Suami Meletoy, Istri Perkasa

Suami Meletoy, Istri Perkasa
Chap 32


__ADS_3

"Jadi kamu menikahiku karena tawaran dari mama?"


"Iya."


"Aaarrrgggg......" Henri membanting barang yang ada di dekatnya. Ia merasa sakit hati, bagaimana bisa mama nya menawarkan pernikahan dengan imbalan tanah yang sangat luas. Siapapun pastilah tak akan menolak. Begitupun dengan Hanin. Ternyata ia bukanlah orang yang tulus, hanya wanita gila harta.


"Aku hanya orang miskin Henri, tentu saja dengan imbalan tanah berhektar itu, pasti akan tergiur juga. Apa lagi itu adalah tanah milik kami yang ibuku jual. Aku ingin mengambilnya kembali, tapi, meski banyak uang yang sudah ku tabung, tetap aja tak bisa membeli. Lalu mamamu menawarkannya padaku. Tentu saja aku menerima nya."


Henri duduk termenung, masih merasa sangat sakit dengan kenyataan yang ada. Selama ini ia terus berusaha berubah, demi gadis yang yang kini menjadi istri sahnya. Agar dia bisa menjadi pria kuat dan bisa diandalkan. Namun, kini ia justru menemukan kenyataan bahwa cinta Hanin tidak lah tulus. Semua perlakuan manis dan beraninya hanyalah demi uang semata.


"Semua nya palsu, semuanya bohong. Kamu membohongiku, mama juga membohongiku... Kalian pasti senang kan?" Cerca Henri masih dalam perasaan yang kalut. Menatap Hanin dengan sinis.


"Hen.... Awalnya..."


"Cukup! Aku tak mau dengar lagi," potong Henri yang udah terlanjur sakit hatinya.


"Hen... Saat ini aku...."


"Aku tak mau dengar. Aku tak mau tau... Aku benci kamu... Kamu udah selesai dengan misi kamu! Kamu puas?" Gumam Henri sembari berjalan menjauh, hatinya sangat sakit. Ia merasa dimanfaatkan. Merasa dipermainkan.


"Aku sudah berubah... Iya, aku sudah sembuh... Jangan...." Henri berlari menjauh, ia tak sanggup menyelesaikan ucapannya. Dan memilih pergi.


Hanya, tinggal Hanin di sana, yang terdiam dengan wajah sendu. Mau bagaimana lagi, memang itu kenyataan nya, ia sudah membuat kesepakatan dengan mama Tantri, dengan imbalan sebidang tanah miliknya. Ia menikah, demi agar membuat Henri sembuh.


Hanin sudah memenuhi janjinya, tujuannya tercapai. Tapi, kini ia juga merasa sakit. Hanin menyentuh perutnya yang rata.


"Aku... Hamil, hen... Tidakkah kamu ingin tau?" Gumamnya pelan.


###


Sejak hari itu, Henri tak lagi datang Kerumah Hanin. Ataupun membantunya meladang. Henri benar-benar pergi, dari kabar yang Hanin sempat dengar, Henri kembali ke kota. Hanin sangat bersedih, belum sempat ia sampaikan jika dirinya hamil, pria itu sudah pergi meninggalkan nya.


"Sepertinya, aku memang harus merawatmu sendiri sayang." Gumam Hanin menyentuh perutnya dengan lembut.


Hari berganti, sudah hampir tujuh bulan lamanya, Henri pergi, dan Hanin hanya seorang diri, kadang kala mama Tantri datang menjenguk. Berkali-kali mama Tantri meminta maaf, ia tak habis pikir, Henri tak pulang ke rumah di kota, bahkan memutus komunikasi bahkan dengan mamanya. Tantri sangat menyesalkan sikap Henri yang justru pergi saat istrinya tengah hamil. Beberapa kali mama Tantri meminta Hanin untuk ikut tinggal di kota bersama nya, namun Hanin menolak.


Saat itu, Hanin sedang berjalan-jalan keliling kampung, tak sengaja ia berpapasan dengan Kenan dan Catherine yang juga sedang berjalan-jalan pagi bersama anak mereka yang masih bayi.


Cathy terkejut melihat Hanin berjalan seorang diri dengan perut yang buncit.


"Kak Hanin,"


Hanin tersenyum kecil.


"Ini...." Cathy menyentuh perut Hanin yang membesar.


"Tujuh bulan..."

__ADS_1


Cathy menatap suaminya, seolaah tengah berkomunikasi dengan tatapan.


"Maksudku... Kamu hamil, ini anak kak Henri?"


Hanin tak menjawab, ia hanya tersenyum kecil.


"Apa kak Henri tau?"


Hanin terdiam sejenak. Lalu tersenyum lagi, ia cukup tau, Cath adalah orang yang dekat dengan suaminya.


