Suami Meletoy, Istri Perkasa

Suami Meletoy, Istri Perkasa
chap 35


__ADS_3

Hanin berjalan menuju pintu belakang, ia menarik pintu itu hingga terbuka. Dari sana, ia melihat suaminya duduk di depan tenda menatap api unggun. Seperti ada sesuatu yang sedang difikirkan.


Hanin berjalan mendekat, sampai beberapa langkah lagi, Henri menoleh padanya. Pria tampan itu tersenyum sangat manis. Hingga jantung Hanin berdetak lebih cepat, ada Roma merah diwajahnya yang putih.


Hanin duduk sisi kanan depan api unggun, dari sana Hanin masih bisa melihat wajah Henri dari depan. Pria itu masih menatapnya hingga Hanin duduk. Lalu kembali melihat api unggun didepan nya dengan memegang sebatang ranting panjang yang ia mainkan pada kayu yang separuhnya telah dilahap api.


"Kapan kamu kembali?"


Henri menoleh, menunggu Hanin lebih jelas akan maksud pertanyaan nya.


"Kapan kamu akan kembali ke kota."


Henri menatap Hanin dengan wajah sendu, sorot matanya begitu merindui istri nya yang kini meski ada di depan mata, tapi tak bisa disentuh.


"Aku akan kembali jika kamu bersedia ikut."


Hanin tersenyum kecut. Ia mengusap perutnya yang tiba-tiba terasa kencang. Mencoba mengatur nafasnya yang mulai cepat karena emosi didadanya. Rasa marah akan sikap keras Henri yang tak mau kembali dan mempersulit keadaannya.


"Aku tidak akan pergi."


"Begitu juga denganku."


Hanin masih terus mengusap perut nya. Menenangkan perasaan di hati.


"Kenapa kamu kemari?"


"Kenapa? Aku menjemput istriku, jika dia tak mau ikut serta, aku akan menemaninya disini...


Sekalipun, kamu tak mau melihatku, sekalipun, aku harus tidur diluar, tidak apa. Tapi, biarkan aku tetap disini. Ijinkan aku yang membawamu kebidan nanti saat anak kita lahir. Ijinkan aku... Melihat wajahnya saat dia melihat dunia..."


Sesaat mereka hanya saling menatap dalam keheningan. Namun, suara perut Henri yang keroncongan, membuat Hanin mengulas senyum kecil. Memutus kontak mata mereka. Hanin menundukkan kepalanya, lalu menatap api unggun didepannya.


"Kamu belum makan?"


Henri hanya terdiam tanpa menjawab.


"Ku lihat, tadi ada banyak ibuk-ibuk melintas membawa rantang makanan. Apa mereka tidak sampai kemari?"


"Mereka sangat baik dan pengertian." Ucap Henri tersenyum kecil melihat api unggun dengan tatapan yang entah apa.


"Oh ya?"


"Kamu juga baik dan...."


"Dan?"


"Dan aku menunggumu memberiku makan."


Hanin tertawa yang tak sampai ke matanya.


"Aku sangat mengharapkan mu datang... Disaat hanya tinggal sejengkal, kamu justru menjauh. Karena itu aku putuskan untuk... Menunggu lebih lama... Tidak peduli mau sampai kapan... Kamu... Pasti..."


Henri menatap wajah istrinya yang sudah berderai air mata.


"Aku tidak akan memberimu makan! Teruslah kelaparan sampai kau mati!" Isak Hanin mengusap pipinya.


"Hanin ..."

__ADS_1


"Aku tidak mengijinkanmu tidur dihalaman rumahku..." Hanin beranjak dari duduk nya sambil terus mengusap pipinya yang basah.


"Jadi kemana aku harus pergi?"


"Terserah." Hanin membalikkan badannya.


"Aku akan berkemah di diladang jika kamu mengijinkan."


"Tidak. Itu tanahku, karena itulah kau pergi meninggalkanku. Dan kau mau tidur disana? Tau malu lah sedikit." Hardik Hanin berbalik menatap Henri dengan sangat arogan. Namun, air matanya masih deras mengalir.


"Kalau begitu, aku akan berkemah di jalan depan. Di sana bukan tanahmu." Ucap Henri berikeras tetap tinggal tanpa melepas pandangannya pada wajah istrinya yang basah.


"Teruslah membuat aku terlihat begitu kejam dan jahat. Sampai kau puas melihat ku di asingkan di kampungku sendiri."


"Istriku, bukan itu maksudku..."


Hanin mengangkat tangannya, sebagai isyarat untuk Henri berhenti bicara.


