."


###


Malam itu, terasa sangat sunyi, semua anggota keluarga terlelap. Begitupun dengan Mama Tantri yang tidur di kamar nenek, bertiga dengan Jeni juga. Wanita paruh baya yang baru tiga Minggu tinggal di desa tertinggal itu membuka matanya.

__ADS_1


Jeni melirik Tantri yang terlihat pulas, juga nenek. Ia bangun dengan perlahan.


"Aku nggak bisa kalah begitu saja. Jika aku tak bisa mendapatkan saat mereka sadar. Maka aku akan mengambilnya saat mereka tidur. Hihihi...' batin Jeni bangkit dari tempat tidur.


"Aku harus mencari dimana surat-surat berharga itu berada." Jeni terus mbatin Sembari membuka lemari dan mencari.


'Kenapa tidak ada? Apa di kamarnya Hanin?'


Jeni berfikir keras sembari mengusap dagunya.'Tapi dulu aku sudah mencarinya, kenapa tidak ada waktu itu. Apa di tempat lain?'


Jeni bersungut keluar kamar. Ia berjalan mengendap ke kamar Hanin. Membuka pintu perlahan lalu mengendap masuk. Hanin dan Henri tanpak pulas dengan tubuh berhadapan.


Jeni mulai membuka lemari perlahan, dengan jantung terus berdegup kencang ia mencari dengan cepat diantara tumpukan baju-baju. Namun, tidak menemukannya. Lalu Jeni mendongak, diatas lemari, Jeni melihat satu kotak terbuat dari kayu.


'Apa mungkin itu?' pikir Jeni menerka. Jeni melihat lagi kearah anak dan mantunya tertidur. Mereka masih terlihat sangat lelap. Jeni berjalan pelan mengambil kursi di depan meja rias. Lalu meletakkannya depan lemari sebagai pijakan.


Jeni mengambil kotak kayu itu dengan hati-hati. Jantung nya masih berdebar dengan sangat kuat. Setelah selamat memijaknan kaki di atas lantai. Jeni bergegas membuka kotak itu.


Wajah Jeni langsng sumringah melihat banyaknya perhiasan beserta suratnya di sana. Dia memgolak-alik perhiasan emas itu.


'kemana Hanin menyimpan akta tanah nya? Kenapa tak ada disini?' pikir Jeni melirik Hanin yang masih terbaring di tempat tidur.'Sudahlah, amankan dulu perhiasannya.'


'Ini sertifikasi tanah rumah ini.Lalu di mana yang lainnya. Masa hanya ini?' Pikir Jeni celingukan lagi. Akan tetapi di sana tetap bersih. Tak ada yang lain.


Terdengar suara Henri yang cukup mengagetkannya. Hingga Jeni dengan berdebar keras mencoba menggerakkan kepala.


"Huuufff... Syukurlah." Gumam Jeni melihat Henri masih pulas, 'ia mengigau rupanya. Bikin jantungan saja.'


Gegas Jeni mengembalikan kotak ditempat semula dan mengambil sertifikasi serta perhiasan itu. Lalu berjalan mengendap keluar.


"Bagus, aku udah dapat semua, sekarang waktunya bergegas pergi. Hihihi..." Gumam Jeni girang."Tak masalah jika nggak dapat sertifikat yang tanah itu. Ini cukup aku gadai dan jual, sudah dapat uang."


Jeni memasukkan beberapa barangnya, saat itu sudah hampir pagi, dengan langkah cepat Jeni berjalan keluar rumah. Langit diatas masih gelap, masih di penuhi dengan gemerlap gemintang di angkasa raya.


"Aku harus bergegas sebelum ketahuan, ikut angkot pagi ke kota. Lalu pergi ke pulau seberang, mereka nggak kan bisa nemuin aku. Kikikikik...."


Jeni berjalan hingga sampai di balai desa, disana sudah cukup ramai. Ia berjalan dan bersikap biasa saja, agar tak ada yang curiga jika dia sudah mengambil banyak dari rumah. Dan kini berencana mau minggat.


Saat hendak memasuki angkot. Ia terkejut, melihat sesosok sudah duduk di sana. Di depan pintu angkot.


"Hai, kau mau kemana?"

__ADS_1


Jeni menjadi gusar, rasa gugup dan takut menjalari tubuhnya.


'Kenapa dia bisa ada disini.'


"Belum kapok juga ya?" Ucap laki-laki itu.


'Sial! Kalau kek gini, mending kabur aja.' pikir Jeni berbalik dengan cepat hendak kabur. Akan tetapi ia kembali dikejutkan oleh seorang wanita yang seumuran dengannya. Tersenyum dengan licik dan penuh kemenangan.


"Mau kabur lagi Jallang? Sudah di balikin ternyata kamu nggak kapok juga." Ujar mama Tantri yang terlihat begitu geram dengan polah tingkah besannya ini.


"Aa... Ka-kalian..." Jeni terbata dengan tangan yang gemetar. Ia memeluk tas yang berisi benda berharga. 'Gawat kalau kek gini.'


"Aku sudah bisa membaca tingkahmu, semua gerak-gerik mu sudah aku rekam. Juga dengan kamu yang sudah membawa kabur harta benda milik Hanin. Jadi menyerahlah."


"Ti-tidak, aku mohon ..." Pinta Jeni mengiba."To-tolong lepaskan aku. Akan ku kembalikan semua."


Mama Tantri tersenyum meremehkan. Sosok pria yang duduk di dalam angkot itu pun perlahan keluar. Ia adalah ayah Henri.


"Kenapa kamu masih melakukan ini? Kamu apa tidak lelah? Hanin anakmu, bagaimana bisa kamu sampai hati melakukan ini?" Ucap nya dengan menggelengkan kepala.


'Sial, bagaimanapun caranya aku harus lepas dari ini.'


"Ibu?"


Suara Hanin beberapa meter jauhnya dari belakang Tantri, dengan Henri disampingnya.


"Hanin..."


bersambung...


Readers, jangan lupa dukung Othor ya, semangati Othor biar up date terus.


like


komen


gift


vote


terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2