Suami Meletoy, Istri Perkasa

Suami Meletoy, Istri Perkasa
chap 30 • Nenek •


__ADS_3

'Sial, bagaimanapun caranya aku harus lepas dari ini.' kata Jeni dalam hati berpikir cukup keras.


"Ibu?"


Suara Hanin beberapa meter jauhnya dari belakang Tantri, dengan Henri disampingnya.


"Hanin..."


'sial, kenapa malah jadi begini?' pikir Jeni makin kalut, karena sudah ketangkap basah. Ia sudah tak bisa apa-apa lagi.


"Ibu, kenapa ibu Lakukan ini lagi? Ibu bilang sudah bertaubat, tapi, kenapa?"


"Jeni, ibu... Ibu di jebak nak." Ujar Jeni mencoba membela diri,"Lihatkan, mama mu ini sangat tak menyukai ku, aku sudah di usirnya, dan kini ibu malah di jebak seprti ini. Huhuhu..."


Hanin menatap sedih pada ibunya,


"Sudahlah Bu, hentikan. Hanin tau bagaimana ibu mengambil perhiasan diatas lemari dan semuanya. Hanin lihat sendiri. Sampai hati ibu lakukan ini lagi...."


Melihat Hanin yang begitu sedih dan kecewa, hingga menitikkan air matanya, terbersit rasa bersalah. Namun, ia masih tak mau disalahkan, ia menatap nyalang pada besannya.


"Kau lihat, ini semua karena kamu!"


"Apa? Enggak salah? Berhentilah berekting, Jeni. Aku sudah memberimu kesempatan, tapi sepertinya kamu malah bertindak lebih jahat. Hanin kecewa oleh sikapmu. Sekalian saja aku bongkar semua kelakuanmu!"


"Ka-u...." Tangan Jeni sudah terangkat hendak mencekik Tantri, namun tangan itu sudah ditangkap oleh papa Henri memilinnya ke belakang punggung.


"Aaakkkk...."


"Menyerahlah."


"Aaakkkk... Lepaskan aku! Kalau tidak...."


Tantri membungkukkan badannya berbisik di telinga Jeni.


"Dengar, polisi sedang menuju kemari, ada beberapa laporan dari korban penipuan arisan yang kamu gelapkan. Jika kamu masih ingin punya muka didepan Hanin bersikaplah manis dan penurut." Ancam mama Tantri yang langsung mendapat tatapan permusuhan dari Jeni. Keduanya saling tatap dengan mata yang tajam.


"Atau kau lebih memilih ditangkap didepan anak dan ibumu?"


Jeni bernafas cepat. Ia tak lagi punya pilihan. Mungkin ini adalah akhir dari pelariannya.


"Baiklah. Lepaskan aku." Jeni menggoyangkan tubuhnya agar papa Henri melepaskan cengkeramannya.


"Jangan berfikir untuk kabur. Kampung ini sudah dikepung."

__ADS_1


"Aku tau."


Jeni yang telah lolos dari cengkraman papa Henri berjalan mendekati Hanin yang terus menatap nya dengan sangat kecewa.


"Kenapa ibu lakukan ini lagi? Kenapa ibu sampai hati..." Mata Hanin sudah berembun.


"Maafkan ibu."


"Apa itu masih berarti sekarang?"


"Ibu tau... Ibu memang seperti ini. Tapi, ibu tulus meminta maaf padamu."


Hanin tertawa tanpa suara.


Jeni menyerahkan barang milik Hanin yang dia bawa.


"Ini... Ibu kembalikan."


"Aku kecewa padamu..."


"Ibu sudah mengecewakan mu dari dulu."


"Iya.... Dan kali ini yang paling sakit. Aku sudah memutuskan untuk mengobati lukaku dan memaafkanmu. Mengubur semuanya... Tapi kenapa? Kenapa kau membuka luka itu lagi Bu? Kenapa..." Hanin terisak tak mampu menahan lagi butiran bening di pelupuk matanya. Henri yang masih berdiri sampingnya memeluk bahu Hanin menguatkan.


