Suami Meletoy, Istri Perkasa

Suami Meletoy, Istri Perkasa
chap 26 bertemu ibu


__ADS_3

Matahari hari ini sangat terik, serasa membakar menusuk kulit. Adam kembali ke rumahnya setelah dari mengantar barang ke kota. Di teras rumahnya, Adam melihat ibu dan Laura yang sedang berbincang. Adam berjalan mendekat, menyalami sang ibu dan mencium tangannya.


"Syukur kamu dah pulang Dam. Ini, temani Laura, kasihan dia sejak dari kota kamu bahkan belum nemenin dia."


"Adam sibuk, buk."


"Ya udah, biar nanti yang antar barang dan urusan pertanian, Sapto yang urus. Jangan semua kamu yang hendle, jadi kamu nya nggak ada waktu buat pribadi kamu kan?"


"Iya Bu, Adam masuk dulu ya, mau ganti baju sama mandi" pamit Adam, yang merasa jengah, ibunya terus berusaha mendekatkan dia dengan Laura. Yang sedikitpun Adam tak ada ketertarikan sama sekali.


"Iya, nanti trus balik kesini. Jangan malah tidur di kamar." Ucap ibu dengan sedikit sinis.


Adam melangkah masuk tanpa mengajak Laura bicara. Entahlah, rasanya ia hanya ingat dengan Hanin saja. Beberapa hari tak bertemu dengan Hanin rasanya kosong.


Seusai mandi dan bersih. Adam berjalan kedepan, karena sang ibu terus-menerus mendesak ia untuk mengajak Laura jalan-jalan keliling kampung. Hingga mau tak mau, Adam pun membawa Laura jalan-jalan.


"Wah, kampung nya mas Adam bagus ya?"


"Memangnya kamu belum jalan-jalan sama ibuk selama di sini?"


"Belum sampai sini mas."


"Ini kan nggak jauh dari rumah."


"Iya, maksud Laura nggak lewat sini." Ungkap Laura sedikit gugup dan gagap karena bohong.


"Kapan kamu balik ke kota?"


"Kapan mas anter aku ke kota?"


Adam tersenyum tipis,


"Jadi kau nunggu aku anter baru balik? Ya udah, aku anaater sekarang yukk." Ajak Adam hanya menguji saja. Jika langsung main antarr yang terkesan mengusir itu, tentu ibu nya bakal ngamuk.


Wajah Laura tentu saja berubah jadi sedih, dan kecewa.


"Kenapa?"


Laura menundukkan wajahnya. Dan berhenti melangkah.


"Mas Adam pingin bnget aku pergi ya?"


"Hahaha, ayo jalan." Ajak Adam dengan tawa di wajahnya.

__ADS_1


Setelah sedikit berbincang dan melalui banyak persawahan dan ladang warga. Adam dan Laura bertemu dengan Jeni, lebih tepatnya berpapasan.


"Kamu Adam kan? Anaknya kepala desa?"


"Iya, benar. Anda....."


"Aku Jeni, anaknya mbok Suketi."


"Oohh,, iya, Adam ingat. Ibunya Hanin ya..." Sahut Adam menyalami ibu Hanin itu. Sementara Laura sedikit enggan, namun karena di tatap terus oleh Adam dan Jeni membuat nya ikut menyalami juga.


"Gimana kabarnya Dam?"


"Baik buk."


"Udah besar ya sekarang." Ucap ibu Hanin memindai Adam dan Laura bergantian."ini istrimu?"


"Bukan Bu, dia Laura, teman anak ibuk dari kota, juga satu kampus dulu di kota."


"Oohh, begitu."


"Hanin, apa udah pulang? Udah ketemu sama Hanin?"


"Belum, katanya dia kerumah suaminya."


"Oiya dam. Dengar-dengar itu tanah yang kami jual pada pak kepala.desa, sudah di jual ya?"


"Iya."


"Di jual kesiapa ya?"


Adam tersenyum ragu untuk mengungkapkannya, walau ia juga tau, pastilah ibu Hanin itu sudah tau.. "Besan Bu Jeni."


"Benarkah?" Ucap Jeni sumringah.


"Kok aku dengar, itu anak ibu ya... Yang... Hehehehe..."


Adam cukup tau bagai mana Ibu Hanin ini, yang meninggalkan nenek dan Hanin ke kota setelah menjual semua tanah tanpa perduli dengan anak dan ibunya.


"Adam mau lanjut dulu Bu."


"OOO... Iya, hati-hati ya Adam."


Setelah mereka berpisah dan melanjutkan langkah masing-masing. Lauara yang memang tak suka dengan yang berhubungan dengan saingannya itu melihat lagi ibu dari Hanin itu menatap punggung wanita yang terlihat seperti seorang sosialita di kampung.

__ADS_1


"Mas Adam jangan berurusan dengan wanita itu mas, sepertinya dia bukan orang baik."


"Wanita yang mana?"


"Itu, ibu nya Hanin kan? Yang mas suka."


"Itu bukan urusan mu Laura."


"Tetep aja urusan ku mas, mas Adam sudah di jodohkan dengan ku, aku nggak mau kita ikut di saut-saut kan dengan wanita itu."


"Aku nggak bilang setuju dengan perjodohan itu Laura."


Wajah laura merah padam. Kesal, marah, malu. Semua bercampur jadi satu.


"Tapi mas, hari pertunangan sudah di tetapkan."


Adam membuang nafasnya, mengusap kasar wajah tampannya. Ia tau jika ayah dan ibunya sudah memutuskan, maka ia harus lakukan. Ditambah lagi, mereka sangat mentang Hanin. Terutama sang ibu, karena gadis itu tidak selevel dengannya.


###


Hanin dan nenek tersenyum senang, melihat lagi kampung halamannya. Melewati jalanan desa dan menikmati semilir angin Yang menerpa mewat jendela yang ia buka.


"Nek kita udah sampai."


Mobil itu berhenti tepat di depan rumah Hanin. Tentu saja, Bu Sum sudah terlihat di sana dan beberapa pekerja lainnya menyambut Hanin dan nenek.


"Bagaimana liburan kalian?"


"Yaahh, menyenangkan Bu."


Seusai saling kangen-kangenan mereka duduk-duduk diteras, sementara Hanin masuk kedalam rumah yang tidak i kunci. Sebenarnya ia tak heran, karena memang sudah menitipkan Bu sum kunci dan meminta untuk tinggal dirumah mereka atau sekedar menjadikannya sebagai tempat istirahat.


"Hanin." Panggil Bu sum.


"Iya?" Hanin menoleh tepat diambng pintu."


"Ibumu kembali...."


Tepat saat itu, nenek dan Hanin melihat sosok yang berjalan mendekat.


"Ibu..."


"Jeni..."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2