
Setelah mama dan papa pergi dari kampung tertinggal, Henri benar-benar tinggal di rumah Hanin. Karena Mak Yun dan bibi Gati pun enggan untuk menampungnya. Tentu saja tanpa Uang sepeserpun.
Henri menatap bangunan dari kayu didepan nya itu.
"Jadi, aku benar-benar akan tinggal disini?" Gumamnya tak percaya.
"Kau mau masuk atau tidur diluar, suami?" Hanin yang sudah berada diambang pintu rumahnya menatap Henri yang mematung di depan rumah, memindai rumah kayu miliknya.
"Iya, aku tau." Sahut Henri dengan lemas.
Sesampainya di dalam rumah, ia memindai lagi. Benar-benar sangat sederhana. Tak ada perabotan dan barang yang berarti. Hanya meja, kursi tamu dan bufet selebihnya hanya kamar yang bertutup gorden.
"Ya ampun, apa aku sanggup tinggal disini. Mama dan papa benaran kejam." Gumam Henri lagi, mengeluh.
Sementara Hanin membantu nenek menyiapkan makanannya. Sementara nenek duduk tersenyum di kursi tamu. Melihat Henri hanya mematung di samping koper barang.
"Duduklah, kamu pasti capek hanya berdiri disana. Nenek sudah memasakkan makanan untuk kalian."ucap nenek menepuk ruang kosong disampingnya. Dengan ragu, Henri bersungut duduk di kursi sebrang nenek. Ia memindai lagi seluruh ruangan itu.
"Apa kita, benar-benar tinggal disini nek?"
Nenek tersenyum dengan anggukan.
"Kalau kamu nggak suka, kamu boleh tidur diluar. Di luar ada banyak nyamuk. Bangun-bangun wajah cantikmu itu akan bentol-bentol semua." Kekeh Hanin yang baru muncul dari dapur dengan mbawa seceting nasi dan lauk nya di atas nampan. Lalu meletakkannya diatas meja tamu.
Henri memindai lauk nya, hanya brupa sayur asam dan ikan asin tak lupa sambal terasi dan tempe goreng. Ia mendessaah berat.
"Kenapa?" Sergah Hanin menatap suaminya."kamu nggak suka makanannya?"
"Aku nggak pernah makan ini. Aku nggak doyan."
Hanin terdiam sesaat melihat suaminya yang ternyata selain kemayu, juga manja, lalu tersenyum.
"Ya sudah. Kalau begitu. Nggak usah makan. Kalau kamu lapar, di luar banyak rumput."
Hanin mengambil piring lalu mengisinya dengan nasi dan lauk serta sayur asam dan memberikan pada nenek. Tanpa memperdulikan ekspresi suaminya yang melongo lalu cemberut.
Hanin mengambil piring lagi, dan mengisi nya dengan nasi, menuang sayur asam dan lauk kemudian dikasih sambal sedikit. Ia menyodorkan nya pada Henri. Namun,pria tulang lunak itu hanya memalingkan wajahnya mengabaikan makanan yang Hanin ambilkan untuknya.
"Ya sudah kalau tidak mau, aku makan sendiri." Gumam Hanin mendekatkan piring ditangannya lalu memakannya sendiri.
"Sangat tidak berperasaan." Gumam Henri melirik pada Hanin.
"Makan atau tidak? Terserah." Balas Hanin.
"Hanin, jangan seperti itu. Dia suamimu."
"Iya nek."
"Kamu mau makan apa suamiku?"tanya Hanin dengan sabar."Disini hanya ada ini yang matang. Kalau kamu mau masak sendiri. Kami hanya memiliki telur dan sayur.
__ADS_1
"Aku akan masak sendiri." Ucap Henri sembari berdiri.
"Perlu aku antar kedapur?"
"Nggak usah. Gorden hijau itu kan dapurnya?" Henri menunjuk ruang dimana Hanin tadi muncul dengan masakannya. Yang di jawab dengan anggukan oleh Hanin.
Lantas, Henri berjalan memasuki dapur. Disana dia memindai seisi ruangan memasak itu. Sama sederhana nya. Selain tunggu masak ada satu kompor gas di sudut lain. Henri melihat ruangan itu. Tak ada kulkas atau semacamnya. Hanya ada banyak gentong/kendi penyimpanan disana. Ia lalu menghela nafasnya. Ia mengambil telur dan membuat omelette ala chef Henri. Setelah selesai. Ia kedepan untuk makan malam.
"Nasinya tinggal ini?" Tanyanya dengan mata melebar melihat ceting nasi hanya tinggal beberapa nasi yang menempel di pinggiran ceting.
"Yah, kami ini pekerja. Jadi butuh lebih banyak makanan." Jawab Hanin enteng. Disana nenek pun sudah tak ada, sudah kembali ke kamarnya.
Henri mendengus. Ia memakan omelette nya tanpa nasi.
"Kenapa nggak pakai nasi?" Tanya Hanin melihat Henri hanya makan telur omelette buatannya sendiri.
Henri melirik Hanin yang bertanya tanpa merasa berdosa itu. Jelas-jelas nasi hany tinggal sedikit masih bertanya pulak. Batin Henri cemberut.
Hanin melirik ceting yang hanya tinggal nasi yang menempel di pinggiran nya saja. Lalu ia mengumpulkan nya dengan entong. Hingga terkumpul menjadi satu centong nasi.