"Dia pergi..."


"Iya..."


"Sebelum... Aku sempat memberitahunya..."


Cathy menatap suaminya lagi.


"Jadi ia tidak tau?"


Hanin mengangguk.


###


Hari berganti, Hanin duduk berjemur di depan rumahnya, beberapa hari ini memang dia menyerahkan semua pekerjaan di ladang pada mandor. Sementara ia hanya membantu mendistribusikannya. Hanin tertidur saat dia sedang berjemur. Sebuah banyangan berdiri di depannya, menghalangi cahaya matahari yang semakin menyengat.


Mata Hanin memicing. Mencoba menajamkan matanya, samar, wajah itu semakin jelas. Ia terlonjak kaget.


"Astaga."


Wajah Henri tersenyum menampakkan deretan gigi putihnya, dengan beberapa lebam di wajahnya.


###


"Apa yang terjadi?"


Hanin menempelkan telur hangat dilebam Henri.


"Cathy memukuliku..."


Hanin sedikit terkejut, "kamu... Memang pantas di pukul. Tanganku juga gatal ingin memukulmu."


"Kamu tidak lihat, setidaknya biarkan lebamku ini hilang dulu... Aaaaagggg..."


Henri memekik merasakan telur yang Hanin tempelkan di lebamnya hancur oleh tekanan wanita itu.


"Kenapa kembali?" Hanin menyusut air matanya. Ia berdiri dan berjalan sedikit menjauh. Tak ingin Henri melihatnya menangis.

__ADS_1


"Cathy memukulku dan menyuruh pulang."


"Jadi kamu tak pulang jika Cathy tak menyuruhmu?"


Henri terdiam, menatap punggung Hanin yang sedikit berguncang. Henri mendekat dan mengulurkan tangannya, menyusup di perut istrinya. Henri hendak mengusap perut yang sudah membuncit itu.


Namun Hanin dengan cepat menepisnya.


"Aku ingin menyentuhnya."


"Tidak usah."


"Mungkin saja dia kangen papanya." Henri mendekat lagi, ia mengangkat tangannya dan mencoba mengelus lagi perut Hanin. Namun wanita itu lebih sigap, ia menahan tangan Henri dan memilinnya.


"Aaarrrgggg...."


"Ternyata kamu masih tetap kasar walau hamil besar."


"Benar! Karena itu, pergi sana! Jangan kembali! Kau sudah pergi, jangan kembali!" Usir Hanin sambil mendorong tubuh Henri yang ia pilin. Hingga suaminya itu berada di teras rumah.


"Istriku..."


"Pergi!"


"Aku..."


"Pergi!"


Melihat bagaimana Hanin mengusirnya, Henri yakin wanita itu sangat sakit hati oleh kepergiannya. Apalagi, ia dulu tak mendengarkan penjelasan Hanin, hanya terus berfikir jika Hanin menikahinya karena uang. Berfikir, Hanin hanya menyukai hartanya. Berfikir telah di bodohi dan di manipulasi.


Henri tak beranjak, masih berdiri dimana Hanin mengusirnya. Hanin menutup pintu rumahnya rapat-rapat.


Seharian ini wanita itu hanya berdiam di dalam rumah. Ia melongok keluar rumah melalui jendela. Henri sudah tidak ada. Hanin berjalan hendak mengambil air di belakang, betapa terkejutnya ia mendengar suara Henri yang sedang berbincang dengan pekerja.


Hanin menatap pria yang kini bertelanjang dada itu, berbincang sambil meladang bersama pekerja. Hanin memindai tubuh suaminya, dari celah pintu belakang yang dia buka sedikit.


Tubuh Henri sudah lebih berisi. Bahkan kini sudah cukup berbentuk. Tubuh Henri yang berkilau oleh keringat dan terpaan cahaya matahari, membuat pria itu terlihat sangat seksi. Hanin menelan ludahnya, eh, aneh, kenapa ia harus menelan ludah?


Buru-buru Hanin menutup pintu, dengan menghentakkan kakinya kesal, Hanin kembali ke kamarnya.


Hari semakn sore, para pekerja sudah kembali. Hanin yang baru saja selesai menyapu melihat Henri sedang duduk diteras rumah. Duduk terdiam menatap ladang jagung di depan rumah. Pria itu menoleh, merasa ada yang memperhatikan di belakang.


Hanin terkejut, karena Henri menangkap basah dirinya yang memandang pria itu walau baru sebentar. Henri tersenyum.dengan sangat manis, membuat jantung Hanin berdetak sangat kuat. Bergegas ia menutup pintu rumah dengan kasar.


"Ya Tuhan ada apa denganku?" Gumam Hanin menyentuh dadanya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2