"Aku tidak kan membela diri. Aku akan pergi." Jeni melirik Hendri. "Dia sudah aku sakiti sedalam ini. Jangan sampai kau menyakiti jauh melampaui aku. Mengerti."


"Bagus...."


Jeni berbalik dan melangkah. Walau ia sudah berlaku salah dan jahat pada anaknya, tetap saja dia merasa sakit. Air matanya turun juga.


"Haaahhh... Aku bahkan tak perlu susah-susah berakting..." Gumam Jeni mengusap pipinya. Lalu terus berjalan dengan angkuh.


Jeni memasuki angkot yang memang sudah di sewa oleh papa Henri. Ia menjaga Jeni agar tak kabur, duduk tepat disamping pintu keluar. Sementara sopir dengan kernetnya menjalankan angkot itu hingga ke batas wilayah desa tertinggal.


Mereka langsung di sambut oleh beberapa mobil polisi dan personilnya.


Sementara itu, Hanin yang masih bersedih terus menyambungkan wajahnya di dada sang suami. Gadis itu masih terisak menumpahkan rasa kecewanya. Dengan lembut Henri mengusap kepala istrinya itu.


"Menangis lah sebanyak yang kamu mau. Habiskan air matamu sayang. Setelah itu, jangan keluarkan setetes pun untuk ibumu. Dia tidak pantas."


Henri yang memang sudah tau cerita dari awal, tentang ibu Jeni yang sempat merayu papanya dan rencana mama tantri menyergap Jeni setelah mengambil barang-barang anaknya. Terus mengusap kepala Hanin dengan sayang. Sesekali mengecup pelan disana.


###

__ADS_1


Pagi ini, Hanin tiba-tiba merasakan mual yang teramat sangat. Dengan tergesa ia berlari ke kamar mandi. Memuntahkan seluruh isi perutnya, hingga ia merasa lebih baik.


"Apa ku masuk angin ya?" Gumam Hanin mengguyur sisa muntahan di lantai kamar mandi.


"Kamu kenapa Nin? Pucet banget." Tegur mama Tantri padanya begitu memasuki dapur.


"Iya ma, kek nya semalam kebanyakan kena angin jadi masuk angin deh, puyeng banget Hanin." Jawab Hanin memijit pelipisnya guna mengurangi rasa pusing di kepala.


"Ke dokter aja nanti Nin."


"Nggak usah ma, ntar biar di kerokin aja sama minum parset." Jawab Hanin sembari merambat pada tembok untuk membantunya berjalan agar tak oleng.


"Liat Hanin nggak ma?" Henri tiba-tiba muncul dari pintu penghubung dapur. Melihat istrinya sedang berjalan terhuyung-huyung, ia bergegas menghampiri dan memapahnya.


"Hanin masuk angin kek nya hen." Sahut sang mama memberi penjelasan karena anaknya itu bertanya dengan tatapan dan ekspresi.


"Ke dokter ya?"


"Kerik in aja. Sama ntar minum parset." Ucap Hanin lemas.


###


"Hanin mana hen?"


Mama yang sibuk menata sarapan pagi itu di meja lesehan yang berada di sudut ruang tamu.


"Tidur, tadi abis aku kerokin dan minum parset tadi."


"Loohh, nggak sarapan dulu?"


"Tadi sempet ngganjal pake roti dikit. Biar dia istirahat dulu ma."


Seusai sarapan, Henri melihat-lihat ladang sementara Sang mama pamit untuk pulang ke kota. Dan nenek ke ladang di atas bukit.


Setelah dua jam berbincang dengan calon pembeli hasil panen nya, Henri kembali ke rumah. Melihat lagi keadaan Hanin yang masih pulas di tempat tidur.


"Nggak panas kok, berarti nggak demam. Wajahnya juga nggak pucat lagi." Gumam Henri penyentuh kening Hanin.


Tok tok tok


Terdengar suara pintu depan di ketuk. Gegas Henri berjalan ke depan melewati ruang tamu dan membuka pintu.


"Ada pa Mak Ijah?" Tanya nya pada wanita setengah tua yang bertaut wajah cemas dan tegang itu.

__ADS_1


"Simbok... Nenek... Pingsan."


Bersambung..


__ADS_2