"Masih mau nggak?" Tanya Hanin menyendok kan nasi itu dan menunjukkan nya pada Henri.
Henri mendengus."nggak. Aku diet."
"OOO, ya udah, kalau gitu, aku makan aja." Sahut Hanin sembari meletakkan nasi itu kepiringnya.
Henri mendelik melihat tingkah istrinya, yang bahkan tak menyisakan nasi untuknya. Gadis cantik itu justru makan dengan lahap. Henri menjadi kesal dan meletakkan piring nya di meja dengan kasar. Wajahnya cemberut. Ia meminum air putih yang udah disiapkan. Lalu ia berjalan sambil menghentakkan kaki menuju kamar.
Henri menoleh dengan muka juteknya. Ia pindah ke kamar sebelah, kamar Hanin menyibak gordennya dan membuka pintu lalu menghilang. Sedangkan Hanin hanya terkekeh melihat tingkah suaminya itu.. Ia lalu mengeleng pelan.
"Rasanya, aku seperti menikahi seorang gadis." Gumamnya.
Setelah semua rapi, dan beres. Hanin berjalan memasuki kamarnya. Betapa terkejutnya ia, melihat Henri dengan balutan baju tidur seksi. Baju tidur yang lebih cocok di pakai oleh wanita.
"Apa dia setidak tertolong ini?" Gumam Hanin menggelengkan kepalanya.
Tanpa bicara Hanin tidur disebelah Henri. Tentu saja pria tulang lunak itu protes.
"Hei, kenapa kamu juga tidur disini?"
"Kenapa? Inikan kamarku."
"Apa tidak ada kamar lain?"
"Tidak. Hanya ada dua kamar. Jadi kita harus berbagi. Lagi pula, kita ini suami istri. Tidak masalah jika tidur berdua." Jawab Hanin memejamkan mata.
"Hiiiissshh...." Desis Henri kesal. "Aku ini tamu, kamu tidurlah diluar."
"Tidak mau, diluar banyak nyamuk. Lagi pula aku tak mau tidur di atas kursi panjang depan. Kalau kamu mau. Kamu saja sana." Sahut Hanin tanpa membuka matanya dan tetap terbaring di kasur.
__ADS_1
Henri mendengus. Ia pun bangun dan membawa bantal keluar kamar. Lalu ia tidur di kursi panjang ruang tamu. Sesaat lamanya, ia hanya kasak kusuk karena banyak nyamuk yang berdenging di telinganya, juga dia digigit nyamuk di beberapa bagian tubuhnya.
"Hhiiiissshhh ..." Henri bangun terduduk, lalu menatap kamar Hanin." Aku tak bisa tidur disini."
Henri pun berjalan dan memasuki kamar dimana Hanin tidur. Lalu merebahkan diri kasur samping istrinya.
"Menyebalkan." Gumam Henri. Hanin yang memang belum tidur, mengulas senyum kecil dengan mata terpejam tentu saja tanpa sepengetahuan Henri
Hari menjelang pagi, Hanin membangunkan Henri, dengan malas pria tulang lunak itu hanya menggeser tubuhnya dan menarik selimut.
"Aku masih ngantuk. Kamu bangun saja sendiri." Ucap Henri kesal melanjutkan tidurnya.
"Oke. Kalau begitu. Tidak ada sarapan untuk pemalas." Ancam Hanin yang tentu saja Henri abaikan. Lalu gadis itu pergi. Henri merasa menang. Ia tersenyum lebar dan melanjutkan tidurnya.
Hari semakin siang, Henri pun bangun ia mengerjab lalu bangun dan keluar kamar. Rumah itu kosong, tak ada siapapun. Henri pun membersihkan diri berhubung ia lapar karena semalam juga hanya makan telur, ia berjalan ke dapur. Di dapur tak ada makanan apapun yang matang. Akhirnya ia mencari bahan makanan untuk di masak. Sayang, itu juga tak ada. Hanya satu butir telur.
"Apa ini? Semalam saja masih ada beberapa box telur. Kenapa sekarang hanya tinggal satu?" Gumamnya kesal.
Akhirnya, mau tak mau, Henri sarapan hanya dengan sebutir telur yang dia masak sendiri. Selesai sarapan yang terlambat itu. Ia berjalan di sekitar rumah, ia melihat Hanin yang sedang meladang bersama para ibu-ibu dan bapak-bapak.
Henri mendekat, karena ia tak tau harus bagaimana.
"Wahh, pengantin prianya baru bangun, pasti dia sangat kecapekan karena kamu garap semalaman ya Hanin?" Ledek ibuk-ibuk satu.
"hihihi. Kamu ganas juga Hanin sampai tuan muda itu bangun kesiangan." Sahut ibu-ibu dua.
Hanin hanya melempar senyum, ia memandang suaminya.
"Kemarilah, ikut meladang.... Kalau mau makan. Kamu harus bekerja."
Henri mendengus....
(Heemmmm,, kira-kira gimana ya reaksi pria tulang lunak ini?")
Bersambung...
Dukung terus karya Othor ini ya, dengan:
Like
Komen
Vote
Dan kasih Gift
Terima kasih.
Salam sehat dan waras.
__ADS_1
☺️
______