Suami Meletoy, Istri Perkasa

Suami Meletoy, Istri Perkasa
chap 37


__ADS_3

Selepas kembali dari bidan. Henri lebih banyak memberi perhatian, lebih banyak tersenyum dan melayani Hanin. Walau masih merasa kesal pada Henri, namun sikap dan perilaku melayani yang Henri tujukan padanya cukup membuat Hanin bergantung.


Setiap kali Hanin mengeluh punggungnya sakit. Henri sigap mengurut pinggang dan punggung Hanin. Seperti malam ini, Henri mengurut pelan punggung Hanin sembari menonton tv bersama.


"Boleh aku mencium perutmu?" Tanya Henri meminta ijin. Hanin hanya diam tak menggubris walau dalam hatinya ia bersorak iya. Namun, ia masih menjaga sikap agar Henri tak seenaknya pergi seperti dulu dan mengurangi kasih sayang dan perhatian dia vurahkan karena sudah berhasil membuat Hanin luluh. Hanin tak mau itu.


"Aku ingin mencium perutmu."


"Heemmm..." Hanin berdehem malas. Walau batinnya berkata:'udah kalau mau cium ya cium aja. Paling nanti aku hanya akan pura-pura marah kalau kamu nggak minta ijin. Tapi aku seneng kok.'


Henri membungkukkan badannya, jantung Hanin terus pacu, seiring dengan sentuhan lembut dari bibir Henri di atas perut yang membuncit di balik baju dasternya. Hani merasakan yang di dalam perut sana bergerak.


"Eehh, dia bergerak." Celoteh Henri kaget mengangkat kepalanya. senyum nya mengembang, wajahnya terlihat bahagia. Tangan Henri perlahan meraba perut sang istri, yang di dalam sana pun sepertinya merespon dengan gerakan.


Senyum Henri berubah jadi tawa kecil. Geli juga merasakan pergerakan di bawah kulit perut istrinya.


"Oo iya, kapan hpl-nya?"


"Bulan depan."

__ADS_1


Hanin dan Henri sama-sama diam. Hanya suara tv yang terdengar. Tiba-tiba mati lampu, gelap pun menyelimuti dalam keheningan malam.


"Eeh, kenapa nih? Aku dah bayar tagihan listrik kok." Gumam Hanin hendak branjak dari duduk, namun cepat ditahan Henri yang masih mengusap perutmya.


"Kamu duduk di sini saja. Biar aku yang cari lilin."


"Lilin ada di rak dapur. Dekat pintu belakang."


Henri beranjak, berjalan dalam gelap, sementara Hanin masih duduk diam di kursinya. Selang beberapa menit, Henri muncul dengan sebatang lilin yang menyala dan beberapa lainnya di tangan.


Setelah meletakkan dan menyalakan lilin di setiap sudut ruangan Henri menyalakan satu di meja tamu depan tivi. Suara rintik hujan terdengar di luar.


"Romantis ya?" Henri berucap diselingi senyum di wajahnya. Henri duduk di sisi Hanin. Tangannya terulur lagi mengusap perut istrinya.


"Jangan takut sayang, ada papa di sini. MMM.. papa atau ayah ya?"


Hanin membisu, walau ada rasa seneng menelusup di dadanya.


"MMM... Apa dia tidur ya? Kok anteng aja?" Ucap Henri lagi.

__ADS_1


"Nggak mungkinlah dia gerak terus." Balas Hanin menyingkirkan tangan Henri dari perutnya.


"Bulan depan tanggal berapa?"


"Hpl? Pertengahan."


Henri menggigit bibirnya, melirik istrinya ditengah syahdunya malam yang hanya bercahaya kan lilin yang temaram.


"Bidan Emi bilang, biar lancar lahirannya nanti...." Henri mengambangkan kalimatnya melirik dengan jantung berdebar kencang. "Harus... Sering di jengukin ..."


Dengan hati berdebar kencang Henri menunggu jawaban dari Hanin. Akankah dia setuju, ataukah menolaknya. Dari cahaya yang temaram itu, Henri masih menunggu reaksi Hanin. Wajah yang hanya datar tak menunjukkan ekspresi apapun.


Hanya suara rintik hujan yang terdengar dari luar.


'Mungkinkah dia menolak, apakah aku terlalu serakah karena memintanya? Kenapa aku tak bisa mengontrol lisanku, bagaimana jika dia marah? Sudah bisa menyentuh perutnya seperti ini aku sudah sangat senang, hanya karena dia mengijinkanku mencium perutnya lalu aku jadi menuntut lebih.'


Bersambung..


Wah, kira-kira gimana ya reaksi Hanin?

__ADS_1


__ADS_2