"Aku tidak perduli kamu tidur dimana, kamu makan apa? Kamu kedinginan atau tidak. Aku tidak peduli. Aku tidak peduli sama sekali." Hanin mulai melangkah kembali ke rumahnya.


Henri menatap punggung istrinya dengan pandangan sedih.


"Kunci rumah ku rusak. jadi, aku tidak pernah bisa mengunci pintunya. Dan hari ini, sepertinya aku kebanyakan masak, makananku tidak habis, mungkin besok aku buang.. Mubazir sekali..."


Hanin memasuki rumahnya melalui pintu belakang. Tentu saja ia tak menguncinya. Lalu berjalan masuk kedalam kamarnya dan merebahkan diri di sana.


Hatinya masih terasa sakitz ia juga masih sesenggukan saat mencoba memejamkan matanya.


Keesokkan paginya, Hanin membuka mata, ia bengun dan keluar dari kamarnya. Ia tersenyum kecil melihat Henri yang sedang pulas di kursi panjang ruang tamu sekaligus ruang makan itu.


Hanin Mandang wajah suaminya sebentar. Lalu membersihkan diri. Saat ia kembali dari kamar mandi, Henri sedang memasak di dapur. Hanin hanya melewatinya begitu saja setelah tertegun sesaat.


Tok tok tok...


"Sarapan sudah siap. Aku akan ke ladang..."


Mata Hanin melebar, ia bergegas berjalan ke pintu dan membukanya. Henri baru beberapa langkah berjalan.


"Tunggu."


Henri menoleh membalikkan badannya, wajahnya terlihat sedikit terkejut.


"Apa kamu sudah sarapan?"


Henri menggeleng tanpa mengedipkan matanya.


"Kita... Sarapan bersama saja."


Saat sarapan, Hanin mengambil nasi dan beberapa lauk. Sementara Henri hanya terus memperhatikan wajah istrinya. Walau tipis, tapi terlihat jelas ia menggunakan liptik dan bedak.


"Kamu cantik pagi ini."


Hanin meletakkan piring yang telah terisi di depan Henri duduk.


"Aku... Tidak berdandan untukmu..."


"Tentu saja. Kamu cantik alami, dan bertambah cantik dengan riasan make up tipis. Ditambah perut buncit itu, kamu semakin terlihat menawan."

__ADS_1


Wajah Hanin menghangat, tersipu dan malu.


"Aku mau sarapan bukan mendengar rayuan mu."


Henri tersenyum tipis. Ia lalu memulai sarapannya.


.


.


Melihat Henri yang keluar dari pintu rumah Hanin, Bu Sum tersenyum lebar.


"Sepertinya, kalian sudah berbaikan."


"Tidak. Hanin belum memaafkanku."


"Tapi,, kamu keluar dari dalam rumahnya."


"Aaa,, itu... Karena dia tidak mengunci pintunya. Jadi, aku menyelinap masuk."


Bu Sum tersenyum menggoda, seolah tau jika memang Hanin masih malu-malu mengakui.


"Ohohoho, semoga nanti malam Hanin lupa lagi tidak mengunci pintunya."


Seusai meladang, Henri pulang, memasuki rumah dengan langkah pelan, ia mendapati Hanin yang tengah tertidur. Henri mendekat, menatap sayang wajah wanita yang sedang pulas itu.


Henri melihat perut buncin Hanin, ia tergoda untuk menyentuhnya. Tangannya terulur semakin dekat, dan dekat. Dengan dada berdebar kencang Henri melihat lagi wajah Hanin, jangan sampai mata itu terbuka saat ia sedang berusaha menyentuh perutnya.


"Apa yang kamu coba lakukan?" Lirih Hanin melirik curiga.


Gegas Henri menarik tangannya.


"Maaf, aku hanya..."


Hanin membetulkan posisi duduknya,"apa tukang pijit ku sudah datang?"


"Belum."


"Aahh, badan ku pegal semua."


"Sembari menunggu, apa kamu mau aku pijit sebetar?"


"Baiklah."


Henri duduk berjongkok mengambil kaki Hanin dan mulai memijit nya.


"Pijitanmu enak juga."


Henri mengulas senyum percaya diri dan bangga.


"Tentu saja."


Hanin memejamkan matanya lagi. Setelah cukup lama, Henri memijit. Ia menatap Hanin yang lelap. Ia melihat kearah pintu.


"Sepertinya tukang pijitnya belum akan datang." Gumam Henri masih memijit kaki Hanin. Ia melihat lagi perut buncit itu, dan kembali tergoda untuk menyentuhnya.


Henri mengulurkan tangannya, saat tangan itu menyentuh perut Hanin, ia terlihat sangat bahagia dan terharu.

__ADS_1


"Maafkan ayah..."


Bersambung...


__ADS_2