Suami Meletoy, Istri Perkasa

Suami Meletoy, Istri Perkasa
chap 27


__ADS_3

Simbok... Aku pulang... Hanin anakku..."


Jeni berjalan pelan mendeekati teras. Melangkahkan kakinya menapaki teras rumah yang ada beberapa orang di sana. Nenek masih mematung di kursinya. Begitu pun dengan Hanin. Masih terdiam di ambang pintu.


"Siapa....."


Hening..


"Siapa kamu?" Seru Hanin dengan wajah yang tampak merah karena menahan marahnya.


"Siapa kamu berani menginjakkan kaki di rumah kami!?"


Semua terdiam, Jeni pun tampak sangat terkejut . Walau sebenarnya ia cukup mempertimbangkan reaksi Hanin yang akan seperti ini.


"Hanin?" Jeni berjalan mendekat pada anaknya dengan wajah gugup dan gelisah akan penolakan anaknya. Mau tinggal di mana dia jika Hanin dan nenek sampai mengusir nya.


"Hanin, ini ibu nak." Ungkap Jeni dengan wajah memelas. Lebih tepatnya di buat memelas.


"Ibu? Ibu yang mana? Aku tak punya ibuk."


"Hanin..." Jeni mendekat mencoba meraih tangan Hanin, namun anaknya gegas menampiknya dengan cepat.


"Ibuku sudah lama mati!"


"Hanin, maaf kan ibu nak. Ibu terpaksa." Tangis Jeni mendrama. Menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Nenek, merasa iba, walau bagaimanapun. Sejahat apapun, anaknya itu dulu tega menjual semua benda berharga berikut dengan tanah miliknya. Tanpa meninggalkan sepeserpun dengan Hanin kecil.


Nenek mendekat hendak mendekap erat sang anak yang menangis itu. Dengan cepat Hanin menarik tubuh nenek kearahnya.


"Nenek. Dia sudah membuang kita. Buat aapa merasa iba. Ayo kita masuk nek." Hanin menuntung sang nenek kedalam rumah.


"Tapi nin..."


"Nenek...." Hanin dengan penuh permohonan. "Jangan bukakan pintu untuknya. Dia orang asing! Orang yang tega meninggalkan kita."


Setelah mendudukkan sang nenek di ruang tamu. Hanin bergegas membawa semua barang yang masih di teras ke ruang tamu.


"Hanin..maafkan ibu nak." Pinta ibunya mengiba. Namun, Hanin tetap acuh dan tak perduli. Membawa barangnya masuk. Tinggal satu tas terakhir. Jeni yang sungguh merasa diabaikan dan kesal karena tak berhasil. Menjatuhkan dirinya ke lantai teras dan memeluk kaki Hanin.


"Maaafkan ibu nak. Pliiss... Ibu sudah sadar ibu salah. Ibu sudah bertaubat. Maafkan ibu dan terima ibu kembali nak."


"Lepaskan aku nyonyah, aku tak ingin kasar pada wanita tua. Lepas." Ucap Hanin mencoba menarik kakinya.


"Hanin..."

__ADS_1


Merasa Hanin begitu tak perduli, Jeni melirik nenek yang duduk di kursi tamu dengan wajah sedih dan air mata berderai.


"Simbok... Ampuni Jeni mbok. Maaf kan Jeni." Ungkap Jeni masih diteras memeluk kaki Hanin menatap sang ibu.


Karena sudah terlalu kesal. Hanin melepas pelukan tangan sang ibu. Melangkah masuk kedalam rumah dan menutup pintu rapat-rapat dengan kasar.


"Hanin! Simbok! Maaf kan Jeni! Tolong kasih ibu kesempatan! Hanin!" Jeni menggedor pintu sembari memohon.


Hanin sendiri memilih duduk di ruang tamu bersama sang nenek yang menatap lekat padanya.


"Ndok..."


Hanin mengangkat tangannya menolak.


"Nggak nek. Dia udah membuang kita. Apa nenek lupa? Bagaimana keras nya saat dulu kita tak berumah, tak ber uang. Seenaknya sekrang dia kembali. Dan minta di terima dengan mudah." Ucap Hanin dengan penuh luapan emosi dan wajah yang memerah menahan marah.


Sementara di luar, Jeni masih meraung mengetuk pintu rumah.


Bu Sum, dan yang lainnya hanya saling pandang. Mereka juga tau bagaimana Jeni meninggalkan keluarganya dan bagaimana perjuangan nenek membesarkan Hanin.


Bu sum maklum dengan sikap Hanin yang menolak ibunya kembali. Juga mengerti akan hati nenek yang lembut dan dengan mudahnya memaafkan anaknya walau sudah di buat sesusah itu. Mungkin juga karena sudah banyak makan asam garam dan saking rindunya dengan anak yang tega meninggalkannya begitu saja.


"Sudah Jeni." Ucap bu sum lembut menyentuh pundak Jeni.


Jeni melirik Bu welas Dengan mata tak suka.


"Jeni, harusnya kamu itu menyesal karena sudah meninggalkan Hanin dan simbok mu. Sekarang malah pulang tanpa rasa malu dan bersalah."


"Wel, jangan asal kamu. Aku terpaksa tau. Kamu pikir aku mau ninggalin anak aku?"


"Helleh, nyatanya emang kamu tinggalin."


"Aku sudah berubah, aku menyesal. Apa setiap orang nggak boleh berubah? Semua punya masa lalu." Tangis Jeni mengiba.


"Helehh..."


"Udahlah Bu welas." Bu Sum menggelengkan kepalanya, meminta untuk berhenti.


Mulut Bu Welas sudah monyong ke kiri dan ke kanan. Kelihatan sekali ia kesal pada Jeni.


"Iya Bu welas. Ayo kita balik lagi ke ladang." Ajak ibu-ibu yang lain.


"Iya nggak usah ikut campur."


Beberapa ibu-ibu sudah berjalan pergi ke arah ladang. Sementara Jeni dan Bu Sum masih disana.

__ADS_1


"Bu, mendingan Bu Jeni sementara tenangin diri dulu. Jangan usik Hanin. Dia masih sangat marah dengan ibu yang minggat lalu tiba-tiba datang."


Jeni melotot.


"Jadi? Maksud Bu Sum aku harus gimana? Di sini aku tinggal kalau..."


Tiba-tiba pintu di buka. Hanin tampak keluar dengan muka masam. Walau begitu, Jeni senang, ia berkesempatan untuk membujuk Hanin. Namun alangkah terkejutnya ia, Hanin justru mengeluarkan koper beserta barang dan bajunya. Lalu gadis itu menutup lagi pintu rapat-rapat.


"Hanin! Jangan egois. Apa kamu berfikir untuk mengusir ibu? Haahhh?"


"Sudah... Kamu kek gini malah bikin Hanin makin marah dan jadi membencimu. Nanti tidur di rumah ku dulu juga nggak papa."


Hari berlalu, ibu Jeni terpaksa tinggal di rumah Bu sum. Hanin juga masih belum mau menerima Jeni.


"Kalau kayak gini, aku tak akan dapat apa-apa. Paling tidak ku harus dapat sebagian tanah ini." Gumam Jeni, berfikir keras bagaimana cara meluluhkan anaknya. "Apa ku rayu simbok dulu ya? Kulihat, kemarin simbok sudah memaafkanku. Sepertinya."


Jeni terus mondar mandir saja di dekat ladang.


"Baiklah."


Jeni bertekat untuk menemui ibunya. Ia mendatangi ladang setroberi. Begitu melihat sang ibu, Jeni memasang tampang memelas dan sedih. Lalu mendekati sang ibu.


"Simbok..."


Nenek menoleh, ia melihat Jeni berdiri tak jauh darinya. Berlarian dan memeluk kakinya.


"Simbok, maafkan Jeni mbok. Anak simbok ini sudah kuwalat, sudah menyesal.. maafkan Jeni mbok." Tangis Jeni mengiba. Meraung memeluk kaki ibunya.


"Sudahlah Jen, yang lalu biarlah berlalu." Nenek menyentuh pundak Jeni lalu mengusap punggungnya. "Ayo ikut ibuk duduk disana."


Jeni mulai bercerita dan mengarang-ngarang. Nenek, tentu aja merasa sangat iba dengan nasib Jeni yang terlunta-lunta di kota, berdasarkan cerita anaknya itu.


"Karena itu mbok, Jeni pulang, Jeni sudah tak punya apa-apa dan siapa-siapa lagi. Simbok maafin Jeni kan?"


"Iya, simbok maafin kamu. Yang namanya orang tua itu pasti maafin kesalahan anaknya apapun itu."


" Karena itu mbok, Hanin... Tolong bujuk Hanin untuk memaafkan aku."


Nenek menghela nafasnya susah.


"Simbok nggak bisa janji. Hanin itu sudah sangat sakit hati sama kamu. Kamu tinggalin dia saat masih kecil. Banyak hal berat yang udah dia alami karenanya. Jadi, kamu harus bersabar."


"Tapi mbok..." Jeni memelas.'yah, percuma aku sujud-sujud sama simbok kalau kek gini. Nggak dapet apa-apa.' tentu yang ini hanya dalam hati saja terucap.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2